Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 80. Memaafkan


__ADS_3

Demi kalian Author Double-double Up ❀


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Favorite yaa!!


* * * * *


Sudah dua hari Gisya dan Fahri mendapatkan perawatan. Kini kondisi mereka sudah mulai berangsur membaik. Sedangkan Zayn masih dalam kondisi kritis, hingga saat ini Gisya belum mengetahui jika Zayn juga berada disana saat itu. Ibu-ibu Persit datang untuk menjenguk Gisya, bahkan mereka bergantian untuk mengasuh Husain.


"Cepat sehat Bu Fahri, kami sangat menyesalkan kejadian ini. Semoga para pelaku segera diberikan hukuman yang setimpal." ucap Bu Danyon.


"Mohon ijin Bu, terimakasih sudah banyak membantu kami. Maaf kami terlalu banyak merepotkan." ucap Gisya.


"Sama sekali tidak merepotkan Bu Fahri, kami dengan senang hati akan membantu. Karena begitulah Persit Kartika Chandra Kirana, saling membantu sesama." imbuhnya.


Gisya sangat beruntung bisa menjadi bagian dari Persit. Karena Quera sudah sadar, Gisya meminta perawat untuk membawanya ke ruangan putrinya itu. Fahri pun mengijinkannya, karena kaki Fahri masih terasa sulit bergerak maka dia tidak mengikuti.


"Hati-hati sayang, maaf Abang gak mendampingi Bunda." ucap Fahri.


"Gak apa-apa Bang, tunggu sebentar ya! Bunda gak lama kok." tutur Gisya.


Saat melewati koridor, Gisya berpapasan dengan Santi dan kedua orangtua Zayn. Mereka berlutut dihadapan Gisya sambil menangis.


"Maafkan kelakuan anak Papa, Nak. Demi Allah, Papa malu untuk sekedar meminta maaf. Maafkan keluarga kami." lirih Deni dihadapan Gisya.


"Bangun Om, jangan seperti ini!" pinta Gisya.


"Caca, maafkan Zahra ya! Kami sudah menerima semua karma dari perbuatan anak-anak kami. Kini Zayn yang terbaring koma." lirih Ajeng sambil memeluk Santi.


Gisya tertegun, mencoba mencerna semua ucapan mantan calon mertuanya itu.


"Koma? Maksud Tante? Maaf Caca gak ngerti." ucap Gisya.


"Zayn tertembak saat melindungi kamu dari tembakan Zahra, dia tertembak di perut dan dadanya. Pelurunya berhasil dikeluarkan, tapi suamiku koma." lirih Santi.


"Yaa Allah, A Zayn!" ucap Gisya sambil membekap mulutnya tak percaya.


Sebelum keruangan Quera, dia memutuskan untuk pergi keruangan Zayn terlebih dahulu. Dia berjalan menuju ranjang Zayn, dilihatnya laki-laki berbadan tinggi itu terbujur kaku dengan berbagai peralatan ditubuhnya.


"A Zayn, terimakasih sudah menolong Caca. Terimakasih banyak, A. Demi Allah, Caca sudah memaafkan semua kesalahan Aa. Bangunlah A, istri dan anakmu masih sangat membutuhkanmu." lirih Gisya, perlahan jari tangan Zayn bergerak.


Dari luar, Santi bisa melihat semuanya. Hatinya memang terasa sakit, tapi dia bersyukur karena suaminya sudah merespon.


Zayn mengerjapkan matanya, dia melihat sekeliling. Pandangannya terhenti pada Gisya, dia mencoba menggenggam tangan Gisya yang berada disisi ranjangnya. Gisya yang menunduk terkejut, dia bersyukur jika Zayn sudah sadar.


"Aa sudah bangun? Biar Caca panggil dokter!" ucap Gisya di kursi rodanya.


"Maafkan semua kesalahan Aa, hiduplah dengan bahagia. Aa bersyukur kamu sudah selamat. Tolong panggilkan istriku, Neng." lirih Zayn.


Gisya melambai-lambaikan tangannya pada Santi. Akhirnya Santi pun masuk kedalam ruangan Zayn. Sebelumnya, Gisya meminta perawat untuk membawa Fahri ke ruangan Zayn dirawat. Kini semuanya sudah berkumpul disana, Zayn masih dalam kondisi yang sangat lemah. Dia menggenggam tangan Gisya dan Santi.

__ADS_1


"Ma, maafkan semua kesalahan Papa. Terimakasih sudah mau mendampingiku selama ini. Mama harus jadi ibu yang hebat." lirih Zayn pada Santi.


"Mama sudah memaafkan semua kesalahan Papa. Kita sudah memulai hidup baru, Papa harus sembuh demi Faza. Kami masih membutuhkan Papa." lirih Santi.


Santi menangis memeluk suaminya itu, Gisya pun menangis tersedu-sedu dengan tangan yang masih digenggam oleh Zayn. Perlahan tapi pasti genggaman itu mulai melemah.


"Fahri, tolong maafkan aku. Bimbing aku, Fahri." ucap Zayn dengan suara tersenggal.


"Papa jangan bicara seperti itu! Mama butuh Papa!" histeris Santi.


"Ikhlaskan Papa, Ma. Berbahagialah bersama Faza, tolong bimbing Papa." lirih Zayn.


Fahri berdiri tertatih, dibantu oleh para suster. Dia mendekati Zayn dan mengucapkan kalimat Syahadat ditelinganya.


"Asyhadu ala." ucap Fahri ditelinga Zayn.


"As-syhadu a-ala,"


"Illaha illallah."


"Il-illaha ill-allah,"


Ttttiiiiiiiiiiiiittttttttt..........


"Innalillahi wa inna illahi rojiun."


Genggaman tangan Zayn terlepas, Santi terus menangisi jenazah suaminya. Fahri menutup mata dan mulut Zayn, dia berbisik ditelinga Zayn.


Dia lalu menghampiri Santi, dan terus menguatkan mantan kekasihnya itu.


"Ikhlaskan suamimu, dia sudah bahagia disana. Kuatlah Santi, putramu masih membutuhkanmu." ucap Fahri sambil menepuk bahu Santi yang masih memeluk jenazah suaminya itu.


Kedua orangtua Zayn sangat terpukul atas kepergian putra mereka satu-satunya. Kabar koma nya Zayn rupanya sudah menyebar hingga ke telinga Bunda Syifa. Niatnya ingin melihat kondisi Zayn dirumah sakit, namun tubuhnya gemetar ketika melihat putri dan menantunya berada didalam ruangan Zayn. Bahkan Bunda Syifa menyaksikan semuanya dibalik jendela.


Saat Gisya dan Fahri keluar, Bunda Syifa berhambur memeluk keduanya.


"Yaa Allah, dasar anak-anak nakal! Kenapa gak ada yang kasih tau Bunda!" kesal Bunda.


"Maafin kita ya, Bun. Kita cuman gak mau Bunda khawatir." Lirih Gisya.


"Gimana keadaan kalian? Dimana anak-anak?" tanya Bunda Syifa.


"Quera di ruang PICU Bun, kalo Husain Abang titipkan Baba." Jawab Fahri.


"Bunda takziah dulu kedalam, kalian harus ceritakan semuanya sama Bunda." ucap Bunda Syifa dengan isak tangis.


Bunda Syifa masuk kedalam ruangan Zayn, dan dia memeluk erat Santi dan Ajeng.


"Maafkan suamiku, Bun. Maafkan segala kesalahannya." Lirih Santi.

__ADS_1


"Bunda sudah memaafkannya sejak dulu, ikhlaskan suamimu. Bunda pernah ada diposisimu, Nak. Meskipun sulit, Bunda yakin kamu pasti bisa. Jangan sungkan untuk datang pada Bunda. Kami keluargamu juga." ucap Bunda Syifa.


"Terimakasih Mbak Syifa, do'akan putraku ya Mbak." Ucap Ajeng.


"Aku akan selalu mendo'akan kalian semua, kita lupakan semua yang terjadi dimasa lalu. Mulai hari ini kita menata masa depan bersama. Aku akan minta A Yusuf dan Teh Ais untuk membantu pemakaman Zayn." Ucap Bunda Syifa.


Santi menatap Jenazah suaminya dengan penuh cinta.


"Terimakasih sudah menjadi suami dan Papa terbaik untuk kami. Aku ikhlas melepaskan kepergianmu. Namun yang harus kau tau, melupakan setiap kenangan yang pernah kita ciptakan itu terasa berat." ucap Santi dalam hatinya.


Gisya bersama Fahri sudah berada diruangan Quera, hati mereka begitu sakit ketika melihat putri kecil mereka terbaring dengan perban dikaki dan tangannya yang di gips.


"Mbun, badan kakak sakit semua." lirih Quera.


"Sabar ya sayangnya Bunda, Allah sedang memberikan ujian untuk keluarga kita Nak. Kakak harus berdo'a sama Allah agar cepet sembuh ya." ucap Gisya.


"Kakak ga sendirian sayang, lihat Ayah sama Bunda juga sama. Kita lewati semuanya sama-sama ya, Nak. Kakak anak Ayah yang kuat!" ucap Fahri mengelus pipi putrinya.


Quera mengangguk patuh, menuruti semua yang dikatakan oleh kedua orangtuanya.


"Kakak mau makan Sop Ayam buatan Ummi." pinta Quera.


"Nanti Bunda telpon Ummi ya, biar Ummi buatkan Sop Ayam favorite kakak. Sekarang kakak bobo lagi ya Nak. Nanti Ayah minta dokter buat pindahkan kakak ke ruangan yang sama dengan Bunda dan Ayah." ucap Gisya pada putrinya itu.


Yuliana segera membuatkan Sop Ayam pesanan putri cantik mereka itu.


"Babaaaaa! Jaga anak-anak, Ummi mau bikin sayur Sop buat Rara." teriak Yuliana.


"Ummi! Angan tiak-tiak! uping Abang cakit!" omel Maul alias Alan.


"Hehe maaf anak Ummi, abis Baba lama!" ucap Yuliana.


"Hayohloh! Dimarahin kan sama ni bocah, lagian Ummi pake teriak-teriak! Baba kan belum budeg Mi!" kesal Jafran lalu bermain dengan ketiga bocah itu.


Setelah selesai memasak, Jafran memboyong semuanya untuk pergi kerumah sakit. Untung saja mereka dirawat diruangan VVIP. Jadi semuanya bisa masuk kedalam. Husain berhambur memeluk Ayah dan Bundanya. Dia sangat merindukan kedua orangtuanya. Sedangkan Yuliana dan Jafran masih terpaku, ketika mendengar jika Zayn meninggal dunia. Jujur saja mereka sangat shock.


"Yaa Allah, Zayn. Semoga semua amal ibadahmu diterima Allah, dan semua dosa-dosamu diampuni oleh Allah." ucap Jafran.


"Aamiinn! Ummi masih gak nyangka, Ba. Nanti kita takziah ya Ba. Ummi takut dosa, Ummi pernah mengumpat kesal sama Almarhum Zayn." Lirih Yuliana.


"Makanya Mi, lain kali jangan ngedumel atau nyumpahin orang! Berabe kalo orangnya keburu Die!" celetuk Jafran yang dihadiahi sebuah cubitan di perutnya.


* * * * *


Maaf yaa kalo gak suka sama ceritanyaa..


Ini hanya imajinasi Author aja πŸ˜ŠπŸ™βœŒ


Dukung terus Author yaa ❀

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2