Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Demi Ibam


__ADS_3

Mirda menatap foto buah hatinya dalam ponsel, "Melihatmu tersenyum, bagaikan melihat berlian terbesar di dunia. Kamu adalah harta yang tak ternilai harganya dalam hidup Baba. Tunggu Baba pulang ya, Nak," lirih Mirda.


Hatinya terasa tak tenang, Mirda terus menerus teringat pada Ibam. Mungkin karena ikatan batin diantara keduanya begitu kuat. Sedangkan di rumah sakit, Elmira masih menatap bayi kecilnya yang tangannya tertancap infusan. Dia menangis tersedu-sedu ketika mengingat ucapan dokter mengenai hasil pemeriksaan putranya itu.


"Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan, bayi Almeer kami diagnosa mengidap Leukimia. Kanker darah atau leukemia adalah kanker yang menyerang sel-sel darah putih. Sel darah putih merupakan sel darah yang berfungsi melindungi tubuh terhadap benda asing atau penyakit. Sel darah putih ini dihasilkan oleh sumsum tulang belakang. Kami akan melakukan observasi mengenai hal ini, sebab melakukan kemotherapy pada usia bayi Almeer sangat beresiko tinggi," ucap dokter menjelaskan.


Semua orang terkejut, rasa bersalah menyelimuti hati Elmira. Dia juga baru mengetahui jika sejak kecil dia pernah mengidap penyakit tersebut. "Maafkan Bubu, sayang! Maafkan Bubu, Nak. Semuanya salah Bubu," lirih Elmira.


Bunda Gisya menghampiri putri sulungnya itu, "Sayang, semua ini sudah kehendak Allah. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Allah punya jalan yang terbaik untuk Ibam, kamu harus kuat ya sayang," pelukan dari seorang Ibu memang selalu menenangkan.


"Sekarang aku tau rasanya jadi seorang Ibu, berat Bun. Hati Kakak sakit liat Ibam gak berdaya kaya gini," Elmira menciumi tangan putranya yang masih belum sadarkan diri.


"Semuanya akan baik-baik aja sayang, kami semua akan selalu ada disamping Kakak. Jadi ayo kita semangat! Ibam pasti sembuh," ucap Bunda Gisya.


Dua hari berlalu, Mirda baru saja menyelesaikan pelatihannya. Dia sudah sangat merindukan kedua buah hatinya itu. Dengan senyum bahagia, Mirda menenteng dua buah keresek yang berisi mainan untuk anak-anaknya. Namun kebahagiaan itu menguap, setelah sang mertua mengabari jika Ibam dirawat di Rumah Sakit. Dengan penuh emosi, Mirda menjalankan motor miliknya menuju rumah sakit.


Melihat tubuh istrinya yang sedikit tak terurus, mata yang sembab dengan kantung mata yang mulai menghitam. Mirda tau, jika istrinya ini pasti kurang istirahat. "Kenapa gak kabarin Abang?! Kamu anggap apa Abang ini, Ra?! Ibam itu anak kita, kenapa kamu gak mengabari?!"


Seketika Elmira hanya bisa menangis, "Semuanya emang salah aku, Bang! Salah aku! Harusnya kamu gak menikah sama aku! Harusnya Ibam gak lahir dari rahim perempuan seperti aku, semuanya emang salah aku!" histeris Elmira.


Deg!


Mirda langsung berhambur memeluk erat sang istri, di tak menyangka jika Elmira akan berkata seperti itu. Dia juga yakin jika ada sesuatu hal yang tidak baik-baik saja disini. "Maafkan Abang, demi Allah sama sekali gak ada niat Abang buat menyalahkan kamu sayang. Abang cuman khawatir, bagaimana keadaan anak kita?" tanya Mirda.


Belum Elmira menjawab, tubuhnya sudah lemas dan tak sadarkan diri. Mirda yang panik segera membawa Elmira ke IGD, "Ada apa sebenarnya ini, Bunda?" lirih Mirda menatap sang mertua yang baru saja menyusul ke IGD.

__ADS_1


Bunda Gisya mengelus lengan Mirda, "Ini semua ujian untuk rumah tangga kalian, Ibam di diagnosa terkena Leukimia. Dan selama tiga hari ini, istrimu menghukum dirinya sendiri. Karena Leukimia yang diderita oleh Ibam itu genetik dari Elmira, sejak kecil Elmira pernah mengidap Leukimia. Tapi pada akhirnya dia sembuh, setelah melakukan beberapa kali operasi," lirih Bunda Gisya.


Badan Mirda mendadak lemas, dadanya terasa sakit. Dia sungguh tak menyangka jika putra kesayangannya itu akan mengalami hal seperti ini. Mirda berjalan dengan gontai, perlahan dia masuk kedalam ruang rawat PICU yang dikhususkan bagi anak-anak. Dilihatnya sang anak dengan berbagai alat yang menempel pada tubuhnya.


Mirda mencium kepala putranya itu, "Bangun sayang, Baba disini Nak. Baba mau liat Ibam sembuh, Baba akan lakukan segalanya untuk Ibam. Yang kuat ya sayang, anak Baba anak yang kuat."


Sekuat hati menahan airmata, tapi pada akhirnya Mirda menangis tersedu-sedu. Hatinya terasa sakit melihat kondisi anak yang biasanya ceria kini hanya terbaring tak sadarkan diri. Setelah dirasa kuat, Mirda keluar dari ruangan itu dan berniat menemui sang istri.


Melihat Elmira yang terbaring lemah hatinya bertambah sakit, "Kita akan menghadapi semuanya bersama-sama sayang. Apapun akan Abang lakukan demi anak kita, dan jangan pernah menyalahkan dirimu atas takdir Allah. Maafkan Abang yang tidak ada disaat kamu membutuhkan Abang, kita berjuang sama-sama ya sayang," Elmira mengangguk dan kemudian mereka saling memeluk, mencoba saling menguatkan.


Setelah melihat sang istri tertidur, Mirda menghampiri kedua mertuanya yang setia menemani. Kini mereka sedang berada di ruang perawatan Elmira, pada akhirnya dia harus mendapat perawatan karena dehidrasi dan stres berlebih. Sambil menunduk, Mirda mencoba menahan airmatanya. "Ayah, aku bakalan bawa Ibam kerumah sakit terbaik diluar negeri. Apa Ayah mengizinkan jika aku keluar dari kesatuan?"


Kedua mertuanya itu tersentak kaget, "Abang serius? Kita butuh biaya banyak, Bang! Terlebih biaya hidup disana itu tidak sedikit," tegas Ayah Fahri.


"Papa Abrafo pernah menitipkan sesuatu sama Ayah Chandra, dia meminta jika Elmira menikah berikan semua itu padanya. Tapi Abang belum kasih tau Elmira, Abang takut Elmira menolak. Tapi melihat kondisi Ibam seperti ini, Abang akan menggunakannya, Ayah," lirih Mirda.


"Yaa Allah, Abrafo! Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya untuk putrimu? Yaa Allah, Abrafo... Sahabatku...."


Mirda memeluk sang mertua, "Ayah Chandra bilang, beliau sebenarnya ingin memberikan semua ini sama Ayah. Tapi saat itu Ayah sudah kembali ke Indonesia, dan beliau juga mengatakan jika Papa Abrafo meminta berlian-berlian ini diberikan pada saat Elmira menikah. Mungkin beliau tau jika hal seperti ini akan terjadi," lirih Mirda.


"Dengar Bang! Abrafo melakukan kejahatan itu demi penyembuhan Elmira. Ayah mohon, jangan pernah keluar dari kesatuan. Biarkan kami yang akan menemani Elmira menjalani pengobatan diluar negeri. Jika memang itu keputusanmu, tapi Ayah mohon jangan pernah keluar dari kesatuan!" pinta Ayah Fahri.


Sungguh bukan keputusan yang mudah bagi Mirda, dia sungguh berada dalam posisi yang sulit. Dia ingin selalu berada disisi Elmira, berjuang bersama-sama demi kesembuhan sang buah hati. "Akan Abang pikirkan, Ayah! Sekarang Abang titip anak dan istri, Abang mau ke kantor Alan dulu buat membicarakan semuanya. Dia pasti tau kemana berlian itu harus dijual," ucap Mirda lalu berpamitan.


Alan sedikit terkejut ketika mendengar sekertarisnya mengatakan jika Mirda menunggunya di ruangan, sebab Alan baru saja menyelesaikan meeting dengan klien nya. "Ada apa, Bang? Kenapa Abang lesu begitu?" tanya Alan menghampiri Mirda.

__ADS_1


Dengan wajah lesunya Mirda meminta bantuan Alan, "Bantu Abang, ya! Tolong antarkan Abang ke tempat penjualan berlian terbaik dan termahal," lirih Mirda membuka kotak berlian yang dibawa dalam tasnya.


"What?! Berlian sebanyak ini dari mana, Bang? Sebutir berlian The Pink Star ini bisa mencapai 1 triliun, Bang!" ucap Alan membuat Mirda melototkan matanya.


"Jangan main-main kamu, Maul! Abang butuh biaya untuk pengobatan Ibam!" kesal Mirda.


"Demi Allah, Abang! Kalo gak percaya Abang liat aja di situs internet! Waaaw its so amazing, berapa harta kekayaan Abang kalo semuanya dijual!" kaget Alan ketika melihat berlian itu dalam kotak yang penuh.


Mirda termenung, dia tak menyangka jika Papa mertuanya itu menitipkan kekayaan sebanyak itu. Padahal sebagian dari kekayaan milik Papa mertuanya sudah Elmira ikhlaskan. Mirda hanyut dalam pemikirannya sendiri, "Kalo gitu Abang jual aja 5 butir, sisanya kamu simpan dan belikan pesawat pribadi buat kita. Biar mudah kalo bolak-balik untuk menjenguk Ibam. Abang percayakan semuanya sama kamu, tolong jangan beri tahu dulu Elmira," pinta Mirda.


Alan membulatkan matanya tak percaya, "Lu beli pesawat udah kaya beli molen dijalan, Bang! Duh berat gue dikasih tanggung jawab begini! Gini aja deh ya, Bang. Ni berlian kita itung dulu sama-sama, harta lu udah kebanyakan yang gue pegang, Bang! Beban juga ke gue nya, duit konveksian lu juga kan semua rekeningnya di gue. Setelah ini, kita bicarakan semuanya sama orangtua kita, ya! Mereka pasti bisa menemukan jalan keluarnya, kalo soal pesawat mah emang gue udah pesen sebelum Oma meninggal. InshaAllah sedang dalam proses perizinan dan lainnya. Lu tenang ya, Bang! Ibam pasti bakalan baik-baik aja," ucap Alan menguatkan.


Setelah menghitung jumlah berliannya, Alan terpaku begitupun juga dengan Mirda. "Wawww... The real sultan lu, Bang!" ucap Alan ketika dalam kotak itu terdapat kurang lebih 350 butir berlian The Pink Star. Mirda menggelengkan kepalanya tak percaya, "Ini semua milik Elmira bukan milik Abang, tapi Abang takut dia gak mau menerima semua harta kekayaan papanya ini," lirih Mirda.


Alan termenung, "Kalo gitu kita harus rahasiakan semuanya dari Kak Rara, setelah kondisi Ibam bener-bener pulih baru kita bicarakan lagi sama Kak Rara. Gimana?" tanya Alan dan Mirda mengangguk. "Tolong jaga semuanya, ya! Abang percaya penuh sama kamu."


Mirda kembali kerumah sakit, dia menghampiri sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya. "Maafkan Abang, sayang.. semuanya demi Ibam, demi anak kita." batin Mirda.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2