Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 58. Dendam Zahra


__ADS_3

Semua orang sudah duduk dengan ketegangan, mereka semua berkumpul untuk mendengarkan penjelasan Fahri dan Pak Asep mengenai Zahra. Sebenarnya saat mengetahui kebenarannya, Fahri sangat murka. Bahkan dia ingin melenyapkan Zahra saat itu juga. Zahra mengira, jika kedua orangtuanya tidak akan mengetahui tingkahnya. Karena saat ini kedua orangtuanya sedang berada di Singapura untuk menjalani pengobatan.


Zahra tersentak kaget ketika melihat kedua orangtuanya serta Kakaknya hadir disana. Dia menundukkan kepalanya karena takut dengan tatapan Ayahnya. Sementara Zayn sudah mengepalkan tangannya, dia menghampiri Zahra.


Bugh! Bugh!


Zayn memukul kepala Zahra sebanyak dua kali. Zayn sangat malu dengan tingkah adik perempuan satu-satunya itu.


"Apa sebenarnya maumu? Kamu fikir dengan melakukan ini semuanya akan kembali baik-baik saja? Apa kamu pikir Ayah akan kembali normal? Dasar bodoh!" geram Zayn.


Saat akan memukul kepala Zahra kembali, Gisya menghentikkannya.


"Stoop! Saya tidak mau ada kekerasa dirumah ini! Sekarang siapa yang akan menjelaskan pada saya?! Saya seperti orang bodoh disini!" amarah Gisya mulai memuncak.


Tiba-tiba Deni berlutut dihadapan Gisya, dia sampai menjatuhkan diri dari kursi rodanya.


"Maafkan Papa Ca, Papa benar-benar malu dihadapan kalian semua. Fahri tidak bersalah, dia hanya korban kegilaan Zahra." lirih Deni. Gisya meminta Syauqi agar mendudukan Deni kembali di kursi rodanya.


"Abang, Caca seperti orang bodoh disini. Tolong jelaskan!" lirih Gisya.


Fahri berjalan menuju Gisya, dia menggenggam erat tangan istrinya itu.


"Biar Pak Asep yang menjelaskan semuanya." ucap Fahri.


Pak Asep pun mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Bahkan dia datang bersama dokter dan beberapa saksi kejadian itu. Dokter Agam dan Dokter Embun bahkan menyempatkan diri untuk hadir, karena mereka merasa bersalah.


"Maaf sebelumnya, saya Asep. Saya ditugaskan oleh bapak untuk menemani Neng Zahra di Rumah Sakit. Sejak saya pertama kali melihat Neng Zahra sebagai relawan, saya sudah curiga. Karena diam-diam Neng Zahra selalu menyusup ke Barak Tentara. Saat kejadian itu, Pak Imam melihat sendiri jika Neng Zahra yang berlari kearah jatuhnya longsoran tanah. Saya semakin mencurigainya, tapi saya teh gak berani bilang sama bapak. Karena saya teh mau nyari bukti dulu." ucap Pak Asep.


Zahra gemetar, dia semakin menunduk karena ketakutan.


"Pas saya ngikutin bapak ke tenda darurat, saya kaget. Bapak minta diantar kerumah sakit, lukanya memang terlihat besar. Tapi dokter bilang juga lukanya tidak begitu parah. Saya mah nurut aja sama bapak disuruh kesana. Kebetulan pas Neng Zahra rongsen kepala, ada korban kecelakaan lalu lintas. Kepalanya kebentur trotoar jalan, dan kebetulannya lagi namanya itu Zahra juga. Keluarga korban itu belum datang, jadi pas dipanggil nama Zahra malah bapak yang nyaut." jelas Pak Asep.


Dokter yang dimaksud pun menjelaskan biduk perkaranya. Karena dia pun sebagai dokter sudah bersikap salah. Untung saja pasien yang kecelakaan itu selamat.

__ADS_1


"Saya mohon maaf kepada keluarga Bapak Fahri. Saya tidak menyangka kejadiannya akan sepanjang ini. Saat saya mengatakan jika Zahra harus melakukan operasi, saya tidak melihat nama panjangnya. Jadi saya hanya memanggil nama Zahra saja. Ternyata Bapak Fahri yang datang menghampiri saya, kebetulan saat itu kami akan berganti shift. Sehingga rekan sejawat saya yang menangani Zahra." ucap Dokter Agam.


"Betul, saya yang melanjutkan pemeriksaan atas nama Zahra Fadillah. Saya heran ketika mendapatkan hasil rongsen Zahra, pasalnya saya melihat pasien masih bisa tertawa-tawa. Setelah saya bandingkan dengan hasil pasien Zahra yang lain, ternyata hasil rongsen mereka tertukar. Untung saja saya segera bertindak dan melakukan operasi. Sekali lagi kami selaku pihak Rumah Sakit memohon maaf atas kesalahan kami." Ucap Dokter Embun.


"Sebaiknya Zahra mendapatkan perawatan ke Psikiatri, karena dia memiliki beberapa tanda gangguan kejiwaan." ucap Dokter Embun.


"Betul dokter, makanya saya teh heran. Waktu bapak nyuruh nemenin Neng Zahra operasi. Padahal sakitnya gak parah-parah banget. Saya niatnya mau ngasih tau bapak, eh malah bapak keburu pulang tugas ke Bandung." jelas Pak Asep.


Ajeng sudah menangis meraung-raung mendengar penjelasan Pak Asep dan Dokter. Hatinya begitu pilu, dia merasa sudah gagal dalam mendidik anak-anaknya.


"Maafkan Mama, Ca. Mama sudah gagal mendidik anak-anak Mama." lirih Ajeng sambil bersujud didepan Gisya dan Fahri.


"Berdiri Tante, saya tidak tau apa kesalahan keluarga saya terhadap keluarga Tante. Kenapa kalian selalu mengusik keluarga saya." lirih Gisya.


Zahra tidak terima ketika melihat Ibu dan Ayahnya bersujud pada Gisya.


"Bangun Ma! Bangun Pa! Dia bukan Tuhan! Kenapa kalian seperti itu." teriak Zahra.


"Diam kamu!!" bentak Zayn pada adiknya itu.


Zayn semakin murka mendengar ucapan adiknya itu. Saat dia akan menampar Zahra kembali, dia ditahan oleh Bunda Syifa dan Syauqi.


"Biarkan dia mengeluarkan semua emosinya." ucap Bunda Syifa.


"Zahra marah! Zahra kesal sama kalian semua! Semuanya ninggalin Zahra!! Keluarga kita hancur!! Sementara dia?! Dia berbahagia dengan rumah tangganya!! Sedangkan Aa? Tiap hari mertua Aa cuman minta uang, uang dan uang!! Aku benci kamu Gisya!!"


Deni yang sudah tidak tahan, mengambil sebuah gelas dan melemparkannya pada Zahra.


Praaannkkkk!!


Dahi Zahra terluka, dia meringis kesakitan.


"Kamu memalukan Zahra! Asal kamu tau, semuanya itu kesalahan kami! Bukan kesalahan Gisya! Dia hanya korban dari keserakahan kakak kamu! Dan kamu? Merasa ditinggalkan? Kemana aja kamu selama Papa sakit! Kamu cuman bisa foya-foya memakai barang haram! Kamu fikir dengan begini keluarga kita akan kembali seperti dulu? Tidak Zahra! Kakak kamu yang menghancurkan semuanya, dan Papa sebagai orangtua tidak becus untuk mendidik kalian!!" isak Deni dipelukan istrinya.

__ADS_1


"Enggak Pa, ini semua salah Zayn. Maafin Zayn udah bikin keluarga kita hancur. Semuanya salah Zayn." Ucap Zayn berlutut didepan kedua orangtuanya.


Zahra semakin tidak terkendali, dia mencoba untuk mencelakai Gisya. Dia melemparkan apapun yang ada dihadapannya.


"Dasar perempuan sial! Dasar penghancur!" teriak Zahra.


Syauqi segera mengamankan Zahra, dia tidak ingin kakaknya itu terluka. Namun sayangnya, Zahra berhasil lolos dari genggamannya.


Dia berlari kearah Fahri dan Gisya, dengan cepat Zahra mendorong Gisya hingga tubuh Gisya terjatuh ke lantai.


"Cacaaaaaa!!!" teriak mereka semua.


Saat melihat ada darah keluar dari kaki Gisya, Zahra tertawa puas.


"Hahahahhahahaha!! Akhirnya anakmu mati!!" tawa Zahra.


Mereka segera menangkap Zahra dan membawanya ke Kantor Polisi. Sedangkan yang lain membawa Gisya ke Rumah Sakit karena saat ini dia tidak sadarkan diri.


Fahri terus menangis, melihat kondisi istrinya yang seperti ini.


"Bangun sayang, bangun. Maafin Abang sayang, Abang bersalah sama kamu Dek. Bangunlah sayang, Abang disini." lirih Fahri.


"Sabar Bang, ini cobaan untuk kalian. Maafkan Bunda, Bunda sudah jahat memisahkan kalian. Maafkan Bunda." Lirih Bunda Syifa.


Mereka saling memeluk untuk saling menguatkan.


* * * * *


Sukak gak ceritanya?


Maaf ya ngebosenin!


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author❤


__ADS_2