Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Detektif Dadakan


__ADS_3

Nih yaa, othor ditodong muluk nih sama kalean buat UP LAGI.


JANGAN LUPA JEMPOLNYAA DONG SAMA KOMEN BIAR OTHOR HAPPY GITU NULISNYA.. 😍😍😍😍😍


aduh maaf saking semangatnya, maafkan jika ada yang tak berkenan pada tulisan othor yang gesrek ini.. 😁✌✌


HAPPY READING ❀❀❀


* * * * *


Rasa penasaran Mirda terhadap kehidupan Elmira membuatnya tak bisa tidur semalaman. Setelah melaksanakan apel pagi, Mirda melanjutkan tugasnya untuk membuat laporan. Selama dua tahun ini prestasi yang Mirda raih luar biasa, dia mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa. Setelah melaksanakan tugas di Kongo selama setahun lalu melanjutkan tugasnya di Papua. Mirda hampir saja kehilangan nyawanya saat bertugas, maka dari itu dia mendapatkan Kenaikan Pangkat Luar Biasa.


Siang hari, Mirda mulai merindukan Elmira. Karena tugasnya sudah selesai, Mirda mulai melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Bahkan sebelumnya Mirda membeli dua kotak makan siang untuk dirinya dan juga Elmira. Dengan wajah cerah bagai matahari siang ini, Mirda melangkahkan kakinya dengan cepat. Namun langkahnya terhenti, ketika melihat Elmira keluar dari ruang rawat Sweta bersama seorang laki-laki.


Seperti seorang detektif, Mirda mengikuti Elmira yang berjalan menuju kantin. Mirda duduk tepat dibelakang Elmira dan laki-laki itu.


"Maaf ya, aku belum bisa bantu persiapan pernikahan. Sweta lagi rewel-rewelnya sekarang," ucap Elmira dengan penuh rasa sesal.


"Gak apa-apa, tenang aja. Sweta harus tetap menjadi prioritas utama kita, tapi kamu juga jangan sampe lupa makan! Nanti aku dimarahin si Mami lagi," ucap laki-laki itu tertawa.


"Hehehe iya gak akan lupa makan kok! Salam ya buat Mami, do'ain Sweta cepet sehat. Biar kita bisa ketemu buat obrolin gaun yang akan dirancang Alana nanti," tutur Elmira.


Deg!


Hati Mirda begitu sakit, ingin rasanya dia berbalik dan mengetahui siapa laki-laki yang akan menikahi Elmira. Mirda terus berada disana, hingga Elmira pergi bersama laki-laki itu. Tetap pada tujuan awalnya, Mirda masuk kedalam ruang rawat Sweta.


Tok tok tok


Elmira membukakan pintu, dilihatnya laki-laki yang sangat dia kenali.


"Rian?!" ucap Mirda. "Mirda?!" ucap Rian lalu berhambur memeluk Mirda.


"Kapan kamu pulang?! Dua tahun loh kita gak ketemu," ucap Rian yang merindukan Mirda.


"Em, baru tiga hari yang lalu. Iya sudah lama ya," jawab Mirda dengan senyum yang dipaksakan. Dia masih tidak menyangka jika yang akan menikah dengan Elmira adalah Rian.


Mirda dan Rian terus berbincang-bincang, sedangkan Elmira hanya tersenyum bahagia saat menatap Mirda yang sesekali tersenyum kearahnya.


"Sssttt, jangan rewel dong sayang," ucap Elmira saat Sweta mulai rewel.


"Biar aku yang gendong," sahut Mirda lalu mengambil Sweta dari gendongan Elmira.


"Bbam, babamm, mamamam," ucap bayi itu berceloteh digendongan Mirda.


"Bam, anak cantik mau ngomong apa sih? Betah ya sama Om, jangan rewel ya cantik. Kasian Bubu kalo Sweta rewel, Bubu nanti sedih," ucap Mirda pada Sweta dan dijawab oleh gumaman khas bayi.


"Ayah Sweta yang sesungguhnya udah datang," batin Rian. Dia menggoda Elmira dengan menaik turunkan kedua alisnya, dan itu membuat Elmira kesal.


"Kamu mah, Abang!" rengek Elmira pada Rian.


Sikap Elmira pada Rian memang susah biasa, tapi hal itu membuat Mirda kepanasan. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Rian sudah berpamitan dari 2 jam yang lalu.


"Saya harus pamit, mau bertemu dengan Husain," ucap Mirda pada Elmira.


"Hati-hati dijalan ya, Bang. Makasih udah mau direpotin sama aku dan Sweta," ucap Elmira sambil menggendong Sweta.


"Tadi aku bawakan kotak makan siang, itu masih utuh. Jangan lupa dimakan, minta perawat buat menghangatkan di microwave," tutur Mirda lalu mengecup pipi gembul Sweta dalam gendongan Elmira.


Deg Deg Deg Deg!


Jantung Elmira berdegup kencang, apalagi dia bisa dengan jelas melihat wajah Mirda dan mencium aroma tubuh yang selama ini dia rindukan.


"Aku rindu pelukanmu, Bang. Andaikan kamu tau itu," lirih Elmira sambil menatap kepergian Mirda.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Mirda tak henti-hentinya berpikir keras. Hingga hampir saja dia bertabrakan dengan pengendara lainnya. Kini dia sudah sampai di Cafe milik Cyra, awalnya mereka akan bertemu di Cafe depan Rumah Sakit. Tapi Husain sedang ada keperluan bersama Alan di Cafe Cyra.


Husain melambaikan tangannya saat melihat Mirda di pintu masuk.


"Nyerah lu? Pake lambaikan tangan pada kamera," celetuk Alan.


"Itu Bang Mirda datang, Bambang!" kesal Husain menoyor kepala Alan.


"Eh buset, ini kepala bukan kelapa, maen toyor aja!" kesal Alan.


"Kalian ini udah dewasa tengkar terus!" ucap Mirda lalu duduk diantara mereka.


"Ada hal penting apa Bang? Aku sampe mikir keras tau," ucap Husain langsung ke intinya.


"Buset ni manusia satu kagak ada basa basinya! Ampuuuun dah," celetuk Alan.


Mirda tertawa melihat tingkah kedua orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Jadi gini, Abang mau tanya sesuatu sama kamu Husain. Mungkin ini hal pribadi yang akan Abang tanyakan," ucap Mirda membuat suasana menjadi serius.


"Boleh, Bang. Apa yang mau Abang tanyakan?" tanya Husain.


"Bagaimana kehidupan Elmira setelah Abang pergi? Bukannya Om Chandra akan menikahi Elmira? Lalu siapa Sweta? Dan siapa laki-laki yang Abang temui kemarin di IGD Dan satu lagi, apa Elmira akan menikah dengan Rian?" tanya Mirda tanpa melewatkan satu pun pertanyaan yang ada dikepalanya.


Hal itu membuat Alan dan Husain mati-matian menahan tawanya.


"Bang, satu-satu dong! Aku gak bisa inget semua pertanyaan itu," ucap Husain.


"Oke oke! Apa Om Chandra gak jadi menikahi Elmira?" tanya Mirda.


"Biar gua yang ceritain, Bang. Karena waktu itu si Ain kan masih di asrama, gua lebih tau yang terjadi sama Kak Rara," sahut Alan menawarkan diri.


"Bener juga, yaudah coba ceritakan!" pinta Mirda.


"Jadi waktu pas Om Chandra bilang mau nikahin Kakak, itu bikin Kakak pingsan. Akhirnya dibawa kerumah sakit, pas udah disana Kakak kabur karena mau nemuin Abang. Pas ditengah jalan, Kakak dihadang dan diculik sama Paman kandungnya," ucap Alan.


"Apa?! Elmira diculik? Apa Sweta anak culik itu? Apa mereka yang melakukan itu pada Elmiraku? Aarrrgghhhhh!!" tanya Mirda frustasi mengingat usia Sweta.


"Woyy santey Bang! Kaget gua Yaa Allah, untung ini jantung buatan Allah, Bang! Kalo buatan Cina udah krekkkk-wafat gua!" kesal Alan.


"Bener Bang tenang dulu," ucap Husain sambil mengelus punggung Mirda.


"Lanjutkan ceritamu, Alan," pinta Mirda.


Lagi-lagi Alan menarik nafasnya dalam-dalam, dan mulai melanjutkan ceritanya.


"Gua mulai lagi nih, tapi jangan dipotong lagi kayak tadi! Gua lupa ampe bab mana ya tadi ceritanya," ucap Alan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sampe Kakak diculik, si Alan!" kesal Husain.


"Oh iya! Nah jadi waktu itu si Kakak diculik kan, disandera lah dia di gedung kosong dipinggir jalan tol. Wahh brag brig brug, pokoknya mah kita nyariin si Kakak. Sampe ampir 200 orang Polisi ama Tentara noh buat ngepung itu penjahat. Dan ternyata tau gak? Si Om Chandra ketembak ampir 15 peluru buat ngelindungin si Kakak," ucapan Alan kembali terpotong oleh Mirda.


"Apaa?! Ayah ketembak?! Terus gimana keadaannya?! Arrgghhhh" geram Mirda.


"Astaghfirulloh, Yaa Allah Yaa Rahman Yaa Rahim! Ogah lagi dah gua cerita! Daripada gua mati muda kena serangan jantung!" ucap Alan sambil memegang dadanya.


"Sorry, sorry, lanjutkan ceritanya! Jangan setengah-setengah!" tegas Mirda.


"Eh mohon maaf Bapak berbadan Singa berhati kucing! Dari tadi kan situ yang motong-motong cerita gua, udah kayak pemerintah aja lu potong dana bansos!"kesal Alan.


"Yaudah cepet lanjutin!" ucap Mirda yang tak sabar.


"Kagak dikasih minum dulu gua Bang? Seret ini tenggorokan," ucap Alan.

__ADS_1


"Cerita dulu! Nanti Abang traktir kalian makan sepuasnya!" ucap Mirda membuat mereka kembali bersemangat.


"Nah demen gua yang kaya gini! Nah jadi si Om Chandra tuh ketembak kan, dar dor dar dor, koma lah dia! Ampir setaun kalo kagak salah mah, pokoknya pas Biang Mira lahiran aja si Om Chandra sadar dari koma nya, itu juga pas denger anaknya jerit oak oak oak begitu!" ucap Alan menceritakan. "Lah ngapa lu kaga kaget Bang pas gua bilang Biang Mira lahiran?" tanya Alan.


"Yeee! Kan elu yang ngelarang si Abang buat motong cerita!" kesal Husain menjitak Alan.


"Terus gimana lagi lanjutannya? Jadi Om Chandra selamat? Apa Sweta itu anak mereka? Kenapa dirawat oleh Elmira?" tanya Mirda.


"Lah itu mah gua kagak tau, Bang. Ampe situ aja cerita yang gua tau," bohong Alan lalu menatap Husain dan mengedipkan sebelah matanya.


"Kalian yakin gak tau mengenai Sweta?" tanya Mirda penuh selidik.


"Berani disamber gledek dah gua Bang kalo bohong!" ucap Alan.


Duaaaarrrrrrrr ⚑⚑⚑⚑⚑⚑


Suara petir menggelegar, membuat Alan dan Husain tersentak kaget.


"Yaa Allah maapin Alan, Yaa Allah. Panjangkanlah umur Alan Yaa Allah, Alan cuman mau bantuin Bunda dan Ummi hamba yang naudzubillah cerewetnya. Gak ada maksud buat bohongin Bang Mirda kok Yaa Allah, maapin Alan yaa Yaa Allah." gumam Alan dalam hatinya sambil memejamkan mata dan memegang dadanya.


"Kualat lu!" bisik Mirda lalu mendapat sikutan dari Alan.


Mirda tertunduk lesu, rasa penasarannya terhadap Elmira dan sosok Sweta membuatnya frustasi. Sedangkan Alan dan Husain malah mesam mesem tersenyum.


"Gimana kalo kita sedikili asal usul Sweta?" ucap Alan memberikan ide.


"Si Alan! Selidiki, mana ada sedikili!" kesal Husain menoyor kepalanya.


"Yaa Allah, gedeg amat gua! Pertigo lama-lama gua ditoyor mulu!" kesal Alan.


"Jadi mulai darimana kita selidiki mengenai Sweta?" tanya Mirda yang sudah tak sabar.


"Wes kalem kalem Bang! Alon alon asal klakon, lalaunan we lah! Sekarang ma plis ya ini mah plis banget, Alan teh lapar aslinya!" ucap Alan.


"Yaudah pesen apapun yang kalian mau, biar Abang yang traktir! Asal kalian berdua mau bantu Abang buat tau semua tentang Elmira," ucap Mirda.


"Siiip! Gampang bisa diatur!" ucap Alan dengan entengnya, sedangkan Husain mulai menggeleng-gelengkan kepalanya.


Alan dan Husain makan dengan lahapnya, sedangkan Mirda hanya bisa merenung.


"Jadi mulai besok ya kita jadi detektip, Bang!" ucap Alan.


"Detektif Alaaaaaan!" kesal Husain pada sahabatnya itu.


"Ih bae atuh meuni riweuuh elu!" kesal Alan.


"Elu elu, maneh we atuh! Orang sunda campur batawi KW teh kieu euy!" celetuk Husain.


"Udah jangan ribut! Besok Abang tunggu kalian di cafe depan Rumah Sakit!" ucap Mirda dan dianggukki oleh keduanya.


* * * * *


Apa ya yang direncanakan oleh Alan dan Husain???


Makin penasaran gak? 😝😝😝😝


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2