
Hari ini menjadi hari yang indah bagi kedua sejoli ini. Mereka menunggu waktu untuk melaksanakan Sholat Maghrib berjama'ah di Mesjid. Fahri sudah selesai berdo'a dan menunggu sang pujaan hati di teras Mesjid.
"Sudah selesai?" tanya Fahri yang melihat Gisya menghampirinya.
"Sudah Bang, kalo pulang dulu ke Rumah keburu gak ya? Jilbab adek basah, tadi jatuh pas wudhu." ucap Gisya.
Fahri tersenyum mendengar nama panggilan Gisya sudah berubah. Sungguh hari ini adalah hari yang bersejarah baginya.
"Abang malah senyum-senyum gitu! Hayuk Bang, gak nyaman ini Jilbab nya basah." Ajak Gisya.
"Gak usah pulang, nanti kita mampir sebentar ke Toko Jilbab. Kalo pulang dulu lama."
"Yaudah deh, Adek manut aja sama Abang."
"Harus dong! Kewajiban istri itu nurut sama suami," goda Fahri yang membuat Gisya tersipu malu.
"Ih dasar abang mah!" Gisya mencubit tangan Fahri.
Mereka berjalan beriringan menuju parkiran.
"Loh, kok Abang mau ke mobil Adek? Itu mobil Abang gimana judulnya?" tanya Gisya.
"Yaa Allah! Abang lupa, Dek. Saking bahagianya ni hati Abang." ucap Fahri menggoda Gisya.
"Godain aja terus Bang. Adek tinggalin disini baru tau rasa!" kesal Gisya.
"Kita satu mobil aja gimana Dek? Mobil Abang tinggal disini aja," tutur Fahri menyarankan.
"Jangan aneh-aneh deh Bang! Hayuk nanti telat!"
Akhirnya mereka berangkat dengan mobil masing-masing.
Sebelum menuju Restoran, mereka mampir dulu ke sebuah Toko yang menjual Jilbab.
"Jangan lama pilihnya, nanti kita telat!" Ledek Fahri saat menunggu Gisya yang kebingungan memilih Jilbab.
"Sebentar Bang, menurut Abang bagus yang pink putih atau yang motif bunga?" tanya Gisya.
"Yang pink putih itu bagus, cocok sama warna baju kamu Dek." ucap Fahri.
"Emm.. polosan doang Bang, gak rame! Adek pilih yang motif aja." ujar Gisya sambil membawa jilbabnya.
"Huft! Dasar perempuan, ngapain nanya kalo akhirnya milih sendiri." gumam Fahri.
Di Restoran, semuanya sudah mulai berkumpul. Tinggal menunggu Febri dan Andi, juga Fahri dan Gisya.
"Heran, malah jadi kita yang nungguin mereka!" kesal Jafran sang pemilik Acara.
"Jadi deg-degan sendiri, si Caca kesini bareng Fahri gak ya. Semoga hubungan mereka baik-baik aja deh! Serasi banget mereka tuh." tutur Yuliana.
"Deg-degan nya nanti malem aja, yank." bisik Jafran.
Yuliana berubah tegang, mengingat malam ini adalah malam pertama mereka. Jafran hanya terkekeh melihat raut sang istri berubah memerah karena gugup.
Tak lama kemudian, datanglah Febri dan Andi yang disambut oleh tatapan tajam semua orang yang berada disana. Namun raut wajah mereka berubah sumringah ketika melihat dua sejoli yang baru saja datang. Gisya dan Fahri berjalan beriringan, dengan senyuman yang merekah di wajah mereka.
"Ekhheemm!! Tadi aja Ebi yang dateng pada melotot, Caca sama Fahri yang dateng aja langsung pada sumringah!" kesal Febri.
"Sstttt! Udah cepet duduk Teh, untung teralihkan kedatangan Teh Caca. Kalo enggak, keburu di amuk sama Emak-Emak tau." Bisik Syaina.
"Bisik-bisik apa sih, Dinda?" tanya Andi.
"Cepet duduk, Mas. Biar gak di amuk para Singa." bisik Febri yang membuat Andi menahan tawa.
"Assalamu'alaikum," ucap Fahri dan Gisya.
"Walaikumsalam." jawab mereka serempak.
__ADS_1
"Aheuy! Pucuk dicinta ulam pun tiba," celetuk Syauqi.
"Ane yang pengantenan, Ente yang romantisan. Bisa gitu yaa?" celetuk Jafran.
"Kalian ini! Udah-udah pada yang anteng aja duduk. Kita makan dulu, kita Emak-Emak udah pada laper!" ucap Bunda Syifa.
Mereka makan malam bersama-sama, makan malam yang membawa kembali kehangatan kekeluargaan dalam persahabatan mereka.
"Dek, boleh Abang minta Udang asam manisnya?" tanya Fahri sambil menyodorkan piringnya.
"Boleh, Bang. Lagian sepiring ini gak akan habis kalo Adek sendiri yang makan." ucap Gisya.
"Uhuukkk! Uhuuuukkkk! Uhuuuuukkkkk!!"
Hampir semua yang disana tersedak makanan mereka. Sungguh Gisya memang ajaib, hanya dengan kata 'Adek' saja mereka sampai tersedak.
"Kalian ini, makannya pelan-pelan! Baru denger si Caca bilang Adek aja pada keselek semua. Apalagi kalo denger si Caca bilang sayang!" ucap Umma Nadia.
"Syukuran Bunda! Bener-bener harus syukuran ini mah! " celetuk Yuliana.
"Bener Bun, kalo bisa mah bikin tumpeng terus bikin bubur merah bubur putih." Celetuk Syauqi.
"Yee! Emang mau ganti nama, pake ada bubur merah bubur putih segala." ucap Syaina kesal.
Mereka melanjutkan Acara makan-makan mereka dengan penuh rasa bahagia. Selesai makan malam, para laki-laki memutuskan untuk memisahkan diri. Karena mereka malas mendengarkan obrolan para wanita yang tidak jauh dari shoping atau makanan.
"Jadi gimana, Ri? Sepertinya sudah bisa dijinakkan." ucap Andi.
"Dih si Mas Andi! Emangnya Teh Caca bom, bahasanya pake dijinakkan." kesal Syauqi.
"Hahahahaha, gini nih! Nyambung nya ke bom kalo ngobrol sama Polisi." ledek Andi.
"Hush! Ente malah pada debat perkara bom. Jadi gimana nih? Kapan nyusul ke pelaminan?" tanya Jafran.
"Sabarlah, semuanya kan butuh proses. Alhamdulillah dia sudah menerima. Tinggal nunggu Mama sama Papa buat melamar secara resmi." ucap Fahri.
"Alhamdulillah," jawab mereka serempak.
Sementara itu, ibu-ibu sedang menikmati dessert mereka. Sedangkan para gadis-gadis sedang mengintrogasi Gisya dan Febri. Mereka masih kesal karena menunggu lumayan lama.
"Jadi siapa duluan ini yang mau cerita soal keterlambatan kalian?" ucap Yuliana kesal.
"Maaf manten, tadi tuh kita mampir dulu beliin kado buat kamu. Jadi aja kita telat," ucap Febri sambil memberikan sebuah paperbag berwarna pink.
Yuliana terdiam sejenak.
"Hemm.. Alasan diterima! Kalo nona manise yang satu ini akan beralasan apa?" Selidik Yuliana.
"Tadi abis mampir sholat Maghrib di mesjid, jilbab aku jatoh. Terus mampir dulu ke toko Jilbab, jadi telat deh!" jawab Gisya santai.
"Idih jadi kita lama nungguin orang shoping! Sungguh terlalu!" kesal Yuliana.
"Eeiiitttsss! Jangan marah-marah dulu, aku juga beliin kado buat kamu. Bahkan buat Febri sama Syaina juga aku beliin." ucap Gisya yang membuat mereka senang.
"Assyyiiikkk," teriak mereka serempak.
"Tunggu, aku bawain dulu di mobil."
Fahri melihat Gisya saat dia melewatinya.
"Adek mau kemana?" tanya Fahri.
"Mau ambil paperbag tadi dimobil" jawab Gisya.
"Biar sama Abang aja, sini kunci mobilnya." pinta Fahri.
"Makasih ya, Bang." ucap Gisya lalu memberikan kunci mobilnya pada Fahri.
__ADS_1
"Ahiy! Ahiy! Lope lope bertebaran dimana-mana." celetuk Jafran.
Fahri menyerahkan paperbag itu kepada Gisya.
"Cieee.. Cieeee... Uhuuuyy!" ledek Yuliana.
"Nih buat kamu, Lil. Semoga istiqomah ya pake jilbabnya. Jangan sistem buka tutup kayak jalan!"
"Aaammiinnn, do'ain ya Ca." tutur Yuliana.
"Nah yang ini buat Ebiku sayang. Semoga kamu juga segera memakai Jilbab ya! Kan sebentar lagi akan Sah menjadi seorang istri."
"InshaAllah, bakalan aku pake Jilbabnya." ucap Febri.
"Dan yang ini buat Ina. Teteh minta maaf ya, udah berprasangka buruk sama Ina. Maafin ya,"
"Alhamdulillah, makasih banyak ya Teh. Ina juga minta maaf ya, tadi Bang Fahri itu ngelamar Teteh. Malah Ina videoin tadi tuh." ucap Syaina.
Mata Gisya berkaca-kaca ketika dia melihat rekaman video Syaina saat Fahri meminta izin kepada Bunda untuk meminangnya. Gisya sangat merasa bersalah, tapi disisi lain dia merasa sangat beruntung. Akhirnya dia bisa menjalin hubungan serius dengan Fahri.
"Hayu kita pulang Ca, udah malem. Bunda sudah cape ini." ajak Bunda.
"Fahri antar ya, Bu. Biar mobil Gisya dipakai Uqi untuk antar Ina. Kasian keburu kemaleman." ujar Fahri.
Bunda hanya menganggukkan kepalanya. Gisya duduk didepan menemani Fahri. Sementara Bunda duduk dibelakang bersama Uwak Ais.
"Jadi kapan orangtua kamu ke Bandung?" tanya Uwak Ais membuka pembicaraan.
"InshaAllah secepatnya Uwak, do'akan agar Mama dan Papa bisa segera datang melamar." tutur Fahri.
"InshaAllah akan selalu Uwak do'akan semoga niat baik kalian di Lancarkan oleh Allah."
"Terimakasih Uwak, kapan Uwak Yusuf pulang dari Ambon?" tanya Fahri.
"Besok sudah sampai Bandung, InshaAllah."
Mobil pun sudah sampai didepan Rumah Gisya.
"Terimakasih ya, Nak. Sudah antarkan kami sampai Rumah. Mau mampir dulu?" tanya Bunda.
"Gak usah Bun, sudah malam. Mungkin besok kalo sudah selesai tugas Fahri kemari."
"Ya sudah, hati-hati dijalan ya. Bunda masuk duluan."
Kini tinggal Gisya yang masih berdiri didepan mobil milik Fahri.
"Abang hati-hati dijalan ya! Kabari kalo sudah sampai."
"Iya Dek, nanti Abang kabari kalo sudah sampai. Jangan tidur malam-malam, ya. Abang pulang! Assalamu'alaikum." pamit Fahri.
"Walaikumsalam."
Gisya melambaikan tangannya hingga mobil Fahri tidak terlihat lagi. Dia terus menyunggingkan senyumannya. Hingga mobil Syauqi datang pun, dia tidak menyadarinya.
"Ternyata jatuh cinta bisa bikin orang jadi gila!" celetuk Syauqi.
"Astaghfirulloh Uqi! Kamu bikin Teteh jantungan tau gak?!" kesal Gisya.
"Lagian mobil Uqi masuk aja Teteh gak sadar! Udah malem hayuk masuk! Kesambet baru nyaho!"
* * * *
Maaf Author baru Up.
Soalnya lagi Repot!
Nantikan terus cerita selanjutnya ya!
__ADS_1
Dukung terus Author biar semangat nulisnya!
Salam Rindu, Author❤