
Ketika kamu ikhlas menerima semua kekecewaan dalam hidup ini, maka Allah akan membayar tuntas semua kekecewaanmu dengan beribu-ribu kebaikan. Mungkin setiap manusia memiliki bumi yang sama, tapi percayalah mereka memiliki badai yang berbeda.
Selepas acara akad nikah sang adik, Elmira bergegas pergi ke Rumah Sakit. Dia sudah terlalu lama meninggalkan putra kesayangannya. "Maaf ya aku lama, Ibam gak rewel kan?" tanya Elmira.
"Tentu saja tidak, dia sudah berkawan dengan sa. Dimana Sweta? dia tak ikut kah?" tanya Betrysda yang tidak melihat Sweta disana. Elmira menggelengkan kepalanya, "Bunda gak izinin Sweta ikut kesini lagi, kasian katanya. Jadi sementara aku titip di Cyra, lagian dia gak keberatan buat ngasuh Sweta sementara waktu," jawab Elmira.
Dia mengusap lembut pipi putranya itu, "Baba kamu kok gak ngabarin Bubu, ya?"
Melihat wajah sendu Elmira membuat Betrys tidak tega, "Jangan terlalu dipikirkan, suami kau itu sedang berusaha mencari uang untuk anaknya. Jangan pernah berpikiran macam-macam, fokus saja dengan kesehatan putramu. Sa yakin, Danki itu setia pada kau."
Elmira menganggukkan kepalanya, "Aku gak pernah meragukan cinta dan kesetiaan suamiku, aku cuman khawatir. Setidaknya dia kasih kabar, bukannya dia pergi cuma buat mengurus konveksi. Bukan pergi keluar negri," ucap Elmira membuat Betrysda tersedak.
"Uhhuukk... Uhuukkkkk... Ra! Sa balik dulu, anak-anak sepertinya rindu ibunya. Sampe sa tersedak begini," ucap Betrysda lalu pamit pulang.
Entah kenapa, Elmira merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Betrsda mengenai suaminya. Berkali-kali Elmira mencoba menghubungi suaminya itu, tapi tidak ada satupun panggilang yang tersambung. Begitupun dengan kedua adiknya, rasa curiga Elmira semakin dalam. Bukan bermaksud tidak mempercayai, hanya saja Elmira khawatir.
Sementara kini keempat laki-laki itu baru saja mendarat di Singapore, mereka sudah menyewa Apartemen untuk tempat tinggal Elmira nantinya. Tentu saa tepat disamping Apartment milik Baba Jafran disana. Rencananya, apartment milik Baba Jafran akan ditempati oleh Ayah Fahri dan Bunda Gisya. Mendekati masa-masa tua, Ayah Fahri lebih memilih akan memfokuskan diri pada cucunya.
Mirda merasa gelisah, tak seperti biasanya. Dia terus teringat pada istrinya yang mungkin kini sedang mengkhawatirkannya. Hampir satu minggu ini, dia tidak pernah sekalipun mengirim pesan pada sang istri. "Ba, tolong hubungi Ummi. Minta beliau menemani Elmira, hati Abang resah gak karuan," pinta Mirda.
Baba Jafran mengangguk, "Istirahatlah dulu, setelah administrasi Rumah Sakit selesai semua kita pulang. Baba hubungin dulu Ummi."
* * *
Setelah semua urusan selesai, mereka semua kembali ke Indonesia. Bisa terlihat wajah mereka sangat pucat, tubuh mereka lelah. Ternyata meskipun memakai pesawat pribadi, hal itu tidak mengurangi rasa lelah mereka.
Mereka tak langsung pulang, Rumah Sakit adalah tujuan utama mereka saat ini. Sebab surat dari Rumah Sakit Singapore harus segera diberikan pada dokter yang menangani Ibam. Tidak ada sambutan senyuman, suasana ruang rawat Ibam terasa mencekam. Alana menunduk menahan tangis, begitupun dengan Theresia. Sedangkan Ummi dan Bunda hanya bisa saling terdiam. Ternyata tanpa sengaja, Alana mengatakan tujuan kepergian mereka.
Mirda mendekati sang istri dan putranya yang tengah tertidur, "Sayang, gimana kondisi Ibam?" tanya Mirda dengan lembut.
Tak ada jawaban, tatapan Elmira terasa menusuk jantungnya. Tatapan sebuah kekecewaan yang diperlihatkan mata indah itu. "Aku ini siapamu? Sampai hati kamu membohongi istri kamu, Bang! Kamu anggap apa aku ini?!" teriak Elmira yang sudah tak bisa menahan emosinya.
"Abang melakukan semua ini demi anak kita! Gak ada sedikitpun dalam hati Abang buat membohongi kamu! Salahkah Abang memperjuangkan hidup anak kita!" teriak Mirda yang tak kalah emosi. Tubuh dan pikirannya sangat lelah, ditambah sambutan istrinya yang seperti ini.
Emosi Elmira semakin memuncak, "Dengan menjual harta yang tak pernah aku inginkan?! Aku gak pernah sudi memakainya, Bang! Aku gak mau anakku dibiayai oleh uang haram orangtuaku!"
"Lalu aku harus apa, Elmira! Haruskah aku berdiam diri menanti kematian anakku yang sudah didepan mata!" geram Mirda.
__ADS_1
"Kita bisa minta bantuan Ayah, Bang! Usaha Ayah banyak, setidaknya kita bisa pinjam! Kenapa kamu mengambil keputusan sepihak? Aku ini istri kamu Bang!" teriak Elmira yang sudah tak bisa menahan airmatanya.
Kini emosi Mirda pun semakin memuncak, dia memberikan sisa berlian dan uang yang sudah diterimanya. "Aku malu meminta bantuan pada Ayahmu! Harusnya kita sadar diri, kita ini hanyalah anak angkat! Kamu bisa melihat berapa nominal angka yang harus kita keluarkan demi memperjuangkan anakku! Apakah Ayahmu harus menjual seluruh hartanya untuk kamu?! Sekarang terserah! Aku lelah Elmira! Aku hanya berjuang untuk anakku! Seperti dulu Papa mu memperjuangkan kesembuhanmu, walau dengan cara licik!"
Setelah mengucapkan hal itu, Mirda keluar dari ruangan. Husain dan Baba Jafran langsung menyusulnya, tubuh Mirda pastilah sangat lelah. Ditambah ucapan sang istri yang mungkin melukai hatinya. Sedangkan tubuh Elmira melemah seketika, Bunda Gisya dan Ummi Ulil mencoba menenangkannya. Mereka tak bisa ikut campur dalam hal ini, baik Mirda ataupun Elmira tidak ada yang bersalah. Hanya saja keadaan yang membuat mereka seperti ini.
Alan sudah tak bisa lagi menahan amarahnya, "Gue kecewa sama lu Kak! Harusnya lu mikir, sebagai seorang suami dan Ayah pengorbanan nya itu cukup besar! Lu juga sama aja gak ngehargain gue, Ain sama Baba yang juga ikut berjuang buat lu sama Ibam!" geram Alan.
"Aa, diem!" tegas Ummi Ulil.
Alan menggelengkan kepalanya, "Kenapa harus diam? Manusia ini terlalu egois! Kalo anaknya mati saat ini, mungkin dia baru ngerti!" bentak Alan.
"Aidan Alan! Ummi gak pernah mengajari kamu untuk membentak perempuan, apalagi dia Kakak kamu!" bentak Ummi Ulil.
"Alan tau mana yang harus Alan bela, Mi. Alan juga ngehargain dia sebagai Kakak, tapi dia gak ngehargain Alan sebagai adik! Terlebih Bang Mirda suaminya yang udah berjuang sampai ke Rusia demi anaknya! Demi anaknya, Ummi! Dia juga gak melakukan hal kotor seperti yang dilakukan kedua orangtuanya!" geram Alan yang sudah semakin emosi.
Plaaaakkkk!
"Yuliana!" tegur Bunda Gisya.
Alan memegangi pipinya yang terasa panas, "Lu harusnya mikir Elmira! Bokap lu ninggalin harta segitu banyak bukan tanpa alasan! Tapi dia yakin kalo lu bakalan menurunkan penyakit itu sama anak cucu lu! Harusnya lu mikir kesitu, bukan cuma mikirin egois lu sendiri! Sepicik-piciknya bokap lu, dia masih mikirin masa depan keturunannya! Gak kaya elu, bangs*at!!"
Pintu ditutup dengan kencang, Alan memang bukan orang yang suka memperlihatkan amarahnya. Tapi kini mereka bisa melihat sisi lain dari diri Alan. Bahkan kata-kata Alan mampu menampar Elmira, kondisi Ibam memang kembali drop hingga tak sadarkan diri. Ummi Ulil termenung, baru kali ini dia menampar anaknya dengan begitu keras. "Aku sama Rere pergi, maaf kalo kami udah melukai harga diri Kakak! Mulai saat ini, kami gak akan pernah ikut campur lagi," ucap Alana lalu pergi bersama Theresia.
Elmira menangis tersedu-sedu, ada sedikit penyesalan dalam hatinya. Dia membuka lembaran demi lembaran kertas yang diberikan oleh suaminya. Tak disangka, hampir 3 triliun biaya yang dikeluarkan untuk putranya itu. "Yaa Allah, aku gak sanggup Bunda! Aku gak mau kehilangan Ibam, kenapa Allah memberikan ujian ini, Bun. Aku gak sanggup!"
Bunda Gisya memeluk erat tubuh putrinya, "Sayang, Allah memberikan ujian ini karena Allah yakin kalo kamu sanggup untuk melewatinya. Bunda mohon jangan pernah menyerah, pikirkan Ibam. Dia adalah prioritas utama kamu, kalo memang menurut Kakak yang bang Mirda lakukan itu salah. Bunda bakalan minta Ayah buat menjual Hotel yang di Bogor. Bunda yakin itu cukup," ucap Bunda Gisya.
Kini Elmira dilanda kebimbangan, dia tidak tau harus melakukan hal apa. Dia juga merasa bersalah terhadap suaminya, sedangkan Mirda kini menangis tersedu-sedu didalam mobil. Niatnya hanyalah untuk menyelamatkan putranya, tapi ucapan Elmira sudah melukai harga dirinya sebagai seorang suami. "Aku memang orang gak mampu, Ba! Salahkah aku memperjuangkan hidup anakku?! Aku lelah, Ba! Lelaaahhhhhh!" teriak Mirda menjambak rambutnya frustasi.
Baba Jafran mendekap erat tubuh Mirda yang rapuh, "Baba ngerti perasaan kamu! Gak ada yang salah, hanya saja keadaan saat ini yang tidak tepat. Baba akan selalu mendampingi kalian, kamu harus kuat!" ucap Baba Jafran.
Tak ada jawaban, tubuh Mirda terkulai lemas. "Bang! Bangun, Bang!" Baba Jafran menepuk pipi Mirda.
Husain dan Baba panik, mereka membawa Mirda masuk kedalam IGD. Alan melihat itu dan menghampiri mereka, "Bang Mirda kenapa?!"
"Jangan banyak tanya! Bantu bawa ke IGD!" titah Baba Jafran dan Alan mengangguk. Alana dan Theresia menyusul mereka, tanpa menghiraukan Ayah Fahri yang bertanya. "Ada apa ini?" batin Ayah Fahri.
__ADS_1
Begitu sampai diruangan Ibam, Ayah Fahri melihat Ummi Ulil yang menunduk menangis dan juga istri dan anaknya yang menangis saling berpelukan. "Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu? Ayah liat tadi Rere dan Alana ke IGD, ada apa?!" tanya Ayah Fahri namun tidak ada yang menjawab.
"Jawab! Ada apa ini?!" bentak Ayah Fahri membuat ketiganya terperanjat kaget.
"Mereka udah balik, Elmira dan Mirda bertengkar hebat. Bahkan aku menampar putraku Alan," lirih Ummi Ulil menatap tangannya.
Ayah Fahri tersentak kaget, dia menghampiri Elmira dan melihat kotak berlian dan juga surat-surat disana. "Demi istri dan anaknya dia berjuang menjual berlian peninggalan Papamu, Quera! Apakah bisa kamu sedikit berdamai dengan masa lalumu?" ucap Ayah Fahri dengan rahang yang mengeras menahan emosi.
"Sejak dulu kamu adalah prioritas utama kami, tidak pernah sedikitpun kami membedakan! Mau kamu anak kandung atau anak angkat, kami tetap berjuang untuk keselamatan kamu! Salahkah suamimu yang berjuang demi istri dan anaknya, dia menggunakan harta Papa kandungmu, Gelya Quera Feodora! Bukan melakukan hal picik!" bentak Ayah Fahri.
Jika sudah menyebut nama aslinya, maka bisa dipastikan saat ini dia sangat kecewa. Elmira semakin menangis sesegukan, hingga..... "Ayah! Ikut ke IGD sekarang! Bang Mirda ngamuk!"
Mendengar ucapan Husain, sontak Ayah Fahri segera mengikutinya. "Suamimu itu lelah dan tertekan batinnya! Laki-laki akan lemah jika menyangkut keluarganya!"
Elmira berniat menyusul, namun Bunda Gisya dan Ummi Ulil menahannya. "Biarkan suamimu tenang dulu, kalian sama-sama sedang dalam kondisi yang panas. Tenangkan dirimu disini, Ummi yang akan melihat kondisi suami kamu," ucap Ummi Ulil.
Sedangkan di IGD, Mirda menolak di infus dan mengamuk. Hatinya begitu terluka, begitupun harga dirinya. "Radiansyah Mirda!" suara bariton itu membuat Mirda sedikit tenang.
"Aku lelah, Ayah! Aku lelah! Perjuanganku tidak ada artinya," lirih Mirda. Ayah Fahri segera memeluk menantunya itu dengan erat, "Maafkan putri Ayah yang sudah melukai hatimu. Perjuanganmu tidak sia-sia, Ayah yakin Ibam akan sembuh. Sekarang kamu harus diinfus! Tubuhmu juga butuh asupan, bagaimana kamu bisa menjaga putramu jika tubuhmu lemah," ucap Ayah Fahri.
Pada akhirnya, Mirda mau mendapatkan perawatan. Ummi Ulil menyusul mereka, dia bisa melihat wajah lelah anak dan suaminya. "Alan, maafin Ummi, Nak. Ummi gak maksud buat menyakiti kamu," lirih Ummi Ulil membuat Baba Jafran melotot.
"Apa maksudnya kamu menampar putraku?" bentak Baba Jafran. Melihat amarah suaminya, Ummi Ulil menunduk.
Alana mencoba menengahi mereka, "Udah, Ba! Tadi Aa juga salah ngebentak Kak Elmira, kita semua ini lagi lelah lahir batin! Alana mohon ya, cukup! Jangan ada pertengkaran lagi, mereka yang sudah tiada pasti kecewa melihat keluarga kita yang seperti ini. Bukan saling menguatkan, tapi saling menyalahkan," lirih Alana.
"Aku pulang! Ayo, Re!" ajak Alan yang terlanjur kecewa pada semuanya.
Hal tersulit itu adalah proses berdamai dengan masalalu, dengan hal yang menyakiti kita. Butuh keberanian dan juga butuh waktu. Saat bisa melewatinya, belum tentu bisa melupakan. Meski sulit dilupakan tapi cobalah mengikhlaskan, karena tidak semua hal bisa kita ubah. Apabila kita ikhlas atas sesuatu yang mengecewakan hati kita, InshaAllah kekecewaan itu akan diganti dengan sesuatu yang tidak disangka. Semoga Allah selalu memberikan kelapangan hati.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤