
Waktu terus berlalu, Elmira kini sudah berusia 22 Tahun. Dia baru saja turun dari pesawat yang membawanya menuju Kota Bandung. Untuk pertamakalinya, Elmira kembali menginjakkan kakinya di Kota kelahiran Bundanya. Dia menghirup udara yang begitu terasa sangat sejuk.
"Selamat pagi Banduungggg! Ah rasanya rindu!" ucap Elmira sambil memejamkan kedua matanya, menikmati setiap hembusan angin yang menyapu jilbabnya.
Elmira melangkahkan kakinya menuju Lobby Bandara Husein Sastranegara, dimana sang Ayah sudah mengirim satu ajudannya untuk menjemputnya. Elmira terus menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi dia tidak menemukan satupun orang yang memakai seragam loreng. Dia ingin menghubungi sang Ayah, tapi sayangnya ponselnya mati.
"Huft! Apa aku naik taksi aja ya?" gumam Elmira.
Belum Elmira memanggil taksi, tangannya sudah ditarik oleh seseorang.
"Lepas! Siapa kamu?" bentak Elmira membuat semua orang melihat kearah mereka.
"Maaf nona Elmira, saya diperintahkan Bapak untuk menjemput Anda." ucapnya.
"Jadi kamu ajudan Ayah? Kenapa gak pake baju dinas sih? Jadi pusing nyariinnya!" kesal Elmira melipat kedua tangan didadanya.
"Maaf, ini perintah Bapak. Mari ikut saya!" ajaknya pada Elmira.
Dia melangkahkan kakinya dengan risih, kini sang Ayah adalah seorang Panglima Daerah Militer berpangkat Mayor Jendral mengikuti jejak Kakeknya. Elmira memang sudah terbiasa hidup dengan pengawalan sejak kecil. Dia pikir setelah dewasa, Sang Ayah akan memberikannya kebebasan. Tapi sepertinya tidak seperti itu.
Sepanjang perjalanan Elmira hanya menatap kearah luar jendela, dia sangat kesal dengan ajudan sang Ayah yang sangat dingin. Beberapa kali Elmira mengajaknya berbicara, tapi laki-laki itu hanya menjawab iya dan tidak.
Mereka sudah sampai dirumah, Elmira segera bergegas turun tanpa memperdulikan ajudan Ayah nya itu. Dilihatnya sang Bunda yang berdiri didepan pintu untuk menyambut kedatangannya.
"Kakak kangen banget sama Bunda," lirih Elmira memelik erat sang Bunda.
"Bunda apalagi, udah lebih dari sekedar rindu," ucap Bunda Gisya.
"Om Mirda, terimakasih ya!" ucap Bunda Gisya pada ajudan suaminya itu.
"Siap! Sama-sama, Bu. Saya permisi mau menjemput Bapak," pamitnya.
Bunda Gisya mengajak putrinya itu untuk duduk di ruang keluarga, Elmira menatap sekeliling ruangan yang dipenuhi oleh foto-foto keluarganya.
"Ayah sibuk banget ya, Bun? Anaknya baru dateng aja, Ayah gak ada," lirih Elmira.
"Iyalah Kak, tanggung jawab Ayah sekarang kan semakin besar sayang. Itu Om Mirda juga kan langsung mau jemput Ayah," ucap Bunda Gisya mengelus kepala putrinya itu.
"Hmm.. itu namanya siapa sih, Bun? Orangnya dingin, kayak gunung es!" ucap Elmira.
__ADS_1
"Hush! Kamu itu, dia prajurit kesayangan Ayah kamu. Namanya Sertu Radiansyah Mirda, cuman Ayah kamu yang panggil dia Mirda. Kamu harus terbiasa sama kehadiran dia, karena setiap hari dia akan terus sama Ayah," ucap Bunda Gisya.
Setelah berbincang sejenak dengan sang Bunda, Elmira pamit untuk beristirahat dikamarnya. Tubuhnya sangat lelah, dia ingin memejamkan matanya sebentar saja. Belum lama Elmira memejamkan matanya, suara cempreng dari adik bungsunya itu membuat Elmira terbangun.
"Kakaaaaakkkkk! Dira kangen!" ucap Indira, gadis kecil itu kini sudah berusia 15 tahun.
"MashaAllah, Adek yang manis ini udah pake seragam SMA aja!" ucap Elmira memeluk erat sang adik. Dia melepaskan semua kerinduannya yang tertahan selama ini.
"Iyalah kan dikasih makan sama Bunda, jadi Dira cepet gedenya," ucap Indira.
Mereka terus saling melempar canda tawa, tanpa disadari sesosok pria paruh baya sudah berdiri didepan pintu dengan melipat kedua tangannya didada.
"Ekhemmmmzzzz!!" deheman pria berusia 45 tahun itu membuat keduanya terdiam.
"Ayaaaahhhhh!!" teriak Elmira melonjak dari tempat tidurnya menghampiri sang Ayah.
"Anteng banget sih kalian, sampe Ayah dateng gak tau!" kesal Fahri pada keduanya.
"Maaf, Ayah. Kakak rindu sama Adek, Kakak juga rindu sama Ayah," lirih Elmira sambil mengeratkan pelukannya.
"Ayah juga kangen banget sama Kakak, kalian udah makan siang?" tanya Fahri sambil mengusap lembut kepala putrinya itu.
"Ish! Anak nakal! Yaudah yuk kita makan siang dulu, Bunda udah siapin makanan yang enak buat Kakak," ajak Fahri merangkul kedua putrinya itu.
Selama dimeja makan hanya ada keheningan, Fahri dan Gisya memang menerapkan agar tidak berbicara sambil makan. Sekilas Elmira melirik kearah depan, dimana ajudan sang Ayah duduk dan ikut makan bersama mereka. Gisya dan Fahri menyadari tingkah putrinya itu. Selesai makan, Elmira dan Indira membantu sang Bunda membereskan piring-piring kotor bekas makan mereka.
Fahri tersenyum bangga melihat kedua putrinya yang tumbuh menjadi anak yang mandiri.
"Kak, sini! Duduk sama Ayah sebentar," pinta Fahri pada putrinya itu.
"Iya Ayah, ada apa Yah?" tanya Elmira sambil meletakkan kedua cangkir kopi dimeja.
"Kenalin, namanya Sertu Radiansyah Mirda. Dia ajudan Ayah, sekaligus dia akan menjaga Kakak," ucap Fahri memperkenalkan ajudannya. Mirda hanya mengangguk patuh.
"Ayah, Kakak udah besar dan gak perlu dijagain. Kakak bisa jaga diri," lirih Elmira.
"Kakak tau, Ayah gak mau dibantah?" tegas Fahri. "Serda Monika, ajudan Bunda juga akan bergantian untuk menjaga kamu dan Dira," imbuhnya.
Elmira hanya bisa mengangguk patuh dengan keputusan Ayahnya. Sementara Indira dan Bunda Gisya saling memeluk ketika melihat wajah lesu Elmira. Selama ini, Elmira tidak pernah lepas dari penjagaan. Mengingat semua hal yang pernah terjadi padanya, saat Elmira masih kecil. Masih jelas diingatan Gisya dan Fahri, bagaimana mereka harus berjuang untuk menyelamatkan Elmira.
__ADS_1
Sang Ayah sudah kembali ke kantor untuk menghadiri Acara, tentu saja bersama Bundanya. Elmira melangkahkan kakinya kehalaman belakang, dia duduk di Gazebo. Menyandarkan tubuhnya ditiang, dan menatap indahnya burung-burung yang sedang asyik berterbangan.
"Huuuhhhh... Kapan aku bisa bebas seperti kalian?" gumam Elmira.
Tanpa terasa airmata jatuh dipelupuk matanya, bukan Elmira tidak bersyukur. Hanya saja, dia ingin sekali merasakan seperti anak muda pada umumnya. Memang Fahri dan Gisya tidak melarangnya bergaul, hanya saja pergaulan Elmira selalu dipantau. Tanpa Elmira sadari, sepasang mata memperhatikannya sedari tadi.
"Hidupmu memang seperti burung dalam sangkar," ucapnya sambil terus memperhatikan Elmira.
Indira menatap sang Kakak dari lantai dua kamarnya, saat ini dia sedang berkomunikasi dengan Husain melalui pesan video call. Husain akan pulang kerumahnya, karena masa liburnya sudah tiba. Indira mengarahkan kamera ponselnya kearah sang Kakak.
"Kenapa Kakak sedih begitu?" tanya Husain dalam panggilannya.
"Biasa, Ayah kan selalu kasih Kakak pengawalan." ucap Indira sedih.
"Semuanya demi kebaikan Kakak. Yaudah, Abang tutup telponnya. Jangan kasih tau Kakak kalo Abang mau pulang!" pinta Husain dan Indira menganggukkan kepalanya.
Husain saat ini sedang menempuh pendidikan di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Sebenarnya, Husain ingin mengikuti jejak sang Ayah untuk menjadi seorang Tentara. Tapi sayangnya hal itu ditolak dengan tegas oleh Bundanya. Akhirnya Husain memilih untuk menjadi seorang Praja, dan saat ini dia sudah dalam satuan Nindya Praja.
Setelah puas meluapkan seluruh kesedihannya, Elmira beranjak menuju kamar. Namun langkahnya terhenti, ketika melihat Sertu Mirda yang sedang duduk didekat kolam ikan sambil memangku laptop. Elmira kembali melangkahkan kakinya, dia tak ingin sekedar menyapa manusia yang menurutnya memiliki sikap sangat dingin. Dia teringat ponselnya yang mati, lalu menyambungkan kabel charger.
Saat Elmira mulai mengaktifkan ponselnya, puluhan pesan dan panggilan tak terjawab masuk dari Kakek, Nenek dan Oma nya. Elmira mulai mengirim pesan singkat pada mereka semua.
'Kakak baik-baik saja, kalian tidak usah khawatir'
Hanya itu pesan yang Elmira kirimkan, dia membuka galeri ponselnya. Melihat setiap foto masa kecilnya, hingga tak terasa dia terlelap dengan posisi terduduk.
* * * * * *
Maaf kalo kalian gak suka dengan ceritanya ππ
Author masih bingung mikirin alur Elmira πβ
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€
__ADS_1