
Sudah seminggu ini Gisya disibukkan oleh kepindahannya ke Jogjakarta. Dia harus meninggalkan rumah impian yang selama ini ditinggalinya. Untuk sementara, rumah itu akan disewakan. Gisya tidak ingin kehilangan kenangan bersama keluarga kecilnya dirumah itu. Quera dan Husain masih tertidur lelap, mungkin mereka kelelahan. Mereka baru saja sampai di Rumah Dinas yang akan ditempati. Rumah yang cukup untuk mereka tinggali, rumah dengan 3 kamar yang tidak terlalu besar.
Fahri kini memiliki pangkat seorang Kapten, dan disini dia menjabat sebagai Komandan Kompi C. Sedangkan Zaydan berada dibawahnya, sebagai Komandan Pleton. Seluruh anggota menyambut kedatangan Fahri dan Gisya. Ada yang mengantarkan makanan, dan ada pula yang membantu membersihkan rumah dinas yang akan ditempati.
"Bang, mereka semua ramah ya. Mudah-mudahan disini Adek dan anak-anak bisa beradaptasi dengan baik. Dan gak malu-maluin Pak Danki." ucap Gisya menggoda Fahri.
"Bu Danki pasti bisa menjaga nama baik suami. Iya gak Bu Danki." ucap Fahri yang balik menggoda sang istri dengan jabatan barunya.
Gisya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami dan mengelus tangan suaminya.
"Duh, berasa mimpi sekarang Abang jadi Danki. Semoga amanah ya,Bang." ucap Gisya.
"Alhamdulillah sayang, aamiin. Yang Abang butuhkan adalah do'a dan dukunganmu, dan mulai saat ini juga seluruh istri anggota Abang adalah tanggung jawabmu. Tentu Adek sudah paham bagaimana dalam bersikap. Jadilah panutan untuk semua istri-istri prajurit disini." ucap Fahri pada istrinya itu.
"InshaAllah Bang, kita istirahat dulu ya. Besok kan kita harus mempersiapkan diri untuk acara penyambutan di Aula, Bang." ajak Gisya pada suaminya.
"Ayo! Boleh gak tengok dedek sebentar?" bisik Fahri.
"Ih Abaangggg!" ucap Gisya dengan malu-malu.
Fahri menggendong sang istri menuju kamarnya, meskipun sedang hamil tapi tubuh Gisya masih terhitung ringan bagi Fahri. Dia membaringkan tubuh sang istri diatas ranjang, baru saja Fahri akan menerkam sang istri. Namun terhenti karena suara tangisan Husain.
"Mbuuunnn.. Yayaahhh..." tangis Husain dengan jeritan.
Dengan langkah cepat, Fahri menghampiri sang anak yang berada dikamarnya.
"Bang Ain, kenapa sayang?" tanya Fahri sambil mengusap kepala putranya itu.
"Ni mana, Yah? Abang atut." isak Husain memeluk Ayahnya itu.
"Abang lupa? Ini dirumah baru kita sayang, kan tadi kita baru sampe di Jogja. Udah jangan nangis! Masa laki-laki nangis!" ucap Fahri terkekeh melihat wajah lugu putranya.
"Tata mana? Abang dilian ni." kesal Husain.
"Kaka Rara masih bobok, kamar Kaka disebelah kamar Abang. Mau ke kamar Kaka?" tanya Fahri pada Husain dan bocah itu mengangguk.
Setelah masuk ke kamar kakaknya, Husain malah berbaring disamping Quera dan tertidur kembali. Fahri menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putranya itu. Dia lalu kembali ke kamar, dilihatnya sang istri sudah tertidur lelap.
Suara adzan subuh membangunkan Gisya dari tidurnya, dia mulai beranjak dan mengambil air wudhu. Saat kembali ke kamar, dia melihat sang suami yang baru saja terbangun.
"Tunggu Abang, kita sholat berjama'ah. Abang bangunkan dulu anak-anak." ucap Fahri.
__ADS_1
"Biar Adek aja yang bangunkan anak-anak, Abang ambil wudhu dulu." ucap Gisya lalu berjalan menuju kamar anak-anaknya.
Ceklek
Pemandangan indah yang dia lihat, dimana Husain memeluk erat Quera. Gisya mulai membangunkan anak-anak untuk melaksanakan sholat subuh.
"Kakak, Abang bangun! Kita sholat subuh dulu, Nak." ucap Gisya membangunkan keduanya. Husain mengucek matanya yang masih mengantuk dan terlihat akan menangis.
"Jangan nangis! Ayo kita sholat subuh sama kaka." ajak Quera.
"Ain nda angis, Ain au colat." ucap Husain yang membuat Gisya tertawa.
Mereka melakukan sholat subuh berjama'ah, Gisya dan Fahri memang mengajarkan kedua anaknya untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai muslim sejak kecil. Gisya sudah siap dengan seragam Persitnya, dan Fahri dengan seragam kebanggaannya. Hari ini mereka akan menghadiri Acara Lepas Sambut dari Danki lama ke Danki yang baru.
Diawali dengan pengalungan bunga dan penyerahan bucket yang dilakukan oleh DanYon beserta istrinya kepada Fahri dan juga Gisya. Selanjutnya menerima hormat jajar dan berjalan diiringi oleh para anggota prajuritnya menuju Aula. Dalam sambutannya, Fahri memohon dukungannya dalam melaksanakan tugas sebagai Komandan Kompi.
"Apa yang sudah baik dilaksanakan dengan komandan sebelumnya, bersama saya nantinya harus lebih ditingkatkan. Karena semakin kedepan kita dihadapkan dengan tantangan yang lebih besar." ucap Fahri.
Serah terima jabatan di awali dengan acara tradisi laporan corp komandan satuan dengan penciuman tunggul dan tanda tangan. Selanjutnya dilaksanakan Upacara Serah terima jabatan yang bertempat di Lapangan. Diakhiri dengan ramah tamah dan pemberian kenang kenangan di Aula. Serah terima jabatan di lingkungan kesatuan, merupakan bagian dari proses pembinaan organisasi. Sekaligus regenerasi dan kesinambungan kepemimpinan. Dalam rangka mendorong semangat pembaruan dan penyegaran pemikiran, yang diproyeksikan bagi peningkatan kinerja organisasi guna menjamin pelaksanaan tugas pokok.
Fahri sangat bangga pada istrinya, Gisya mampu berbaur dengan cepat. Bahkan istri dari DanYon nya terlihat terus berada disamping Gisya. Febri pun berada disana, karena mereka berdua akan menghadiri acara penyambutan anggota Persit baru.
"Silahkan Bu Danki, hati-hati lantai agak sedikit licin." ucap Bu Danyon mengingat Gisya sedang hamil.
Quera dan Husain bermain bersama anak-anak anggota yang lainnya. Mereka terlihat sangat antusias. Gisya menghampiri Febri yang terlihat sangat gugup.
"Ciee ibu Persit ciee..." goda Gisya pada sahabatnya itu.
"Duh Ca! Gimana ini? Deg-degan! Nanti gimana perkenalannya?" tanya Febri.
"Santai aja, Biw. Rileks! Dulu aku gini nih 'Mohon ijin Bu, sebutin nama sama usia, terus nama dan NRP suami, sebutin juga hobby' itu doang kok!" ucap Gisya.
"Enteng amat sih Neng kalo ngomong!" kesal Febri.
Setelah perbincangan singkat mereka, Gisya dan Febri menghadiri acara penyambutan sebagai anggota Persit yang baru disana.
"Assalamualaikum, Mohon ijin untuk memperkenalkan diri kepada Ibu Ketua Persit Kartika Chandra Kirana, mohon ijin kepada Ibu Wakil Persit Kartika Chandra Kirana juga. Nama saya Gisya Kayla Nursalsabila, usia saya 30 tahun. Saya istri dari Kapten Fahri Putra Pratama yang saat ini menjabat sebagai Komandan Kompi C. Saya mohon ijin bimbingan kepada semuanya, mohon maaf apabila ada kesalahan dalam berkata. Terimakasih."
Selanjutnya, dengan gugup Febri memperkenalkan dirinya pada seluruh anggota Persit.
"Assalamualaikum, Mohon ijin untuk memperkenalkan diri kepada Ibu Ketua Persit Kartika Chandra Kirana, mohon ijin kepada Ibu Wakil Persit Kartika Chandra Kirana juga mohon ijin kepada Ibu Komandan Kompi. Nama saya Nursyifa Febriani usia saya 30 tahun. Saya istri dari Letnan Satu Zaydan Faturachman annggota Kompi C. Saya mohon ijin bimbingan kepada semuanya, mohon maaf apabila ada kesalahan. Terimakasih." ucap Febri.
__ADS_1
Setelah selesai Acara, mereka berkumpul bersama seluruh anggota Persit. Acara ramah tamah sebagai perkenalan mereka semua.
"Mohon ijin Bu Danki, kandungannya sudah berapa bulan?" tanya salah satu anggotanya.
"Bulan depan sudah masuk usia 6 bulan, Bu Rama." ucap Gisya ramah.
"Sepertinya Bu Danki dan Bu Zaydan sudah saling mengenal." ucap Bu DanYon.
"Ijin, Bu. Saya dan Bu Zaydan sudah bersahabat sejak kecil, jadi memang kami sangat dekat seperti saudara." ucap Gisya yang tidak ingin anggotanya salah faham.
"Wah seperti saya dan Bu Rama, ya. Kami juga berteman sudah lama sekali, semoga ikatan persahabatan itu menjadi contoh kekompakan bagi Persit ya." ucap Bu DanYon.
Febri masih canggung dengan panggilan yang diterimanya saat ini. Terlebih lagi ketika mereka memanggilnya dengan sebutan Bu Danton.
"Ca, kok aku dipanggil Bu Zaydan terus Bu Danton? Kenapa gak Bu Febri aja gitu? Aseli bingung deh! Terus Mas Zaydan juga dipanggil Om, aduhh belum paham nih aku Ca!" keluh Febri pada sahabatnya itu. Gisya tertawa mendengar ucapan Febri.
"Gini Biw, kamu sekarang hidup di Lingkungan baru. Lingkungan Militer dimana suami kamu bertugas, mereka manggil Zaydan Om karena jabatan Zaydan dibawah mereka. Tapi Mas Zaydan akan dipanggil Danton kalo yang manggil itu anggota prajurit yang dipimpin oleh Zaydan. Kamu juga harus sebut mereka Om, kecuali Pak Rama yang sesama Danton. Dan otomatis nama kamu hilang, mereka akan panggil kamu dengan Bu Zaydan atau Bu Danton." ucap Febri menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari Gisya, Febri menghela nafasnya.
"Ternyata ribet ya, Ca. Dulu saat mau nikah sama Mas Andi, aku kira gak seribet ini. Hehehehe. Belum lagi aku denger ucapan beberapa dari mereka tentang pernikahan aku sama Mas Zaydan." ucap Febri sambil tertawa.
"Gak ribet kok! Gimana cara kamu menyikapi semuanya aja, Biw. Inget kan kasus aku sama Mbak Bella? Sebagai istri prajurit kita harus bisa bersabar dalam menghadapi segalanya. Sikap itu yang harus dijaga, karena sikap kita bisa menjadi sorotan jabatan suami. Biarin mereka mau bilang apa juga, cuek aja." ucap Gisya pada sahabatnya itu.
Febri mengerti dan memahami semua yang diucapkan oleh Gisya.
"Tegur aku, kalo aku berbuat salah ya Ca!" ucap Febri.
"Saling dukung sayang! Kamu juga harus ingetin aku, kalo aku salah." ucap Gisya.
Zaydan tersenyum ketika melihat Febri mulai berbaur bersama yang lain. Zaydan tau jika istrinya sempat menjadi bahan pembicaraan mengenai status mereka. Tapi Zaydan terus memberikan semangat pada istrinya itu.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1