
Seminggu ini Gisya disibukkan dengan persiapan Acara Lamarannya. Untung saja ada kedua sahabatnya serta Syaina yang selalu membantu di Toko. Hari ini Gisya sedang berada disalah satu butik untuk mengambil baju yang akan digunakannya besok. Gisya ingin melakukan yang terbaik untuk Acara Lamarannya.
"Ca, udah ini lanjut kemana lagi?" tanya Febri yang sudah lelah.
"Baru juga 3 tempat Biw. Kalo kaki belom copot mah masih lanjut!" sindir Yuliana.
"Jadi gak ikhlas nih nemeninnya?" lirih Gisya.
"Dih drama! Udah cepetan, laper banget loh ini perut." Keluh Yuliana.
"Yaudah deh! Kalian mau pada makan apaan?" tanya Gisya.
"Steak!" kompak kedua sahabatnya.
Setelah membayar belanjaannya, mereka menuju Restoran Steak langganan mereka. Restoran hari ini cukup ramai, sejak kejadian itu Gisya sedikit kurang menyukai keramaian. Kebetulan Zayn baru selesai makan siang bersama dengan salah satu klien nya. Dia melihat Gisya yang sedang kebingungan mencari tempat duduk. Sampai Zayn meminta salah satu pegawai untuk menawarkan tempat duduk kosong yang berada disamping mejanya.
Gisya tersentak kaget saat melihat Zayn disana. Tapi karena kondisi Restoran yang penuh, dia tidak bisa menghindari Zayn. Yuliana dan Febri saling senggol, mereka benar-benar bingung harus berbuat apa.
"Caca apa kabar?" tanya Zayn pada Gisya.
"Alhamdulillah baik." jawab Gisya.
"Maafin Aa atas kejadian yang lalu ya, Ca. Aa terlalu pengecut jadi laki-laki, ternyata memang benar Aa laki-laki yang bodoh. Aa melepaskan berlian seperti kamu." lirih Zayn.
"Dih baru nyadar! Kemaren kemana aja?" kesal Yuliana.
"Semuanya sudah berlalu, tidak perlu disesali. Malah aku berterimakasih, karena setelah itu aku benar-benar menemukan kebahagiaan aku sendiri. Terkadang kita memang harus bertemu dengan orang yang salah untuk menemukan orang yang tepat." tutur Gisya.
Hati Zayn terasa sakit, setelah meninggalkan Gisya dia baru menyadari jika Gisya adalah yang terbaik. Keluarga Santi terlalu banyak menuntut Zayn, terlebih ketika tau jika Zayn adalah putra dari salah satu pengusaha besar.
"Apa Caca sudah menemukan orang yang tepat? Aa selalu berdo'a agar kamu selalu bahagia. Jangan putuskan tali silaturahmi kita ya, Ca." Pinta Zayn.
"InshaAllah kalo Caca menikah nanti, Caca akan mengundang keluarga kalian." ucap Gisya.
"Eh mungkin juga calon suaminya Caca bakalan ngundang istri kamu!" celetuk Febri.
"Maksudnya? Calon suami Caca kenal sama Santi?" tanya Zayn.
"Kenal lah! 7 tahun kalo gak salah, tapi malah ditinggalin." Ledek Yuliana.
Zayn terdiam, pikirannya bertanya-tanya siapa calon suami Gisya. Namun dia kembali teringat kejadian itu. Wajahnya terlihat sangat pucat, hatinya kembali meringis.
"Ternyata Fahri yang akan menikah denganmu." batin Zayn menangis.
"Alhamdulillah kalo kamu sudah bertemu dengan orang yang tepat Ca. Aa do'akan semoga kamu bahagia selalu. Aa pamit duluan ya," ucap Zayn lalu pergi.
"Drama banget sih tu orang!" kesal Yuliana.
"Sstt, cepet makan! Katanya laper." tutur Febri.
__ADS_1
Sementara itu kehebohan terjadi di Bandara, Fahri baru saja menjemput kedua orangtua dan adik tercintanya. Mereka saling melepas kerinduan.
"Abang makin gagah aja, Mama sampe gak ngenalin anak Mama sendiri." tutur Risma.
"Siapa dulu dong Papanya!" Celetuk Papa Hari.
"Udah, Papa jangan godain Mama. Nanti manyun bisa berabe lagi! Oh iya, dimana anak nakal itu?" tanya Fahri sambil celingak celinguk.
Dari arah belakang sudah ada yang memanggil Fahri berteriak.
"Abaaaaaanggggg!!" teriak Fabian sambil merentangkan tangannya.
Bukan memeluk, Fahri malah menghindar dan mengapit kepala Fabian di ketiaknya.
"Kamu udah gede, ngapain teriak-teriak!" kesal Fahri.
"Ih bau tau Bang! Masa adiknya dikasih ketek bukan dipeluk!"
"Suruh siapa teriak-teriak! Malu tau! Badan aja keren kelakuan migren," tutur Fahri.
Mendengar ocehan kedua putranya disepanjang jalan, membuat Risma meneteskan airmata bahagianya. Tak terasa putra kecilnya kini sudah tumbuh menjadi 2 laki-laki dewasa. Dari spion mobilnya, Fahri bisa melihat jika ibunya itu menangis.
Karena hari sudah siang menjelang sore, Fahri mengajak keluarganya untuk makan di salahsatu Rumah Makan Sunda favoritenya.
"Abang setelah ini temenin Mama ke 'Caca Bakery' ya! Mama belum beli kue buat hantaran besok. Kakek sama keluarga di Jakarta baru besok pagi berangkatnya. Jadi pasti gak akan sempet kalo gak hari ini." ucap Risma.
"Mama ngapain beli Kue? Orang Caca itu pemilik Toko kue 'Caca Bakery'. Masa iya dia mau dikasih kue dari toko dia sendiri." tutur Fahri menahan tawa.
"Nanti Fahri minta Caca buat bikinin kue spesial buat Mama." ucap Fahri.
Mereka melanjutkan perjalanan ke Rumah Dinas yang ditempati oleh Fahri. Mereka disambut oleh Gilang selaku Komandan Kompi. Dulu ketika Gilang bertugas di Palembang, Hari pernah menjadi atasannya.
"Selamat datang di Bandung, Ndan!" Ucap Gilang.
"Jangan formal seperti itu, saya kesini sebagai orangtua Fahri bukan sebagai atasan kalian. Jadi santai saja." Tutur Hari.
"Jadi besok jam berapa Acara Lamarannya?" tanya Gilang.
"Besok jam 10 Bang. Do'akan saya ya, Bang." pinta Fahri.
"Pasti! Besok jadi dikawal oleh Calon adik iparmu itu?"
"Jadi Bang. Takutnya macet, apalagi besok waktunya muda-mudi ngapel."
Risma sibuk mempersiapkan hantaran yang akan dibawa besok. Mulai dari baju, jilbab, tas, sepatu hingga alat-alat kecantikan. Tidak lupa semua oleh-oleh khas Palembang juga ikut serta. Karena itu adalah kota kelahiran Fahri, dia ingin yang terbaik untuk Acara Lamaran putranya itu. Risma teringat akan almarhumah Desi, ibu kandung Fahri.
"Bang, boleh Mama bicara sebentar?" Pinta Risma.
Fahri masuk kedalam rumah mengikuti ibunya. Risma mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak perhiasan.
__ADS_1
"Abang sudah beli perhiasan, Ma. Kenapa Mama beli lagi?" tanya Fahri.
"Ini milik Ibumu, Bang. Dulu sebelum dia depresi, dia selalu bilang sama Mama untuk memberikan semua yang menjadi miliknya kepada istrimu kelak. Dia ingin kamu selalu mencintai istrimu, seperti kamu mencintai Ibumu." tutur Risma sambil berderai airmata.
"Terimakasih, Ma. Terimakasih sudah menjaga dan merawat Abang, terimakasih sudah menjaga amanat dari Ibu. Abang sayang Mama. Bagi Abang, Mama adalah Ibu terbaik. Terimakasih, Ma." ucap Fahri yang memeluk ibunya erat. Airmatanya sudah tidak dapat terbendung lagi.
Gisya dan Fahri benar-benar sangat gelisah. Pagi ini, keluarga Fahri sudah berkumpul dan siap untuk berangkat. Fahri terlihat sangat gagah memakai Batik yang berwarna senada dengan Kebaya yang akan digunakan oleh Gisya. Mereka sudah diperjalanan menuju ke Rumah Gisya dikawal oleh Polisi.
Sementara di Rumah Gisya kehebohan sedang terjadi. Bunda Syifa takut penyambutan terhadap besannya itu kurang mengesankan. Dia terus mengatur seluruh tatanan dekor, posisi kursi dan yang lainnya. Uwak Yusuf dan Uwak Ais hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka mengerti akan kekhawatiran Syifa, terlebih saat ini putri kesayangannya akan di Lamar.
"Sudah, sekarang kamu temui putrimu. Ucapkan apa yang ada dalam hatimu, agar kamu jauh lebih tenang." ucap Uwak Ais.
"Aku takut nangis depan Caca, Teh. Aku gak mau ngerusak hari bahagianya."
"Temuilah, Caca juga membutuhkanmu disana. Hatinya juga sama, sedang tidak tenang. Kamu dan Caca akan lebih tenang kalo sudah bicara." tambah Uwak Yusuf.
Syifa menghampiri putrinya yang duduk didepan meja rias. Mata Gisya sudah berkaca-kaca ketika melihat Bundanya masuk. Febri dan Yuliana memberikan waktu untuk keduanya. Syifa mulai membelai kepala putrinya yang terbalut jilbab.
"Anak bunda sudah dewasa, sudah akan berumah tangga. Bunda selalu mendo'akan kebahagiaan Caca. Maafkan Bunda jika selama ini, Bunda belum menjadi ibu yang baik. Terimakasih sudah tumbuh menjadi anak yang kuat."
Gisya memeluk Bundanya dengan sangat erat, ada perasaan tidak tega jika mengingat nantinya Gisya akan tinggal bersama suaminya.
"Bunda adalah ibu terbaik didunia. Caca kuat karena Bunda, Caca belajar semuanya dari Bunda. Sampai kapanpun, Caca tetap putri kecil Bunda. Caca ingin, Bunda selalu menemani Caca hingga suatu saat nanti Caca juga menjadi seorang ibu. Caca ingin jadi ibu terbaik seperti Bunda." ucap Gisya.
Syauqi yang baru saja masuk kedalam kamar ikut berhambur memeluk Bunda dan Kakaknya. Dia memeluk erat dua perempuan yang paling berharga dihidupnya.
"Kalian pelukan gak ajak Uqi," ucap Syauqi dengan isakan.
"Dih! Polisi apaan kamu Qi, cengeng begitu!" ledek Gisya.
"Teteh mahh!" kesal Syauqi sambil tertawa lirih dan menghapus airmata kakaknya.
"Berbahagialah Teh, bahagialah dengan laki-laki pilihan Teteh. Tapi satu hal yang harus Teh Caca ingat, Uqi akan selalu menjaga Teteh. Uqi akan selalu ada buat Teteh dan Bang Fahri. Uqi akan selalu ada disamping kalian." ucap Syauqi memeluk Gisya.
Yuliana datang untuk memberitahu jika rombongan keluarga Fahri akan segera sampai.
"Ih! Bunda sama Caca malah nangis! Udahan ah nangisnya, keluarga Bang Fahri udah mau datang itu." ucap Yuliana.
"Uqi, sana kedepan. Temani Uwak Yusuf menyambut keluarga Fahri." pinta Uwak Ais.
Gisya semakin gugup, jantungnya berdegup lebih kencang. Begitupun dengan Fahri yang sudah memasuki Area komplek perumahan Gisya.
* * * * *
Yeeeee!! Akhirnya lamaraaannnn!! 🥳🥳
Gimana Reader? Suka gak sama jalan ceritanya? 😁
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤