
Sebulan sudah Fahri berada di Kongo. Gisya sudah mulai terbiasa menjalani harinya sebagai istri dari seorang prajurit. Seperti pagi ini, Gisya kembali menjadi instruktur senam bagi ibu-ibu Persit Kompi A. Mereka senang jika Gisya yang menjadi instruktur, karena gerakan yang dilakukannya tidak sulit. Bella yang memang tidak menyukai Gisya, selalu mencoba untuk menjatuhkan Gisya.
"Mohon ijin Bu, gerakan senam yang dilakukan oleh Bu Fahri kurang bervariatif. Tidak ada gerakan baru dalam setiap minggunya." tutur Bella pada Bu Danki.
"Apa ada yang keberatan dengan gerakan senam Bu Fahri yang selalu sama? Jika ada, kalian boleh mengangkat tangan." tutur Bu Danki.
Sebagian besar yang mengangkat tangan adalah anggota Pleton III. Mereka terlihat ketakutan jika tidak mengangkat tangannya. Bella tersenyum puas, karena hampir seluruh anggotanya mengangkat tangan.
"Hm, baiklah. Saya rasa kelompok senam ini bisa dibagi menjadi 3 saja. Silahkan Danton masing-masing menjadi instruktur senamnya. Apa ada yang keberatan?" tanya Bu Danki.
"Ijin Bu, kami keberatan. Jika anggota Peleton III tidak bisa bergabung, silahkan. Tapi kami Peleton I akan tetap melakukan senam yang dipimpin oleh Bu Fahri." tutur Andina.
"Bu Fahri, bisa menjelaskan kenapa senam yang dilakukan tidak bervariatif?"
"Mohon ijin Bu, saya memang memilih melakukan senam dengan gerakan yang mudah dilakukan dan mudah dihafal. Karena saya melihat ada beberapa anggota yang saat ini sedang mengandung, jadi saya kira jika melakukan gerakan yang mudah dan ringan maka semua anggota dapat mengikutinya." ucap Gisya menjelaskan.
Bella mengepalkan tangannya, dia semakin merasa kesal kepada Gisya. Bella dengan sengaja mendorong tubuh Gisya, untung saja Gisya dapat menahannya.
"Bu Danton!" teriak suster Indri. Semua orang merasa kesal dengan tingkah laku Bella.
"Yaa Allah Bu Danton, ibu gak apa-apa?" tanya Indri.
"Saya ga apa-apa Bu Indra, terimakasih." ucap Gisya.
"Awww!!" rintih Gisya memegang perutnya lalu tidak sadarkan diri.
Indri dengan cekatan memanggil suaminya, mereka segera membawa Gisya ke Rumah Sakit Sariningsih. Setiap anggota Kompi yang sakit pasti akan melakukan pemeriksaan disana. Gisya dibawa oleh Indra ke UGD, didampingi juga oleh Indri. Sementara Andina dan Fatimah sedang melaporkan kejadian tadi kepada Ibu Ketua Persit agar masalah ini ditangani langsung oleh mereka.
Dokter sedang melakukan pemeriksaan, Gisya pun sudah sadar dari pingsannya. Indri selalu setia mendampingi Gisya disampingnya.
"Ibu sudah sadar? Apa yang ibu rasakan sekarang?" tanya Dokter.
"Saya cuma pusing Dok." ucap Gisya.
"Ibu harus banyak beristirahat, jangan terlalu kelelahan. Janin dalam rahim ibu masih terlalu kecil. Maka ibu harus melakukan bedrest." tutur Dokter menjelaskan.
"Sa-saya hamil Dok?" tanya Gisya terbata-bata, lalu dia memeluk Indri.
"Iyaa Bu, saat ini ibu sedang mengandung. Untung saja saat terjatuh, perut Ibu tidak membentur apapun. Untuk tau lebih jelasnya, saya akan melakukan USG kepada Ibu. Tapi sebelumnya ibu harus melakukan pendaftaran di loket." ucap Dokter.
Indri lalu menghampiri suaminya dan memintanya mendaftarkan Gisya.
"Mas, tolong daftarkan Bu Fahri di Loket 2." pinta Indri.
__ADS_1
"Iya sayang. Bu Danton gak apa-apa kan?" tanya Indra yang khawatir.
"Bu Danton lagi hamil, Mas. Untung aja tadi pas jatoh perutnya gak kebentur. Tolong laporkan juga kepada Bu Danki, Mas. Bu Kemal harus bener-bener dapet hukuman!" geram Indri terhadap sikap Bella.
"Yaa Allah! Untung aja yank Bu Danton gak apa-apa. Yaudah kamu temenin Bu Danton, Mas daftar dulu." ujar Indra.
Selesai mendaftar, Indra segera pergi melapor ke Ibu Komandan Kompi. Sementara Indri dan Gisya saat ini sedang berada di Ruang USG. Gisya menatap kedalam monitor, dilihatnya sebuah kantung kecil dalam rahimnya.
"Bisa dilihat Bu, ini kantong kehamilannya sudah terlihat. Janinnya masih sebesar biji kopi, karena saat ini usia kehamilan Ibu baru menginjak 5 minggu." ucap Dokter.
"MashaAllah Tabarakallah, Alhamdulillah." ucap Gisya menitikkan airmatanya.
"Selamat ya, Bu Danton." Ucap Indri mengelus pundak Gisya.
"Tapi saat ini kondisi Ibu sangat diharuskan untuk bedrest selama beberapa hari. Ibu akan dirawat disini, kami akan memberikan obat penguat kandungan." ucap Dokter.
Sebelumnya Indri sudah mengabari keluarga Gisya, untuk mengatakan jika Gisya saat ini berada dirumah sakit karena pingsan. Bunda Syifa yang sedang berada di Toko, menarik Syaina dan Yuliana untuk ikut bersamanya. Mereka semua panik, hingga tidak menyadari jika mereka masih memakai celemek masing-masing. Sesampainya di Rumah Sakit, mereka bergegas menuju ruang rawat inap Gisya.
Baru saja Gisya akan terlelap, tapi kehadiran ketiganya yang sangat menghebohkan membuat Gisya membuka matanya.
"Yaa Allah! Anak Bunda. Kamu gak apa-apa sayang? Apa yang sakit?" tanya Bunda Syifa.
Gisya menahan tawanya ketika melihat kondisi ketiganya. Bagaimana tidak, penampilan mereka sungguh sangat kacau. Mereka memakai celemek yang masih banyak noda tepung, bahkan jilbab yang dikenakan Yuliana sudah miring-miring.
"Bener-bener kudu di ruqyah ini mah!" ucap Yuliana sambil menjewer telinga Gisya.
"Awwww! Ampun Ulil sakit!" rintih Gisya.
"Lagian suruh siapa malah gitu!" geram Yuliana.
"Yaa maaf, lagian kalian kesini pake celemek begitu. Mana jilbab kamu miring kaya kena angin ****** beliung, Lil." ucap Gisya menahan tawa.
"Astaghfirulloh!!" teriak mereka lalu melepaskan celemek yang mereka pakai.
"Ina malu Bunda, pantesan tadi satpam gak ngijinin kita masuk." ucap Syaina.
"Dasar sohib gak ada akhlak! Dari tadi kek ngomong," kesal Yuliana.
"Udah-udah! Malu nya kan ditanggung rame-rame. Sekarang jawab Bunda, kamu kenapa? Sakit apa?" tanya Bunda Syifa menghampiri putrinya.
"Caca gak apa-apa Bunda, Caca cuman harus bedrest. Caca hamil." ucap Gisya pelan.
"Oh hamil." jawab mereka kompak. Lalu ketika sadar dengan ucapan Gisya, mereka berteriak kegirangan.
__ADS_1
"MashaAllah, Bunda bakalan jadi Omaa? Alhamdulillah Yaa Allah, Yaa Rabbku. Terimakasih sudah memberikan amanat ini." ucap Bunda memeluk Gisya.
"Yeaayyy!! Alhamdulillah Caa! Kita hamil barengan, MashaAllah. Akhirnya Chacha mini's bakalan segera launching!!" antusias Yuliana.
"Barakallah Teh Caca, semoga lancar kehamilannya ya!" ucap Syaina.
Mereka semua sangat bahagia dengan kabar kehamilan Gisya. Yuliana sudah memberitahu Jafran, Febri dan keluarga mereka. Semuanya mengucapkan rasa syukur atas kehamilan Gisya. Syauqi bahkan langsung datang ke Rumah Sakit setelah selesai bertugas. Namun, Gisya merasa kebahagiaannya kurang. Karena suaminya belum mengetahui kehamilannya.
"Jangan bersedih Teh, nanti kita kasih tau Abang kalo dia telpon." ucap Syauqi.
"Makasih Uqi sayang, Teteh boleh peluk Uqi?" pinta Gisya.
Syauqi memeluk kakaknya, dia mengelus pundak kakaknya itu. Syauqi mengerti, jika Gisya saat ini sedang merindukan suaminya.
Kabar bahagia ini juga sudah diketahui oleh Mama Risma, mereka semua disana sangat bahagia mendengar kabar kehamilan menantunya itu.
"Alhamdulillah besan! Semoga kehamilannya dilancarkan sampe nanti melahirkan. InshaAllah kita akan ke Bandung nanti setelah Papanya anak-anak gak sibuk." ucap Risma.
"Gak apa-apa Ris. Do'akan aja yang terbaik, kita bakalan jadi Oma!" antusias Syifa.
"Aku maunya dipanggil Amih aja, biar berasa mudaa gitu." ucap Risma.
Begitulah perbincangan mereka ditelpon. Saling berbagi kebahagiaan.
Sementara di Kongo, Fahri sedang bergelut dengan senjata. Saat mereka sedang makan siang di Barak. Tiba-tiba mereka diserang oleh Kelompok Anggota Bersenjata Api. Fahri beserta pasukannya kini sedang saling menyerang. Bahkan sudah jatuh korban yang tertembak di tangan dan kaki.
"Bang, berhati-hatilah! Kita harus siap siaga! Berpencar Bang!" ucap Fahri pada Dzikri.
"Kamu ke kanan, saya ke kiri! Di kedua sisi ada beberapa orang membawa senjata, kita harus siap dengan setiap serangan!" tegas Dzikri.
Doooooorrr!!! Doooorrrrrrr!!!
"Lettuuuu!!" teriak beberapa anggota, lalu mereka saling menyerang dengan senjata api.
* * * * *
Waahhhh siapa ya yang tertembaakk???
Ayoo tebak-tebak buah manggis 😁
Dukung Author terus yaa!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1