Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Apa-apaan Ini?


__ADS_3

"Abaaaaannggggg.........."


Elmira terduduk lemas disana, ketika melihat Mirda sedang berdiri dengan gagahnya. Mirda memakai baju kebanggaannya dan dia memegangi bucket bunga mawar merah ditangannya. Sedangkan Om Chandra dan Biang Mira berdiri dibelakang Mirda, mereka memakai baju Tentara dan juga baju Persit. Perlahan Mirda menghampiri Elmira yang masih terduduk lesu, semua ini benar-benar diluar pemikiran buruk Elmira tadi.


Di ujung cerita ini..


Di ujung kegelisahanmu..


Kupandang tajam bola matamu..


Cantik dengarkanlah aku..


Aku tak setampan Don Juan..


Tak ada yang lebih dari cintaku..


Tapi saat ini ku tak ragu..


Ku sungguh memintamu..


Jadilah pasangan hidupku..


Jadilah ibu dari anak-anakku..


Membuka mata dan tertidur di sampingku..


Aku tak main-main..


Seperti lelaki yang lain..


Satu yang kutahu..


Kuingin melamarmu..


Suara Mirda yang begitu merdu, membuat Elmira menangis terisak. Tapi kali ini adalah tangis bahagianya. Mirda mensejajarkan tubuhnya, saat ini keduanya sedang berhadapan.


"Elmira Ayudia Syafa, gadis bermata indah yang pernah kutemui dimasa kecil. Kali ini aku tak akan membiarkanmu pergi dari sisiku. Maukah kamu menikah denganku? Menjadi istri yang setia menungguku pulang bertugas, menjadi alasanku untuk bertahan hidup. Maukah kamu menjadi bidadari Surgaku?" tanya Mirda dengan mata berkaca-kaca.


Tanpa menjawab, Elmira berhambur memeluk Mirda dengan erat. Hingga kini keduanya sama-sama terduduk dan menangis bersama-sama.


"Jahat kamu, Bang! Kamu bikin aku jatungan! Kamu tuh orang yang paling aku sayang! Aku ketakutan waktu Om Bagja kasihin baju kamu! Kamu jahat!" ucap Elmira sambil memukul dada Mirda, mengeluarkan seluruh keluh kesahnya.


"Yah, jadi Abang ditolak nih?" ucap Mirda dengan berpura-pura lesu.


"Enak aja! Udah bikin gini masa ditolak, enggaklah!" kesal Elmira membuat mereka tertawa terbahak-bahak dengan tingkah keduanya.


Elmira menyembunyikan wajahnya didada Mirda, dia malu atas tingkahnya sendiri.


"Jadi gimana? Jawab yang bener dong pertanyaan Abang," ucap Mirda membuat Elmira mencubit pinggang Mirda, dan kemudian mereka saling tatap.


"Aku mau jadi istri Abang, mau jadi ibu dari anak-anak Abang. InshaAllah kita sehidup sesurga ya, Bang!" ucap Elmira membuat Mirda tersenyum dan mengecup kening Elmira dengan penuh kasih sayang.


"Ekheeeemmm...."


Suara deheman Ayah Fahri membuat keduanya salah tingkah.


"Apa ini? Dunia serasa milik berdua! Iyalaaah Ayah sama Bunda mah ngontrak," goda Ayah Fahri membuat Elmira semakin malu.


"Ayaaaahhhh....!" rengek Elmira lalu memeluk erat tubuh sang Ayah.


"Alhamdulillah, Ayah turut bahagia sayang. Semoga semuanya dilancarkan sampai hari H pernikahan kalian," ucap Ayah Fahri mengelus lembut kepala putrinya itu.


"Makasih ya, Ayah, Bunda! Kakak bahagia banget!" ucap Elmira lalu bergantian memeluk sang Bunda yang kini sudah menangis bahagia.


Chandra hanya bisa menahan hatinya yang sedikit perih, tapi dia tidak menunjukannya. Bahkan dia langsung memeluk sang istri yang tengah menggendong putra kecil mereka.


"Bli, akhirnya mereka bisa bersatu. Tiang sangat bahagia," ucap Biang Mira.

__ADS_1


"Iya sayang, Bli juga sangat bahagia. Akhirnya Elmira bisa menemukan seseorang yang mampu menjaga dan menyayanginya dengan tulus," ucap Chandra lalu mencium kening sang istri, dan kemudian menatap Elmira.


"Walaupun hatiku sakit, Elmira..." batin Chandra.


Kini mereka semua sudah berada di 'Thora Cafe & Resto' milik Cyra, karena sebelumnya Bunda Gisya dan Mirda sudah sepakat untuk berkumpul disini untuk membicarakan pernikahan Elmira dan juga Mirda. Bahkan Afifah dan Rian, Cyra, Theresia dan Thoriq juga Alan yang baru saja tiba dari bogor.


Alan mengerenyitkan dahinya ketika melihat mata para perempuan itu sembab.


"Ada apa ini? Kenapa itu mata pada begitu?" tanya Alan yang baru saja tiba.


"Biasa, Maul! Abis ada drama keluarga somplak!" ucap Husain sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Waduh gua ketinggalan hot news ini! Cerita-cerita dong!" pinta Alan.


"Ish! Laki kok rumpi!" celetuk Bunda Gisya membuat mereka tertawa.


Elmira yang masih sedikit dongkol, mempertanyakan alasan Mirda melamarnya dengan cara ekstrim seperti itu.


"Bang! Sekarang jawab aku, Abang dapet ide darimana ngelamar aku dengan cara kaya gitu? Demi apapun, Abang bikin jantung aku mau meledak!" ucap Elmira memegang dada.


"Hehehe, maaf sayang semua itu ide dari... Emmm.. Mmmm, itu dari... Em,"


"Am em am em! Dari sape Bang? Penararun ini gua!" celetuk Alan.


"Dari Bunda, sayang," ucap Mirda sambil menunduk karena mendapat pelototan dari sang Calon Mertua.


Kini Elmira menatap Ayah dan Bundanya bergantian, sambil melipat tangan didada.


"Ayah gak ikutan! Sumpah, berani kaya deh Ayah gak ikutan!' ucap Ayah Fahri sambil meletakan kedua tangan diatas kepalanya.


"Yee! Disumpahin kaya mah, Alan juga mau!" celetuk Alan dan mendapatkan getokan oleh Elmira yang masih menatap sang Bunda.


"Wahai Bundaku yang budiman..." ucap Elmira namun terpotong oleh Alan.


"Bus atuh Kak Budiman mah! Jurusan Bandung-Tasik," ucap Alan membuat Elmira kesal dan menjewer kedua telinganya.


"Diem gak?! Mau kamu Kakak jewer ampe ni kuping copot!" kesal Elmira.


Bunda Gisya menatap Elmira dengan senyuman diwajah tanpa dosanya.


"Seru kan dilamar gitu? Bunda juga ngalamin tau! Malahan lebih parah Bunda mah. Tujuh hari tujuh malem dibikin nangis sama Ayah kamu. Eh paginya ketemu dimeja akad! Bunda juga pengen Kakak ngerasain gitu sensasi-sensasinya jadi istri abdi negara, itung-itung latihan aja atuh Kak!" ucap Bunda Gisya dengan santainya.


"Yaa Allah, untung aku sayang! Makasih banyak ya, Bunda. Sensasi ini sungguh mampu menggetarkan hatiku bagai gempa 7,9 skala richter!" ucap Elmira memeluk sang Bunda.


Elmira sungguh sangat bahagia, kini tinggal menunggu hingga hari pernikahannya itu tiba. Jika mereka sedang berbahagia, berbeda dengan Theresia. Dia terdiam sendiri dipojokan, merenungi sikap Alan yang berbeda jauh 180Β°. Kini Alan lebih dingin terhadapnya, dan hal itu membuat Theresia merindukan sosok Alan yang hangat.


Alana berjalan menghampiri Theresia, lalu mendudukkan diri disampingnya.


"Lagi ngapain sendirian disini, Re?" tanya Alana membuyarkan lamunan Theresia.


"Eh, Teh Alana! Aku kira siapa, lagi ngadem aja nih Teh," jawab Theresia tersenyum.


"Kamu ada masalah ya, sama Alan?" tanya Alana.


"Hehehe, sepertinya begitu Teh. Sekarang Aa ngejauhin aku," lirih Theresia tertawa hambar.


"Apa ada alasan dibalik semuanya?" Alana bertanya karena dia tau betul bagaimana karakter saudara kembarnya itu.


Dengan Theresia tak menjawab, kini Alana mengerti permasalahan keduanya.


"Gini ya, Re. Aku sama Alan itu satu bali, jadi aku ngerti apa yang dia rasain. Re, aku gak pernah sekalipun liat Alan sebucin itu sama cewek. Bahkan sama Lula sekalipun, dia gak pernah ngelirik! Dan asal kamu tau ya, Re. Alan berubah jadi pendiem selama kamu koma, dia gak pernah sedetikpun ninggalin kamu sendirian. Jujur, aku sedikit kecewa dengan sikap kamu, Re. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya tergantung padamu. Pikirkan baik-baik ya, Re!" ucap Alana menepuk bahu Theresia, lalu dia pergi meninggalkannya.


Theresia semakin tertunduk lesu, dia mendengar suara keributan diluar cafe. Mereka semua berhambur untuk melihat kesana.


Deg!


Theresia melihat Alan terkapar dipinggir jalan, dia mendengar jika Alan terserempet motor saat akan menyebrang menuju mobilnya.

__ADS_1


"A Alan!" teriak Theresia berhambur menuju Alan.


"Drama dimulaaaaiiii......." gumam Alana sambil menoel tubuh sang kekasih hati.


"Hadeuh apa ini? drama keluarga somplak!" ucap Husain.


Dengan penuh penyesalan, Theresia menangis memeluk tubuh Alan yang terkapar.


"Maafin Rere, A. Bangun atuh A! Kakaaaaaaakkk..! Cepet kita bawa A Alan!" teriak Theresia.


"Bangun A! Rere sayang sama Aa! Rere gak mau kehilangan Aa! Rere cinta sama Aa! Bukan karena jantung ini, tapi karena Rere sayang sama Aa!" isak Theresia dalam memeluk Alan sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Beneran?" tanya Alan sambil membuka matanya dan tersenyum.


Theresia merasa speechles, sesaat kemudian dia menangis memukul-mukul Alan.


"Dasar cowok sinting, gendeng, kadas, kurap, kutu air!" kesal Theresia.


"Heh ijem! Dikate gua iklan salep! Gak apa-apalah gua dipukulin, yang penting gua tau kalo lu sayang sama gua!" ucap Alan tersenyum penuh kemenangan.


"What?! Gua tarik lagi deh!" ucap Theresia membuat Alan melotot.


"Lu kira hati gua layangan bisa ditarik ulur! Lu kira hati gua ATM yang bisa tatik tunai! Gak ada ya, jangan ngadi-ngadi lu! Yang sudah diucapkan gak bisa ditarik kembali," ucap Alan.


"Buset! Gua seneng begini, A. Cinta kita yang apa adanya, gua gak mau canggung dengan bahasa aku kamu yang bikin gua ngeri! Jadi gua mohon, cintai gua dengan apa adanya ya!" ucap Theresia lalu memeluk Alan.


Tak lama kemudian, Bunda Gisya menghampiri keduanya dan menjewer telinga Alan.


"Aw! Aw! Sakit Bunda! Apa-apaan ini?!" kesal Alan.


"Kamu yang apa-apaan! Bikin malu, noh diliatin orang! Keenakan ya dikasih ide, ngambil kesempitan dalam kesemutan!" kesal Bunda Gisya.


"Mana ada kesemutan! Kesempatan dalam kesempitan, Bunda! Ngomong aja balelol, ari hitut meni bentes!" celetuk Alan membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


Melihat sang suami yang ikut tertawa, Bunda Gisya menatapnya tajam.


"Jangan harap bisa bikin adonan! Pabrik ditutup!" kesal Bunda Gisya lalu masuk kedalam.


"Hahahaha rasain! Sukuuriiinnn!" celetuk Alan.


"Kurang asem! Gara-gara si Alan ini! Bun tunggu dong!" ucap Ayah Fahri lalu menyusul sang istri kedalam cafe.


Theresia bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga Alan. Sebelum masuk dia berani untuk mencium pipi sang kekasih hati.


Cup πŸ’‹πŸ’‹πŸ’‹


Alan mematung ketika Theresia mencium pipinya, dan dia tersenyum melihat Theresia yang berlari masuk kedalam Cafe.


"Yaa Allah, baru cium pipi aja gua seneng! Apalagi cium yang lain! Eh, pernah deh gue cium bibirnya! Yaa Allah, jadi pengen kawin!" gumam Alan sambil memegang pipinya.


Bbbruuaahhhh!!


"Pergilah kau setan! Jangan ganggu!" ucap Alana sambil menyemburkan air putih.


"Dasar gelooooo!! Maiiiiillllll......!!!" teriak Alan saat melihat sang kembaran kabur.


* * * * *


UDAH SENYAM-SENYUM BELUM MALAM MINGGU INI? 🀭πŸ₯°


HATI-HATI ADA YANG NYEMBUR 🀣🀣🀣🀣


selamat membaca!!


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2