
Kini semua orang sudah berkumpul di Aula. Disana terlihat Komandan Kompi hingga Komandan Batalyon ada disana beserta istrinya. Fahri semakin terheran ketika mereka mulai saling berbisik. Fahri duduk dikursi paling depan beserta istrinya.
"Selamat siang semuanya, saya disini karena ingin meluruskan beberapa hal yang terjadi akhir-akhir ini. Semua orang yang hadir disini adalah sebagai saksi, ketika istri dari Lettu Kemal melakukan hal yang kurang menyenangkan terhadap istri dari Lettu Fahri. Lalu mengungkapkan hal yang kita tidak tau kebenarannya. Maka dari itu kami disini meminta kepada Lettu Fahri untuk menjelaskan mengenai hal itu. Semua itu juga disaksikan oleh Lettu Kemal secara online via sambungan Video Call." ucap Komandan Kompi.
Fahri tersentak kaget, dia melihat kearah istrinya yang masih dengan tatapan kosong. Setelah itu terdengar rekaman suara percakapannya dengan Dzikri beberapa waktu lalu. Dzikri dan Fahri tertawa sinis, mereka benar-benar semakin heran dengan kelakuan istri dari sahabatnya itu. Gisya melirik kearah suaminya, dia melihat wajah Fahri yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.
"Setelah kamu mendengarkan penjelasan Abang, kamu harus kasih Abang jatah selama 2 minggu ini." bisik Fahri.
Komandan Kompi meminta Fahri untuk menjelaskan semuanya didepan podium.
"Selamat siang semuanya, saya mengucapkan terimakasih kepada semua yang sudah hadir disini. Saya juga mohon maaf kepada semuanya, terlebih kepada Bapak dan Ibu Komandan Batalyon yang sudah berkenan hadir disini. Saya tidak tau saudari Bella ini ada masalah apa terhadap istri saya, beberapa kali beliau mencoba untuk mencelakai istri saya. Sebenarnya saya bisa saja melakukan hal yang bisa membuat beliau jera, tapi saya selalu ingat bahwa dia adalah istri dari sahabat dekat saya, Lettu Kemal." ucap Fahri.
"Saya akan meluruskan semua rekaman suara itu. Memang benar, itu adalah rekaman suara saya bersama Lettu Dzikri ketika sedang berbincang-bincang. Tepatnya setelah apel pagi, saat saya baru pulang dari Kongo. Saya tidak tau ternyata tujuan beliau merekam semua itu, ternyata untuk memfitnah saya dan menyerang batin istri saya yang sedang mengandung. Quera adalah anak dari Kapten Abrafo, sahabat kami ketika melakukan Latihan Gabungan bersama Korps Militer Rusia. Dia adalah orang yang menyandera kami, dia dipecat secara tidak terhormat karena kedapatan menjual senjata ilegal. Saat penyergapan, anak dan istrinya ditembak oleh anggota kelompok bersenjata. Istrinya tewas ditempat, karena tertembak dikepala. Sementara Quera putrinya, saat ini masih mendapat perawatan dibawah pengawasan PBB dan Kontingen Garuda."
Gisya terhenyak, dia menyesal karena tidak bertanya terlebih dahulu terhadap suaminya. Ternyata semua yang dikatakan Bella itu hanya untuk melemahkan batinnya, Gisya melirik kearah Bella yang sedang menunduk.
"Quera memiliki penyakit Leukimia, dan Abrafo melakukan itu demi menyelamatkan putrinya dari kematian. Dari hasil penjualan senjata itu, dia bisa melakukan operasi cangkok sumsum tulang belakang. Namun saat ini kondisi Quera masih kritis, karena dia mendapat luka tembak di dada sebelah kiri. Sebelum saya pulang ke Tanah Air, Abrafo meminta saya untuk menjaga putrinya. Karena dia pasti akan mendapatkan hukuman mati. Saya hanya bisa mengiyakan permintaannya. Makanya saya ingin memberitahukan hal ini secara perlahan kepada istri saya. Karena dia sedang mengandung, saya tidak mau jika nantinya kehadiran Quera akan menjadi beban bagi istri saya." ucap Fahri.
Gisya sudah tidak bisa lagi menahan airmatanya, dia semakin merasa bersalah terhadap suaminya. Andina segera berpindah dan memeluk Gisya. Setelah itu Dzikri maju kedepan podium untuk memberikan kesaksian.
"Saya bersaksi jika apa yang dikatakan oleh Lettu Fahri benar adanya. Bahkan saya sudah menyiapkan semua ini, agar tidak terjadi kesalahpahaman dikemudian hari." ucap Lettu Dzikri lalu memutarkan video ketika Abrafo meminta Fahri untuk menjaga Quera.
Lettu Kemal sangat malu akan kelakuan istrinya itu. Dia memohon maaf pada Fahri.
"Lettu Fahri, saya mohon maaf atas kesalahan istri saya. Sebagai suami, saya tidak bisa mendidik istri saya. Saya mohon maaf Kepada Komandan Batalyon dan Komandan Kompi ataa kejadian ini. Saya siap menerima Sanksi atas tindakan istri saya." ucap Kemal.
"Baik, karena telah mendengarkan penjelasan dari Lettu Fahri. Maka kami akan mengambil keputusan jika Lettu Kemal akan kami pindahkan ke Papua setelah tugas di Lebanon selesai. Semua itu sudah menjadi keputusan dalam Rapat sebelumnya, dan juga Jabatan Lettu Kemal bukan lagi Komandan Peleton." ucap Komandan Kompi.
Bella menangis meraung-raung ketika mendengar keputusan Komandan. Dia juga menyesal sudah mempermalukan suaminya. Kini Bella harus menelan pil pahit, dipindahkan ke Papua dan penurunan Jabatan.
"Saya disini sebagai Ketua Persit, mengingatkan kepada yang lain agar bisa tetap menjaga nama baik suami. Apalagi ketika suami sedang bertugaa diluar. Memang benar, prilaku istri tidak akan menaikkan jabatan suami. Tapi prilaku tidak baik istri terhadap yang lain, dapat mempengaruhi penilaian atasan. Ingat kita sebagai istri prajurit harus menahan amarah, sekalipun kita sangat marah. Saya mengapresiasi sikap Ibu Fahri dalam menghadapi Ibu Bella. Jadikan itu sebagai contoh yang baik." ucap Ibu Danyon.
__ADS_1
Setelah semuanya membubarkan diri, Gisya masih menunduk dan menangis. Dia enggan menatap wajah suami yang sangat dirindukannya itu. Fahri menghampiri Gisya dan berlutut dihadapannya.
"Bunda masih marah sama Ayah?" tanya Fahri yang sudah mulai merubah panggilan.
Gisya menggelengkan kepalanya, Fahri mengangkat dagu Gisya dan kedua mata mereka saling bertemu dan memancarkan kerinduan. Fahri memeluk istrinya dengan erat.
"Ayah rindu sama Bunda dan jagoan kita." bisik Fahri.
"Maafin Adek ya, Bang. Seharusnya Adek gak bersikap seperti itu sama Abang. Maafin Adek." lirih Gisya dalam pelukan suaminya.
"Ayah paham perasaan Bunda, udah jangan nangis. Nanti Adek dalem perut ikut nangis." ucap Fahri mengelus perut istrinya.
Saat Fahri akan mencium kening istrinya, Dzikri bersama para juniornya bersorak.
"Wooyyy! Mesra-mesraannya lanjut dirumah! Aula mau dirapihkan!" teriak Dzikri.
"Jiwa jomblo kami meronta-ronta Bang!" ledek para juniornya.
Akhirnya mereka memilih untuk pulang, ketika sampai dirumah ternyata Ibu-ibu itu baru saja selesai mengangkat kue dari dalam Oven.
"Bu Dadang, kalian pulang aja. Biar nanti saya yang bereskan, tapi besok pagi bantu lagi kesini ya, Bu. Buat diangkut ke Rumah Bu Danki." pinta Gisya.
"Ijin Bu, kami pulang dulu. Besok kami kembali lagi." ucap Bu Dadang.
Setelah semuanya pulang, Gisya membereskan peralatannya. Sementara Fahri sedang ke Rumah Danki untuk membicarakan Sanksi terhadap Bella. Gisya membersihkan dirinya, dia memakai lingerie yang seksi untuk menebus rasa bersalahnya terhadap Fahri.
"Apa gak keliatan murahan ya aku kaya gini." ucap Gisya sambil melihat pantulan dirinya dalam cermin. Lalu Gisya mengelus perutnya yang mulai terlihat buncit.
"Enggak dong! Abang suka!" ucap Fahri didepan pintu kamar mandi.
Gisya kaget dengan suara suaminya, dia bahkan tidak mendengar ketika Fahri masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Abang! Kaget aku! Sejak kapan Abang disitu?" tanya Gisya gugup.
"Sejak kamu pakai lingerienya!" bisik Fahri ditelinga Gisya.
"Abang rindu sama kamu sayang. Pokoknya malam ini kamu milik Abang."
Fahri mulai melancarkan aksinya, dia benar-benar sangat merindukan istrinya. Fahri melakukannya dengan sangat lembut, hingga membuat Gisya terbuai. Entah karena hormon kehamilannya, atau karena kerinduannya yang membuat Gisya menjadi agresif terhadap suaminya. (Silahkan traveling wahai otak para Reader 😂😁😜🤪)
"Istri Abang memang luar biasa." ucap Fahri ketika mereka selesai melakukan adegan panasnya. Gisya memeluk suaminya dengan sangat erat.
"Adek mau kita mengadopsi Quera, Adek sudah jatuh cinta sejak melihat fotonya."
Fahri tersenyum mendengar ucapan istrinya. Dia tau, Gisya adalah sosok yang keibuan.
"InshaAllah, semoga semuanya dimudahkan oleh Allah. Dia bisa menjadi kakak untuk jagoan kita." ucap Fahri mengelus rambut istrinya.
"Kok Abang bisa yakin kalo dia jagoan?" tanya Gisya.
"Yakinlah, orang Abang yang tanam saham!" ucap Fahri tertawa.
"Ish Abang!!" ucap Gisya yang malu sendiri.
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya untuk melepas rindu. Begitulah kehidupan, akan selalu ada rintangan dan cobaan. Tinggal bagaimana kita menyikapi semua itu.
* * * * *
Maaf yaaa kalo ceritanya bikin bosen ✌
Harap dimaklumi karena ini Karya Pertama Author.
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author❤