Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 93. Family Gathering


__ADS_3

Sebelum kembali ke Jogjakarta, Febri dan Gisya mengadakan acara Family Gathering bersama para karyawan Toko nya. Bahkan, Ayu sang asisten Febri pun turut ikut dalam acara ini. Dua buah bus berukuran sedang sudah Gisya persiapkan. Satu bus untuk karyawan toko dan cafe nya, dan satu bus lagi khusus untuk keluarganya. Sebelum mereka berangkat, Febri dikagetkan dengan kedatangan Ana dan juga kedua orangtuanya.


Ana berhambur memeluk Febri, dia sungguh sangat menyesali perbuatannya dulu.


"Maafin Ana, Mbak. Ana sudah sangat bersalah terhadap Mbak dan Cyra. Cinta sudah membuat Ana kehilangan hati nurani." ucap Ana terisak dalam pelukan Febri.


"Udah jangan nangis! Mbak udah maafin kamu, sekarang kita mulai lagi kehidupan kita seperti dulu. Mau gimana pun, kamu tetep Tante nya Cyra." tutur Febri sambil mengelus punggung mantan adik iparnya itu.


Zaydan menghampiri keduanya sambil menggendong Cyra. Dia tersenyum melihat Ana dan Febri sudah berdamai seperti dulu lagi.


"Lihat keponakanmu sudah sebesar itu, Ana." ujar Febri sambil membawa Cyra.


"Cantiknya ponakan Tante." ucap Ana. "Selamat menempuh hidup baru ya, Mbak dan Mas Zaydan. Semoga menjadi keluarga yang bahagia."


"Terimakasih, Ana. Lalu kapan nih nyusul?" goda Zaydan saat mengetahui Ana datang bersama seseorang.


"Sedang pengajuan, Bang!" ucap seseorang yang membuat Febri berbalik.


"Serda Rizal!" kaget Febri menatap Rizal dan Ana bergantian.


Ya! Serda Rizal yang selalu menemani Andi saat mereka berdinas dulu.


Rizal menghampiri Febri dan mengelus pipi Cyra dalam gendongan Febri.


"Letda Mbak! Sekarang saya sudah menjadi Letda. Ponakan Om sudah besar, mirip sekali dengan Papa Andi." ucap Rizal.


"MashaAllah, kalian udah pengajuan aja! Kenal dimana?" bahagia Febri mendengar itu.


"Ketemu pas Ana jadi relawan, Mbak. Saya pepet dia terus, gak nyangka dia adik Bang Andi. Ternyata jodoh saya itu orang dekat." ucap Rizal terkekeh.


Gisya yang melihat mereka malah asyik bercerita, lantas mendekati mereka.


"Kalian ini malah ngobrol disini! Ayok ikut, kita tamasya sama-sama. Kebetulan bis untuk keluarga kita masih kosong." ajak Gisya yang sudah lama menunggu.


"Apa gak apa-apa kami ikut?" tanya Rizal pada Gisya.


"Kalo kamu gak naik, saya hukum kamu buat push up!" tegas Fahri sambil merangkul mantan anggotanya itu.


"Siap! Laksanakan Kapten!" ucap Rizal menegakkan badannya.


"Disini gak ada atasan ataupun bawahan! Hari ini kita semua ini keluarga besar, jadi jangan sungkan untuk mengobrol." ucap Fahri yang mengerti kekakuan Rizal ketika melihat Gilang bersama mereka.


Tujuan perjalanan mereka adalah Puncak. Mereka berencana akan menginap di penginapan milik Andi dan Fahri. Anak-anak sangat antusias, sepanjang perjalanan mereka bernyanyi riang. Ditambah kehebohan dua pasangan absurd yang tak henti-hentinya membuat mereka semua tertawa.


Gisya menyandarkan dirinya dibahu sang suami. Kebahagiaan Gisya saat melihat keluarganya berkumpul seperti ini, mengingat sebentar lagi dia akan mengikuti suaminya yang dipindah tugaskan. Fahri sudah naik pangkat menjadi Kapten, dan dia akan dipindahkan ke Jogjakarta dengan jabatan baru sebagai Komandan Kompi.


Fahri mengelus perut Gisya yang usia kandungannya sudah menginjak 5 bulan.


"Jangan sedih ya, Bun. Meskipun kita pindah ke Jogja tapi kita akan sering pulang kalo Bunda rindu keluarga kita." ucap Fahri.


"Bunda sangat bahagia, Ayah. Sudah kewajiban Bunda untuk mengikuti kemanapun Ayah pergi. Terimakasih sudah selalu mengutamakan kebahagiaan Bunda." tutur Gisya.


"Woyyy Ibu hajat! Jangan cuman mesra-mesraan dong! Ayo sumbang lagu buat kita semua!" ucap Jafran yang sudah mulai iseng.


"Si Baba abrakadabra! Jangan pake mic atuh! Anak-anak snewen!" kesal Yuliana yang melihat anak-anak terperanjat kaget.

__ADS_1


"Maaf yaa tuyul-tuyul!" ucap Jafran pada anak-anak itu.


Karena kesal, Alan alias Maul melemparkan sebuah snack kearah Babanya itu.


"Aduuhhhhh!" ucap Jafran mengaduh ketika wajahnya tertimpuk.


"Baba uyul! Butan tita yang uyul!" ucap Alan kesal dengan julukan yang diberikan Baba nya.


"Allahuakbar! Mauuuuuulll, lama-lama kamu Baba karungin deh! Anak siapa sih kamu tuh? Perasaan Baba waktu kecil gak gini-gini amat!" kesal Jafran.


"Kata siapa? Kamu malah lebih parah dari ini A! Masa kamu isengin Abi, melorotin sarungnya didepan umum. Lebih paraahhh kan dari ditimpuk." celetuk Umma Nadia.


Jafran merenggut kesal ketika satu bus menertawakannya. Akhirnya sang pelipur lara, Alana mampu mendinginkan hatinya yang panas.


"Ayana tayang Baba, angan malah-malah anti mpet uwa!" ucap Alana mencium pipinya.


"Ahh Mail anak kesayangan Baba." ucap Jafran hendak memeluk putrinya.


Plaaakkkk!


Alana menggeplak kedua pipi Baba nya dengan tangan mungilnya itu.


"Ayana butan Maiyyy!" kesal Alana lalu kembali duduk manis dikursinya.


"Hahahahaha emang enaaakkk!" ucap mereka serempak.


"Kalian sudah menganiaya diriku. Oh sungguh sangat ter..laa...luuu." ucap Jafran dengan nada alaynya.


Begitulah keseruan mereka sepanjang perjalanan, hingga tak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Gisya mengadakan berbagai macam perlombaan, tak tanggung-tanggung hadiah yang diberikannya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan. Bahkan dia memberikan doorprize sebuah sepeda motor untuk karyawannya yang paling loyal. Mereka sangat beruntung memiliki atasan seperti Gisya dan Fahri.


Fahri melihat sang istri sangat kelelahan dalam menyiapkan seluruh acara ini.


"Bunda istirahat aja, biar acara barbeque nanti malam Ayah dan bapak-bapak yang lain yang menyiapkan. Ayah gak mau Bunda dan putri kecil Ayah kecapean." ucap Fahri.


"Ayah yakin banget kalo dedek ini perempuan. Kok bisa seyakin itu, Yah?" heran Gisya.


"Kan Ayah yang tanam saham, Bun. Udah pasti Ayah tau lah!" ucap Fahri sambil menggoda istrinya itu. Dan benar saja, Gisya langsung bermanja memeluk Fahri.


"Abang gak mau nengokin dedek duluu gitu?" rengek Gisya pada suaminya itu.


"Mauu dong! Yuuk Abang tengokin dedek!" bisik Fahri yang membuat Gisya semakin agresif untuk menerkam suaminya itu.


Tokk... Tokk... Tokkk...


Bunyi ketukan pintu tidak menghentikan aktivitas panas mereka.


"Ayaaahhh... Mbuunnnn... Butaaa!" teriak Husain sambil menangis.


"Yah, si Abang ketuk-ketuk pintu." ucap Gisya sambil menahan kenikmatan yang sedang dia rasakan. Fahri masih saja terus melakukan aksinya.


"Sebentar lagi, Bun." ucap Fahri sambil mencium istrinya itu.


Brug.. Brugg.. Bruuuggg....


"Ayaah.. Bunda.. Bukaaa!! Ain nangis terus, kuping kaka sakit!" teriak Quera sambil menggedor pintu dengan sangat keras.

__ADS_1


"Ahhhh... Bunda cepet ke kamar mandi! Biar Ayah yang bukain pintu buat mereka." ucap Fahri dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Pake baju dulu, Yah! Masa mau bukain pintu telanjang!" kesal Gisya saat melihat suaminya berjalan kearah pintu.


Setelah memastikan Gisya masuk kedalam kamar mandi, Fahri merapikan rambut dan bajunya yang acak-acakan. Dia membuka pintu, dilihatnya kedua anaknya yang kesal.


"Abang kenapa nangis? Maaf Ayah sama Bunda ketiduran." ucap Fahri.


"Heleeehh ketiduran! Paling juga abis ngadon!" ucap Jafran yang kebetulan lewat.


"Ayah ama! Abang au Mbun." ucap Husain sambil menangis.


"Bunda lagi mandi dulu, yuk sini masuk anak-anak Ayah." ucap Fahri menggendong Husain dan menuntun Quera.


"Kakak mau sama Oma aja, pusing kalo sama Ain!" ucap Quera lalu pergi kekamar sang Oma yang berada diujung lorong.


Gisya keluar dari kamar mandi, dilihatnya Husain sudah mulai meredakan tangisnya.


"Aduh anak Mbun nangis, maaf ya. Tadi Mbun sama Ayah ketiduran, udah jangan nangis lagi! Masa udah mau jadi Abang malah cengeng begini." ucap Gisya pada Husain.


"Ain ndak au adi Abang." lirih Husain yang membuat Fahri dan Gisya saling tatap.


"Lho, kok gak mau? Katanya Ain mau jadi Abang kaya Maul." tanya Fahri.


"Ata Mauy adi Abang pucing. Abang ndak mau pucing." ucap Husain dengan polosnya.


Fahri dan Gisya mengusap lembut punggung putranya itu. Memang mereka akui, Husain masih terlalu kecil untuk menjadi seorang kakak. Tapi apalah daya, ketika Allah memberikan kembali titipan untuk mereka. Dan mereka mensyukurinya, mengingat diluar sana masih banyak yang mengharapkan kehadiran seorang anak.


"Abang Ain sayang, punya adik itu gak bikin pusing Nak. Malah Ain punya temen dirumah, kaka Quera juga. Ain kan nanti yang akan jagain Bunda, Kaka Rara dan adik kalo Ayah lagi bertugas. Adik juga pasti seneng, punya Abang seperti Abang Ain. Jadi nanti kalo dedek bayi sudah lahir, Abang Ain harus sayang ya sama dedek." ucap Fahri memberikan pengertian pada putranya itu. Dan Husain menganggukkan kepalanya.


Malam sudah tiba, mereka sudah berkumpul untuk mengadakan Acara Barbeque. Sekaligus perpisahan mereka dengan Gisya dan Fahri sang pemilik Toko dan Cafe. Acara sangat meriah sekali, Farida beruntung karena dia mendapatkan hadiah sepeda motor dari Fahri dan Gisya. Dipenghujung Acara, Gisya mengucapkan sepatah dua patah kata sebagai tanda terimakasih.


Para karyawan yang sudah lama bersama Gisya, menangis tersedu-sedu.


"Saya ucapkan terimakasih kepada seluruh karyawan yang selama ini bekerja pada saya, terutama Farida, Rani dan Rama. Terimakasih kalian sudah menemani saya dari nol hingga sekarang. Saya bersyukur memiliki karyawan yang loyal seperti kalian. Saya pamit, karena saya harus ikut suami saya yang bertugas di Jogja. InshaAllah suatu hari nanti, jika Allah ijinkan kita akan adakan acara seperti sekarang. Untuk Toko, saya serahkan kepada adik ipar saya tersayang. Syaina, Teteh percayakan Toko Caca Bakery padamu. Buatlah Toko ini semakin besar dan melebarkan sayapnya." ucap Gisya dengan derai airmata dipipinya.


Kini giliran Febri dan Yuliana yang menyampaikan pesan-pesan mereka.


"Saya juga pamit yaa semuanya, saya ikut suami saya ke Singapore. Singapore ya! Bukan Singaparna!" ucap Yuliana mencoba meredakan suasana sedih.


"Terimakasih selama ini sudah mau bekerja sama dengan saya yang begini adanya. Seperti kata Caca, semoga dikemudian hari kita akan bisa berkumpul lagi seperti ini. Dan mungkin nanti saat berkumpul, saya sudah fasih berbahasa enggres! Dimanapun kami berada, tolong selalu do'akan kami dan yang paling utama adalah jangan putuskan tali silaturahmi! Kita hidup di jaman milenial, ada hape buat vidkol! Bener gakk gaiiissss?? Mungkin cukup sekian yang saya ucapkan, we love you gaiiss." ucap Yuliana.


Mereka tertawa dengan deraian airmata dipipinya, tidak dipungkiri ketiga orang itu memang sangat baik. Mereka menganggap seluruh karyawan adalah keluarga mereka.


"Aduh, jangan sedih-sedih ya! Ini bukan perpisahan yang sesungguhnya, karena perpisahan yang sesungguhnya adalah kematian. Kita hanya terpisah jarak dan waktu aja, bener kata Ulil! Kita hidup di jaman milenial, masih bisa kirim pesan dan video call. Saya juga sangat mengucapkan terimakasih pada kalian semua. Saat saya terpuruk, kalian semua yang memberikan semangat untuk saya. Hingga saat ini saya sudah menemukan kebahagiaan bersama Mas Zaydan. 'Cafe Fandi x Caca Bakery' akan saya limpahkan pada Farida, dia adalah orang yang selama ini bersama kami dari nol. Dia yang akan membesarkan nama cafe itu bersama Syaina. Semoga kita bisa membuka cabang diseluruh kota se Indonesia. Semangaattt! 'Caca Bakery x Fandi Cafe' sukses selalu!" ucap Febri menyemangati.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2