
Malam ini Febri tidak bisa tidur dengan tenang, besok pagi dia akan melakukan operasi sesar untuk melahirkan bayinya. Febri terus memeluk foto Andi yang ada diponselnya. Febri sangat gelisah, dia takut tidak bisa membesarkan anak mereka.
"Mas Andi, aku takut. Aku takut gak bisa merawat dia dengan baik. Aku butuh kamu, Mas. Aku butuh kamu untuk mendampingi aku. Rasanya sakit Mas, aku mau kamu." Lirih Febri.
Ana yang menjaga Febri, ikut menitikkan air matanya. Ana bangun dari tidurnya dan mulai mengelus punggung Febri dan memeluknya.
"Mbak pasti bisa, semuanya akan baik-baik aja. Mas Andi pasti ikut mendampingi Mbak. Berdo'a sama Allah ya, biar besok semuanya dilancarkan sama Allah." ucap Ana.
"Makasih ya, Ana. Kamu udah mau mendampingi Mbak disini." Lirih Febri.
"Ini sudah kewajiban Ana untuk menjaga keponakan Ana. Maaf ya Mbak, bapak sama ibu gak bisa datang ke Bandung." Ucap Ana.
"Gak apa-apa, Mbak hanya butuh do'a dari mereka."
Febri mulai tertidur, dia memeluk erat baju dinas milik Andi. Dalam tidurnya, Febri melihat Andi yang gagah dan sangat tampan. Andi menghampiri Febri dan memeluknya.
"Kamu pasti kuat, terimakasih sudah menjaga anak kita. Sekarang kamu harus bahagia, Mas juga disini sudah bahagia. Dia akan menjagamu dan anak kita." ucap Andi, lalu memberikan tangan Febri pada seseorang yang tidak bisa Febri lihat wajahnya.
Febri terbangun dari tidurnya, ternyata sudah jam 5 pagi. Febri segera melaksanakan sholat subuh, tanpa dia sadari kehadiran Zaydan disana. Semalam Zaydan datang ketika Febri baru saja terlelap. Zaydan meminta Ana untuk pulang dan mengambil peralatan Febri yang tertinggal. Zaydan terus memandangi Febri ketika dia terlelap tidur. Febri baru menyadari jika yang tertidur di sofa itu bukan Ana.
"Astaghfirulloh, ternyata Mas Zaydan yang tidur di sofa. Kemana Ana." batin Febri.
"Ana semalam aku suruh pulang, barang-barang baby ada yang ketinggalan. Jadi aku yang gantiin dia jaga kamu." ucap Zaydan dengan mata yang masih terpejam.
"Yaa Allah, Mas Zaydan udah bangun? Bikin kaget aja." kesal Febri.
Zaydan hanya tersenyum mendengar omelan dari Febri.
Ana datang membawakan barang-barang yang sudah disiapkan untuk kelahiran baby. Dia tersenyum bahagia ketika melihat Zaydan sedang mengomeli Febri.
"Kan udah Mas bilang, kalo mau ke kamar mandi minta tolong sama Mas. Lihat kan infusannya jadi macet lagi." omel Zaydan.
"Aku gak mau ganggu Mas lagi sarapan pagi, lagian aku bisa sendiri." elak Febri.
"Kata siapa ganggu, lagian Mas disini kan buat nungguin kamu. Jadi sama sekali kamu itu gak ganggu Mas. Udah diem dulu, nanti Mas panggilin suster."
Saking asyiknya ribut, mereka bahkan tidak menyadari kehadiran Ana serta Yuliana dan juga Jafran yang baru saja datang. Yuliana tersenyum senang, dia bahagia melihat Febri kembali dengan sifatnya yang dulu.
"Ekhheemmmmm!" dehem Jafran yang dihadiahi cubitan oleh istrinya.
"Aww! Sakit sakit Ummi! Galak banget sih!" Keluh Jafran.
"Lagian kamu mah ngerusak suasana banget tau!" kesal Yuliana.
Febri dan Zaydan tersentak kaget dengan kehadiran mereka.
"Sejak kapan kalian disitu?" tanya Febri yang heran.
"Sejak tom & jerry lagi berantem." ucap Yuliana mengedipkan sebelah matanya.
"Dih si Ummi matanya genit banget! Pake kedap-kedip itu mata, dipikir lampu disko kali!" kesal Jafran melihat tingkah istrinya.
Yuliana tidak menghiraukan ucapan suaminya, dia berjalan menghampiri Febri dan Zaydan. Dia menyatukan kedua tangan mereka.
"Berbahagialah kalian, Mas Andi dan almarhumah istri Mas Zaydan pasti ingin kalian melanjutkan hidup kalian. Biw, kamu butuh Mas Zaydan untuk menjaga kamu dan baby. Dan Mas Zaydan butuh kamu buat menemani hidupnya." ucap Yuliana.
Febri dan Zaydan tidak menjawab, mereka hanya saling pandang. Tak lama kemudian datanglah Gisya yang duduk di kursi roda.
"Duh nyonya akhirnya dateng juga! Kirain masih capcipcup!" ledek Yuliana.
__ADS_1
"Haah? Capcipcup apasih Lil!" elak Gisya dengan wajah yang memerah.
"Ciee Bunda blushing!" goda Fahri pada istrinya.
Ketika mereka sedang asyik bercanda, datanglah dokter yang memanggil Febri untuk segera bersiap menuju ruang operasi.
"Silahkan suami pasien ikut bersama kami ke ruangan operasi." ucap Dokter.
Mereka terdiam dan saling pandang. Sedangkan Febri sudah menunduk dengan mata yang berkaca-kaca. Saat dia akan menjawab, Zaydan terlebih dahulu berbicara.
"Saya akan menemaninya dok." jawab Zaydan.
Semua orang disana menatap haru kearah Zaydan, sedangkan Zaydan hanya berjalan mengikuti dokter.
Diruang Operasi, Febri sangat gugup. Tapi Zaydan terus menyemangatinya.
"Ayoo semangat! Mama Ebiw pasti bisa melewati semuanya." ucap Zaydan.
"Makasih Mas." lirih Febri.
Zaydan tau dirinya sama sekali tidak berhak atas diri Febri, makanya dia hanya duduk menemani dan membacakan sholawat ditelinga Febri. Bahkan ketika bayi perempuan itu lahir, dia menunggu hingga bayi itu sudah dibersihkan. Febri bernafas lega ketika mendengar suara tangisan bayinya.
Zaydan diminta dokter untuk melihat bayi yang berjenis kelamin perempuan itu. Zaydan menggendongnya perlahan, dia mengadzani bayi cantik itu. Matanya berkaca-kaca, dia teringat kembali akan almarhumah istrinya.
"Selamat datang didunia bayi cantik, semoga kamu menjadi anak yang kuat seperti ibumu. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu." bisik Zaydan pada bayi mungil itu.
Diluar, seluruh keluarga sudah berkumpul. Mereka tak hentinya mengucap rasa syukur atas kelahiran bayi Febri. Terlebih ketika mereka tau jika Zaydan menemani Febri melewati saat-saat yang menegangkan itu. Mama Rini tiba-tiba memeluk Zaydan, ketika dia baru saja keluar dari ruang operasi.
"Terimakasih, terimakasih banyak sudah menemani anak saya." lirih Mama Rini.
"Sudah ibu jangan menangis, saya hanya menuruti permintaan Mbak Yuliana. Sekarang Febri masih dalam pengawasan dokter, dan bayi nya sudah dibawa ke Ruang Bayi." ucap Zaydan sambil mengusap lembut Mama Rini.
"Pak bisa ikut kami, bayi bapak mengalami demam. Kami akan membawa bayi bapak keruang perawatan istri anda." ucap Suster.
Zaydan menatap kearah Mama Rini dan Yuliana, setelah mendapatkan anggukkan kepala dari mereka Zaydan baru melangkahkan kakinya. Mereka mengikuti Zaydan dari belakang.
Bayi mungil itu menggeliat didalam boxnya, Zaydan tersenyum dan dia mulai memegang jari-jari mungil bayinya itu. Suster disana merasa terharu dengan sikap Zaydan. Bagaimana tidak, seorang laki-laki yang berseragam loreng itu tampak berkaca-kaca menatap bayi perempuan yang berada didalam box.
"Permisi Pak, silahkan bapak buka bajunya dan letakkan bayinya didada bapak. Untuk meredakan demam bayi, bapak akan melakukan skin to skin contact." jelas Suster.
"Baik suster." ucap Zaydan.
Zaydan membuka bajunya, beberapa suster banyak yang mengagumi tubuh Zaydan yang sangat atletis. Mereka memuji bapak Tentara yang satu ini.
"Unnchhh bapaknya keren banget! Mau dong satu yang gini!" bisik suster pada temannya.
Yuliana dan Mama Rini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika mendengar bisik-bisik para suster. Zaydan mulai menggendong bayi kecil itu, dia meletakkan bayi perempuan itu didadanya. Dia duduk bersadar pada sofa, dia terus memeluk erat bayi mungil itu. Rasanya hati Zaydan sungguh bahagia.
"MashaAllah, cetakan Mas Andi banget baby nya!" ucap Yuliana.
"Ummi! Jangan terus diliatin si Idannya!" kesal Jafran pada istrinya.
"Ih si Baba! Ummi liat bayik bukan liat Mas Zaydan!" ucap Yuliana tidak terima.
"Sssttt! Jangan berisik!" ucap Zaydan dengan tatapan tajam.
Mereka terkesiap dengan sikap Zaydan, tapi mereka tersenyum sumringah karena itu tandanya Zaydan sangat menyayangi putri cantik Febri. Tak berapa lama, suster datang membawa Febri masuk kedalam ruangan.
Mata Febri berkaca-kaca ketika melihat bayinya itu sedang digendong oleh Zaydan. Sayangnya gerak Febri masih terbatas karena jahitan pada perutnya.
__ADS_1
"Permisi bu, boleh kami tau siapa nama adek bayinya? Kami akan membuatkan gelang perawatan." Ucap Suster.
"Mas Zaydan, boleh kasih nama bayi Febri?" tanya Febri pada Zaydan.
Semua orang menatap kearah Zaydan, dan yang ditatap hanya tersenyum.
"Ferandiza Chayra Shanum Faturachman." jawab Zaydan.
"Wuihhh! Keren tuh namanya, apaan tuh artinya?" tanya Yuliana.
Zaydan menatap dalam mata Febri, kali ini Zaydan bahkan tidak menyadari ucapannya.
"Putri Febri, Andi dan Zaydan yang memiliki hati yang cantik dan penuh kebaikan."
"MashaAllah, nama dan artinya bagus sekali. Cantik seperti dedeknya." ucap Suster.
"Terimakasih, suster." ucap Zaydan.
"Ini gelangnya kami pakaikan ya Pak. Lakukan skin to skin contact selama 30 menit ya pak, setelah itu berikan dedek bayi pada ibunya untuk diberikan ASI pertamanya. Kami permisi dulu." pamit ketiga suster itu.
Yuliana dan Jafran segera berpamitan karena kedua bayi mereka sedang kontes menangis dirumahnya. Tentu saja Umma Nadia dan Bunda Syifa yang menjadi jurinya, karena Mami Lia harus menemani Papi Yuda dinas Luar Kota.
"Biw! Aku pulang dulu yaa, si kembar lagi kontes nangis dirumah. Nanti gantian Bunda sama Umma yang kesini." ucap Yuliana.
"Hati-hati dijalan yaa, makasih udah nemenin ya! Caca kemana?" ucap Febri pelan.
"Si Caca juga nanti kesini! Jangan khawatir, ruangan kalian sebelahan!"
Ana sedari tadi menemani Febri dan mengurusnya. Ana menatap bayi mungil itu, dia benar-benar mirip dengan Andi. Ana menghubungi kedua orangtuanya untuk memberitahu jika Febri sudah melahirkan. Dia meminta Zaydan untuk beristirahat, karena bayi mungil itu akan menangis ketika Zaydan menaruhnya diatas box.
"Mas Zaydan istirahat aja dulu, mumpung adek bayi bobo. Biar Ana yang jagain." ucap Ana
"Terimakasih Ana, saya akan kembali lagi nanti sore." ucap Zaydan.
Lalu Zaydan berpamitan kepada Febri yang masih terbaring diatas tempat tidur.
"Saya pulang dulu, nanti sore pasti saya balik lagi." ucap Zaydan.
"Terimakasih, Mas. Maaf sudah merepotkan, makasih buat semuanya." lirih Febri.
"Sudah kewajiban saya untuk menjaga Cyra. Kamu istirahat, mau saya bawakan apa nanti?" tanya Zaydan.
"Gak usah repot-repot Mas, terimakasih banyak." ucap Febri.
"Yasudah, saya pulang dulu. Ingat istirahat! Jangan banyak pikiran!" ucap Zaydan mengelus kepala Febri dengan lembut.
Setelah Zaydan menghilang dari pandangannya, Febri mengambil baju milik Andi yang disimpan dibawah bantalnya.
"Mas anak kita sudah lahir, namanya Ferandiza Chayra Shanum Faturachman. Kamu setuju kan dengan nama itu Mas. Dia yang mengadzani dan memberi nama itu." lirih Febri.
* * * * *
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤
__ADS_1