Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 98. Quera as Elmira


__ADS_3

Gisya menatap wajah putrinya yang tertidur lelap, setelah mendengar kejadian yang menimpa Quera dia lebih mengkhawatirkan kondisi psikis anaknya. Dia takut Quera akan trauma kembali, perlahan dia membelai pipi putrinya itu.


"Kakak anak Bunda, sampai kapanpun tetep anak Bunda. Tidak ada yang bisa memisahkan kita berdua sayang." lirih Gisya dengan tetesan airmata dipipinya.


"Jangan menangis sayang, Abang gak pernah rela airmatamu jatuh walaupun setetes. Apapun akan Abang lakukan untuk menjaga kalian." ucap Fahri menenangkan istrinya.


Sementara itu, Zaydan dan Syauqi baru saja kembali dari Polres setempat untuk melaporkan kejadian yang menimpa keponakannya itu.


"Bang Idan, kan kita udah selesai nih bantuin laporan Bang Fahri. Sekarang Bang Idan bantu Uqi yaa!" ucap Syauqi memelas pada Zaydan.


"Boleh, Uqi mau minta bantuan apa?" tanya Zaydan.


"Kumpulin anggota Bang Idan yang botak, Ina lagi ngidam pengen liat pasukan Tentara Jogja yang botak." lirih Syauqi yang membuat Zaydan membulatkan matanya.


"Haaa?? No! No! No! Emang di Bandung gak ada apa pasulan Tentara botak! Kayak gak ada kerjaan aja Abang ngumpulin mereka." ucap Zaydan yang menolak keinginan Syauqi.


Hingga mereka sampai dirumah, Syauqi masih merengek layaknya anak kecil yang meminta uang jajan. Febri melihat wajah kesal suaminya, dia lalu menghampiri keduanya.


"Ada apa, Mas? Kenapa kamu kesel kaya gitu?" tanya Febri.


"Tuh tanyain aja sama si Malik! Bunda mana? Kita pamit, Mas gerah mau mandi." ucap Zaydan lalu mencari keberadaan Bunda Syifa didalam rumah.


Febri ingin menanyakan kepada Syauqi, tapi Syauqi sudah terlebih dulu masuk kedalam rumah menyusul Zaydan.


"Ih pada rese deh!" kesal Febri lalu ikut masuk kedalam rumah.


"Ayolah Bang Idan! Nanti kalo Teh Ebiw ngidam juga pasti Uqi bantuin." rengek Syauqi.


"Bunda, kami pulang dulu ya! Idan gerah mau mandi." pamit Zaydan pada Bunda Syifa tanpa menghiraukan ucapan Syauqi.


"Jadi ini masih perkara kepala botak?" tanya Bunda Syifa.


"Ppfffttt..." Febri menahan tawanya mengingat keinginan Syaina.


Mereka menatap tajam kearah Febri yang masih menahan tawanya.


"Apa? Kenapa pada liatin Ebiw kaya gt?" heran Febri melihat semuanya.


"Lagian malah ngetawain! Uqii pusing inii... Pussiiingggg!" kesal Syauqi.


"Pusing kenapa A?" tanya Syaina yang baru saja keluar dari kamar Husain.


"Itu si Uqi pusing, mikirin ngi---mmmmmmm" mulut Zaydan dibekap oleh Syauqi.


"Aa pusing mikirin kasusnya si Kaka, Neng. Kasian dia." ucap Syauqi dan diangguki oleh Syaina.


Syauqi menyeret Zaydan keluar dari rumah Kakaknya itu.


"Gila kamu Malik! Mau bikin Abang mati muda?!" kesal Zaydan.


"Abis itu mulut ember banget sih Bang! Bisa-bisa perang dunia ketiga Uqi kalo Ina denger omongan Abang!" ucap Syauqi yang tak kalah kesalnya.


"Yaudah nanti Abang bantu! Tapi minta Abangmu juga buat bantu!" ucap Zaydan yang merasa iba. Syauqi langsung memeluknya dengan erat.


"Ah Bang Idan! Love you more and more!" ucap Syauqi.


"Mas Idan! A Uqi!" ucap Febri dan Syaina bersamaan membuat  keduanya menoleh.


"Aa gak belok kan?" lirih Syaina yang membuat Syauqi melotot.


"Allahuakbar Neng! Aa masih normal!" ucap Syauqi.


"Terus itu kenapa masih berpelukan!" kesal Febri melepaskan suaminya dari Syauqi.

__ADS_1


Zaydan langsung memeluk istrinya, sambil menggidikkan bahunya.


"Tadi Uqi bilang love you sama Mas. Ihhh ngeriiiii...." ledek Zaydan.


"Huft! Sakarepmu wae lah, yang penting thankyou ya Bang Idan!" ucap Syauqi mengedipkan sebelah matanya.


Setelah berpamitan, Zaydan dan Febri kembali kerumah mereka beserta Cyra yang sudah tertidur dipelukan Papanya.


"Heran deh sama Cyra! Dari bayi nemplok mulu sama kamu, Mas." ucap Febri.


"Iyalah wong aku Papanya. Pasti dia nemplok, tinggal Mama nya nih yang susah banget buat nemplok sama di templokin!" goda Zaydan pada istrinya itu.


"Ih! Udah sana boboin Cyra nya, aku mau mandi dulu." ucap Febri meninggalkan Zaydan.


"Pake baju dinas ya, Yank! Udah lama Mas gak liat kamu pake baju dinas." pinta Zaydan.


"Masa aku tidur pake baju Persit sih, Mas." goda Febri pada suaminya.


Zaydan yang merasa gemas malah mengikuti istrinya kedalam kamar mandi. Dan malam itu menjadi malam panas bagi mereka. Untung saja Cyra lelap dalam tidurnya.


Pagi ini, Gisya sudah mengajak Syaina dan Bundanya untuk berjalan-jalan disekitar rumah dinasnya. Fahri dan Zaydan sudah meminta beberapa tamtama yang berkepala plontos untuk melakukan kegiatan lari pagi. Syaina sangat antusias melihatnya.


"MashaAllah Tetehhh! Inaa sukaa, Inaa sukaaa!" ucap Syaina dengan bahagia.


"Teh, amit-amit si utun!" bisik Bunda Syifa pada putrinya.


Sementara Gisya terus mengusap perutnya sambil menuntun Husain.


"Amit-amit jabang bayi, amit-amit jabang bayii!" ucap Gisya saat melihat Syaina yang sampai bersorak penuh kemenangan.


"Mbun, napain?" tanya Husain ketika melihat Bundanya berkomat-kamit.


"Eh, Bunda berdo'a sayang. Biar dedek bayi cantik kaya Kak Rara." ucap Gisya.


"Mbun, beyi ntu!" tunjuk Husain pada anak salah satu anggotanya yang membawa gulali.


Seperti biasa, Syauqi menemani Fahri untuk mengantarkan Quera ke sekolahnya. Sesampainya disana Fahri tersentak kaget mendengar teriakan putrinya itu.


"Om Chandraaaa!!!" teriak Quera dengan terburu-buru turun dari mobil Ayahnya.


"MashaAllah princess Om!" ucap Chandra berhambur memeluk Quera.


Fahri dan Syauqi saling tatap, mereka lalu turun menghampiri Chandra. Melihat Fahri berjalan kearahnya, Chandra melepaskan pelukannya.


"Siap! Bagaimana kabar anda Kapten Fahri?" ucap Chandra.


"Baik, Lettu Chandra! Eiitttsss salah, Kapten Chandra!" goda Fahri pada temannya itu.


"Ada yang harus saya sampaikan mengenai Quera." ucap Chandra dengan wajah seriusnya.


Karena bel telah berbunyi, maka Quera harus masuk kedalam kelasnya.


"Kakak sekolah dulu, ya. Nanti Kakak mau main sama Om Chandra!" pinta Quera.


"Sekolah yang rajin dan pinter ya princesss!" ucap Chandra mengelus kepala Quera.


"Siap Komandan!" ucap Quera lalu berlari masuk kedalam kelas.


Fahri mengajak Chandra untuk berbicara dirumahnya, karena apapun mengenai Quera istrinya harus mengetahuinya. Sedangkan Syauqi menunggu Quera disekolahnya. Gisya menyambut baik kedatangan Chandra.


"Eh ada Om Chandra, gimana kabarnya Om?" tanya Gisya.


"Dia Kapten Bun sekarang! Kapten termuda!" goda Fahri pada Chandra.

__ADS_1


"Ah Danki bisa aja! Saya belum jadi apa-apa kok!" ucap Chandra merendah.


Cukup lama mereka berbincang-bincang, Fahri teringat pada ucapan Chandra tadi.


"Jadi hal serius apa yang ingin kamu katakan mengenai putriku?" tanya Fahri.


"Begini Danki, Pusat menerima laporan bahwa keluarga Abrafo mencari Quera. Karena saat ini semua aset milik Abrafo atas nama Quera." ucap Chandra yang membuat Gisya terkaget hingga dia memecahkan gelas yang berada ditangannya.


"Yaa Allah, jadi kemungkinan yang kemaren mau nyulik Kakak itu keluarga Papa kandungnya." lirih Gisya dalam tangisannya.


Chandra pun tersentak kaget mendengar ucapan Gisya.


"Apa?! Jadi kemarin Quera akan diculik?" tanya Chandra.


"Iya, untung saja guru-guru dan security disana cepat tanggap. Makanya aku meminta Syauqi untuk menunggu disana bersama beberapa rekan Polisi yang bertugas di Jogja. Semalam Quera juga kurang nyenyak tidurnya." ucap Fahri dengan lesu.


"Hanya satu hal yang bisa kita lakukan saat ini." ucap Chandra.


Fahri dan Gisya tersentak kaget mendengar usulan Chandra. Mereka berdua hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.


"Dengan terpaksa, saya akan memalsukan kematian Quera. Mumpung mereka belum melihat dengan langsung wajah Quera. Kalian bisa mengganti namanya, dan mengamankan Quera hingga keluarga Abrafo tidak mengejarnya lagi." ucap Chandra.


"Tapi para penculik itu udah lihat wajah Quera." lirih Gisya.


"Maka dari itu kalian harus mengamankan Quera. Hingga para penculik itu percaya jika Quera telah tiada." ucap Chandra menjelaskan.


Sepulang sekolah, Quera langsung berhambur kedalam pelukan Chandra. Dia sangat merindukan Chandra yang sejak dulu menemaninya.


"Princess sudah mau punya adik 2 yaa!" ucap Chandra.


"No! Kakak punya adik 4 Om, yang satu masih dalam perut Bunda. Jadi Kakak punya adik lima!" ucap Quera memperlihatkan kelima jarinya.


"Waahhh, berarti princess Om Chandra udah besar ya! Sekarang Om tanya, princess tau nama princess?" tanya Chandra.


"Mmm.. Quera! Tapi Kakak lupa panjangnya, namanya susah!" keluh Quera.


Gisya dan Fahri menghampiri putri kecilnya itu, mereka mengusap lembut kepala Quera yang tertutup jilbabnya. Gadis kecil itu tersenyum pada kedua orangtuanya.


"Mulai hari ini, nama Kakak bukan Quera." ucap Gisya mengelus pipi putrinya.


"Loh, kenapa Bun?" tanya Quera yang keheranan.


"Nama Quera terlalu sulit, Kakak juga gak ingat kan nama Kakak sendiri." ucap Fahri.


"Lalu nama Kakak siapa, Yah?" tanya Quera dengan tatapan polosnya.


"Mulai hari ini, nama Kakak adalah ELMIRA AYUDIA SYAFA." ucap Fahri menegaskan nama putrinya. Dan Quera bersorak senang.


"Horeeee nama Kakak jadi gak susah! Terimakasih Ayah!" ucapp Quera memeluk Ayahnya.


Seluruh keluarga Gisya menyaksikan Fahri dalam mengganti nama putrinya, termasuk mereka yang berada di Bandung, Singapore dan Malaysia. Mereka tersambung dalam panggilan Video.


"Oma bikinin Kakak bubur merah bubur putih, sebagai rasa syukur penggantian nama Kakak. Semoga Kakak menjadi anak yang ceria, cantik dan juga cerdas. Jangan lupa untuk selalu menyayangi semua keluarga kita." ucap Bunda Syifa pada cucunya itu.


* * * * *


Waahhhh...


Queraa ganti nama nih, Guyysss!


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2