
Malam sudah tiba, Elmira baru saja selesai melaksanakan sholat isya. Sambil menunggu kedua orangtuanya, dia duduk bersantai sambil membaca beberapa pesan yang masuk. Tujuan Elmira datang ke Bandung, adalah untuk memenuhi tugasnya sebagai Dokter Magang (Internship). Setelah lulus dengan gelar Sarjana Kedokteran, kini Elmira memilih Bandung sebagai tempatnya untuk Magang. Alasan lainnya adalah agar ia bisa dekat dengan kedua orangtuanya.
Elmira terbilang anak yang sangat cerdas, dia menempuh kuliah kedokterannya dalam kurun waktu 3,5 tahun. Tentu saja hal itu membuat Gisya dan Fahri sangat bangga. Sebenarnya, Elmira tidak sendirian. Sahabatnya yang bernama Afifah Syakila Hanum juga menjadi salah satu dokter magang bersamanya. Namun, sahabatnya itu akan datang minggu depan. Karena memang mereka akan mulai bekerja minggu depan. Afifah satu-satunya sahabat yang dimiliki Elmira. Sebab hanya dia, yang bisa menerima keadaan Elmira yang selalu diikuti oleh para pengawalnya.
Ketika sedang asyik membaca pesan, Indira datang dengan tergesa-gesa.
"Kak! Om Uqi kena luka tembak! Dia ada dibawah!" ucap Indira dengan sangat panik.
"Yaa Allah! Ayo kita lihat, Dek!" ajak Elmira, dia bergegas membawa tas dokternya lalu berjalan mendahului Indira.
Saat Elmira menuruni tangga, dia melihat Syauqi yang tersenyum kearahnya. Dan yang paling membuatnya kesal adalah kini semua keluarganya berada disana.
"Om Uqi bikin Kakak panik!" kesal Indira sambil menitikkan airmatanya.
"Ulu ulu ulu, sinii peyuuk," ucap Syauqi sambil merentangkan kedua tangannya.
"Om mah jahat! Untung Kakak gak jantungan," rengek Elmira dipelukan Syauqi.
"Ekhem! Baba gak dipeluk juga nih?" celetuk Jafran sambil melipat tangan didada.
Elmira berhambur memeluk sang Baba, yang selama ini tinggal di Singapore.
"Kangen! Baba udah lama dateng?" tanya Elmira pada Babanya itu.
"Baru kok, kita janjian dulu makanya kemaleman ini. Gara-garanya, noh tuyul satu pake nyuksruk segala!" ucap Jafran menunjuk Alan putranya yang kini menjadi seorang pebisnis muda. Alan menatap tajam kearah Baba nya.
"Kan ini gara-gara Baba! Coba bayangin ya, Kak. Aku kan cape nih ya abis nyetir dari Bogor, pas di rest area aku mau sandaran dipundak Baba. Eh dia malah nyelonong, alhasil aku nyuksruk kesamping! Jidat ampe nyium tembok." kesal Alan pada Baba nya.
"Makanya punya cewek! Jangan sandaran muluk dibahu Baba, kalo nanti nyaman kam bahaya!" kesal Jafran pada putranya itu.
"Ish Baba! Kebiasaan deh! Kakak, Ummi kangen banget!" ucap Yuliana memeluk Elmira dan mengusap lembut punggungnya.
Melepas rindu, Elmira menciumi satu persatu adik-adiknya yang kini sudah bukan anak kecil lagi. Bahkan sikembar empat saat ini sudah kelas 2 SMP. Tak lupa, Elmira juga mencium anak bungsu Jafran dan Yuliana yang bernama Ananda Aqeela Putri Maulani. Ya! Jafran salah menebak gender anak yang dikandung Yuliana saat itu. Padahal dia sudah mempersiapkan nama terbaik untuk calon anaknya. Syauqi berpamitan, dia pergi dengan sangat tergesa-gesa.
"Mama Eby mana, Bun?" tanya Elmira sambil menatap sekeliling.
"Emm... Sebenernya ada sesuatu yang terjadi sama Cyra, nanti juga mereka kesini sayang. Kita tunggu aja, ya." ucap Bunda Gisya dengan sedikit gugup.
"Alana? Kamu tau sesuatu kan?" tanya Elmira menatap Alana yang seperti menahan airmatanya. Elmira menghampiri Alana, dan memeluknya.
"Jangan lihat mereka, lihat Kakak! Apa yang terjadi sama Cyra?" desak Elmira.
Alana mulai menatap mata sang Kakak, dan melihat sekelilingnya.
"Cy-cyra ha-hampir aja di lecehkan temen kampusnya." lirih Alana.
Deg! Bruk!
Husain menjatuhkan tas nya begitu saja, dia yang baru saja datang akan memberikan kejutan untuk sang Kakak. Tapi sayangnya, dia malah yang diberikan kejutan. Elmira segera berlari memeluk adiknya itu.
"Abang Ain, Kakak rindu. Tenanglah semuanya akan baik-baik saja," ucap Elmira sambil mengusap lembut punggung Husain.
"Abang juga rindu, Kak. Tapi maaf, Abang harus tau kondisi Cyra." ucap Husain dengan wajah yang tampak datar.
Sudah menjadi rahasia umum mengenai hubungan mereka, karena selama ini Husain selalu bersama Cyra. Perlahan Husain menghampiri Alana.
"Bagaimana bisa dia dilecehkan?! Bukankah sudah aku bilang jaga dia!" bentak Husain.
__ADS_1
"Husain Hafidz Gifahri! Sejak kapan Ayah mengajarkanmu untuk membentak perempuan?!" ucap Fahri menatap tajam putranya itu. Gisya mengusap lengan suaminya untuk menenangkannya. Sedangkan Husain tampak sangat frustasi.
Alana menunduk tak berani menatap Husain, sejak kecil Alana sudah menyukainya. Tapi sayangnya, Husain menyukai Cyra. Tak ingin disalahkan, Alana perlahan buka suara.
"Kenapa aku harus menjaganya? Bahkan aku juga butuh untuk dijaga, Bang! Cyra terus memaksaku agar dia bisa ikut seleksi menjadi seorang Abdi Negara, tapi aku menolaknya karena aku tau Mama Eby akan sedih dengan keputusan Cyra. Hingga akhirnya dia ketemu salah satu temen kampus yang bilang bisa bantu dia! Dan aku datang diwaktu yang tepat! Aku datang sebelum orang itu menjamah Cyra!" ucap Alana penuh emosi dengan derai airmata dipipinya.
Husain tertunduk lesu, sedangkan Alana sudah berlari keluar rumah.
"Dek! Tunggu Aa!" teriak Alan mengejar kembarannya itu.
"Baba kecewa, Bang. Anak Baba sungguh selalu menjaga Cyra, hanya saja sikap Cyra yang keras kepala selalu membuat Mail dalam kondisi serba salah." ucap Jafran melangkah pergi untuk mengejar putri kesayangannya.
"Anak-anak! Kalian masuk ke kamar Teh Dira ya!" ajak Indira pada sepupu-sepupunya itu.
Elmira berdiri mematung, ia menatap sang adik yang kini diliputi perasaan yang campur aduk. Dia menghampiri Husain dan mencoba menenangkannya.
"Cyra sekarang dirumah sakit jiwa, dia terus meronta-ronta. Sebenernya Ayah enggan buat memberitahukan hal ini sekarang. Karena hari ini adalah hari special Kakakmu, tapi semuanya sudah terjadi. Dan satu hal lagi, Alana sudah cukup sering menjaga Cyra. Dan jangan lupakan, jika Alana juga seorang perempuan meskipun dia bar-bar." ucap Fahri lalu pergi meninggalkan kedua anaknya itu.
Bunda Gisya menghampiri keduanya, airmatanya sudah tak terbendung lagi.
"Abang salah, tidak seharusnya Abang bersikap seperti itu sama Alana. Dan untuk Cyra, sebaiknya besok pagi kita lihat kondisinya ke Rumah Sakit. Sekarang, Abang bersih-bersih terus istirahat." ucap Bunda Gisya lalu mengajak Yuliana untuk masuk kedalam kamar tamu yang biasa dia tempati saat berkunjung.
"Maafin anakku ya, Lil. Aku bener-bener gak nyangka, si Abang bakalan bersikap seperti itu." ucap Gisya yang merasa tak enak.
"Gak apa-apa, Ca. Aku malah mikirin Cyra sekarang, gimana kondisinya. Ebiw juga pasti sangat terpukul." ucap Yuliana mengingat sahabatnya yang satu itu.
"Mas Idan bilang, Febri baik-baik aja. Dia cuman syok aja, dan Carel sekarang di kantor Polisi. Karena dia gebukin orang yang mau ngelecehin Cyra." ucap Gisya.
"Yaa Allah, kita kesana aja kali Ca! Gak tenang aku begini." lirih Yuliana.
Husain masih tertunduk lesu dengan perasaan yang campur aduk, kini dia sedang berada di Gazebo halaman belakang rumahnya. Elmira dengan setia menemani adiknya itu.
"Bang, Kakak ini dokter umum. Yang seharusnya merawat Cyra itu, dokter Psikiatri. Ternyata cinta bisa membuat orang pintar jadi bodoh ya, Bang." ucap Elmira.
"Maksud Kakak apa?" tanya Husain yang sedikit meninggikan suaranya.
"Kamu ini cinta sama Cyra kan? Tapi kamu terlalu naif buat mengungkapkannya, beda dengan Alana yang begitu ekspresif menyampaikan rasa cintanya sama kamu. Sampe dia rela jadi tameng Cyra, agar kamu selalu menghubunginya." ucap Elmira membuat mata Husain membulat.
Elmira tersenyum mengejek pada adiknya itu.
"Sadar kan? Siapa yang sampe rela tinggal di Indonesia sendirian demi bisa satu SMA sama kamu dan Cyra? Dia sampe ngerelain impiannya buat jadi seorang model demi ngejar laki-laki modelan kamu, Bang," ucap Elmira meledek Husain.
"Aku gak cinta sama siapa-siapa, Kak. Mereka berdua sahabat aku," elak Husain.
"Sahabat? Gak akan pernah ada namanya sebuah persahabatan antara laki-laki dan perempuan tanpa didasari rasa suka." ucap Elmira lalu meninggalkan Husain.
Mirda baru saja akan pulang, tapi suara perempuan yang memanggilnya membuat Mirda membalikkan tubuhnya.
"Om Mirda! Tunggu! Mau pulang?" ucap Elmira menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.
"Iya saya mau pulang ke barak." jawab Mirda dengan wajah datarnya.
"Boleh aku numpang? Aku mau nyusulin Alana." pinta Elmira.
"Maaf saya harus ijin dulu sama Bapak." ucap Mirda yang membuat Elmira mencebik kesal. Akhirnya Elmira berjalan mendahului Mirda.
Tangan Mirda baru saja akan menarik tangan Elmira, namun dengan sigap Elmira memberikan pukulan pada Mirda. Untung saja Mirda berhasil mengelak, dan dia segera mengunci tubuh Elmira.
__ADS_1
"Saya tidak menyangka, nona jago bela diri." ucap Mirda dengan nafas terengah-engah.
"Lepas! Kalo kamu gak mau bantu, aku bisa pergi sendiri!" kesal Elmira mencoba melepaskan diri.
"Maaf nona, tapi saya memang harus mendapat persetujuan Bapak." sahut Mirda.
"Oke! Aku yang ijin sama Ayah! Sekarang lepas!" bentak Elmira.
Fahri dan Gisya yang mendengar keributan segera keluar untuk melihatnya.
"Ada apa ini, Kak?" tanya Fahri ketika melihat Elmira dalam kukungan Mirda.
"Siap! Maaf Komandan nona Elmira memaksa untuk menyusul nona Alana." ucap Mirda.
"Ayah, Kakak cuman khawatir sama Alana. Lagian Kakak udah hubungin Baba, dan tau dimana mereka." rengek Elmira pada Ayahnya.
"Masuk!" tegas Fahri. "Alana sebentar lagi pulang, sekarang kamu masuk Kak! Dan kamu, kembali ke Barak!"
"Siap! Laksanakan!" ucap Mirda sambil memberi hormat.
Dengan sedikit kesal, Elmira melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah.
"I'm not a kid!" ucap Elmira ketika berada tepat didepan sang Ayah.
"Youre not a child, but youre my daughter! And I have to take care of you, Elmira Ayudia Syafa!" tegas Fahri membuat langkah Elmira terhenti.
"I'm Gelya Quera Feodora!" ucap Elmira dengan lantang membuat Fahri tersentak.
Tiba-tiba, Fahri memegang dadanya yang terasa begitu sakit setelah mendengar ucapan putrinya itu. Perlahan tubuhnya ambruk, tak menyangka jika putrinya akan menyebutkan nama yang selama ini pantang untuk disebutkan.
"Mirdaaa!! Tolong Bapak!!" teriak Gisya sambil berderai airmata.
"Ayaahhhh!!" teriak Elmira menghampiri Fahri dan memeriksa kondisinya.
Mirda yang mendengar teriakkan atasannya itu, lantas segera kembali dan membawa Fahri kedalam mobil.
"Kamu jaga adik-adik kamu!" ucap Bunda Gisya pada Elmira.
"Tapi Bunda," ucapan Elmira terpotong.
"Tolong kali ini saja! Demi kebaikan kamu!" ucap Bunda Gisya meninggalkan Elmira.
Kali ini, Elmira menyesal dengan ucapannya saat emosi.
"Maafin Kakak, Ayah. Ada apa sebenarnya dengan diriku ini." lirih Elmira.
* * * * *
Maaf yaa kalo gak suka sama alur ceritanya..
Ini cuman imajinasi othor aja 🙏✌
Yang nanya soal Chandra, nanti yaa.. Akan ada lanjutannya..
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤