
Moscow adalah ibu kota Rusia sekaligus pusat politik, ekonomi, budaya dan sains utama di negara tersebut. Moskow adalah kota berpenduduk terbanyak di Rusia dan Eropa serta menjadi kawasan urban terbesar ke-6 di dunia. Bahkan menurut salah satu situs besar pada tahun 2011, Moskow merupakan kota yang paling banyak dihuni oleh orang terkaya di dunia. Mirda menatap takjub kota ini, kota asal sang istri. Hanya saja Elmira pun tidak begitu mengingatnya, sebab dia telah diasuh di Indonesia sejak kecil oleh Ayah Fahri.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, mereka merasa kelelahan. Terlebih Alan dan Husain yang mengalami Jetlag, sudah seharian ini kedua anak itu tertidur pulas. Waktu setempat sudah menunjukkan pukul 7 malam. Mirda membangunkan kedua adiknya untuk makan malam bersama, "Maul, Ain! Bangunn!! Kita makan malam dulu," ucap Mirda sambil mengguncangkan tubuh keduanya.
Husain menggeliat, dia masih merasa jika kepalanya berputar. "Aduh! Pusing banget ini kepala, Bang!" lirih Husain lalu memilih memejamkan kembali kedua matanya. Mirda sudah mulai kesal, dia menarik kedua kaki adiknya itu hingga mereka terjatuh dari ranjang. Tapi keduanya masih enggan membuka mata. "Kalian itu tidur apa mati sih!" kesal Mirda.
Baba Jafran yang sudah kelaparan menyusul Mirda ke kamar sebelah, "Lama banget sih, Bang! Baba dah laper nih!" rengek Baba Jafran. Mirda menghela nafasnya, "Tuh anak dua gak tau tidur apa mati, udah ditarik ampe bawah juga gak bangun-bangun!" ucap Mirda bersungut.
Kedua laki-laki beda usia itu saling menatap dan tersenyum menyeringai. Mirda mengeluarkan ponselnya dan memanggil nomor sang Baba. "Hallo, walaikumsalam... Oh, Alan sama Bang Ain nya masih betah mengarungi dunia mimpi. Apa? Boleh kok, jalan aja gak apa-apa. Oh sama Devan temen kuliah kamu Re, oh sama Alana juga. Gak apa-apa kok, lagian gak ada batasan kan cewek gak boleh temenan sama cowok! Jalan aja, lagian........."
Alan dan Husain langsung merampas HP sang Baba, lalu keduanya saling menatap. "Bagus, ya! Akting molor! Baba udah kelaperan dari tadi! Giliran denger bini nya mau diajak jalan aja pada bangun! Lagian kagak inget apa, Kadal mau lu pada kadalin!" kesal Baba Jafran membuat keduanya mengerucutkan bibirnya.
"Aa kan masih pusing, Ba! Wajarlah kalo pengen tiduran berang sebentar mah," kesal Alan membuat Baba Jafran menoyor kepala sang anak. "Heh Maul! Gini-gini Baba sayang elu ya! Baba nyuruh lu makan buat minum obat, biar pening di kepala elu itu ngilang! Lagian heran, masa Baba nya pilot anaknya mabuk udara! Heh, LEMAH!" cibir Baba Jafran.
Tak ingin sang Baba semakin murka, Alan dan Husain akhirnya makan malam bersama. Selesai makan, keduanya meminum obat yang sudah diberikan oleh sang Baba. Mereka berbincang-bincang mengenai rencana mereka besok pagi. Karena sudah larut malam, mereka kembali untuk beristirahat. Sebab besok mereka akan melakukan perjalanan yang cukup panjang.
Sementara pagi ini kericuhan baru saja terjadi di kediaman Ayah Fahri, Mama Febri langsung bertolak ke Bandung setelah mendapatkan telepon dari sahabatnya itu. Bahkan dia pergi tanpa sang suami, karena Papa Zaydan tengah sibuk dengan tugas negaranya. "Ca, kamu serius mereka bakalan nikah besok? Apa Dira udah setuju? Terus bukannya surat-surat juga harus diurus, ya? Kok bisa cepet begini sih? Dira gak kenapa-kenapa kan? Maksudnya Dira gak masuk angin setelah tanam saham ilegal kan?" tanya Mama Febri.
Ummi Ulil menatap jengah pada sahabatnya itu, "Ampun deh, Biw! Mana ada si Dira masuk angin karena tanam saham ilegal. Yang ada juga tuh lakik bisa dihajar abis-abisan sama si Dira!" kesal Ummi Ulil. Mama Febri menghela nafasnya, "Lil, cinta itu buta. Kita kan gak pernah tau apa yang mereka lakukan dibelakang kita sebagai orangtuanya. Ah sudahlah, tapi aku cukup bahagia mendengar pernikahan ini. Setidaknya Indira menikah dengan orang yang tepat. Terus dimana dia? Apa belum sampe?" tanya Mama Febri.
__ADS_1
Bunda Gisya menggelengkan kepalanya, "Om Bagja udah jemput dia tadi subuh, kemungkinan nanti siang dia baru sampe. Untung Alana udah bikin kebaya pengantin buat akad besok. Lagian dia maunya akad nikah yang sederhana, mungkin karena musibah yang saat ini dia alami. Semoga aja besok semuanya dilancarkan oleh Allah," ucap Bunda Gisya.
Elmira, Alana dan juga Theresia cukup tercengang ketika mendengar jika Bunda Gisya menerima lamaran dari kedua orangtua Athaya. "Yaa Allah, Dira! Dia pasti shock banget. Lagian Bunda sama Ayah kok main terima aja lamaran Athaya, padahal mereka kan tau kalo Dira itu cintanya sama Kak Dirga," keluh Theresia.
Elmira mengangguk setuju, "Apa suami kita udah tau kalo Dira menikah besok? Aku gak bisa ngehubungin Bang Mirda soalnya. Tolong kamu kabarin mereka ya, Alana. Mereka pasti shock juga denger berita ini, terutama Alan. Kan seharusnya kalian dulu yang nikah, Re," ucap Elmira dengan sendu.
"Yaudahlah, Kak. Mungkin ini yang terbaik buat Dira, lagian aku atau dia duluan yang nikah gak jadi masalah. Mungkin ada sesuatu hal yang mendesak yang membuat mereka memilih untuk segera melakukan akad nikah," ucap Theresia membuat otak Alana menjadi travelling seketika. "Kayaknya kalo si Dira menanam saham ilegal gak mungkin deh, lagian dia kan anaknya kaku. Gak mungkin kan dia main-main soal bikin adonan," ucap Alana dan mendapatkan toyoran dari kedua wanita di sampingnya itu.
"Gemes deh! Kalo ngomong mulutnya suka gak di rem, loss doll aja gitu! Emang dasar turunan Baba," kesal Elmira membuat Alana mengerucutkan bibirnya. "Awas kalo anak aku jadi bego, aku salahin kalian berdua!" ucap Alana sambil memegang perutnya itu.
Tak butuh waktu lama, Alana segera menghubungi suaminya itu. Tapi sepertinya sang suami sedang sibuk hingga tak bisa menjawab panggilannya. Pada akhirnya dia lebih memilih untuk mengirimkan pesan pada sang suami.
Papoy, kok telepon Mamoy gak diangkat?! Mamoy cuman mau bilang, besok pagi Dira akad nikah. Kemaren Bunda sama Ayah udah nerima lamaran dari orangtua Athaya. Mamoy harap Papoy bisa membujuk Bunda sama Ayah supaya gak memaksakan Dira. Kasihan dia.
Itulah pesan yang dikirimkan oleh Alana pada suaminya. Waktu di Indonesia saat ini adalah pukul 10 pagi, maka di Moskow itu pukul 5 pagi. Mereka sudah berangkat sejak pukul 4 pagi, mereka akan mengunjungi salah satu rekan kerja Alan yang akan membeli berlian itu. Kebetulan mereka tinggal di daerah Yakutia atau Yakutsk, yang perjalanan dari Moskow menuju kesana itu selama 6 jam 30 menit.
Sepanjang perjalanan mereka tertidur, sebab memang mereka sangat kelelahan. Tepat pukul 12 siang waktu Rusia, mereka sudah sampai dan langsung makan siang karena memang sudah waktunya. Tidak ada waktu bagi mereka walaupun hanya sekedar bermain ponsel, sebab tubuh mereka yang benar-benar lelah karena sudah melakukan perjalanan jauh.
Selesai makan, mereka segera bertemu dengan pembelinya itu. Mereka berbincamg-bincang dengan bahasa Rusia, Alan yang memang mahir beberapa bahasa tidak merasa kesulitan untuk berkomunikasi dengan mereka. Kesepakatan sudah disetujui, Alan memberikan sepuluh butir berlian itu. Dan mereka pun sudah membayar semuanya saat itu juga. Mata mereka terbelalak ketika melihat uang dolar yang begitu banyak dihadapan mereka. "Astaghfirulloh, itu duit semua Ba?" bisik Husain pada sang Baba.
__ADS_1
"Ck! Harusnya MashaAllah, bukan istighfar! Abang kamu sekarang jadi sultan, awas aja kalo kita kaga kecipratan!" bisik Baba Jafran membuat Husain membulatkan matanya. "Matre sekali mertuaku ini," batin Husain.
Setelah transaksi itu selesai, mereka kembali melakukan penerbangan. Sebab mereka dikejar oleh waktu, mereka masih harus singgah ke Singapore untuk mengurus semua keperluan Ibam disana. Mirda benar-benar ingin melakukan segala yang terbaik untuk anaknya. Sebelum masuk kedalam pesawat, Husain mengecek ponselnya. Dia takut sang ajudan menanyakan pekerjaan padanya. Namun mata Husain terbelalak ketika membaca pesan dari sang istri. "Astaghfirullohaladzim! Bang Dira mau dikawinin besok, Bang!" panik Husain membuat mereka terperanjat kaget.
Mereka merampas ponsel Husain dan tubuh mereka melemas seketika, "Bapak elu tuh suka seenak jidat nerima lamaran! Heran gue! Udah tau anaknya kaga cinta sama tu laki, eh eh malah mau di kawinin! Atau jangan-jangan si Athaya udah tanam saham lagi sama si Dira! Cinta kan buta! Kaya si belekok ini nih, sampe dating sama malaikat Izrail gara-gara betina!" ucap Baba Jafran menoyor kepala Alan. "Wah berita luar biasa ini, tapi kaga bisa begitulah! Kan gue duluan yang mustinya akad! Si Ayah ni suka semena-mena deh!" kesal Alan.
"Ck! Daripada ngomel-ngomel kenapa kaga telepon aja si Ayah! Kasian juga Dira, Abang tau bener gimana dia cintanya sama si Dirga. Duh kalo begini ap kita batalin aja ya ke Singapore nya. Abang jadi gak tega," lesu Mirda. Baba Jafran menggeleng tak setuju, "Kita fokus dulu aja sama Ibam, soal Dira nanti Baba hubungin Ayah kamu! Dia itu bener-bener ya!" geram Baba Jafran.
Baba Jafran segera menghubungi Ayah Fahri, namun mereka merasa lega setelah mendengar sendiri alasannya. Berbeda dengan Indira, setelah pulang kerumahnya gadis itu lebih memilih untuk berdiam diri di kamar. Baik Alana maupun Theresia tidak diizinkan masuk, hanya Kania yang menemaninya didalam kamar. Indira menangis tersedu-sedu, dia tidak ingin menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya. "Ra, udah dong! Jangan nangis terus, aku bingung mesti ngapain ini," ucap Kania.
Indira menghela nafasnya, "Boleh gak aku kabur?" lirih Indira dan membuat Kania membulatkan matanya seketika. "Kalo kamu mau kabur, kenapa gak dari kemaren sebelum kita kesini sih! Duh, bingung deh aku sama jalan pikiran kamu, Ra!"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤