Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Cinta yang Rumit


__ADS_3

Malam ini, semuanya berkumpul dirumah Mayor Jenderal Fahri Putra Pratama. Termasuk kehadiran sang mantan Danki dan sahabatnya, Brigadir Jenderal Gilang dan Mayor Jenderal Dzkiri. Mereka semua sedang berlibur ke Bandung, sekaligus menjenguk Fahri yang baru saja pulang dari Rumah Sakit. Selain itu, mereka juga membawa putra putri mereka. Yanuar putra Brigjen Gilang, kini merupakan seorang dokter Psikolog. Dia tumbuh menjadi pria yang tampan dan gagah. Sementara Rian, putra Mayjen Dzikri adalah seorang dokter spesialis bedah. Dia juga sangat tampan dan gagah, bahkan sampai membuat Elmira tak berkedip saat melihatnya.


Bunda Gisya memperkenalkan mereka semua, agar mereka bisa meneruskan persahabatan yang selama ini masih terjalin dengan sangan baik.


"Sayang, kalian masih ingat Bang Yanuar kan?" tanya Bunda Gisya.


"Inget dong, Bun! Bosen tiap kerumah Oma Ais selalu ketemu Abang," celetuk Indira.


"Hai Bang! Udah lama gak ketemu neehhh, makin kece aja!" sapa Alana sambil mengedipkan sebelah matanya pada Yanuar.


"Woy! Itu mata ngapain kedap kedip kaya lampu disko," celetuk Alan tertawa.


"Haaaiii kalian semua, wah udah pada gede ya! Kalian juga pada makin kece, apalagi Husain tuh! Beuuuhhh... Itu perut ampe kotak-kotak!" ucap Yanuar yang memang sudah cukup dekat dengan mereka.


Alan melihat Elmira yang masih tak berkedip saat melihat Rian.


"Kak, ngedip! terus mingkem! Ilernya kemana-mana tuh, liat Bang Rian!" celetuk Alan.


"Si Alan! Kamu mah nyebelin!" kesal Elmira karena tersentak kaget.


"Wahhh, kacauuu! Ummiiiiiiiiii.... Kakak panggil aku si Alan masa!" rengek Alan pada Umi.


"Ya emang nama kamu Alan, bodoh! Wajar aja si Kakak manggil kamu si Alan!" ucap Alana sambil menahan tawanya.


"Iya bener tuh! Kan yang penting gak disatuin jadi sialan! Hahahahaha," ucap Rian dan berhasil membuat mereka semua tertawa terbahak-bahak.


Mereka sampai sakit perut karena tertawa terlalu kencang.


"Diiihh.. Si Bang Rian ini diam-diam menghanyutkan loh!" celetuk Yanuar.


"Udah kaya yang kuning-kuning mengambang itu ya, Bang Yanuar!" sahut Alan tertawa.


"Alaaaaaaannnnnnn! Jorok!!!" Teriak para ibu-ibu serempak.


"Riweuuuhhhh! Tuh liat tahu ngambang didalem opor! Lagian nipu banget sih Bunda, judulnya opor ayam tapi dalemnya tahu!" ucap Alan membuat mereka kembali tertawa.


"Udah ah! Kamu mah bikin Bunda ngompol!" ucap Bunda Gisya lalu berlari kekamar mandi. Dan diikuti oleh Ayah Fahri yang khawatir pada istrinya itu.


"Dasar bucin! Padahal lagi sakit, bini lumpat mah teteuup kejar teroosss!" celetuk Baba.


"Udah atuh ih! Jadi pada mau ngompol tau!" ucap Mama Febri yang ikut kekamar mandi.


Saat para orangtua sibuk bernostalgia, anak-anak muda kini berkumpul di halaman belakang sambil membakar daging dan jagung. Cyra terlihat seperti ketakutan disaat gelap, hingga mereka membawa banyak sekali lampu emergency.


"Tenang, Cyra. Kita semua ada disini," ucap Elmira memeluk bahu Cyra dan Alana.


"Iya Kak. Aku cuman sedikit takut aja," lirih Cyra menunduk.


Husain khawatir melihat Cyra, dia ingin menghampirinya. Namun tertahan oleh Mirda.


"Jaga perasaan Alana, dia ada disana juga. Dan jagalah hatimu, jangan sakiti dirimu sendiri." ucap Mirda yang membuat Husain mengangguk patuh.


"Sakit ya, Bang. Apa bisa aku menjaga mereka?" lirih Husain.


"Dulu pernah ada yang bilang pada saya, Jadilah perisainya, walaupun tak tampak terlihat dimatanya." ucap Mirda lalu meninggalkan Husain yang mematung disana.


Yanuar sejak tadi memperhatikan Cyra, dia sangat tertarik pada gadis itu. Bukan hanya saat ini, tapi sejak pertemuan pertama mereka beberapa tahun lalu saat Lebaran. Cyra duduk bersama Alana, menikmati semangkuk daging bersama-sama.


"Enak banget ya, kayaknya!" ucap Yanuar yang menghampiri mereka.


"Iya Bang, enak banget nih! Abang mau?" tanya Alana pada Yanuar.

__ADS_1


"Enggak ah! Abang gak makan banyak kalo malem, takut gendut!" jawab Yanuar sambil memegang perutnya yang kotak-kotak.


"Heleh! Kayak cewek aja takut gendut! Laper mah hajar aja kali Bang!" celetuk Alana.


"Mmm, Cyra kok gak makan sendiri? Kok malah sepiring berdua?" tanya Yanuar.


"Gak habis Bang kalo sendiri," ucap Cyra sambil menunduk malu.


Husain memperhatikan mereka, sesaat nafasnya terasa sesak melihat kedekatan Alana dan Yanuar yang tak sungkan untuk bercanda. Alana pun memperhatikan Husain, dia mengira jika Husain cemburu pada Yanuar yang mendekati Cyra.


"Anak-anak...! Liat siapa yang datang...!" teriak Bunda Gisya pada mereka semua, hingga mereka menoleh kearah Bunda Gisya.


"Om Chandraaaa........!!" teriak mereka bersamaan.


Elmira adalah orang yang pertama berhambur memeluk Chandra. Karena bagi Elmira, Chandra adalah salah satu orang yang paling berjasa dalam hidupnya.


"Wahhh, princes udah gede ya sekarang!" ucap Chandra mengusap kepala Elmira.


"Aku udah jadi dokter, Om! Kangen banget sama Om Chandra," lirih Elmira dalam pelukan Chandra. Bunda Gisya, Ummi dan Mama Febri saling memandang, begitupun Mirda.


Mirda melihat kedatangan Ayah Gorilanya, dia pun menghampiri Chandra.


"Ekhm, Ayah Gorila apa kabar?" tanya Mirda membuat Elmira melepaskan pelukannya.


"Kebiasaan kamu boy! Ayah aja, gak usah pake Gorila! Ngeriii..." ucap Chandra menyambut tangan putra sahabatnya itu. Mirda mencium tangan Chandra dan memeluknya.


"Bang Mir, eh Om Mirda anaknya Om Chandra?" tanya Elmira yang terlihat kaget.


"Dia anak sahabat Om, sekarang udah jadi anak Om juga dong!" jawab Chandra.


Melihat seorang perempuan seumuran istrinya dibelakang Chandra, jiwa kepo pasangan absurd itu muncul. Siapa lagi kalau bukan Baba Jafran dan Ummi Ulil.


"Mohon maaf nih ya, itu yang dibelakang ente manekin apa manusia, Chandra? Daritadi malah dianggurin!" celetuk Baba Jafran membuat mereka menatap aperempuan itu.


"Waah.. Wahh.. Kalian masih kemal seperti dulu ya! Hahahahhaa.. Kenalkan dia istriku, Kadek Elmira Devina." ucap Chandra memperkenalkan perempuan itu.


Deg!


Bunda Gisya, Ummi dan Mama Febri saling memandang, mereka tidak menyangka jika itu adalah istri sang Jenderal. Terlebih dia bernama Elmira.


"Malam semuanya, nama saya Kadek Elmira Devina. Panggil saja Mira," ucapnya memperkenalkan diri dengan logat khas Balinya.


Mereka semua berbincang-bincang hangat, Chandra terus menatap lekat Elmira yang saat ini sedang mengobrol dengan Mira yang dia sebut sebagai istrinya.


"Apa Biang tau soal Elmira?" tanya Mirda pada sang Ayah.


"Mira tau segalanya tentang Elmira, termasuk perasaan Ayah padanya. Pernikahan kami hanya atas dasar balas budi, dia sudah menyelamatkan Ayah dari maut. Entah kenapa, hati ini masih tetap tertuju pada Elmira." jawab Chandra.


"Bukankah Biang juga bernama Elmira? Apa karena hal itu Ayah menerimanya?" selidik Mirda dengan wajah dinginnya.


"Mungkin saja, lihatlah perbedaan mereka. Manik mata Elmira begitu indah, sampai detik ini Ayah masih mengingat tatapan mata indah itu," ucap Chandra lalu menghampiri kedua Elmira yang kini ada dihidupnya.


Kedua Elmira itu sedang asyik berbincang, ternyata istri Om Chandranya itu adalah seorang dokter ahli bedah.


"Ngobrolin apa sih kalian? Kok asyik banget kayaknya!" ucap Chandra pada keduanya.


"Kok Om gak bilang-bilang kalo Biang ini seorang dokter ahli bedah!" kesal Elmira membuat Chandra terkaget dengan panggilannya pada sang istri.


"Tiang yang minta Elmira buat panggil tiang seperti itu, Bli. Biar sama dengan Mirda," ucap Mira menjawab rasa terkejut laki-laki yang berstatus suaminya itu.


"Om, Biang, aku tinggal ya! Ada telepon dari Oma," ucap Elmira meninggalkan mereka.

__ADS_1


Chandra terus menatap kepergian Elmira, perlahan tapi pasti Elmira tak terlihat lagi.


"Jadi dia princesmu, Bli?" tanya Mira pada Chandra.


"Iya, dia adalah Elmiraku. Sayangnya dia tak pernah tau rasa cintaku, yang dia tau hanyalah kasih sayang seorang Ayah pada putrinya," lirih Chandra menundukkan kepalanya.


"Tiang paham, Bli. Sebab tiang juga berada diposisi yang sama dengan Bli." ucap Mira.


"Maafkan aku, Mira. Aku akan terus mencoba melupakan Elmira," ucap Chandra.


"Aku tidak pernah memaksa, Bli. Ia terlalu indah dan berharga jika disandingkan dengan tiang. Biarlah semua tetap berjalan seperti ini," ucap Mira sambil menatap suaminya itu.


Mirda bisa melihat kesedihan dimata Mira, kisah cinta yang sangat rumit. Begitupun dengan dirinya, yang tidak bisa menahan pesona Elmira yang merasuk kedalam lubuk hatinya yang terdalam.


Sementara itu, kesedihan juga terlihat jelas dimata Alana dan juga Husain. Padahal saat ini mereka sedang berbincang bersama Yanuar dan juga Cyra.


"Aku ngantuk nih! Mau bareng ke dalem gak Cyra?" tanya Alana pada Cyra.


"Mmm.. Aku disini aja, kasian Bang Yanuar gak ada yang nemenin," ucap Cyra.


"Yaudah aku masuk duluan yaa! Selamat malam semuanya!" ucap Alana lalu masuk kedalam rumah.


"Aku ambil minum dulu didapur, ini udah abis." ucap Husain lalu masuk kedalam rumah.


Bukan menuju dapur, tapi dia mengikuti Alana. Husain menarik tangan Alana saat dia sudah sampai didepan kamar Indira. Alana memekik kaget saat melihat Husain.


"Jangan teriak! Atau mereka semua akan datang kesini," ucap Husain lalu membawa Alana untuk masuk kedalam kamarnya.


"Ngapain kamu bawa aku kesini?" ketus Alana pada Husain.


"Gimana perasaan kamu sekarang? Apa baik-baik aja?" tanya Husain.


"Cukup! Lupain aja semuanya, kamu gak perlu tau perasaanku setelah kejadian hari itu. Yang perlu kamu tau, aku berhasil untuk bahagia dan baik-baik aja dihadapan kamu." ucap Alana lalu hendak beranjak keluar.


Sekali lagi, Husain menarik tangan Alana dan membawanya kedalam pelukannya.


"Maafkan aku, Alana. Maafkan semua luka yang sudah aku torehkan," ucap Husain.


"Gak usah khawatir, kamu bahagia aja. Urusan luka hati, biar itu menjadi tanggung jawab aku. Yang aku mau, kamu harus bahagia tanpa melihat aku yang ada dibelakang kamu." ucap Alana terisak dalam pelukan Husain.


"Maafkan aku, Alana. Jangan pernah membenciku," ucap Husain.


"Jangan khawatir, aku tidak akan pernah membencimu. Karena perasaanku kemarin, bukanlah main-main. Meskipun pada akhirnya, kamu pergi membawa semua hal baik yang ada di diri aku. Gak perlu khawatir, Bang. Aku akan sembuh dengan bantuan do'a, dan pulih tanpa harus melihatmu lagi." ucap Alana melepaskan pelukan Husain lalu pergi keluar.


Husain berdiri mematung, lalu dia menjatuhkan dirinya diatas kasur. Siapa sangka, ternyata didalam kamar Husain ada Alan.


"Gue bingung sama elu, Bang. Yang elu suka itu siapa sebenernya? Adek gue atau Cyra? Gue gak mau liat Adek gue sedih mulu!" ucap Alan mengagetkan Husain.


"Gue gak tau, Maul! Selama ini, gue jagain Cyra atas permintaan Mama dan Bunda." ucap Husain dengan lesu.


"Jadi lu suka sama Adek gue?" tanya Alan sekali lagi.


"Tau ah! Pusing gue!" ucap Husain lalu pergi meninggalkan Alan.


Cinta terkadang memang sangat rumit, sulit diungkapkan. Tapi mereka tidak akan pernah tau perasaan masing-masing, jika tidak ada ungkapan cinta.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2