
Waktu terus berjalan, tak terasa setahun sudah berlalu. Elmira tumbuh menjadi anak yang ceria, walaupun dia harus tinggal bersama Oma dan Neneknya. Hari ini adalah hari yang sangat sibuk bagi Gisya. Karena dia harus menyiapkan Acara syukuran kelahiran kelima keponakannya. Ya! Empat anak Syauqi dan Syaina dan satu anak Febri dan Zaydan.
Sudah seminggu ini Gisya di Bandung, hari ini dia akan bertemu dengan Elmira putrinya. Karena Bunda Syifa akan menghadiri acara syukuran kelahiran cucu-cucunya. Sebagai anak tertua, Gisya menggantikan Bunda Syifa untuk mempersiapkan acara Syauqi.
"Teh! Pusingg kepala Uqiii... Si kempat nangis satu nangis semua!" keluh Syauqi.
"Diem! Teteh ini yang pusing denger keluhan kamu! Suruh siapa doyan ngadon!" kesal Gisya pada adiknya yang terus saja mengeluh.
"Yee! Siapa yang mau, ngadonnya sekali hasilnya sekaligus empat! Cobra mah emang jagonya!" ucap Syauqi dengan bangga.
"Heleeehhh! Sok-sokan! Anaknya nangis semua, ngeluuuhhh!" ledek Fahri.
"Ih si Abang! Cobain aja noh urus mereka berempat." kesal Syauqi.
Syaina kesal mendengar ucapan suaminya, lalu menghampiri mereka.
"Kalo Babap gak mau ngurus! Gak usaahh....." omongan Syaina menggantung.
"Stop! Aduh semenjak udah punya si kempat kamu jadi galak. Pasti selalu ngeluarin kartu AS! Udah udah, Babap gendong ini dua!" ucap Syauqi menggendong dua anak laki-lakinya.
"Hih! Laki ma gitu ya Teh, harus keluarin dulu kartu kojo baru deh!" kesal Syaina.
"Yagitulah laki-laki mah Ina, semuanya sama!" ucap Gisya melirik suaminya.
"Diraaaa! Main sama Ayah yookk! Kita liat kelinci Abang dibelakang." ajak Fahri mengalihkan pembicaraan.
"Bang jangan kabur, Bang!" ucap Syauqi. Gisya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan suami dan adiknya itu.
Husain dan Cyra sedang bermain kelinci ditaman belakang rumah Oma nya. Saat pulang ke Bandung minggu lalu, Husain terus merengek pada Syauqi untuk dibelikan empat pasang kelinci. Akhirnya Syauqi menyerah, dan membelikan empat ekor kelinci.
"Bang Ain, ni kinci nanti bawa pulang ya!" ucap Cyra pada Husain.
"Iya dong, nanti Ayah bikin lumah wat kinci na. Ni yang dua nanti kacih Mail ma Maul, culuh bawa naik cawat." ucap Husain.
"Lho kok Ayah? Papa lah yang bikin nanti." ucap Fahri yang baru saja datang bersama Dira.
"Eh, eh kok Papa? Si Abang kan mintanya sama kamu, Yah!" ucap Zaydan menolak.
"Hmm! Mau diberlakukan nih status kerjaan." ancam Fahri pada Zaydan.
"Haihh! Okelah oke, kalo Kapten udah bicara Papa menyerah!" kesal Zaydan sambil menggendong bayi laki-laki mungil yang berusia 40 hari itu.
Syaina melahirkan empat bayi laki-laki secara prematur, dengan berat masing-masing hanya sekitar 1.4 kg. Selama dua bulan mereka dirawat diruang NICU, dan akhirnya mereka sudah diperbolehkan pulang. Karena bertepatan dengan usia bayi Febri yang berusia 40 hari, maka mereka mengadakan Acara Syukuran kelahirannya bersamaan. Saat itu Zaydan pergi bertugas cukup lama, hingga Febri terpaksa harus tinggal sementara di Bandung bersama Syauqi dan Syaina. Sedangkan Cyra bersama Gisya di Jogja.
Yuliana dan Jafran kini baru tiba di Bandung, mereka dijemput oleh Hagum yang sekarang menjadi ajudan Fahri. Alan dan Alana pun begitu antusias, karena mereka akan bertemu dengan Cyra, Husain dan juga Elmira. Biasanya mereka hanya saling menyapa lewat sambungan video call.
"Hello everybody.....!" teriak Jafran saat mereka baru saja datang.
"Yaa Allah! Assalamu'alaikum!" ucap mereka serempak membuat Jafran tertawa geli.
"Oppsss! Sorry, assalamu'alaikum everybody...." ucap Jafran mengulang.
"Kebanyakan makan roti mah jadi gitu! Padahal kalo di Bandung mah yang dimakan cuman goreng singkong, goreng ubi, goreng pisang sama bala-bala!" kesal Febri.
"Hih! Siriikkkk aja!" ucap Jafran meledek, tak lama kemudian terdengarlah suara menggelegar dibelakang.
"Babaaaaaaaaaaa.................!!!!" teriak Yuliana dengan suara yang kencang.
"Allahu ya salam! Bini ketinggalan!" celetuk Jafran lalu berlari menghampiri istrinya.
"Kebiasaan anak sama istri main ditinggal-tinggal aja! Kamu pikir gak berat gendol perut besar kemana-mana!" kesal Yuliana sambil mengelus perut buncitnya.
"Tau nih Baba! Anti Lana kacih tau Uti bial di malahin!" ketus Alana.
"Yee maaf dong princes! Jangan lapor-laporan gitulah, Baba kan cuman lupa!" elak Jafran.
"Seling Baba mah lupa na!" ketus Alan. "Awas minggil, Ummi cama Adek bayi mau lewat! Alangin aja."
__ADS_1
Jafran menepuk jidatnya, sementara mereka semua tertawa terbahak-bahak.
"MashaAllah bumil! Pelan-pelan jalannya!" ucap Gisya sambil menghampiri Yuliana.
"Kangeeeeennnnnnnn!!" rengek Yuliana merentangkan kedua tangannya.
"Yaa Allah, yang sekarang isinya berapa Lil?" tanya Febri lalu memeluknya.
"Hush! Cuman satu, alhamdulillah." ucap Yuliana mengelus perutnya.
Tinggal menunggu Elmira datang, maka kebahagiaan Gisya akan semakin lengkap. Jafran terus menerus meledek Syauqi yang sedari tadi sibuk dengan keempat anaknya.
"Cieee jadi Banapat!" celetuk Jafran menggoda Syauqi.
"Apaan tuh Banapat? Gak usah ngeledek deh Bang!" kesal Syauqi.
"Babap anak empat! Hahahahaha, lagian tu kecebong jadinya banyak amat!" ucap Jafran.
"Akumah Cobra, wajar dong sekalinya nyetak hasilnya empat!" ucap Syauqi bangga.
"Berarti akumah, pyton! Sekali nyetak jadi tuyul dua!" ucap Jafran tak kalah bangga.
Zaydan dan Fahri menatap tajam kearah mereka berdua.
"Heh! Maksudnya apaan tuh pake Pyton sama Cobra segala! Kalian pikir yang nyetak satu gak jago apa!" kesal Fahri pada mereka berdua.
"Iya pedut mah pedut aja! Pake Pyton Cobra segala!" kesal Zaydan.
"Hiiiiihhhhh...! Syirikkk! Kalian mah apa atuhda!" ledek Jafran.
"Anaconda!!" ucap Fahri dan Zaydan bersamaan membuat Jafran dan Syauqi kaget.
"Allahuakbar! Ente berdua bikin ane kaget!" kesal Jafran memukul keduanya.
Ketika mereka sedang asyik melepas rindu, datanglah Elmira bersama Oma dan Neneknya. Dia berlari menghampiri sang Bunda yang sedang menggendong adiknya.
"Bundaaaa......!!" teriak Elmira sambil berlari.
"Yaa Allah si Bunda!" kaget Fahri saat Dira diletakkan dipangkuannya.
"Kakak kangen Bunda," lirih Elmira memeluk erat Gisya.
"Bunda juga kangen sayang." lirih Gisya menciumi wajah putrinya itu.
"Sama Ayah gak kangen, Kak?" tanya Fahri.
"Enggak! Kan udah ketemu disana, Dedek Dira lagi apa?" tanya Elmirs mengelus pipinya.
"Mamamamamamamamam," gumam bayi berusia 1 tahun itu.
Husain sangat bahagia bisa bertemu dengan sang Kakak. Anak-anak terus bermain bersama, sedangkan para orangtua sedang mengerubungi para bayi.
"Wuidihhhh, banyak bener nih tuyul!" celetuk Jafran.
"Enak aja! Emangnya anak situ Ba!" kesal Syauqi.
"Jadi ini kecebong empat dikasih nama apaan?" tanya Jafran lagi.
"Nih yang kesatu namanya Syaddad Syafiqul Haqqin, dikasih nama sama Bunda. Yang kedua namanya Syafiya Khaira Ihsani, itu dikasih nama sama Abang sama Teh Caca. Yang ketiga namanya Syahdan Khairy Dzulfikar, dikasih nama sama Ambu nya. Yang bungsu namanya Syahla Athiya Imtiyaz, dan yang ngasih nama Uqi dong!" jelas Syauqi.
"Beeuuuhhhh, karena Baba pusing gak bisa inget nama kalian semua. Baba panggil kalian Syawan, Syatwo, Syatri, sama Syafor!" ucap Jafran menunjuk satu persatu bayi itu.
Plak!!! Plak!!!
Mereka semua menggeplak kepala Jafran, membuat sang pemilik kepala memberengut kesal. Jafran memanyunkan bibirnya, dia merajuk layaknya Maul dan Mail.
"Kebiasaan si Baba rubah nama anak! Dikasih nama bagus-bagus, eh manggil seenaknya! Awas aja kalo nanti ini anak lahir, biar Ummi yang kasih nama!" kesal Yuliana.
__ADS_1
"Ih! Yaudah mau dipanggil apaan tuu kecebong empat coba? ABCD? kan gak mungkin!" kesal Jafran melipat kedua tangan didadanya.
"Namanya gak susah! Tinggal panggil aja Syaddad, Syafiya, Syahdan sama Syahla. Gitu aja kok repot!" kesal Syauqi pada Jafran.
"Lagian punya anak susah amat namanya dari Sya semua, gak emaknya gak bapaknya eh sekarang anaknya!" sahut Jafran yang masih kesal.
Febri sedari tadi menahan tawanya, dia selalu merasa bahagia ketika melihat wajah kesal Jafran ketika membahas nama anak-anak.
"Kamu gak akan nanya nama anak aku, Ba?" tanya Febri menahan tawa.
"Auuuuuu ah gelap! Ujung-ujungnya ngeledek." kesal Jafran.
"Udah jangan didengerin, Biw. Siapa si ganteng ini namanya?" tanya Yuliana menatap bayi laki-laki yang berada dipangkuan Febri.
"Kasih tau siapa namanya, Pa!" pinta Febri pada suaminya sambil mengedipkan mata.
"Fierza Carel Sagara Faturachman." ucap Zaydan dengan bangga.
"Helehhhh pasti ada pilosopi-pilosopian!" celetuk Jafran.
"Iyalah, FCSF dong! Ferandiza Chayra Shanum Faturachman, Fierza Carel Sagara Faturachman. Keren kaaannn!" ucap Zaydan menepuk dadanya bangga.
Sementara Jafran terus menggerutu, sambil memikirkan nama yang bagus untuk anaknya yang akan lahir nanti. Fahri meledek Jafran yang terlihat frustasi.
"Mau aku kasih bocoran nama yang bagus gak, Ba?" goda Fahri.
"Gak usah! Bisa kasih nama sendiri." ketus Jafran sambil memalingkan wajahnya.
"Heleh, udah tua marah-marah! Gak pantes banget!" ucap Fahri.
Mereka sudah mengabaikan Jafran yang terlihat masih berpikir.
"Alden Alaric Patra Maulida." ucap Jafran membuat mereka menoleh.
"Bagus gaak?! Malah pada ngeliatin!" kesal Jafran.
"Baru dapet wangsit kamu, Ba?" ucap Zaydan membuat mereka tertawa.
"Hihhhh! Au ah mending main sama anak-anak! Sama kalian mah lieur!" ucap Jafran meninggalkan mereka semua.
Bunda Syifa, Umma Nadia, Mami Lia, Mama Risma dan Mama Rini tersenyum bahagia melihat anak-anak mereka yang tumbuh dengan penuh kasih sayang. Dan mereka mampu melanjutkan persahabatan mereka sejak dulu.
"Gak nyangka kita bisa sahabatan sampe nenek-nenek begini." ucap Umma Nadia.
"Iya Nad, kamu bener banget. Alhamdulillah, semoga Till Jannah ya." ucap Bunda Syifa.
"Sejauh apapun, kita akan dipertemukan kembali. Karena ikatan persahabatan tidak akan pernah putus." ucap Mama Risma.
"Walau terhalang oleh jarak dan waktu, tapi tetap selalu kusebut nama kalian dalam do'a disetiap sujudku. Itulah persahabatan sejati." ucap Mami Lia.
"Dan semoga, cucu-cucu kita bisa terus mempererat tali silaturahmi ini." ucap Mama Rini.
Persahabatan tidak perlu saling mengerti, karena sahabat akan saling menerima hal yang sekalipun tidak dapat dimengerti. Persahabatan yang kuat, tidak butuh komunikasi setiap hari atau setiap waktu. Selama persahabatan itu ada dihati, sahabat sejati tidak akan pernah terpisah. Dan sahabat itu seperti halnya mata dan tangan. Saat mata menangis, tangan mengusap. Dan saat tangan terluka, mata akan menangis.
Seperti kata sahabat author yang telah tiada..
"Friendship is not a game to play, its not a word to say. It doesn't start in April and ends in May. It is yesterday, today, tomorrow and everyday..."
Sayangilah sahabat kalian selagi masih berada diatas Langit yang sama. Karena hanya penyesalan yang akan kalian dapat, ketika Allah yang sudah memisahkan.
* * * * *
Sampai Jumpa di SEASON 2 π€π€π€π€
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€