
Hujan turun dengan derasnya pagi ini, seperti hati kedua insan yang dilanda kemelut cinta. Mirda baru saja selesai mempacking barang-barang yang akan dibawanya. Diam-diam Mirda meminta foto Elmira pada Afifah, baginya itu sudah lebih dari cukup.
"Mencintai dalam do'a, itulah yang akan kulakukan untukmu. Berbahagialah dengan orang yang tepat, Elmiraku," ucap Mirda memandang sebuah foto yang ada didompetnnya.
Elmira terbangun, dia merasakan kepalanya sedikit berat. Tekadnya sudah bulat, dia akan menerima pinangan dari Om Chandra. Orang yang pernah menjaganya dan melindunginya. Tiba-tiba arimatanya menetes, dia teringat pada ungkapan perasaan Mirda. Elmira berencana untuk menemui Mirda, setelah urusannya hari ini selesai.
Ceklek
Pintu kamar Elmira terbuka, rupanya Ayah Fahri yang datang. Dia duduk diranjang putrinya itu, sementara Elmira masih duduk diatas sajadahnya. Memejamkan mata, sambil terus berdzikir dalam hatinya.
"Maafkan Ayah, Elmira. Semua ini demi kebaikanmu," ucap Ayah Fahri dengan suara yang bergetar. Elmira menoleh dan menatap sang Ayah.
"Ayah tidak pernah salah sekalipun, bukankah yang Ayah lakukan semuanya untuk kebaikan Kakak? Akan selalu Kakak turuti segala keinginan Ayah, termasuk mengorbankan hidup Kakak untuk Ayah. Kakak berterimakasih, selama ini Ayah selalu merawat Kakak dengan baik," ucap Elmira sambil menahan sakit dihatinya.
"Ayah melakukan semua ini bukan tanpa alasan, Elmira. Tolong mengertilah," lirih Fahri.
"Aku paham, Ayah," jawab Elmira dengan singkat.
Ayah Fahri keluar dari kamar putrinya itu, dia memegang dadanya yang terasa sakit. Dia melakukan semua ini demi keselamatan Elmira. Bunda Gisya melihat suaminya, dia menghampirinya dan menguatkan hatinya.
"Kuatlah Ayah, sebaiknya kita jelaskan semuanya pada Elmira," lirih Bunda Gisya.
"Chandra melarangnya, biarlah dia beranggapan seperti itu," lirih Ayah Fahri.
Flashback On.
Chandra kelimpungan mencari keberadaan istrinya, Kadek Elmira Devina. Chandra mulai menyadari, betapa berartinya kehadiran Mira disisinya. Saat ini Chandra sedang berada di Bali, dia mengira jika istrinya itu akan kembali pada kedua orangtuanya. Tapi nyatanya, mereka tidak tau apa-apa. Bahkan mereka mempertanyakan kedatangan Chandra yang tanpa didampingi oleh putri mereka.
Disaat dia sedang sibuk mencari istrinya, dia mendapat kabar jika Paman Elmira sudah berada di Palembang. Mereka benar-benar menunggu hingga Elmira berusia 23 tahun. Selama ini, Elmira masih dalam pengawasan PBB. Karena posisinya belum aman dari ancaman. Oleh karena itu, Chandra segera menghubungi Fahri dan memberitahukan segalanya. Pihak PBB mengatakan, jika sebaiknya Elmira kembali tinggal dalam kawasan Militer. Dan dalam sebuah status yang kuat, yaitu istri seorang perwira.
Sungguh tidak masuk akal, merubah status bukan berarti Elmira terlindungi. Tapi apa boleh buat, Fahri sangat kalut dan menyetujui begitu saja.
"Tolong lindungi Elmira, apapun itu akan aku lakukan," tegas Fahri.
"Aku masih mencari istriku, tapi jangan khawatirkan itu. Aku akan segera kesana, untuk membawa Elmira pergi darisana. Aku akan melindunginya dengan segenap jiwa dan ragaku," ucap Chandra dalam ponselnya.
Flashback Off
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, Elmira terlihat cantik dengan balutan gamis berwarna putih dengan jilbab bermotif bunga lily. Dia melihat dirinya dalam pantulan cermin, sungguh Elmira tidak mengerti dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
"Kamu cantik bangettttt," puji Afifah yang baru saja masuk kedalam kamar.
"Acaranya udah mulai?" tanya Elmira dengan wajah datarnya.
"Mmm, udah kayaknya. Bentar lagi kita turun ya, jangan sedih Elmira. Aku akan selalu ada disamping kamu," ucap Afifah sambil mengelus punggung Elmira.
"Makasih, Afifah," jawab Elmira tanpa sedikit ekspresi apapun.
Tok tok tok
"Kak! Dipanggil Bunda kebawah!" teriak Indira dari luar kamar.
Elmira beranjak dari tempat duduknya, dan Afifah mendampingi Elmira. Suasana terasa dingin, bagi Elmira. Terlebih cuaca sangat sendu selepas hujan deras pagi tadi. Semuanya sudah berada disana, termasuk Alan, Cyra dan Thoriq yang menyediakan hidangan dari cafe mereka. Chandra menatap Elmira tanpa berkedip, sungguh Elmira terlihat sangat cantik hari ini. Namun sedikitpun Chandra tak melihat senyuman diwajah gadis yang selama ini dipujanya.
Chandra dan Elmira kini sudah duduk berhadapan, dengan sekuat hati Elmira menahan airmatanya. Dia membenci dirinya sendiri, yang tidak mampu melakukan apapun.
"Elmira Ayudia Syafa, ijinkan aku meminangmu untuk menjadi pendamping hidupku. Aku berjanji akan terus menjagamu dengan sepenuh jiwa dan ragaku, apa kamu menerima lamaranku?" tanya Chandra pada Elmira.
Elmira masih saja diam membisu, hingga akhirnya dia menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun. Semuanya mengucap syukur atas lamaran Elmira, tapi tidak dengan sang pemilik acara. Setelah semuanya selesai, Elmira masih tetap tak bergeming.
Bruk!
"Elmira!!" teriak mereka semua berhambur mendekati Elmira.
"Jangan dikerubungi! Berikan dia space, tolong ambilkan tas milikku, Afifah." pinta Rian.
"Ini, cepat periksa keadaannya Bang!" pinta Afifah yang sangat khawatir.
"Tekanan darahnya sangat rendah, sepertinya dia tidak makan dan tidak tidur semalaman. Kita harus bawa dia kerumah sakit!" ucap Rian dan dengan segera dia membawa Elmira.
"Biar aku yang menggendongnya!" ucap Chandra dan Rian mengangguk. Dia tak ingin ada perdebatan disana.
Sesampainya di Rumah Sakit, Elmira segera diinfus karena kondisinya sangat drop. Bunda Gisya terus menangis dipelukkan Ummi. Sedangkan Ayah Fahri tertunduk lesu, bukan ini yang dia inginkan. Melainkan kebahagiaan putri kesayangannya.
"Maaf kalo Rian ikut campur, Om. Tapi Rian rasa, semua keputusan Om ini salah. Kita masih bisa melindungi Elmira dengan cara lain. Bahkan Om sudah memisahkan Elmira dari kebahagiaannya, Mirda," ucap Rian membuat Fahri tersentak kaget.
"Apa maksudmu, Rian?" tanya Fahri dengan nada yang cukup tinggi.
"Mirda sangat mencintai Elmira, sepertinya Elmira pun mencintai Mirda. Apa Om tau siapa yang selama ini membuat Elmira tertawa dan kuat menjalani hari-harinya yang bagaikan dipenjara? Hanya Mirda Om, dia yang membuat Elmira bisa merasakan indahnya dunia ini. Bahkan semalam adalah malam minggu pertama bagi Elmira, seorang gadis yang harus tumbuh dalam kungkungan kehidupan Militer yang begitu ketat," ucap Rian.
__ADS_1
Plakkkk!!
Ayah Fahri menampar wajah Rian, hingga dia tersungkur.
"Jangan hanya karena kamu putra sahabatku, kamu bisa berbicara seenaknya! Aku lebih tau apapun yang terbaik untuk putriku!" teriak Ayah Fahri pada Rian.
"Cukup!!!" teriak Bunda Gisya. "Yang dikatakan Rian benar, Bang. Kamu terlalu egois! Kamu sama sekali tidak pernah meminta pendapat Elmira! Dia melakukan segalanya karena merasa berhutang budi pada kita yang sudah merawatnya! Memang benar, selama ini hanya Mirda yang mampu membuat putriku tersenyum bahagia, bahkan aku baru melihat keceriaan diwajahnya semalam! Tapi dengan satu kalimat, kamu berhasil membunuh segalanya! Lihatlah bagaimana putriku sekarang!" ucap Bunda Gisya yang sudah tak bisa lagi menahan amarahnya.
Bruk!
Bunda Gisya jatuh pingsan, semua itu membuat Ayah Fahri kalang kabut. Dia menahan rasa sakit dalam dadanya. Bukan ini yang sekarang dia inginkan, tapi kebahagiaan keluarganya. Saat akan melangkah, Baba Jafran menahannya.
"Tunggu dan duduklah disini!" tegas Jafran yang membuat Ayah Fahri tertunduk lesu.
"Apakah semua yang aku lakukan salah, Ba?" lirih Ayah Fahri.
"Semua yang berlebihan itu tidak baik, Fahri. Kita memang menginginkan keselamatan Elmira, tapi lihatlah sekarang. Secara tidak langsung, kitalah yang membunuh Elmira secara perlahan," ucap Baba Jafran yang membuat Ayah Fahri semakin terisak.
Sementara disisi lain, Chandra terus menemani Elmira. Dia sangat khawatir pada gadisnya itu. Tidak dipungkiri, Chandra sangat bahagia bisa meminang Elmira. Tapi bukan seperti ini yang Chandra harapkan.
"Bangunlah, princes.. Bukalah matamu," lirih Chandra menggenggam tangan Elmira.
"Sebaiknya Om tunggu diluar, kalo Elmira bangun dan yang dia lihat pertama kali itu wajah Om. Bisa aku pastikan jika Elmira tidak akan mau membuka matanya," ucap Afifah.
"Baiklah, aku titip Elmira padamu," lirih Chandra lalu meninggalkan mereka.
Chandra berjalan menyusuri lorong dengan lesu.
"Hal terburuk tentang mencintaimu adalah aku tidak tahu kapan saatnya untuk bisa melepaskanmu, Elmira. Ketidakhadiranmu adalah kematianku, karena kehadiranmu adalah kehidupan itu sendiri. Aku benci karena aku bukan kehangatan saat kamu kedinginan, atau tangan yang kamu pegang. Apa lagi yang bisa aku lakukan agar kamu bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu?" batin Chandra.
Embun telah pergi di pagi ini, basah hujan semalam pun telah mengering. Namun ketika ku lihat perjuangan di balik cermin, maka yang tersisa hanyalah kenangan. Jika kau tanya untuk apa hujan membasahi bumi? Maka ia tidak tahu, beda dengan air mata yang tahu untuk siapa ia terjatuh. Seperti hilang arah, ketika kamu mencintai tapi tak tahu apa yang dicintai.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤