
"Waktu akan menyembuhkanku, waktu akan menyelamatkan jiwaku. Waktu akan menyembuhkanku, waktu akan membuatku utuh," batin Cyra.
Luka hati memang tak pernah ada yang mengira nya, Cyra berhasil bersembunyi dibalik topeng sebuah senyuman dan kebahagiaan. Kini dia tengah menikmati semilir angin yang menghembus menerpa tubuhnya. "Jogja.... Aku butuh sebuah ketenangan...."
Setelah kejadian tempo hari, Cyra kini di boyong kedua orang tua nya untuk tinggal bersama di Jogja. Tak ada yang tau akan hal itu, Mama Febri tak ingin menjadi beban lagi bagi kedua sahabatnya.
Seorang Ibu tak akan tega melihat kondisi anaknya yang seperti saat ini, terkadang Cyra menangis tapi kemudian dia kembali tertawa. Dokter mengatakan, kemungkinan putrinya itu mengalami depresi sejak lama. Dia tak pernah mau membagi masa sulitnya dengan siapapun.
"Woaaahhh! Anak Mama cantik banget sih pake gamis bunga ini," puji Mama Febri.
Cyra berbalik dan tersenyum, "Aku kan harus keliatan cantik di mata Mas Thoriq, Ma! Nanti gimana kalo dia kepincut perempuan lain, aku kan gak mau."
Mama Febri mengangguk, "Mas Thoriq mu itu laki-laki yang setia, sayang! Sebentar lagi dia jemput kamu, tunggu di bawah yukk!"
Dengan riang gembira, Cyra menuruni tangga sambil sesekali bernyanyi. "Beuh, Kakak gue yang paling cantik emang!" puji Carel yang kini duduk di ruang makan.
"Pasti ada maunya! Mau apa, hm?" ucapnya sambil menoel hidung sang adik.
Carel menggenggam tangan Kakak nya itu, "Carel mau Kakak selalu bahagia, mau Kakak selalu senyum!"
"Ihh gemes deh! Pasti dong, Kakak bahagia! Bentar lagi kan Kakak mau nikah sama Mas Thoriq, dia itu baaaaiiikkkk banget! Kakak pasti bahagia sama dia, dah ah! Kakak mau tunggu Mas Thoriq di depan, kita mau kencan," rona kebahagiaan terpancar di wajah Cyra.
Tapi tidak dengan ketiga orang disana yang tersenyum getir, "Allah.. Allah.. Allah.. Ampuni dosaku, kuatkan hati putriku....!" batin Papa Zaydan.
Ini adalah badai tersulit dalam kehidupan Thoriq, dia harus berusaha untuk bisa kuat. Tak ada rasa sesal dalam hatinya, dia bertekad untuk selalu mendampingi istrinya itu dalam kondisi apapun. "Aku pasti bisa, kamu pasti bisa!" gumam nya memberi semangat pada diri sendiri.
Sebelum menemui sang istri, Thoriq sengaja membelikan sebuah bucket bunga mawar merah. Hari ini dia akan mengajak istrinya itu untuk pergi ke Pantai Indrayanti, mengenang kebersamaan mereka dulu saat di Lombok. Walaupun di tempat yang berbeda, Thoriq berharap jika Cyra bisa mengobati luka batinnya dan kembali seperti dulu.
Tok.. Tok.. Tok...
Suara ketukan pintu membuat Cyra segera beranjak, senyum di wajahnya tak pernah pudar.
"Assalamu'alaikum kesayangan!"
Pipi Cyra bersemu merah, "Walaikumsalam, Mas! Mau pergi sekarang?" tanya Cyra malu-malu, persis seperti dulu.
Thoriq tersenyum, mencoba menahan rasa sakit dalam hatinya. "Apakah tuan putri sudah siap? Pangeran akan berpamitan dulu pada baginda Raja dan Ratu," ucapnya.
Kedua orang tua Cyra menepuk bahu Thoriq dan menganggukkan kepalanya, "Hati-hati dijalan ya, Mas! Kamu kuat, kalian pasti bisa melewati semuanya," lirih Mama Febri.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan, Cyra sangat menikmatinya. Kaca mobil sengaja Thoriq buka, agar istrinya itu dapat merasakan semilir angin yang menerpa. "Kamu seneng, hm?" tanya Thoriq.
Cyra menganggukkan kepalanya, "Aku seneng, Mas! Tapi kok hati aku sakit ya, Mas. Aneh ya aku," lirihnya. Thoriq sedikit tersentak, dia menoleh pada Cyra yang kini tengah memegangi dadanya. "Ada apa? Kamu boleh cerita sama Mas," Thoriq mengusap lembut kepala sang istri.
"Hahahaha! Aku gak apa-apa, Mas. Aku baik-baik aja! Aku baik-baik aja!" Cyra tertawa namun airmata lolos begitu saja dari pelupuk matanya. "Aku bahagia kan, Mas? Lihat aku bahagia kan?" lirihnya.
Demi apapun, hati Thoriq hancur! Wanita yang paling di cintainya itu kini tertawa sambil menangis. Dia menutup jendela mobilnya, dia membiarkan Cyra mengeluarkan segala ungkapan hatinya.
"Sayang!" panggil Thoriq, dia segera menepikan mobilnya. Thoriq membalikkan tubuh Cyra yang kini menghadap jendela, dia mengecup kening istrinya itu dengan lembut. "Mas akan selalu ada disampingmu, sayang! Kita akan hidup bahagia bersama-sama," ucapnya sambil menangkup kedua pipi sang istri.
Melihat Cyra mengangguk dan mulai tenang, Thoriq kembali menjalankan mobilnya. Setelah 1 jam setengah perjalanan, mereka sampai di Pantai itu. Beruntung mereka datang di hari biasa, jadi suasana pantai tak begitu ramai.
Thoriq menggenggam lembut tangan istrinya itu, keduanya berjalan menuju Pantai. Tatapan Cyra terlihat kosong, dia hanya menatap ombak yang tampak indah menyampu tepian pantai. "Sayang, mau minum air kelapa muda gak?" tanya Thoriq.
Mata Cyra tiba-tiba saja berbinar, "Mau, Mas! Mau minum disini," rengeknya.
"Yuk kita beli disana!" ajak Thoriq menunjuk salah satu kedai pinggir pantai. Cyra menggelengkan kepalanya, "Aku capek! Mau nunggu disini aja, lagian ada payung pantai gini. Enak buat nikmatin angin laut," ucapnya.
"Oke! Tunggu disini dan jangan kemana-mana sebelum Mas balik!" tegas Thoriq.
"Ckck! Iya Mas, aku bukan anak kecil!" kesal Cyra mengerucutkan bibirnya.
Entah kenapa kepala Cyra rasanya berputar, dikepalanya terdengar suara-suara yang membuatnya lemas. "Kamu terkena miom, kamu akan sulit punya anak... Alhamdulillah, makasih sayang! Makasih banyak, kamu udah mengandung buah cinta kita... Tenang sayang, aku akan selalu menemani kamu! Aku gak perlu kehadiran anak, cukup kita hidup berdua bersama-sama hingga tua nanti...."
Belum lagi ketika dia mendengar ucapan beberapa tetangga dan kerabatnya yang membandingkan dirinya dengan Theresia. Semua suara itu terasa menyesakkan, Cyra menggelengkan kepalanya dan menutup kedua telinganya. "Enggak! Aku bisa punya anak, aku bisa!" teriaknya histeris membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar.
Cyra membuka matanya, dia melihat tatapan orang-orang itu. Tubuhnya semakin gemetar hebat, Cyra berlari ketengah pantai dengan tertatih-tatih. Ombak pantai itu seperti melambai meminta Cyra semakin mendekat, "Mbak! Jangan kesana, ombaknya lagi besar!" teriak salah satu pengunjung.
Thoriq menoleh, betapa kagetnya dia ketika melihat istrinya itu tengah berjalan menuju pantai. "Cyra!!!" teriaknya panik.
Dia berlari mengejar Cyra yang kini sudah mulai menyentuh air, beberapa orang terus meneriakki Cyra, namun tak ada yang berani mendekat. Thoriq berlari semakin kencang hingga....
Grep!
Dia memeluk sang istri dengan sangat erat, keduanya tak sadar hingga ombak menabrak keduanya. Tubuh mereka terjatuh, namun Thoriq dengan erat memeluk istrinya itu. Beberapa pengunjung mulai mendekati dan membantu mereka.
"Cyra! Bangun sayang, bangun!" panik Thoriq, dibantu beberapa orang dia membopong istrinya itu menuju tepian.
"Ono opo toh le? Si Mbok kaget," ucap penjual kelapa muda yang tadi Thoriq datangi.
__ADS_1
Tubuhnya lemas, dia menangis mengungkapkan isi hatinya. "Wes tolong bawa ke tempat si Mbok disana, supaya wuenak. Daripada disini jadi bahan tontonan orang toh," ucap si Mbok yang bernama Ratmi sambil menunjuk kesalah satu kedai yang ternyata tempat tinggal si Mbok.
Thoriq mengangguk, dia menidurkan istrinya itu diatas tikar yang sudah di gelar oleh si Mbok. "Maaf merepotkan ya, Mbok!" lirih Thoriq.
"Ndak papa toh le, ono opo toh?" tanya Mbok Ratmi.
Thoriq menangis, "Istri saya depresi, Mbok! Dia sulit untuk punya anak, mula nya dia seperti sekarang ini setelah tau jika adik saya tengah mengandung. Saya berniat mengajak dia jalan-jalan supaya sedikit demi sedikit dia bisa mengobati luka dalam hatinya," isak Thoriq.
Mbok Ratmi mengerti, "Boleh si Mbok kasih saran?"
Thoriq mendongak, dia menatap sang istri lalu menganggukkan kepalanya. "Mbok punya kenalan salah satu terapis kejiwaan. Tempatnya iku agak jauh dari sini, selain kejiwaan disana iku bisa juga toh mengobati penyakit dalam rahim bojo mu iku. Kalian ini kan belum ikhtiar, tapi tekanan batine bojomu iku wis sampe tahap akhir. Coba saja datang dulu kesana, nanti si Mbok berikan alamatne. Mudah-mudahan bojo mu itu cepet pulih, le!"
'Pelangi House' namanya seperti bukan tempat untuk orang-orang sakit jiwa. Tapi disanalah Thoriq bisa melihat, beberapa orang yang mengalami ODGJ, ODS dan lainnya mampu berangsur membaik. Penyakit mental bukanlah hal yang bisa di sepelekan, Thoriq akan melakukan apapun demi istri tercinta nya.
Setelah pulang dari pantai, kondisi Cyra semakin memburuk. Dia semakin tidak bisa mengontrol emosinya, beberapa kali dia mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk membawa Cyra ke Pelangi House. Berharap jika istrinya itu akan segera pulih dan kembali seperti dulu.
Rupanya kabar itu sampai ke telinga keluarga kedua sahabatnya, tanpa sepengetahuan Mama Febri dan Papa Zaydan mereka menyusul Cyra ke Pelangi House.
"Biw..." lirih Bunda Gisya, semua orang menoleh dan tak lama mereka berhambur saling berpelukan. "Kenapa gak bilang sama kita, Biw? Lo anggap kita ini apa?!" kesal Ummi Ulil.
"Maaf... Aku cuman gak mau merepotkan, masalah kalian pun cukup rumit," lirih Mama Febri. Bunda Gisya menggelengkan kepalanya, "Masalah apapun, kalo kita hadapin sama-sama gak akan pernah rumit, Biw! Apa kamu lupa pesan orangtua kita?!"
Air mata mengiringi keberadaan mereka, disana mereka bisa melihat betapa kacau nya Cyra yang terus memberontak memukuli dokter dan suaminya di dalam sana. "Aku mau pulang, MasThoriq! Aku gak mau disini, aku takut Mas!!! Aku mau pulang!!" teriaknya histeris.
"Hahaha! Kamu takut aku gak bisa kasih keturunan ya, Mas? Kamu takut dihina orang kan, Mas?! Kamu malu punya istri sepertiku, Mas?!" kini suara tawa Cyra yang terdengar pilu di telinga mereka.
Alan menyaksikan semua itu, hatinya begitu sakit bahkan sangat sakit. "Semuanya gara-gara gue, Husain! Kalo aja gue gak ngehubungin dia waktu itu, pasti dia gak akan kaya gini!" sesal Alan.
"Kalo alasan lo itu, berarti gue juga salah! Sebab Alana lebih dulu hamil, mungkin itu juga yang bikin Cyra menjadi jauh. Kita gak bisa menyalahkan diri sendiri, udahlah! Kita harus selalu support Thoriq dan Cyra. Semoga dengan disini, dia bisa menyembuhkan luka batin yang kita sendiri gak tau seberapa dalamnya itu!" Husain merangkul bahu Kakak iparnya itu.
Tetaplah baik kepada diri sendiri, meski kamu gagal. Sekecil apa pun kebahagiaanmu, sekarang itu waktu terbaikmu. Meski marah harus tetap sabar, meski berat harus tetap kuat. Meski lelah, harus tetap semangat. Semua pasti ada jalan keluar. Orang menangis bukan karena mereka lemah. Tapi, mereka menangis karena telah berusaha kuat dalam waktu yang lama. Kuatkan mental kalian, sebab hidup tak selamanya indah dekkk..... π€π€£βπ
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author β€