
Resepsi Pernikahan Gisya dan Fahri sudah selesai, kini mereka sedang sibuk mengurus kepindahan Gisya ke Rumah Dinasnya. Fahri dan Gisya sengaja menginap dirumah Bunda, karena mereka tau jika Bundanya akan bersedih.
"Bun, jarak rumah ke tempat Abang kan gak jauh. Caca janji bakalan selalu tengokin Bunda kesini. Lagian nanti kalo Uqi dinas, Bunda bisa minta ditemani Calon menantu Bunda." ucap Gisya sambil menenangkan sang Bunda.
"Bunda gak apa-apa Teh, Bunda nangis bahagia ini." ucap Bunda.
Gisya sedang membereskan baju-bajunya kedalam koper, rencananya Gisya tidak akan membawa semua bajunya. Agar ketika nanti dia menginap tidak perlu membawa baju. Fahri tersenyum bahagia, dia memeluk istrinya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher istrinya yang tertutup jilbab.
"Istriku fokus banget sih, sampe suaminya dianggurin." ucap Fahri merajuk.
"Adek yang fokus atau Abang yang manja?" tanya Gisya mengusap lembut kepala suaminya itu. Fahri terus saja menempel pada Gisya seperti perangko.
"Abang! Udah sana mandi dulu, udah siang ini. Kita kan harus mampir dulu ke Toko buat bawa kue pesenan Papa." tutur Gisya kesal.
Fahri segera berlari kedalam kamar mandi, dia tidak ingin mendapat ancaman yang menurutnya sangat menyeramkan. Selesai bersiap, mereka bergegas ke Toko untuk mengambil kue yang diinginkan Papa Mertuanya itu. Syaina dan Ana sedang membantu untuk menata kue-kue di Etalase. Sementara Rani dan Farida bertugas membuat kue.
"Ina, pesenan Teteh sudah dibungkuskan?" tanya Gisya.
"Udah Teh, tinggal diangkut kedalam mobil. Teteh pindahan hari ini?" tanya Syaina karena melihat mobil Fahri penuh dengan koper.
"Iya Ina, Teteh titip Bunda ya. Tolong ditemenin, takut Bunda kesepian. Kalo gak ada kegiatan disana, Teteh pasti sempetin buat ke Toko." ucap Gisya.
"InshaAllah, Ina akan lebih sering nemenin Bunda."
Gisya masuk kedalam, dilihatnya Febri sedang memeriksa data penjualan Toko.
"Bumil jangan capek-capek, nanti dedek nya kelelahan!" ucap Gisya.
"Baby sehat onty, ada Papa yang jagain babyi." jawab Febri.
"Kamu beneran gak mau tinggal sama aku, Biw?" tanya Gisya.
"Caca sayangku, I'm fine. Aku pengen menikmati masa-masa ini. Lagian bulan depan aku mau pindah ke Puncak, mau ngurusin penginapan yang ditinggalin Mas Andi."
"Kok ngedadak gitu? Kenapa gak di Bandung aja sih?" tutur Gisya bersedih.
"Gak ngedadak, aku udah bilang kok sama semuanya. Lagian aku gak sendiri, aku ditemenin Ana. Dia lebih milih nemenin aku, daripada jadi Bidan desa."
"Yaudah deh, apapun yang terbaik buat kamu, Biw." peluk Gisya.
Fahri sudah kesal menunggu Sang istri yang tidak kunjung datang. Istrinya itu memintanya untuk menunggu di mobil. Fahri berniat menyusul istrinya, tapi langkahnya terhenti ketika melihat sang istri yang keluar membawa kue Favoritenya. Dia kembali kedalam mobil.
"Kok Abang keluar?" tanya Gisya.
"Nungguin istri Abang, lama banget keluarnya." kesal Fahri.
__ADS_1
Cuppp ππ
Dua kecupan mendarat di pipi Fahri, sejenak Fahri tertegun dengan sikap istrinya.
"Pak Tentara, tolong jalan yaa! Mama udah nelponin itu." ucap Gisya membuyarkan ketertegunan Fahri.
"Istri Abang udah berani cium-cium, sering-sering ya Sayaang." goda Fahri.
Mereka melajukan mobilnya menuju Rumah Dinas, setelah melakukan pemeriksaan di Gerbang Masuk kini mereka sudah berada didepan Rumah. Dilihatnya kedua ibu yang mereka cintai sedang berkacak pinggang.
"Dibilangin jangan mampir lama-lama! Malah pada ngilang!" kesal Bunda sambil menjewer telinga Menantunya itu.
"Aww.. Sakit Bun. Jangan salahin Abang, tuh putri cantik Bunda semedi dulu di Toko. Abang aja ampe jamuran nunggu di mobil." ucap Fahri mengadu.
"Dih aduan! Maaf yaa Bunda dan Mama ku sayang. Caca kan bawain dulu kue Favorite Mertua Caca tersayang." rayu Gisya.
"Mana kuenya?" teriak Hari sambil berlari dari dalam rumah.
"Papa gak inget umur dan jabatan! Gak malu apa kalo dilihat yang lain! Urusan kue aja gercep, Mama minta dianterin belanja aja gak denger." gerutu Mama Risma.
"Udah Ris, jangan marah-marah. Besok kita shopping bareng sama Caca, mereka kan butuh beberapa perabotan rumah." ucap Bunda Syifa.
"Eittssss.. Enak aja mau sabotase istri Abang! Caca mau nemenin Abang, Bunda." ujar Fahri yang keberatan.
"Mau dirumah aja menikmati masa-masa Rumah Tangga baru!" ucap Fahri dan mendapatkan pukulan dari kedua Ibunya.
"Mentang-mentang pengantin baru kamu, Bang! Ngadon mulu yang dipikiran kamu!" kesal Mama Risma.
"Abang kan ngadon terus juga biar menghasilkan Chacha mini's Ma. Cucu-cucu Mama yang cantik sama ganteng!" ucap Fahri tak mau kalah.
Gisya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua Ibu dan Suaminya yang senang saling menggoda, sedangkan Hari malah menikmati Airflow Cake favoritnya. Gisya masuk kedalam kamar Fahri, dia mulai membereskan baju-bajunya kedalam lemari. Rumah Dinas yang ditempati oleh Fahri memang tidak begitu besar. Hanya ada 2 kamar, dulunya kamar itu sempat ditempati oleh Andi. Namun, untuk saat ini kamar itu akan digunakan untuk menyimpan barang-barang. Terdapat dapur dan kamar mandi yang cukup luas, dan tempat menjemur yang berada didepan Rumah. Rumah Dinas ini saling berdempetan, hingga kita leluasa untuk bersilaturahmi dengan tetangga.
Pagi ini Fahri sedang mengurus surat-surat agar Gisya mendapatkan Kartu Penunjuk Istri (KPI). Siang hari ini, akan diadakan Pertemuan Persit Chandra Kirana. Dimana semua ibu-ibu Persit baru, harus memperkenalkan dirinya. Gisya sudah memakai seragam Persitnya, dia terlihat sangat anggun dan cantik.
"Bang, kok Adek gugup ya." ucap Gisya yang memang sedang gugup.
"Tenang aja, ibu-ibu Persit baik kok. Nanti juga ada Mbak Andina sama Bu Danki disana. Jadi kamu rileks aja, Abang yakin kamu bisa." ucap Fahri.
"Iya Bang, yaudah Adek masuk dulu ya, Bang." pamit Gisya lalu mencium kedua tangan suaminya.
Gisya sudah masuk kedalam, dia duduk sejajar bersama 4 orang anggota Persit yang baru. Setelah Acara sambutan-sambutan kini mereka dipersilahkan mengenalkan dirinya. Gisya mendapatkan giliran pertama, karena pangkat suaminya itu Letnan Satu. Sedangkan tiga lainnya berpangkat Letnan Dua.
"Assalamualaikum, Mohon ijin untuk memperkenalkan diri kepada Ibu Ketua Persit Kartika Chandra Kirana, mohon ijin kepada Ibu Wakil Persit Kartika Chandra Kirana juga mohon ijin kepada Ibu Komandan Kompi. Nama saya Gisya Kayla Nursalsabila, usia saya 26 tahun. Saya istri dari Letnan Satu Fahri Putra Pratama Kompi C. Hobby saya memasak dan membuat Kue. Saya mohon ijin bimbingan kepada semuanya, mohon maaf apabila ada kesalahan kata. Terimakasih."
Selanjutnya Gisya diberikan Kartu Tanda Anggota (KTA) Persit, serta membeli beberapa seragam Persit. Pakaian Seragam Kerja (PSK) yang digunakan saat ada Pertemuan Anggota, Rapat Pengurus, Kunjungan Kerja, mendampingi suami korp raport pindah satuan, menghadiri acara organisasi wanita lainnya, dan kegiatan lain yang menuntut kita bereksistensi sebagai anggota Persit. Pakaian Seragam Lapangan (PSL) yang dikenakan saat melaksanakan kegiatan kunjungan lapangan. Pakaian Seragam Resmi (PSR) yang hanya digunakan sekali setahun yaitu saat menghadiri peringatan HUT Persit. Dan yang terakhir Pakaian Seragam Upacara (PSU) yang dikenakan saat ada upacara serah terima jabatan dan upacara lainnya termasuk saat ada giat ziarah ke makam pahlawan bahkan bisa digunakan saat peringatan HUT Persit.
__ADS_1
Banyak sekali yang Gisya pelajari mengenai Persit hari ini. Gisya disambut baik oleh Anggota Persit Kompi C yang diketuai oleh Fatimah.
"Bu Fahri, karena kamu hobby memasak dan membuat kue. Kalo nanti ada kegiatan tolong kamu bantu Bu Dzikri untuk mempersiapkan konsumsi." ucap Fatimah.
"Ijin Bu, saya siap membantu Bu Dzikri. Mohon bimbingan dari semuanya."
"Kalo boleh tau Bu Fahri kegiatannya apa? Bekerja atau dirumah seperti kami?" tanya salah satu istri Anggota Kompi C.
"Ijin Bu, saya punya toko kue. Tapi setelah menikah, saya hanya memantau dari jauh saja." ucap Gisya menjelaskan.
"Kalo kalian tau 'Caca Bakery' dia adalah pemiliknya, kalian pasti sudah tau bagaimana rasanya. Waktu di Acara 7 bulanan saya, kue itu buatan Bu Fahri." jelas Fatimah.
"Wah pantas saja, nanti coba buatkan kami Kue ya saat pertemuan."
"Ijin Bu, saya akan buatkan nanti untuk seluruh Anggota Kompi C." jawab Gisya.
Selesai pertemuan dengan Ibu-ibu Persit, Gisya melanjutkan kegiatannya untuk berkeliling menemani Fatimah bersama Andina dan juga putranya.
"Rian kok gak betah lagi sama Bu Danki." tutur Fatimah.
"Nda, ian unya onty balu." ucap bocah cadel berusia 3 tahun itu.
"Oohh jadi karena ada Onty Caca, rian lupa sama Bu Danki ya!" gemas Fatimah.
"Iya Mbak, nempel banget sama Caca. Dia kalo udah ada yang baru pasti gitu." tutur Andina. Saat ini mereka hanya bertiga jadi tidak berbicara formal.
Fahri melihat istrinya, dia sangat bahagia karena Gisya dapat cepat berbaur dengan yang lain. Sore hari, Gisya baru sampai dirumah. Dia bergegas untuk membereskan rumah, karena kebetulan kedua Mertuanya akan menginap dirumah Bunda Syifa sebelum lusa kembali ke Palembang.
"Istri Abang gak cape?" tanya Fahri yang baru saja tiba.
"Astaghfirulloh, Abang! Assalamualaikum dulu kenapa." kesal Gisya.
"Udah sayang, cuman Adek gak dengar Abang."
"Hmm.. Bang setelah sholat Maghrib nanti temani Adek belanja ya. Biar gak repot bolak balik warung. Adek mau belanja sekalian." pinta Gisya.
"Iya sayang, nanti Abang temani." ucap Fahri.
* * * * * *
Mohon maaf apabila ada kesalahan yaa Readeerr π
Dukung terus Author ya!
Salam Rindu, Author β€
__ADS_1