Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Menjelang Akad Alain


__ADS_3

Dugaan Husain dan Alana memang benar, setelah memberitahu keluarganya mengenai niatnya untuk menikah membuat semuanya heboh. Oma Syifa yang kini tinggal bersama Paman Syauqi, langsung datang setelah diberitahu oleh putrinya, terlebih ketika mendengar jika Elmira sudah melahirkan. Begitupun juga dengan Paman Syauqi, dia langsung memboyong seluruh keluarganya untuk menginap dirumah sang Kakak. Paman Syauqi kini tinggal di Kota Garut, sebab kini dia bertugas disana.


Mereka baru saja tiba dirumah Bunda Gisya, Oma Syifa merentangkan tangannya pada sang anak yang kini sudah memiliki cucu.


"MashaAllah, anak Bunda kini udah jadi Oma! Berarti Bunda sekarang jadi eyang ya!" bahagia Oma Syifa memeluk Bunda Gisya.


"Iya Bun, gak kerasa waktu terus berlalu! Alhamdulillah, Bunda masih temenin Caca sampe Caca punya cucu," lirih Bunda Gisya dalam pelukan ibunya.


"Kedalem yuk! Bunda pengen ketemu cicit," ucap Oma Syifa.


Raut bahagia terlihat diwajah Oma Syifa yang kini sudah mulai menua, dia menghampiri Elmira yang kini tengah menggendong putranya. Sudah dua hari yang lalu, Elmira diperbolehkan pulang. Dan untuk sementara, dia akan tinggal disana.


"Yaa Allah, cicit eyang," ucap Oma Syifa sambil menoel pipi Ibam.


"Omaaa....! Kakak kangen," Elmira memeluk Oma yang sudah merawatnya selama ini.


"Oma juga kangen sayang, sini Oma pengen gendong cicit Oma," pinta Oma Syifa pada sang cucu.


"Boleh, Oma. Kebetulan Kakak pengen sarapan pagi dulu, hehehe," ucap Elmira.


Tak lama kemudian datanglah 'keluarga Sya' yang sudah pasti akan membuat heboh.


"Paman Uqi dataaaaaaanngggggggggg," teriak Syauqi membuat Ibam menangis.


"Dasar si Uqi! Tuh liat cucu Abang jadi bangun," kesal Ayah Fahri.


"Ciee udah punya cucu, cieeeee udah jadi aki-aki!" goda Syauqi.


"Emang Abah gak ngerasa udah aki-aki? Itu kan anak dari ponakan Abah!" sahut Syaina.


"Emh si Ambu, meni gak boleh Abah teh seneng sedikit," Syauqi menghela nafasnya.


Kini mereka tengah mengerubungi bayi mungil itu, kini Syaina yang tengah menggendong Ibam. Dia menatap bayi mungil itu dengan perasaan bahagia.


"Kalo liat bayi gini, jadi pengen punya lagi!" antusias Syaina menoel hidung Ibam.


"Ck! Dulu aja diajakin ogah-ogahan, sekarang malah pengen punya bayi!" Syauqi menatap malas kearah sang istri.


"Iyalah ogah! Kamu itu sekali ngadon jadinya empat, gak kebayang kalo aku gak KB mau punya anak berapa kita," kesal Syaina.


"Mungkin sebelas, lima belas atau duapuluh gitu! Gak apa-apalah, kan banyak anak banyak rezeki. Liat noh gen halilintar, sekarang semuanya pada sukses," ucap Syauqi.


"Dahlah males! Ini aja cukup, gen kingkilaban!" Celetuk Syaina.


"Eta si Ambu, gen kingkilaban! Samarukna gunung merapi ek meletus, pake kingkilaban sagala!" kesal Syauqi.


(Info : kingkilaban dalam bahasa Indonesia disebut kilatan petir yang menyambar jika akan ada gunung meletus)


Keluarga Husain, kini sedang mempersiapkan hantaran dalam pernikahan untuk diberikan pada sang calon menantu.


"Bun, ini mau diapain?" tanya Elmira sambil memperlihatkan handuk.

__ADS_1


"Dibikin soang aja, Kak! Bisa nggak?" tanya Bunda Gisya.


"Bisa, Bun! Kakak bantu, ya. Mumpung Ibam anteng sama Eyangnya," ucap Elmira.


"Kak, kamu takut gak kalo deket-deket sama si Abang setelah lahiran?" tanya Syaina.


"Enggak, Ambu. Emangnya kenapa harus takut?" Begitu polosnya Elmira membuat Syaina mencebik kesal.


"Ambu mah waktu lahir si Kempat, tiap Abah mau ngedeketin pasti takut! Laki-laki itu kan susah ngontrol syahwatnya," ucap Syaina membuat Bunda Gisya melotot.


"Si Uqi aja itumah, Ina!" celetuk Bunda Gisya.


"Ck! Udah pasti atuh Teh dia mah, gak sanggup aku kalo udah berhadapan sama si kobra!" Syaina menghela nafsanya.


"Haaaaaa? Cobraaa?" Pekik Bunda Gisya dan Elmira bersamaan hingga membuat para lelaki menoleh.


* * *


Semuanya sangat bahagia menyambut Akad Nikah Alana dan juga Husain. Kini Mama Febri sudah sampai di Bandung, dia memutuskan untuk menginap dirumah Ummi Ulil. Sebab, dia akan memasak untuk acara akad nikah lusa nanti.


"Mama kira, bakalan Cyra duluan yang nikah! Ternyata malah kalian duluan, Mama sampe kaget pas denger kamu sama si Abang udah nabung," ucap Mama Febri.


"Tuhkan! Kenapa keluargaku ini selalu overthingthing Yaa Allah, kesel akutuh! Kalian ma banyak terkontaminasi sama si Baba," celetuk Alana.


"Tau nih! Kalian mikirnya kemana sih pas si Mail sama si Ain bilang udah nabung!" kesal Alan sang kembaran.


Mama Febri dan Ummi Ulil saling menatap, lalu menyatukan kedua tangannya.


"Sembarangan! Kamu kasih Ummi sunlight, semuanya bersih termasuk nyawa! Mau kamu jadi piatu," gerutu Ummi Ulil.


"Naudzubilah si Ummi! Kalo ngomong suka seenaknya, eh enakan si Baba dong! Kalo Ummi mati kan si Baba bisa kawin lagi," ucap Alan membuat sang Ummi menjewer kedua telinganya.


"Anak kurang asem kamu! Enak aja, kalo kawin lagi tak potong anu nya!" kesal Ummi Ulil.


Malas mendengarkan perdebatan Alan dan Umminya, Alana memilih untuk masuk kedalam kamarnya. Dia duduk didepan meja, dan mulai menulis ungkapan hatinya.


~Cintaku bagaikan perahu yang sedang berlayar untuk mencari dermaga hati yang tepat untuk berlabuh agar bisa meraih kebahagiaan. Hidupku laksana lautan. Jika aku tak berhati-hati dalam mengayuh perahu, memegang kemudi, dan menjaga layar, maka akan karam digulung oleh ombak dan gelombang. Hilang di tengah samudra yang luas dan tiada tercapai olehnya tanah tepi. Seperti perahu, sejauh apapun berlayar akan ada saatnya berlabuh di suatu tempat. Entah itu hanya sekadar singgah atau untuk menetap. Berlayarlah perahu kecilku, jelajahi samudra semaumu. Jika nanti badai menggemuruh, kembalilah sebelum ombak membuatmu luluh. Aku akan tetap menjadi dermaga yang menunggumu berlabuh.


Ceklek


Suara pintu terbuka membuat Alana menutup bukunya dan menyimpannya.


"Lagi ngapain sayang?" tanya Ummi Ulil.


"Cuman nulis aja, Mi. Ada apa, Mi?" Alana menatap wajah sang Ibu.


"Duduk disana, yuk! Ummi pengen ngobrol sama kamu," tunjuk Ummi Ulil ke balkon kamar Alana.


Alana merebahkan tubuhnya dipangkuan sang Ibu, dengan lembut Ummi Ulil mengusap kepala putrinya itu.


"Alana, jangan kamu kira pernikahan itu hanya urusan cinta yang penuh perasaan yang menyenangkan, Nak. Pernikahan tidak saja berisi pelukan, tapi juga perkelahian. Pernikahan itu laksana pelaut di atas samudra penuh dengan gelombang, sayang. Ummi berharap, kamu akan menjadi kuat dan semakin dewasa setelah menikah. Suami adalah hakim dan istri hanya penasihat, ingatlah itu, Nak. Pernikahan bagaikan melihat daun yang jatuh di musim gugur. Selalu berubah dan makin indah, cinta perlu dijaga dan dipupuk. Dan lahan terbaik untuk menjaga dan memupuknya adalah pernikahan. Tapi ingatlah tujuan pernikahan bukanlah untuk berpikiran sama, melainkan untuk berpikir bersama. Ummi berharap, putri kecil kesayangan Ummi ini akan selalu bahagia. Dan semoga, Husain adalah orang yang tepat untuk menjadi suamimu," Ummi Ulil meneteskan airmatanya ketika mengucapkan itu.

__ADS_1


Merasakan airmata sang Ibu, Alana bangun dan berhambur memeluk ibunya.


"Ummi, semakin aku tumbuh dewasa, semakin aku menyadari bahwa Ummi adalah hal terbaik yang pernah aku miliki seumur hidupku. Hingga detik ini pun Ummi selalu menjadi orang yang pertama meredam emosiku. Napasku adalah napas Ummi, kehidupan Ummi adalah hidupku. Ummi gak pernah lelah untuk merawat, membesarkan dan membimbing aku, tapi aku masih aja tanpa sengaja gak menghargai ketulusan, Ummi. Maafin aku, Ummi," lirih Alana.


Ummi Ulil memeluk erat tubuh putri kecilnya itu, tak lama kemudian datanglah Baba Jafran dengan mata yang berkaca-kaca. Baba memeluk dua wanita kesayangannya itu. Baba Jafran menangkup kedua pipi putrinya, dan mencium keningnya.


"Mail, memang benar cinta bukanlah segalanya. Tetapi tanpa cinta, segalanya pun tak akan ada. Tetaplah saling mencintai selama-lamanya. Percayalah bahwa kalian adalah dua makhluk yang memang ditakdirkan bersama selamanya. Kami akan segera melepasmu laksana penjaga pantai melepas sebuah pelayaran ke lautan lepas. Bahtera yang telah kalian persiapkan akan segera berlayar dalam aneka gelombang persoalan. Dimulai berdua, kalian nantinya akan membangun keluarga kecil seperti Baba dan Ummi dulu. Untuk itu, tetaplah saling menjaga dan bertanggung jawab satu sama lainnya," lirih Baba Jafran lalu memeluk erat si Mail putri kesayangannya itu.


Kini giliran Alana yang menangis dipelukan sang Baba.


"Bagi dunia, Baba mungkin hanya seseorang. Tapi bagiku, Baba adalah dunia itu. Sampai kapanpun, Baba adalah cinta pertamaku. Karena aku yakin, didunia ini hanya Baba yang tidak akan pernah menyakitiku. Aku sayang Baba," ucap Alana.


Alan dan Aqeela menyaksikan semuanya, ada raut bahagia dan juga sedih ketika Alana akan menikah. Sebab mereka sudah terbiasa bersama-sama.


"Ah! Sebel gue jadi cengeng gini," ucap Alan membuat ketiganya menoleh.


"Sini! Peluk Ummi sama Baba," titah Baba Jafran sambil merentangkan tangannya.


"Hiks.. Hiks... Gue sayang sama lu, Mail! Meskipun lu nyebelinnya naudzubilah, semoga lu bahagia sama si Abang. Kalo dia nyakitin lu, gue orang pertama yang bakalan ngehajar dia! Lu harus bahagia, Mail!" baru kali ini Alan menangis hingga sesegukan.


"Hiks, udah dong! Hiks, gue jadi makin bombay ini," lirih Alana lalu memeluk Alan sang kembaran.


"Aa! Ingusnya kena tangan Qila!" ucap Aqeela sambil terisak.


"Biarin, vitamin!" ucap Alan yang masih memeluk kembarannya itu.


Duuuuuuttttttt!!!


Suara kentut membuat Alan melarikan diri.


"Si Alaaaaaannnnnnn......!!!" teriak mereka kesal.


"Maaf, gak kuat nahan.....!!" teriak Alan.


* * * * *


MAAF YAA TELAT UP...


OTHOR CUMAN SANGGUP UP 1 BAB DISINI DAN SATU BAB DISANA πŸ™πŸ™πŸ™


Harap dimaklumi yaa readerku sayang πŸ₯ΊπŸ€—πŸ€—


JANGAN TINGGALIN OTHOR YAA πŸ₯Ίβ€


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2