Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Nasehat Oma


__ADS_3

Suasana hangat kini sangat terasa dikediaman Oma Syifa, mereka baru saja melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Airmata Oma Syifa sudah tak dapat terbendung lagi, hatinya sungguh sangat bahagia. Impian semua orangtua adalah mendidik anak-anaknya agar taat pada Sang Pencipta.


"Yaa Allah, terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk mendidik anak-anak, menantu dan cucu-cucuku. Kelak hanya do'a dari merekalah yang akan menerangi kuburku," batin Oma Syifa.


Bunda Gisya, Ummi dan Mama Febri segera menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga besar mereka. Sambil bercanda tawa mereka menyiapkan sarapan dan lagi-lagi Oma Syifa menitikkan airmata bahagianya.


"Nad, Ris, Lia, Rini.. Kalian liat kan? Anak-anak kita semuanya bahagia," lirih Oma Syifa.


"Oma! Jangan sedih lagi dong, kita kan semua disini buat Oma," Elmira memeluk tubub Oma Syifa dan mendekapnya erat.


"Kak, jangan lupa selalu do'akan Oma, ya! Oma bahagia, sangat bahagia! Sekalipun Allah ambil nyawa Oma hari ini, Oma sudah ikhlas," tentu saja ucapan Oma Syifa membuat Elmira menangis tersedu-sedu.


Mendengar tangisan Elmira, mereka semua yang berada diluar berhambur masuk kedalam  rumah. Jantung mereka berdegup kencang seperti lari marathon.


"Ada apa, Kak?! Kenapa kamu nangis begitu?" panik Ayah Fahri.


"Oma ngomongnya ngelantur, Ayah! Kakak gak mau Oma tinggalin," isak Elmira memeluk sang Ayah. Mereka semua mengelilingi Oma Syifa yang duduk dikursi roda.


"Dasar anak nakal! Liat nih, Oma udah kaya jadi tersangka!" celetuk Oma Syifa.


Mereka semua tak ada yang menjawab, hanya menatap Oma Syifa dengan tatapan sendu.


"Jangan bersedih! Oma masih nafas ini, Oma kan cuman bilang kalo Oma bahagia sangat bahagia! Makanya Oma sudah ikhlas jika Allah akan memanggil Oma, dan Oma ingatkan pada kalian semua! Jika memang Oma harus pergi, ikhlaskan... Boleh menangis, tapi jangan berlarut! Oma ini sudah tua, dan Oma merindukan Opa kalian," dengan tersenyum Oma Syifa mengucapkan hal itu.


Tak bisa berkata-kata, semuanya diam beribu bahasa dan hanya terdengar suara isakan.


"Cepatlah masaknya! Oma laper ini, bukannya kita juga bakalan Mitim," ucap Oma Syifa.


"Yaa Allah, Family time Oma! Mitim mah apaan itu, main kuda-kudaan?" celetuk Alan sambil mengusap airmata yang tak sengaja jatuh.


"Ya ya, itulah! Udah ah ngapain sih pada nangis begitu! Pantesan diluar mendung, wong disini awan hitam semua," Oma Syifa menunjuk kearah luar.


Semua kembali pada aktifitas masing-masing, para cucu perempuan semuanya bergabung untuk menemani sang Oma.


"Kalian semua harus selalu akur dan bersatu, teruskanlah hubungan persaudaraan ini hingga anak cucu kalian kelak. Persaudaraan kita memang tidak didasari hubungan darah, tapi persahabatan Oma dan Nenek Kakek kalian itu menguatkan segalanya bahkan melebihi hubungan darah. Kalian harus saling menjaga satu sama lain, jangan saling menyakiti. Jika ada yang salah, ingatkan! Jika ada yang belok, luruskan! Itulah yang selalu kami lakukan dulu, dan Oma harap kalian akan menanamkan semuanya hingga nanti," nasehat Oma Syifa.


Hati mereka sungguh sakit mendengar setiap nasehat dari Oma Syifa, seolah memang Oma akan meninggalkan mereka.


"Oma! Liat Maul bawain apa buat Oma," Alan datang sambil membawa strawberry dari kebun belakang yang baru saja dipetiknya.


"Ck! Sekarang aja kamu mau disebut Maul," Oma Syifa mencebik sambil memakan strawberry dari Alan.


"Hehehe, gimana Oma? Manis gak?" tanya Alan yang penasaran.


"Manis! Cobain aja sendiri," Oma Syifa memasukan dua strawberry pada mulut Alan.


Sungguh, rasanya sangat membuat Alan tercengang. Dengan susah payah dia menelan strawberry itu.


"Gimana? Manis kan?" tanya Oma Syifa mengedipkan sebelah matanya.


"Manis Oma," jawab Alan sambil tersenyum kaku.


"Maauuuuulllll.........! Mau racunin Baba kamu?! Strawberry kecut kaya ketek kamu begitu! Sengaja kamu kasiin Baba?!" kesal Baba Jafran yang datang sambil bersungut.


"Bhahahahahaha," mereka semua menertawakan tingkah Baba Jafran dan juga Alan yang main kejar-kejaran seperti anak-anak.


* * *


Cuaca sudah mulai cerah, mereka mengajak Oma jalan-jalan mengelilingi kebun teh. Oma duduk diatas kursi roda dan Ayah Fahri yang mendorongnya.


"Gelar tiker disana enak tuh, Ri!" tunjuk Oma Syifa pada bukit yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.


"Oke Bun, kita meluncuuuurrrr.....!" Ayah Fahri dengan semangat mendorong kursi roda Oma Syifa dan berteriak dengan lantang.


"Pasukaaaann...! Sang Ratu mau menggelar tikar dibawah pohon rindang dibukit itu," teriak Ayah Fahri pada para anak muda yang masing-masing menenteng makanan.


"Baik paduka," jawab mereka serempak kecuali Baba Jafran.


"Ckck! Harusnya kan Baba yang jadi padukanya," kesal Baba Jafran karena kalah suitan untuk mendorong kursi roda Oma Syifa.


"Gak pantes kamu jadi paduka, Ba! Mana ada paduka perutnya buncit kaya orang bunting," celetuk Ummi Ulil membuat Baba Jafran mendelik kesal.

__ADS_1


"Wahaii ulet pucukku, biar kubuncit tapi kamu tetep suka kan yang berada dibawah gunungan perutku," kesal Baba Jafran.


Oma Syifa memukul lengan Baba Jafran yang tak jauh darinya.


"Makanya diet! Diet! Diet! Makanin si Ulil muluk sih," goda Oma Syifa.


"Abis kalo makanin dia mah gak ada kenyangnya, Bun! Beuh apalagi pabrik susunya, mantep banget! Kaga ada tuh istilah melempem," Baba Jafran senyam-senyum sendiri.


"Lil, emang si Jafran gak disapih?!" ledek Oma Syifa ketika melihat Ummi Ulil wajahnya sudah bersemu merah.


"Enak aja disapih! Itumah udah tanda tangan kontrak seumur hidup, Bun! Noh si Abang sama si Idan juga yakin tuh belum disapih," celetuk Baba Jafran


Blush


Wajah mereka semua bersemu merah, Oma Syifa menggetok kepala Jafran dengan payung yang dipegangnya.


"Dasar gesrek! Inget umur, nanti juga itu sinyal los kagak sekenceng dulu!" celetuk Oma membuat mereka melongo tak percaya.


Para anak muda dengan cekatan menggelar tikar, tingkah Sweta dan Ibam menjadi pusat perhatian mereka. Bercanda tawa dan riang gembira, itulah yang mereka lakukan saat ini.


"Mirda, sini Nak!" Oma Syifa meminta Mirda mendekat.


"Iya Oma, ada apa?" Mirda menyambut tangan Oma Syifa dsn menggenggamnya.


"Denger ya! Si Kakak itu anaknya cengeng, terus banyak mikir. Tapi Oma tau sikap dia dari kecil, dia gadis yang kuat. Dia itu berlian berharga, maka dari itu Oma mohon sama kamu untuk menjaga dia dengan baik. Oma selalu berharap keluarga kalian semua akan bahagia," lagi-lagi Oma Syifa menasehati semua orang.


Sweta menghampiri Oma Syifa, dia duduk dipangkuan sang Eyang Uti.


"Yangti, tata tayang yangti banak-banak!" ciuman mendarat dipipi Oma Syifa.


"MashaAllah cicit Yangti, Sweta harus jadi anak yang pintar dan cerdas ya! Sweta harus jagain Bubu, jagain Adek Ibam kalo Baba lagi tugas. Gak boleh cengeng, gak boleh rewel ya!" Oma Syifa mengelus kepala Sweta yang selalu terbalut jilbab.


"Otey Yangti," Sweta sangat antusias memeluk Eyang Utinya.


Mereka menikmati setiap angin yang berhembus, canda tawa tak luput dari kegiatan mereka hari ini. Sampai tak terasa waktu sudah memasuki waktu dzuhur.


"Alan, Oma mau kamu yang menjadi Imam ya! Kan sebentar lagi kamu bakalan jadi Imam buat keluarga kamu," pinta Oma Syifa.


Indira yang sedang melaksanakan KKN di Sukabumi baru saja datang, bertepatan juga dengan Paman Syauqi dan keluarganya. Mereka segera datang setelah mendapatkan pesan dari Bunda Gisya, yang mengatakan jika Oma terus saja menasehati mereka seakan Oma akan pergi.


Oma Syifa memeluk anak bungsu, menantu dan cucu-cucunya itu.


"Kalian semua baru aja dateng, sekarang masuk ya! Istirahat dulu. Ca! Siapin makan siang buat mereka," titah Oma Syifa.


"Oma, Dira udah makan tadi dijalan. Dira cuman pengen nemenin Oma," lirih Indira.


"Mana Athaya? Terus ini siapa?" tanya Oma Syifa.


"Hai Oma cantik, saya Dirga temennya Syafa," Dirga mencium tangan Oma Syifa.


"MashaAllah, ada angin apa nih cucu Oma yang satu ini. Katanya anti tentara, tapi temenan sama tentara," goda Oma Syifa.


"Omaaa..." rengek Indira yang pipinya sudah memerah karena malu.


Indira menghampiri Bunda Gisya yang sedang menyiapkan cemilan untuk mereka semua. Oma Syifa menepuk bahu Dirga, membuat Dirga tersentak kaget.


"Tolong panggilkan si Jenderal bucin itu!" titah Oma Syifa.


"Baik, Oma," Dirga bangkit dan menghampiri Ayah Fahri.


"Ayah, dipanggil Oma!" bisik Dirga ditelinga Fahri.


Mereka berdua kembali menghampiri Oma Syifa yang tersenyum kearah mereka.


"Ada apa, Bun? Bunda butuh sesuatu, hm?" tanya Ayah Fahri dengan lembut.


"Jangan ulangi kesalahan Bunda dimasalalu, perjuangkanlah kebahagiaan putrimu. Seperti Bunda memperjuangkan kebahagiaan Caca dulu," lirih Oma Syifa.


"Iya, Bunda! Abang bakalan perjuangkan kebahagiaan anak-anak Abang, tanpa Bunda memintanya pasti Abang akan melakukannya," tegas Ayah Fahri.


"Kalo begitu, lepaskan Dira dari Athaya! Dia tersiksa dengan batinnya, Bang! Anggaplah ini permintaan terakhir Bunda!" Oma Syifa menatap Ayah Fahri dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Dan kamu! Bersiaplah, kamu harus menjadi Imam saat shalat isya nanti!" titah Oma Syifa.


"Baik Oma," jawab Dirga.


Ayah Fahri dan Dirga sama-sama termenung, Ayah Fahri memikirkan baik-baik ucapan sang mertua. Sedangkan Dirga saat ini sangat memikirkan perasaan Indira.


"Kenapa bisa kamu yang mengantar Dira kesini?" tanya Ayah Fahri.


"Athaya sejak pagi gak bisa dihubungi, Ayah! Tadi Dira sempat menolak waktu aku ajak, tapi akhirnya dia mau karena khawatir dengan kondisi Oma," jawab Dirga.


"Yasudah, istirahatlah dulu! Pasti kamu cape menyetir, dan jangan lupa bersiap untuk sholat isya nanti," Ayah Fahri menepuk pundak Dirga.


Dirga memilih untuk bergabung bersama Indira dan Kakak-kakaknya, mereka pun mudah berbaur dengan Dirga. Dan tak terasa waktu sholat maghrib pun sudah tiba, Husain yang menjadi Imam saat sholat maghrib. Mereka melanjutkannya dengan tadarus bersama sambil menunggu sholat isya tiba.


Adzan isya berkumandang, Dirga sudah siap berdiri didepan untuk menjadi Imam. Indira kembali menitikkan airmatanya, kali ini Dirga berhasil membuatnya kembali jatuh cinta. Suaranya Dirga ketika melantunkan ayat suci alqur'an lebih bisa menenangkan hatinya.


Selesai sholat isya, mereka melanjutkannya dengan makan malam bersama. Dirga tercengang melihat panjangnya meja makan yang ada dihadapannya.


"Ga, sini duduk deket Aa," titah Alan pada Dirga.


"Eitt.... Nggak! Sini Ga, duduk deket Abang!" Husain memanggil Dirga.


"Caelah, sini Ga deket gue aja!" kekeh Alan.


"Jangan! Sini deket gue aja," Husain menarik tangan Dirga dan Alan pun sama.


"Stooooopppp!!! Itu kalo tangannya Mas Yoga jadi panjang gimana?! Emang kalian mau tanggung jawab?! Duduk sini, Mas! Deket Ayah sama Bang Mirda aja biar aman," sontak ucapan Indira membuat senyuman merekah diwajah semua orang.


"Cieeee......." kompak mereka semua.


Oma Syifa memberikan isyarat mata dan anggukkan pada Ayah Fahri dan Bunda Gisya.


"Permintaan Bunda, pasti akan kami kabulkan," batin Ayah Fahri dan Bunda Gisya sambil kedua tangan mereka berpegangan erat.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, mereka menggelar tikar diruang tengah. Mereka akan tidur bersama-sama, seperti keinginan Oma Syifa.


"Ca, usapin kening Bunda dong! Sambil sholawatan ya," pinta Oma Syifa.


"Iya Bunda," mereka semua menahan tangis ketika mendengar ucapan Oma Syifa.


Allahumma sholli `ala Sayyidina Muhammadin thibbil qulubi wa dawa-iha.. Wa `afiyatil abdani wa syifa-iha wa nuril abshori wa dhiya-iha wa `ala alihi wa shohbihi wa sallim..


Lantunan sholawat Bunda Gisya membuat mata Oma Syifa mulai terpejam sedikit demi sedikit, Ayah Fahri mendekat pada sang mertua dan membisikkan kalimat.


"Laa illaha illallah..." bisik Ayah Fahri sambil mengelus kening Oma Syifa.


"Laa.. Illaha.. Illallah....." Oma Syifa sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


"Innalillahi wa inna illahi rojiun....." Ayah Fahri mengecup kening mertuanya lalu berhambur memeluk sang istri yang sudah menangis meraung-raung.


"Omaaaaa.....!!" teriak mereka bersamaan.


"Sabar sayang, ikhlaskan Oma," Mirda mendekap erat tubuh Elmira.


"Bang yang tegar! InshaAllah Oma sudah bahagia," Alana pun mendekap erat tubuh sang suami yang kini sudah mulai melemas.


"Oma! Jangan tinggalin Dira, Oma! Dira belum bahagiain Oma," Indira terus menangis menciumi kaki Oma Syifa.


"Syafa, tenanglah! Ikhlaskan, Oma sudah bahagia. Lihatlah, wajah Oma sangat berseri dan wangi. Ikhlas ya," Dirga mengelus kepala Indira dan Indira berbalik memeluk tubuh Dirga. Dia butuh sandaran, hatinya sangat rapuh. Dia benar-benar kehilangan Oma Syifa, karena Oma Syifa memang dekat dengan semua cucunya.


"Oma.. Dirga akan menjaga cucu kesayangan Oma," batin Dirga.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2