
Febri mengajak Quera bermain bersama anak-anak yang lain. Sementara dia sibuk memperhatikan si kembar dan baby Ain yang tertidur di box bayi. Tiba-tiba Cyra muntah-muntah dipangkuannya. Febri kira Cyra hanya muntah karena kekenyangan, tapi ternyata Cyra terus muntah dan badannya sangat panas.
"Yaa Allah Cyra, kamu kenapa Nak?" panik Febri. "Umma...! Cyraa Maa!"
Semua orang berhambur menghampiri Febri yang sedang menangis memeluk bayinya.
"Ada apa Biw? Kamu kenapa nangis?" tanya Umma Nadia.
"Cyra tiba-tiba muntah gak berhenti Umma! Ebi harus gimaana?" isak Febri.
"Jangan nangis, kamu harus kuat! Kita bawa Cyra kerumah sakit sekarang. Syauqi, Syaina tolong ikut Umma kerumah sakit!" pinta Umma Nadia.
"Saya akan menemani mereka." ucap Zaydan tiba-tiba.
Zaydan segera berlari keluar untuk mengambil mobil. Syauqi duduk didepan bersamanya, sedangkan dibelakang Umma Nadia bersama Febri dan juga Syaina. Febri terus memeluk erat tubuh Cyra, dia tidak ingin kehilangan satu-satunya harta paling berharga baginya.
"Cyra harus kuat Nak. Mama hanya punya kamu sekarang." lirih Febri.
Mama Rini sedang berada di Malaysia bersama Papa dan adik-adiknya, hingga saat ini di
Bandung dia hanya bersama keluarga Gisya. Hati Zaydan sungguh sakit melihat Febri dan Cyra seperti itu.
Sesampainya dirumah sakit, Febri segera berlari menuju ke IGD. Dia terus menangis.
"Dokter tolong selamatkan putri saya dok! Tolong dokter." ucap Febri dengan isakkan.
"Ibu tenang ya Bu, dedeknya di tidurkan dulu di ranjang. Biar kami bisa memeriksa dengan baik." Ucap dokter namun Febri tidak mau melepaskan putrinya dari pelukannya.
"Ayo Biw! Boboin Cyra disini biar bisa diperiksa dokter! Kalo gitu terus gimana dokter bisa periksa Cyra!" Ucap Umma Nadia.
Setelah dipaksa, akhirnya Febri mau meletakkan Cyra diatas ranjang. Bayi itu menangis kencang disertai muntah. Dia tidak tega melihat anaknya seperti itu. Febri terus saja menangisi putri kecilnya itu.
"Uqi! Bawa Teh Ebi keluar sekarang! Kalo disini terus gimana Cyra bisa tenang! Biar dokter periksa dulu keadaan Cyra!" Pinta Umma.
"Teh udah Teh, hayu kita tunggu diluar!" Ajak Syauqi, namun Febri menolak dan akhirnya dia tidak sadarkan diri.
Dengan sigap Zaydan membaringkannya diranjang, disamping ranjang Cyra.
"Bangun Biw! Kamu harus kuat, Cyra membutuhkan kamu!" Ucap Zaydan sambil memberikan kayu putih dihidung Febri.
Gisya dan Fahri baru saja datang menyusul Febri, mereka merasa sangat bersalah. Mereka tidak memperhatikan Febri dan Cyra. Apalagi ketika melihat Febri pingsan.
"Yaa Allah Biw. Maafin aku ya Biw! Aku gak perhatiin kesehatan kamu sama Cyra. Bangun Biw, Cyra butuh kamu!" Lirih Gisya.
Tak lama kemudian dokter datang dan memberikan hasil test pemeriksaan milik Cyra.
"Sepertinya Cyra mengalami infeksi pada pencernaannya, sebaiknya dia dirawat inap untuk beberapa hari. Saya akan buatkan pengantar rawat inapnya, tolong administrasinya diselesaikan terlebih dahulu." Ucap Dokter menjelaskan.
"Baik dok, terimakasih ya." Ucap Umma. "Uqi tolong selesaikan administrasinya ya, biar Ina gantian sama Umma buat gendong Cyra."
"Iya Umma, Uqi beresin dulu administrasinya. Sekalian beli minum buat Teh Ebi, Umma mau dibeliin apa?" Tanya Syauqi.
__ADS_1
"Gak usah Qi, beliin minum aja buat Ebi. Kasian dia pasti panik dan khawatir."
Cyra terus saja menangis, Zaydan benar-benar tidak tega melihatnya.
"Umma, boleh saya coba gendong Cyra?" tanya Zaydan.
Meskipun ragu-ragu, Umma Nadia memberikan Cyra pada Zaydan dan ajaibnya bayi cantik itu berhenti menangis dan jauh lebih tenang.
"Sssttt.. Anak manis jangan nangis lagi yaa! Nanti Cyra cape Nak, nanti muntah lagi. Sekarang bobok yaa." Tutur Zaydan sambil menggendong Cyra.
Febri yang sudah mulai sadar menitikkan airmata ketika melihat Zaydan sedang menggendong Cyra. Sejak lahir, Cyra memang sangat tenang jika dipangku oleh Zaydan.
"Biw, kamu udah sadar? Alhamdulillah." Ucap Gisya memeluk Febri.
"Maaf ya, aku rusak hari bahagia kamu Ca." Lirih Febri.
"Apaan sih Biw? Justru aku yang minta maaf, aku gak perhatiin kamu sama Cyra. Sampe Cyra sakit kaya gini." Ucap Gisya.
"Aku kangen Mas Andi, Ca. Aku butuh Mas Andi, aku gak bisa ngelewatin semua ini sendirian. Aku pengen ikut Mas Andi." ucap Febri terisak.
"Istighfar Biw! Kamu harus kuat! Cyra masih membutuhkan kamu! Kita bakalan selalu ada buat kamu. Kita bakal besarin Cyra sama-sama. Kamu kuat!" ucap Gisya sambil memeluk erat Febri.
Hati Zaydan begitu teriris mendengar ucapan Febri. Sambil menggendong Cyra dia meneteskan air matanya. Fahri bisa melihat semuanya itu. Dia yakin jika sebenarnya Zaydan memang sudah jatuh hati pada Febri.
Setelah administrasi rawat inap Cyra selesai, dia dipindahkan ke ruangan rawat VIP.
"Uqi, kenapa ruang VIP?" Tanya Febri.
"Iya Teh Ebiw, yang penting Cyra sehat. Tapi maaf kita harus pulang duluan, soalnya Ina harus ke Toko katanya ada pesanan dadakan." Ucap Syauqi.
"Makasih ya Uqi, Ina. Maaf udah ngerepotin." Lirih Febri.
"Sama sekali gak ngerepotin Teh! Ina seneng bisa dampingin. Teteh harus kuat ya! Tuh de Cyra aja kuat." Ucap Syaina sambil memeluk Febri.
Kini hanya ada Gisya, Zaydan dan Febri di ruangan itu. Fahri dan Umma Nadia sedang pulang untuk membawa keperluan milik Febri dan Cyra.
"Biar gantian saya yang gendong Cyra." Ucap Febri pada Zaydan.
"Tunggu sebentar lagi, dia baru terlelap. Nanti Mas tidurkan kalo dia sudah nyenyak. Kasian dari tadi tidurnya gak nyenyak." Ucap Zaydan. Febri hanya mengangguk.
"Biw, kamu makan dulu ya! Kamu belum makan dari tadi siang." Ucap Gisya.
"Nanti aja Ca, aku gak laper." Ucap Febri sambil melihat Cyra.
Setelah dirasa Cyra tidur nyenyak, Zaydan menidurkannya diatas ranjang. Bayi kecil itu menggeliat, bahkan dia mencengkram erat kerah kemeja yang digunakan Zaydan.
"Sssttt.. Bobo nyenyak yaa. Papa disini nemenin Cyra." Bisik Zaydan.
Febri kembali menitikkan airmatanya mendengar ucapan Zaydan. Andai saja hati lelaki itu untuknya mungkin saat ini mereka akan merawat Cyra bersama-sama.
Setelah Umma Nadia datang bersama Yuliana dan Jafran, Gisya dan Fahri pamit untuk bergantian menjaga anak-anak mereka.
__ADS_1
"Biw, aku sama Abang pamit ya! Kalo ada apa-apa kabarin aku oke?" Pinta Gisya.
"Makasih ya Ca. Sekali lagi makasih banyak!" Lirih Febri.
"Lil! Ebiw belum makan, tolong ya suruh dia makan yang banyak." Pinta Gisya.
"Siap Ca! Nanti aku suruh dia makan, kalo enggak aku bakalan bikin Cyra nangis terus biar dia makin kesiksa." Kesal Yuliana.
Febri terus memegangi tangan mungil putri cantiknya itu.
"Biw! Kamu sama Zaydan makan dulu gih! Kalo gak aku gangguin nih Cyra!" Ucap Jafran.
"Gak usah nolak! Kasian Mas Zaydan juga belum makan, anggap aja sebagai rasa terimakasih kamu sama dia!" tambah Yuliana.
Akhirnya Febri dan Zaydan makan bersama-sama dikantin. Mereka tidak berselera makan sama sekali. Tidak ada pembicaraan diantara keduanya, Febri sibuk mengaduk-aduk makanan yang ada dihadapannya.
"Makan yang benar, kamu harus kuat demi Cyra! Buka mulutmu." ucap Zaydan sambil menyodorkan makanan ke mulut Febri.
"Saya gak laper." Jawab Febri tanpa melihat Zaydan.
"Sampe kapan kamu mau keras kepala seperti ini? Ingat kalo kamu ikut sakit, bagaimana dengan Cyra? Kasihan dia masih butuh kamu." Ucap Zaydan.
"Terimakasih sudah peduli, tapi kami tidak butuh dikasihani!" ucap Febri.
Zaydan langsung memeluk erat tubuh Febri, meskipun Febri terus meronta.
"Lepas! Lepasin aku Zaydan! Aku gak butuh dikasihani." Isak Febri.
"Maaf, maafin Mas. Untuk sekarang, biarkan Mas ada disamping kalian. Mas sangat menyayangi Cyra dan juga kamu bukan atas dasar kasihan." ucap Zaydan sambil mengelus kepala Febri dan memeluknya.
"Lepas! Kamu pembohong, kamu sama sekali tidak menyayangi kami. Tolong jangan berikan harapan itu, aku gak sekuat yang kamu kira. Jika bukan karena Cyra, aku akan memilih untuk pergi bersama Mas Andi." isak Febri memukul-mukul Zaydan.
"Demi Allah, Mas gak bohong! Dulu Mas memang tertarik pada Ana. Setelah Mas pikirkan, itu hanya rasa kagum karena dia mau merawat kamu. Mas sadar, hati ini untuk kamu dan Cyra. Tolong ijinkan Mas menjaga kalian." Ucap Zaydan.
"Aku rapuh Mas, aku takut kehilangan Cyra." Lirih Febri.
"Mas akan selalu ada disamping kalian, apapun keadaanya. Kita akan melewati semuanya bersama-sama." Ucap Zaydan meyakinkan Febri.
Zaydan dan Febri kembali ke ruang rawat inap Cyra, ternyata bayi itu menangis. Zaydan mengambil alih Cyra dari gendongan Jafran. Cyra langsung tenang ketika Zaydan yang menggendongnya. Febri sungguh merasakan sakit dalam hatinya.
"Peluklah dia selagi kamu bisa, Nak. Karena nanti kita hanya akan hidup berdua, kita akan mulai hidup baru." batin Febri.
* * * * *
Maaf baru Up 🙏
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author❤