
Pagi hari ini terasa sangat special, untuk pertamakalinya Gisya akan ikut memeriahkan Hari Ulang Tahun Persit. Rencananya hari ini, Gisya bersama anggota Persit Kompi C akan mengikuti perlombaan masak berbahan dasar singkong. Gisya sangat bersemangat, meskipun kondisinya sedang hamil besar tapi tidak menyurutkan semangatnya.
"Bunda udah siap? Jangan kecapean ya, Bun. Kasian dedeknya kalo Bunda kecapean." ucap Fahri sambil mengelus perut istrinya itu.
"Iya Ayah, Bunda gak akan kecapean! Bunda udah gak sabar pengen ikut lomba itu." antusias Gisya.
"Duh, dedek ikut seneng ya Nak!" heboh Fahri saat merasakan bayinya menendang.
Sesampainya di Aula, Gisya disambut hangat oleh ibu-ibu Persit yang lain.
"MashaAllah Bu Fahri, apa kabar? Udah lama kita ga ketemu, kangen." ucap Andina.
"Iyaa Bu Dzikri, aku juga kangen sama suasana Rumah Dinas. Aku baik, Bu Dzikri gimana? Rian kok gak keliatan?" tanya Gisya.
"Dia ngambek, mau ikut Papanya aja. Soalnya Mamanya mau punya dedek bayi lagi." ucap Fatimah yang baru saja datang.
"MashaAllah, Rian mau punya adik? Selamat ya Mbak Dina." ucap Febri memeluk Andina.
"Makasih ya Ca. Saling mendo'akan ya." ucap Andina.
Acara sudah dimulai, Bu Danyon memberikan sambutan untuk membuka Acara.
"Selamat Pagi untuk seluruh Anggota Persit yang hadir disini. Acara ini diadakan untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun Persit Kartika Chandra Kirana. Selain itu, semua ini bertujuan untuk memunculkan kreativitas ibu-ibu Persit serta untuk menjalin erat tali silaturahmi antara seluruh Anggota Persit. Tunjukanlah bawa seorang istri prajurit memiliki kreativitas yang tinggi. Selamat mengikuti lomba." Sambut Ibu Danyon.
Gisya bekerjasama dengan tim nya untuk membuat kreasi berbahan dasar singkong.
"Ijin Bu Fahri, kita akan membuat apa?" tanya Bu Dadang.
"Kita akan buat Rainbow Cake Singkong aja Bu Dadang. Boleh minta diserutkan singkongnya?" ucap Gisya.
"Siap Bu, biar Bu Indra yang memarut kelapa. Bu Fahri siapkan saja bahan yang lain, jangan terlalu lelah ya Bu." ucap Bu Dadang.
"Terimakasih banyak ya Bu Dadang." ucap Gisya tersenyum.
Mereka bekerjasama dengan baik, Gisya sedang menyiapkan bahan-bahan yang lain. Dia mulai mengocok telur dan menambahkan bahan-bahan yang lain. Mereka kagum melihat Gisya yang sangat bersemangat mengikuti lomba, meskipun dengan perut yang besar.
"Bu Indra tolong dipanaskan kukusannya." ucap Gisya tersenyum ramah.
"Baik Bu Fahri, ini loyangnya sudah saya beri margarin Bu." tutur Indri.
"Terimakasih Bu Indri."
Gisya membagi adonannya menjadi 5 bagian, lalu dia memasukkan adonan sedikit demi sedikit kedalam loyang. Setelah itu, Bu Dadang memasukkannya kedalam kukusan.
"Wah ini pasti rasanya enak Bu Fahri." antusias Bu Dadang.
"Mudah-mudahan hasilnya memuaskan ya,Bu." ucap Gisya.
"Kami percaya pada kemampuan Bu Fahri. InshaAllah, kami tidak mengutamakan kemenangan. Tapi kekompakan kita bersama Bu." ucap Indri.
"Iya Bu Indra, ini buatan kita semua. Bukan buatan saya." ucap Gisya.
__ADS_1
Setelah matang, Gisya menatanya dalam piring berbentuk Oval. Dia mulai menghiasnya satu persatu. Gisya menaburkan keju dan chocochips diatasnya. Sambil menunggu hasil kreasi masakan yang lain, Gisya membuatkan bubur singkong sederhana untuk camilan mereka. Karena masih ada singkong yang tersisa.
"Bu Fahri bikin apa lagi?" tanya Bu Dadang.
"Ini cuman bubur singkong, Bu. Lumayan buat cemilan kita nanti." bisik Gisya.
"Siap Bu! Terimakasih banyak." bisik Bu Dadang.
Waktu penilaian sudah tiba, Gisya meletakkan hasil karya mereka diatas meja juri. Dan yang menjadi jurinya adalah Komandan Batalyon, Ibu Ketua Persit, dan Seksi Kebudayaan Persit. Mereka sangat tegang ketika melihat ekspresi juri dalam mencoba hasil karya mereka. Setelah mencicipi semuanya, kini tibalah penilaian untuk hasil kerativitas mereka.
Komandan Batalyon yang akan menyampaikan hasil penilaian juri.
"Saya merasa senang ketika melihat antusiasme ibu-ibu Persit dalam melaksanakan perlombaan ini. Saya akui, kreativitas ibu-ibu Persit ini patut di acungi jempol. Rasa makanannya beragam, dan itu cukup membuktikan jika ibu-ibu Persit ini sangat kreatif. Untuk itu saya akan mengumumkan pemenangnya. Dan bagi yang belum beruntung, jangan pernah berkecil hati. Teruslah berusaha agar lebih baik lagi." ucap Komandan.
"Juara Pertama dimenangkan oleh grup Pleton I Kompi A yaitu Cassava Cordon Blue Mozarella, Juara Kedua dimenangkan oleh grup Pleton II Kompi C yaitu Rainbow Cake Singkong dan Juara Ketiga dimenangkan oleh grup Pleton I Kompi B yaitu Sate Bola Pelangi Coklat. Selamat kepada para Juara."
Gisya dan timnya sangat mensyukuri kemenangan yang mereka dapatkan. Fahri yang mendengar berita itu tersenyum bahagia ketika melihat istrinya bisa memenangkan lomba dalam memperingati Hari Ulang Tahun Persit Kartika Chandra Kirana.
"Istri Abang hebat, selalu bersyukur atas apa yang diterimanya." ucap Fahri mencium pipi Gisya didepan anggotanya.
"Siap! Mohon maaf Bang, nyosornya jangan disini dong. Kan masih banyak bujangan ini, kalo mereka kebelet kawin kan bahaya." ucap Indra.
"Hahahaha, kawin kawin! Nikah Indra! Makanya kalian harus lebih semangat lagi berjuang, biar cepet pengajuan." tutur Fahri.
"Ish Abang! Ayoo pulang, Adek pengen ketemu Cyra." ucap Gisya.
Setelah berpamitan, Fahri menuntun Gisya untuk masuk kedalam mobilnya. Namun belum Gisya masuk kedalam mobil, mereka dihadang oleh Bella.
"Astaghfirulloh, Mbak Bella mau apalagi?!" tanya Gisya yang ketakutan.
"Jangan khawatir Fahri, aku kesini hanya untuk meminta maaf pada istrimu. Maafkan aku Gisya, atas segala sikapku terhadapmu." lirih Bella.
Gisya dan Fahri saling berpandangan. Mereka bingung, antara harus percaya atau tidak. Karena ucapan Bella selama ini hanya omong kosong.
"Aku tau kalian tidak akan mempercayaiku lagi, tapi aku mohon maafkan kesalahanku. Maafkan semua peebuatan jahatku pada kalian." ucap Bella terisak.
"Mbak Bella, kami sudah memaafkan Mbak. Hiduplah dengan baik, kasian Aurora masih membutuhkan Mbak Bella disisinya." ucap Gisya.
"Terimakasih Gisya, terimakasih Fahri. Kini aku dan Aurora bisa pergi dengan tenang. Kami akan mulai kehidupan kami yang baru." ucap Bella sambil tersenyum.
Ada rasa heran dan khawatir dihati Gisya, ketika melihat senyuman Bella.
Sepanjang perjalanan, Gisya hanya melamun. Fahri sangat khawatir terhadap istrinya itu.
"Bunda masih mikirin Bella? Hm." tanya Fahri dengan lembut.
"Sedikit Bang. Kasian Mbak Bella, dia sebenarnya orang baik. Hanya saja, dia terlalu kurang kasih sayang. Kata Bu Dadang, Mbak Bella itu seperti dibuang oleh keluarganya. Jadi dia merasa iri sama Adek Bang." ucap Gisya sambil menghela nafasnya.
"Yaudah kita do'ain aja yang terbaik buat Bella sama Kemal." ucap Fahri.
"Awww! Awww! Aww!! Bang mules!" lirih Gisya yang membuat Fahri panik.
__ADS_1
"Kenapa sayang? Apa jagoan udah mau lahir?" tanya Fahri.
"Gatau Bang, tadi mules nya ilang-ilangan. Sekarang mulesnya semakin sering." lirih Gisya.
Dengan sigap Fahri membawa istrinya itu kerumah sakit, sambil terus berdo'a demi keselamatan istri dan bayinya. Sedangkan Gisya terus berdzikir untuk menenangkan dirinya. Sesampainya disana Gisya segera dibawa keruang bersalin, setelah diperiksa bahwa dia sudah pembukaan 6. Fahri segera menghubungi Bundanya.
In Call
"Assalamu'alaikum Bunda, istri Abang mau melahirkan Bun. Tolong kesini ya, Bun. Kami membutuhkan Bunda." ucap Fahri.
"Walaikumsalam! Alhamdulillah anak Bunda mau lahiran. Bunda on the way kesana Bang!" antusias Bunda Syifa.
End Call
Belum Fahri berbicara, Bunda sudah mematikan telponnya. Padahal dia ingin meminta tolong untuk membawakan keperluan Gisya dan bayinya.
"Huff! Untung mertua kesayangan." gerutu Fahri.
Lalu Fahri menghubungi Jafran, memintanya untuk membawakan keperluan Gisya dan bayinya. Namun, Jafran tidak mengangkat telponnya. Fahri memutuskan untuk mengirim pesan kepada sahabatnya itu.
✉️ to Baba Merpati
Ba! Tolong bawain 2 tas Gisya yang ada dikamar, istriku mau melahirkan. Aku tunggu sekarang! Terimakasih Ba!
Sementara Jafran sedang berkutat dengan mainan, karena kedua putri cantiknya itu menangis bersamaan. Kekesalan Jafran bertambah ketika mendengar suara ponselnya terus berdering. Yuliana sedang memandikan anak laki-lakinya.
"Babaaaa! Telponnya diangkat! Anak-anak tuh kaget denger duara Hp!" teriak Yuliana.
"Ish! Istri durjanah kamu Mi. Udah tau nih anak-anak haus abis ibak." gerutu Jafran.
Anak-anak mulai tenang ketika Umma Nadia datang, dan Jafran bisa bernafas lega. Dia mulai membaca pesan dari Fahri.
"MashaAllah Umamiiiiii! Chacha mini's mau launching!" antusias Jafran.
"Heh! Mau durhaka kamu sama Umma! Apaan itu Umami!" kesal Umma.
"Ih Umma gak gaul, itu singkatan dari Umma sama Ummi! Udahh ah Aa mau ke rumah sakit dulu nganterin baju-baju si Caca." ucap Jafran berlalu pergi.
"Babaaaaa!!" teriak Yuliana kesal.
"Apaa Ummi! Baba harus kesana nganterin baju Caca. Kasian anak-anak kalo Ummi ikut, masa Umma sendirian dirumah. Nanti aja setelah Mami Lia atau Mama Rini datang, Ummi nyusul kesana." ucap Jafran.
"Yaa Allah gini amat ya suami saya. Mana baju buat Caca?! Main nyelonong aja! Makanya jadi orang jangan panikan! Tuh bawa tas gede disamping lemari dikamar Caca." kesal Yuliana pada suaminya itu.
Jafran menepuk jidatnya, kebiasaannya saat panik ya seperti itu.
* * * * *
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤