Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Bibit Syaiton


__ADS_3

Setiap minggu pagi, Elmira akan pergi ke pasar minggu bersama-sama dengan Betrysda dan juga Sonia. Kebetulan mereka sama-sama memiliki seorang anak seusia Sweta. Hanya saja anak Betrysda dan juga Sonia itu laki-laki. Mereka berjalan kaki menuju pasar, sambil menuntun anak-anak mereka yang tengah antusias berjalan. Diusia Sweta yang menginjak 2 tahun, dia baru lancar berjalan dan membuatnya sangat aktif ketika diajak jalan-jalan.


Sebelum berbelanja, mereka lebih memilih mengajak anak-anak untuk bermain.


"El, bukannya itu suamimu?" Betrysda menunjuk Mirda yang tengah lari pagi.


"Hmm, sepertinya iya! Tapi, itu juga Bang Jeki kan?" tanya Elmira.


"Hohoho, lihat para laki-laki itu! Ck, menyebalkan sekali! Kenapa harus joging kesini coba? Apa mereka gak sadar dengan tatapan harimau-harimau lapar itu!" ketus Sonia menunjuk para ibu-ibu yang tengah memandang kearah suami mereka.


"Ppffttt," Elmira dan Betrysda menahan tawanya ketika mendengar ucapan Sonia.


Namun rasa ingin tertawa itu, berganti dengan emosi yang membuncah ketika melihat psra laki-laki itu dengan terang-terangan hanya berdiam diri ketika diajak berkenalan.


"Dasar buaya rawa kau, Jeki! Sa jadikan kau perkedil baru tau rasa kau," geram Betrysda.


"Rupa-rupanya bibit-bibit syaitonirojim ini mesti dimusnahkan!" kesal Sonia.


"Ssstttt! Tahan emosi kalian, lihat saja apa yang bisa kita lakukan," ucap Elmira sambil tersenyum jahat.


Elmira menyuruh anak-anak menghampiri para laki-laki yang tengah tebar pesona itu, sebenarnya Mirda hanya diam. Tapi tetap saja hal itu membuat Elmira kesal.


"Babaaaa," teriak Sweta sambil berlari kearah sang Baba.


"Loh! Anak sampeyan itu, Bang!" tunjuk Agam pada Sweta.


"Astaga, itu dibelakangnya anak beta! Sedang apa mereka disini sendirian," panik Jeki.


"Yaa ampun, cah lanang cah lanang! Anakku," ucap Agam sambil membawa putranya.


Para perempuan itu mulai berbisik, ketika mereka membawa anak-anak mereka.


"Wah cantik banget Bang anaknya, mau dong dijadiin ibunya," goda wanita itu pada Mirda.


"Iyanih, Abang-abang! Ganteng banget anaknya, salah milih istri tuh! Masa anak-anaknya keluyuran sendirian begitu," salah satu wanita itu dengan tak tau malunya bergelayut manja pada lengan Jeki dan juga Agam.


"Ekheeemmm!" Betrysda berdehem, membuat Jeki dan juga Agam salah tingkah.


Perlahan mereka semua berbalik menoleh ke belakang, Jeki dan Agam terkejut. Sedangkan Mirda hanya tersenyum, ketika melihat sang istri tengah menatapnya kesal.


"Yakin kau mau jadi ibu dari anak sa?" tanya Betrysda sambil memegang sebuah tali.


"Dan maneh, apakah merasa bisa jadi istri anu tepat kitu?" kesal Sonia sambil berjalan kearah sang suami dan perempuan tak tau malu itu.


"Sayang, Mas tresno karo kowe! Iki lho, mereka yang ganjen, Mas cuma diem," gugup Agam.


"Hmm, kalian ini masih muda lho! Sayang banget, sukanya sama suami orang. Emang beda ya, kalo barang murah sama barang mahal," ketus Elmira.


Kelima perempuan itu menatap Elmira dengan wajah kesal, mereka sudah ingin membuka mulutnya. Tapi ucapan Betrysda membuat mereka memilih untuk pergi.


"Memangnya kalian mau? Mereka itu kudas, kurap, kutu air! Belum lagi mereka itu doyan serabi, sehari bisa sampai 50 kali. Apa kalian sanggup toh harus hidup bersama mereka itu? Jang hanya melihat dari tampangnya saja, tak semua Tentara itu ganteng dan mulus! Jadi mau pilih yang mana toh? Sa tunggu!" ucap Betrysda.


Para perempuan itu lebih memilih meninggalkan mereka semua, setelah itu Mirda tertawa terbahak-bahak. Apalagi ketika melihat kedua temannya itu memberengut kesal.

__ADS_1


"Opo! Sampeyan iki ketawa puas banget," kesal Agam.


"Sayang! Sejak kapan beta kudas kurap kutu air?! Beta ini mulus, walaupun beta hitam," ucap Jeki membuat Elmira dan Mirda tertawa.


"Kamu jangan ketawa, Bang! Kamu harus dspet hukuman," ucap Elmira membuat Mirda berhenti tertawa dan menatap sang istri.


"Salah Abang dimana? Kan Abang gak ngapa-ngapain," sanggah Mirda.


"Salah Abang itu karena gak ngapa-ngapain! Coba kalo Abang pergi, itu bibit-bibit syaiton gak akan kegatelan kaya ulet bulu!" kesal Elmira membuat Agam dan Jeki tertawa.


Mirda menatap kedua temannya dengan kesal, sedangkan Agam dan Jeki sudah terdiam dan menelan ludah ketika melihat ekspresi wajah Mirda.


"Sekarang kalian jaga anak-anak! Sa dengan El dan Sonia akan berbelanja," ucap Betrysda.


"Awas aja ya, Mas! Kalo sampe ada yang godain kamu diem aja, puasa kamu setahun!" kesal Sonia membuat Agam melotot.


"Kalo puasa tak makan minum, Mas sanggup. Kalo puasa yang lain, janganlah sayang! Bisa karatan, kowe iku suka nyeremin kalo ngancem," rengek Agam.


"Titah saha atuh maneh teh kasep!" kesal Sonia membuat Elmira tertawa.


"Wes iki wajahku udah sejak lahir begini toh, Vino G bastian saja kalah karo Mas," bangga Agam karena memang wajahnya cukup tampan.


Sonia membelalakan matanya kesal, dia menarik lengan Betrysd dan pergi.


"Lila-lila darah tinggi, gustiiiiiii!" ucap Sonia frustasi.


"Sabar toh, memang wajah kau punya suami itu ganteng," celetuk Betrysda.


"Tunggu! Kalian malah ninggalin," teriak Elmira membuat mereka menoleh.


"Sweta sama Abang, belanja yang banyak ya!" ucap Mirda sambil memberikan dompet miliknya pada sang istri, dan mengecup pucuk kepalanya.


"Nah gini dong, makasih Abang!" sahut Elmira sambil memeluk Mirda.


Karena melihat Mirda, Sonia dan Betrysda kembali menuju suaminya.


"Mana dompet kau?" Betrysda meminta sambil berkacak pinggang.


"Beta tak bawa dompet sayang, beta hanya bawa uang dibalik HP," ucap Jeki memberikan ponselnya dan Betrysda melotot kesal.


"20ribu?!" Betrysda berucap tak percaya melihat pada suaminya.


"Beta mau lari pagi, bukan mau shoping sayang! Lagian Mirda selalu traktir beta sarapan pagi, jadi untuk apa beta bawa uang banyak-banyak," lesu Jeki.


"Kau ini tak tau malu! Besok-besok, kau yang harus traktir Om Mirda! Jang seperti itu," ucap Betrysda dan Jeki mengangguk patuh.


Akhirnya Elmira, Sonia dan Betrysda berbelanja tanpa membawa anak-anak. Karena para suami tengah membawa anak-anak bermain kereta api tak jauh dari pasar minggu.


"Wah wah wah, enak banget ya! Bisa jalan-jalan tanpa kerepotan," celetuk seorang wanita.


"Pagi, Bu Doni, belanja juga Bu?" tanya Elmira dengan ramah.


"Ck, gak usah so akrab! Dasar perempuan sok alim," ketus wanita itu.

__ADS_1


"Heh moncong putih! Jaga kau punya mulut, kau yang sok alim itu!" kesal Betrysda.


"Begini nih yang namanya bibit-bibit syaitonirojim! Mesti disembur pake air do'a," geram Sonia akan menjambak rambut wanita itu.


Belum Sonia mengenai kepalanya, Elmira mencegahnya. Sambil tersenyum dia memutari perempuan bernama Cantika itu.


"Hmmm, nona Cantika seorang istri dari prajurit yang berpangkat Serda bernama Doni. Lahir di Bandung, usia 24 tahun. Waahh, lebih muda dari saya ternyata. Saya heran, kenapa bisa ya Serda Doni menikahi kamu? Ah ya ampun! Aku lupa, kan demi mencari perhatian suamiku! Sayangnya tak sedikitpun dia menoleh," ucap Elmira membuat Cantika geram.


"Jaga mulutmu! Kamu ini dinikahi Mirda hanya karena kamu anak seorang Jenderal! Jangan dikira karena hal itu kamu jadi besar kepala," Cantika tersenyum jahat menatap Elmira.


Elmira semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Cantika.


"Kita buktikan, seberapa besar cinta suamiku untukku," bisik Elmira.


"Akan aku buat hidupmu seperti di neraka!" bisik Cantika yang tak ingin kalah.


"Suamiku menginginkan hidup dengan Bidadari Surga, bukan dengan antek-antek dari neraka," ucap Elmira membuat Cantika kesal dan akan melayangkan tamparan.


"Mirda itu seharusnya menjadi milikku!" teriak Cantika dan melayangkan tangannya.


Dengan sigap Elmira menahan tangan Cantika, dan berbisik.


"Tanganmu bahkan terlalu kotor untuk menyentuhku, lihatlah! Siapa yang akan memiliki hidup bagai dineraka," Elmira berbisik sambil menunjuk seseorang dengan ujung matanya.


"Ba-bang Doni," gugup Cantika ketika melihat sang suami berada disana.


"Pulang!" suara bariton itu membuat Cantika menundukkan kepalanya.


"Bye bibit syaiton! Selamat kembali ke habitatmu," bisik Elmira lalu meninggalkan Cantika yang masih menunduk.


Betrysda dan Sonia tersenyum bangga, bahkan hingga bertepuk tangan.


"Wah, hebat pisan euy kamu, El!" Sonia sangat antusias.


"Sa bangga padamu! Memang jadi wanita itu tak boleh lemah, apalagi jika para bibit-bibit ulet keket itu mendekati kita punya suami," ucap Betrysda.


"Aku hanya melakukan hal yang seharusnya aku lakukan, lagian kita harus percaya pada suami. Kalo sama negara aja mereka setia, apalagi sama keluarga," ucap Elmira membuat seseorang yang tak jauh dari sana tersenyum.


Mirda sangat bangga pada sang istri, tadinya dia akan menyusul karena Sweta sudah tertidur dipangkuannya. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Elmira tengah berbicara dengan Cantika. Dengan segera dia menghubungi Doni, agar tak terjadi kesalahpahaman lagi diantara mereka.


"Istriku memang hebat," bangga Mirda.


* * * * *


Maaf yaa baru UP 🥲🥲🥲


othor sedang tumbeng, hehehe....


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2