Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 65. Kelahiran Baby H


__ADS_3

Cuaca di Bandung cukup cerah, Gisya masih menikmati gelombang cinta dari bayinya. Gisya terus berjalan-jalan ditemani oleh suaminya dan Bundanya. Dia terus melantunkan dzikir untuk meredakan rasa sakitnya. Fahri selalu setia mendampinginya.


"Bunda mau minum? Ayah bikinin teh manis anget ya buat Bunda. Biar Bunda ada tenaga nanti buat berjuang sama jagoan." ucap Fahri.


"Makasih Ayah. Maaf ya Bunda ngerepotin Ayah." ucap Gisya sambil meringis.


"Gak ngerepotin sayang, sebentar ya."


Bunda Syifa sangat bahagia melihat menantunya itu sangat perhatian dan menyayangi putrinya. Kegugupannya kini hilang, ketika melihat putri dan menantunya begitu tenang dalam menghadapi proses persalinan.


"Tarik nafas, buang pelan-pelan. Biar sakitnya berkurang, InshaAllah semuanya akan dilancarkan oleh Allah ya, Nak." ucap Bunda Syifa sambil mengelus perut putrinya.


"Terimakasih ya Bunda sudah mendapingi Caca disini." ucap Gisya.


Fahri sebenarnya sangat gugup dan gelisah menghadapi persalinan istrinya, dia berkaca dari kejadian Jafran dan Yuliana ketika kelahiran si kembar. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya. Fahri tertunduk lesu diujung lorong, dia berniat kembali ketika sudah selesai membuatkan teh manis. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara tangisan keluarga yang istrinya meninggal pada saat melahirkan.


Fahri terus menghembuskan nafasnya kasar, sungguh dia tidak tega melihat istrinya meringis kesakitan. Jafran baru saja datang, dia membawa peralatan milik Gisya dan bayinya. Jafran melihat Fahri yang tertunduk lesu, dia menghampirinya.


"Si Ayah ngapain disini? Bukannya nemenin si Bunda!" ucap Jafran mengagetkan Fahri.


"Allohuakbar Baba! Aduh berapa kali ini jantung mau copot." kesal Fahri.


"Kan baru mau, belom copot!" ucap Jafran mencoba menghibur Fahri.


Jafran ikut terduduk dilorong itu sambil memangku dua tas besar.


"Aku yakin si Caca bisa melahirkan Chacha mini's dengan selamat. Mereka adalah perempuan terkuat yang pernah aku kenal. Sejak kecil kami tumbuh bersama-sama, mereka akan saling menguatkan. Dan kita sebagai suami harus lebih kuat dari mereka. Apalagi kamu, anggaplah kamu juga mau perang." ucap Jafran.


"Makasih ya Ba! Terimakasih sudah menguatkan kami." ucap Fahri memeluk Jafran.


Yuliana segera menghubungi Febri, dan memberitahu jika Gisya akan melahirkan.


✉️ to Udang Cilik


Biw, Caca udah di Rumah Sakit. Dia mau lahiran, kalo bisa kamu pulang sekarang. Aku tunggu ya, hati-hati dijalan.


Di Jogjakarta, Febri sedang mengurusi Ruko yang akan dia tempati bersama putrinya. Setelah mendapatkan pesan dari Yuliana, dia bergegas menuju Bandara untuk pulang ke Bandung. Sepanjang perjalanan, Febri terus melafalkan do'a untuk Gisya. Dia berharap jika Gisya akan melahirkan dengan selamat.


Setelah diperiksa, pembukaan Gisya hanya naik satu bukaan. Masih ada tiga bukaan lagi hingga Gisya bisa melahirkan normal.


"Pembukaan Ibu Gisya baru pembukaan 7, kita tunggu sampai 2 jam kedepan. Jika tidak naik, maka akan kami coba dengan memasukkan obat perangsang agar bayinya bisa cepat dilahirkan. Atau Ibu Gisya mau melakukan Operasi Sesar?" tanya Dokter.


"Tidak dokter, saya mau melahirkan normal. InshaAllah saya bisa melahirkan normal." ucap Gisya dengan penuh keyakinan.


Yuliana pergi ke Rumah Sakit setelah Mami Lia dan Papi Yuda datang. Sementara dia bersama mertuanya ke Rumah Sakit untuk mendampingi Bunda Syifa dan Gisya. Mereka terheran ketika melihat Fahri dan Jafran sedang berpelukan.

__ADS_1


"MashaAllah si Baba sama si Ayah malah pelukan kayak teletubies! Itu si Caca kenapa ga didampingin!" ucap Yuliana.


"Yaa Allah teh manis Ba! Istriku minta teh manis anget tadi!" ucap Fahri lalu berlari menuju ruangan istrinya.


Gisya dan Bunda Syifa tersentak kaget karena Fahri datang sambil berlari dan membukakan pintu dengan keras.


"Astaghfirulloh! Menantu durjanah kamu Bang! Jantungan Bunda ini." ucap Bunda Syifa sambil memegang dadanya. Umma Nadia langsung menghampiri Bunda Syifa.


"Umma sama Bunda ke kantin dulu, kalian temenin Gisya!" pinta Umma Nadia.


"Maafin Abang ya Bunda. Abang refleks tadi." sesal Fahri.


"Bunda, maafin Caca yaa. Maafin kesalahan Caca, do'ain Caca ya Bun." pinta Gisya.


"Bunda selalu do'ain kamu sayang, InshaAllah semuanya baik-baik aja." ucap Bunda.


Fahri melihat Gisya yang sedang meringis menahan sakit, dia terus mengelus dan mengecup kening Gisya. Seolah memberikan kekuatan untuk istrinya.


"Semangat sayangku, sebentar lagi kita ketemu jagoan." ucap Fahri.


"Jagoan, jagoan. Emang segitu yakinnya kamu Bang? Kenapa waktu USG gak ditanyain aja sih jenis kelaminnya apa." ucap Yuliana.


"Gak ah biar kejutan! Lagian Abang yakin kok jagoan yang akan lahir." ucap Fahri yakin.


"Ayah, Bunda udah pengen ngeden ini!" ucap Gisya yang membuat mereka panik.


"Panggilin dokter Ulet Pucuuukkk!" teriak Gisya.


Yuliana dengan sigap memanggil dokter, saat di cek ternyata pembukaannya sudah lengkap. Gisya diminta untuk terus melakukan teknik pernafasan. Sedangkan Fahri memberi kekuatan diatas kepala Gisya.


"Ayah sakiit yaahhh!" Lirih Gisya.


"Bunda pasti kuat! Ayo sebentar lagi jagoan kita lahir. Bunda boleh pegangan, boleh jambak, boleh cakar ayah kalo kesakitan." ucap Fahri sambil terisak.


"Ayo Bunda ngeden sekali lagi yaa, dedek bayi kepalanya udah keliatan. Ayo Bunda ngeden, ikutin hitungan saya ya. Satu, Dua, Tiga! Ngeden Bu" pinta dokter.


Gisya mengerahkan seluruh tenaganya, dia sampai menjambak rambut dan memegang erat tangan Fahri. Saat suara tangisan bayi terdengar, keduanya menangis dengan penuh haru. Fahri terus menciumi setiap inci wajah istrinya.


"Terimakasih sayangku, istriku, bidadari surgaku. Terimakasih sudah berjuang demi anak kita. Aku sangat mencintaimu, istriku." bisik Fahri.


"Selamat ya Pak, Bu. Bayinya berjenis kelamin laki-laki, beratnya 3.2kg dan panjang 55cm. Sehat dan sempurna juga tampan seperti Ayahnya." ucap Dokter.


"Alhamdulillah, terimakasih dokter." ucap Fahri.


Fahri segera mengikuti suster untuk melihat bayinya dan mengadzaninya.

__ADS_1


"Bun, Ayah liat dedek dulu yaa. Mau Ayah adzani dulu." ucap Fahri.


"Iya sayang." jawab Gisya yang sudah lemas.


Gisya hanya meringis ketika dokter dan suster sedang membersihkan rahimnya. Tapi dia bersyukur sudah bisa melahirkan putranya dengan selamat.


Diruang bayi, Fahri sedang menggendong putra kecilnya. Tangannya begitu mungil, bayi itu menggeliat dalam gendongan Fahri.


"Selamat datang ke dunia jagoan Ayah. Semoga kamu jadi anak yang soleh, dan berbakti terhadap orangtua, Agama, Bangsa dan Negara. Kamu yang akan menjadi pelindung dan penjaga Bunda dan Saudara-saudaramu ketika Ayah tidak ada disamping kalian. Terimakasih sudah lahir dengan sehat." bisik Fahri pada bayi kecil itu.


"Pak, kondisi bayinya sehat dan baik-baik saja. Jika Ibunya sudah dipindahkan ke ruang perawatan, maka bayinya bisa dirawat gabung bersama ibunya." ucap Suster.


"Terimakasih banyak suster." jawab Fahri.


Dikantin, Bunda Syifa masih terus memegangi dadanya yang terasa sakit. Syauqi yang baru mendapat kabar jika kakaknya akan melahirkan, dia segera ke Rumah Sakit. Tapi dia melihat Bunda dan Umma kearah kantin, hingga dia mengikuti kedua wanita paruh baya itu. Karena Syauqi tidak mengetahui ruangan Gisya.


"Sudah mendingan belum? Pasti kamu lupa minum obat jantungnya." ucap Umma Nadia.


"Iya  aku tadi panik pas tau Caca mau lahiran, sampe lupa minum obat. Makasih banyak ya, Nad. Kamu selalu mendampingi aku." lirih Bunda Syifa.


"Kamu akan baik-baik aja selama rutin minum obat jantung itu, tapi jika kondisi kamu tidak ada perubahan maka aku akan bilang pada Syauqi dan Gisya." ucap Umma.


"Apaa?!! Jadi Bunda sakit Jantung?!" ucap Syauqi mengagetkan keduanya.


Syauqi berhambur memeluk Bunda Syifa.


"Kenapa Bunda gak bilang sama Uqi?!" isak Syauqi dalam pelukan Bundanya.


"Sstt! Jangan nangis, Bunda baik-baik aja. Jangan bilang sama Teteh kamu ya! Bunda mohon sama Uqi." pinta Bunda Syifa.


"Uqi gak akan bilang, asalkan Bunda mau nurut sama Uqi." ucap Syauqi.


Bunda Syifa hanya menganggukkan kepalanya.


"Ayo kita keruangan Caca! Ulil udah ngirim pesan, katanya anaknya udah lahir. Jagoan loh bener Ifa! Jadi si Maul ada temennya." antusias Umma Nadia.


"Alhamdulillah!" ucap Bunda dan Syauqi bersamaan.


Merekapun segera menuju ruang rawat Gisya dan putranya.


* * * * *


Sukak gak ceritanya?


Maaf ya ngebosenin!

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author❤


__ADS_2