Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 87. Meminta Restu


__ADS_3

Tujuan pertama mereka adalah Magelang. Sesampainya disana, mereka langsung menuju ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Tempat peristirahatan terakhir Andi, dan ternyata Zaydan sudah menunggu kedatangan mereka disana. Cyra yang melihat kehadiran Papanya disana langsung berhambur memeluknya.


"Papaaaa....!" teriak Cyra berlari kearah Zaydan.


"Jangan lari-lari sayang, nanti Cyra jatuh!" ucap Zaydan sambil menangkap putrinya itu.


"Mas udah lama?" tanya Febri menghampiri calon suaminya itu.


"Lumayan, Mas udah habisin dua porsi nasi pecel, hehehe." ucap Zaydan.


Mereka duduk mengelilingi pusara Andi, membacakan surat yasin disana. Masih terlintas dibenak Gisya, hari dimana Andi dikebumikan disini. Dia menatap Febri yang masih berdo'a menatap pusara almarhum suaminya itu. Lalu Gisya beralih menatap Cyra yang duduk dipangkuan Zaydan.


"Mas Andi, semoga kamu juga bahagia disana. Istri dan putrimu juga akan bahagia dengan Mas Zaydan. Biarlah kamu menjadi kenangan yang terindah untuk kami, dan menjadi sahabat selamanya bagi kami." ucap Gisya dalam hatinya.


Karena anak-anak sudah mulai tidak betah, Yuliana dan Gisya membawa mereka untuk masuk kedalam mobil. Sepertinya anak-anak mulai lelah dan mengantuk.


"Biw, Mas Idan. Kita nunggu di mobil, ya. Anak-anak ngantuk kayaknya." ucap Gisya.


"Iya Ca, Lil. Nanti aku nyusul, gak lama kok!" ucap Febri yang tak enak.


"Santai aja, Biw. Cyra mau ikut Ummi gak?" tanya Yuliana dan Cyra menggelengkan kepalanya dan memeluk Zaydan dengan erat.


Sepeninggal Gisya dan Yuliana, Zaydan duduk bersebrangan dengan Febri. Dia mulai menjelaskan pada gadis kecil itu, bahwa itu adalah pusara Papanya.


"Cyra sayang, ini adalah makam Papa Cyra. Namanya Papa Andi, dia orang yang sangat hebat sayang. Cyra harus do'akan Papa Andi ya." ucap Zaydan.


Perlahan Cyra turun dari pangkuan Zaydan, seolah mengerti apa yang diucapkan oleh Papanya itu. Dia menghampiri nisan Andi, dan menciumnya.


"Papa Cyla banak." ucap Cyra tersenyum melihat kearah Mamanya.


"Cyra harus do'akan Papa Andi ya, Nak. Sampai dewasa nanti, Cyra harus tetap mengingat Papa Andi." ucap Febri sambil mengelus nisan bertuliskan nama Andi.


Zaydan ikut mengusap nisan Andi, bersama calon istri dan anaknya itu.

__ADS_1


"Bang Andi, ijinkan saya meneruskan perjuanganmu. Ijinkan saya untuk menjaga Cyra dan Febri. Saya berjanji dengan segenap jiwa dan raga, untuk menjaga mereka. Terimakasih sudah menghadirkan putri secantik Cyra. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan Cyra untuk melupakanmu Bang. Sampai kapanpun, kamu tetaplah Papanya. Hanya do'a yang bisa kami panjatkan untukmu." ucap Zaydan pada nisan Andi.


Febri menangis tersedu diatas pusara almarhum suaminya itu. Melihat Cyra yang terus menguap, Zaydan berpamitan terlebih dahulu pada calon istrinya itu.


"Mas tunggu di mobil, ya. Cyra mengantuk sepertinya, luapkanlah rasa rindumu padanya. Setelah itu, mari kita bangun hidup kita yang baru. Biarlah mereka menjadi cinta pertama dalam hidup kita, dan saat ini kamu adalah cinta terakhirku. Mas berharap kamu pun begitu. Biarlah kenangan indah yang mereka tinggalkan tetap berada dihati." ucap Zaydan lalu meninggalkan Febri sendiri disana.


Febri menatap langit yang mulai mendung, airmatanya sangat sulit tertahan.


"Yaa Allah, aku sedang merindukan dia. Seseorang yang sudah engkau panggil terlebih dahulu. Aku selalu kesulitan menahan tangisku ketika mengingatnya. Aku hanya ingin dipeluk dan bersandar dipundaknya, dan menceritakan apa saja yang aku lalui selama ini tanpanya. Dia satu-satunya orang yang aku inginkan sekarang." lirih Febri.


Dengan airmata yang berlinang dipipinya, Febri terus menatap nisan Andi. Sungguh dia sangat merindukan sosok lelaki yang berhasil merebut seluruh hatinya.


"Dulu hidupku hanyalah hitam dan putih, Mas. Kamulah yang membuatnya menjadi berwarna, semua warna sudah kamu lukiskan dalam hidupku. Meskipun pertemuan kita memanglah singkat, tapi kamu berhasil mengambil seluruh hati dan duniaku. Ada rasa sesak didada yang tak bisa aku tahan Mas, saat rasa rindu ini tak terbalaskan. Ingin rasanya berjumpa, meskipun sebentar saja." lirih Febri.


Lagi-lagi, Febri melihat sosok Andi dalam pandangannya. Andi tampak gagah memakai seragam lorengnya. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Mas, aku dan Cyra membutuhkan Mas Zaydan dalam hidupku. Bukan berarti aku akan melupakan semua tentang dirimu. Selamanya, kamu akan selalu ada didalam hatiku. Kamu adalah cinta pertama bagiku, tapi sayangnya Allah tidak menjadikanmu sebagai cinta terakhirku. Akan kusimpan selalu namamu, disisi lain jauh dalam lubuk hatiku. Aku mencintaimu, Mas Andi. Sampai kapanpun." lirih Febri.


"Mas tidak meminta seluruh hatimu, biarkan Mas menempatinya walaupun hanya sedikit. Selamanya Bang Andi akan menjadi penghuni hatimu, dan almarhumah istriku menjadi penghuni hatiku. Saat ini, mari kita berusaha menjalani kehidupan yang lebih baik. Aku menyayangimu, Nursyifa Febriani." ucap Zaydan.


"Terimakasih, Mas. Terimakasih banyak." ucap Febri yang langsung memeluk Zaydan.


Gisya dan Yuliana yang melihat itu merasa sangat lega dan bahagia.


"Woooyyyy belum SAH! Udahan peluknya!" teriak Yuliana.


"Udah mau hujan! Ayoo katanya mau mampir kerumah Mas Andi." ucap Gisya.


"Ayo Mas, kedua kurcaci itu sudah menyebalkan!" ucap Febri lalu menggandeng tangan Zaydan untuk masuk kedalam mobil mereka.


"Udah kaya Truk! Gandengan muluk!" ledek Yuliana.


Dua mobil melaju menuju kediaman Andi, ternyata keluarga Andi sangat menyambut kedatangan Febri dan Zaydan dengan sukacita. Bahkan kedua orangtua Andi sangat bahagia menyambut kedatangan Cyra yang bertahun-tahun tak ada kabar.

__ADS_1


"Ibu dan Bapak bahagia kamu masih mengingat kami." ucap Ibu memeluk Febri.


"Maafkan Febri ya, Pak, Bu. Gak seharusnya Febri bersikap seperti itu pada Bapak dan Ibu. Sekali lagi Febri mohon maaf Pak, Bu." lirih Febri.


"Kamu gak salah, Nak. Hanya keadaan saja yang tidak memihak kita saat itu, saat ini kami sangat bersyukur kamu masih mengingat kami." ucap Bapak.


Sejak kedatangan mereka, Febri sama sekali tidak melihat Ana disana.


"Ana kemana Bu? Apa dia masih marah sama Febri?" tanya Febri.


"Tidak, Nak. Sudah dua tahun ini dia menjadi bidan relawan, saat ini dia sedang menjadi relawan di Lampung. Dia juga sudah mengikhlaskan semuanya. Dia sangat merasa bersalah pada Cyra. Makanya dia memutuskan untuk mengabdikan dirinya dengan menjadi relawan." ucap Ibu menjelaskan.


Zaydan mulai membicarakan niat baiknya pada kedua orangtua Andi.


"Begini Pak, Bu. Sebenarnya kedatangan kami kemari ingin meminta restu. Saya akan menikahi Febri secepatnya, saya tidak ingin kehilangan mereka lagi. Saya juga sudah berziarah ke makam Bang Andi. Saat ini saya meminta ijin kepada Ibu dan Bapak, apakah kalian akan merestui kami?" ucap Zaydan dengan sangat berhati-hati.


Bapak dan Ibu Andi memeluk Zaydan dan Febri bersamaan.


"Kami akan merestui kalian, Nak. Terimakasih kalian masih menganggap kehadiran kami sebagai orangtua kalian. InshaAllah, Bapak dan Ibu akan selalu mendo'akan. Semoga kalian akan hidup bahagia dan saling menjaga, hingga kalian tua nanti." ucap Bapak.


"Aamiinn, Bapak dan Ibu akan tetap menjadi orangtua kami. Karena Bapak dan Ibu adalah Nenek dan Kakeknya Cyra." ucap Zaydan.


Akhirnya Zaydan dan Febri dapat sedikit bernafas lega. Tinggal esok hari, mereka akan menghadap kesatuan untuk pengajuan pernikahan.


* * * * *


Maaf yaa kalo gak suka sama ceritanyaa..


Ini hanya imajinasi Author aja πŸ˜ŠπŸ™βœŒ


Dukung terus Author yaa ❀


Salam Rindu, Author ❀

__ADS_1


__ADS_2