Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Hampa dan Bahagia


__ADS_3

Setelah ditinggal pergi bertugas oleh sang suami, kini Elmira lebih pendiam. Bunda Gisya dan Indira terus memberikan semangat pada Elmira. Mereka tak ingin sesuatu terjadi pada Elmira dan bayinya. Sudah seminggu sejak kepergian Mirda, hingga sampai saat ini Mirda belum memberikan kabar apapun. Karena disana tidak ada sinyal ponsel, sebab barak mereka berada ditengah hutan Papua.


Elmira kini tengah menyuapi Sweta, sambil sesekali mengusap perutnya.


"Kakak harus makan yang banyak ya," ucap Elmira mengelus kepala Sweta.


"Baba ana Bu? Ko ndak puyang-puyang," tanya Sweta membuat airmata Elmira terjatuh.


"Baba lagi kerja sayang, Kakak harus do'ain Baba ya! Biar Baba cepet pulang," pinta Elmira dan Sweta pun mengangguk, kemudian ia menengadahkan tangannya.


"Yaa Awoh, tata angen Baba. Cemoga Baba mpet puyang Yaa Awoh," ucap Sweta membuat hati Bunda Gisya dan Indira yang menyaksikan itu meringis.


Akhirnya Bunda Gisya meminta pada Ayah Fahri untuk mengecek keadaan sang menantu. Meskipun harus menggunakan koneksi sang suami, yang penting Elmira tenang.


"Bunda gak mau tau! Ayah harus cek kondisi menantu kita disana," paksa Bunda Gisya.


"Mirda baik-baik aja, Bun! Disana sulit sinyal, kalo Mirda sempat pasti dia akan ke Pos 1 supaya bisa menghubungi Elmira," tegas Ayah Fahri.


"Tapi, Ayah........." ucapan Bunda Gisya terpotong.


"Cukup! Mirda itu sedang bertugas, Bun! Disana itu sedang genting, dia disana sedang berjuang! Sama seperti Ayah dulu!" bentak Ayah Fahri membuat Bunda Gisya menangis.


Karena merasa bersalah, Ayah Fahri segera memeluk Bunda Gisya dan meminta maaf.


"Maaf, Bun! Tapi kamu sudah keterlaluan, Mirda disana sedang berjuang demi anak dan istrinya. Jadi Ayah mohon, kita cukup do'akan saja," ucap Ayah Fahri.


"Bunda hanya mengerti perasaan Elmira, karena Bunda pernah merasakannya dulu," lirih Bunda Gisya dalam pelukan suaminya.


"Sayang, itu resiko yang harus Elmira tanggung! Kalo dia tidak sanggup, seharusnya dia tidak menikah dengan Mirda! Ingat ketika pengajuan? Bagi Tentara, istri adalah prioritas kedua. Karena prioritas utama kami adalah Senjata dan Negara. Jadi, jika kalian mengharapkan suami yang akan memprioritaskan istri, kalian salah jurusan. Istri Tentara harus menjunjung tinggi kesetian, terhadap suami dan juga terhadap Negara. Apa kalian siap ditinggalkan bertugas? Apa kalian siap melahirkan sendirian? Apa kalian siap dipisahkan oleh kematian? Hidup kami sebagai Tentara adalah untuk Negara," ucap Ayah Fahri membuat Bunda Gisya terdiam seribu bahasa.


* * *


Jika Elmira tengah bersedih, berbeda dengan Alan yang tengah dipusingkan oleh Husain dan Alana. Husain akan maju mencalonkan diri sebagai Bupati Kabupaten Bandung Barat. Kini dia tengah mempersiapkan masa kampanye, Alana meminta Alan untuk menemani sang calon suami. Lebih tepatnya memaksa, bukan meminta. Kini mereka tengah berada di Butik milik Alana.


Alan mencebik kesal, sebab pekerjaannya pun sangatlah banyak.


"Ck! Gua kan kaga ngerti politik, Mail!" kesal Alan pada sang saudara kembar.


"Kan lu cukup jadi tim sukses aja, Maul!" kekeuh Alana.


"Stop! Kita makan dulu aja, lapeeeerr!" ucap Husain sambil mengambil semangkuk mie.


"Pagiku makan indomie, siangku makan sarimi, malamku makan mie sukses isi... Duaaaaaaaaaa," celetuk Alan berucap dengan lagu iklan.


"Bersyukur! Orang mah makan nasi gendar!" ucap Husain.


Selesai makan, mereka kembali memperbincangkan mengenai majunya Husain dalam pemilihan Bupati. Alan hanya menguap, sebab memang ia tak mengerti.


"Lu lama-lama gua masukin cicak kemulut lu!" kesal Alana saat melihat Alan menguap.


"Adek durjanah lu! Mau gua kutuk jadi patung liberty lu?! Pegel-pegel dah tu ketek! Lagian diem aja deh, tau-tau gua bertindak aja," dengan santainya Alan berucap.

__ADS_1


"Hadeuh! Makin darah tingting kalo bareng kalian berdua!" Husain sangat jengkel dengan kelakuan dua makhluk kembar dihadapannya itu.


Alana menatap Husain dengan tajam, hingga sang empu tertawa kaku.


"Ayank jangan marah-marah, masa calon ibu Bupati emosian," ucap Husain membuat Alana menghela nafasnya panjang.


"Aku tuh pengen yang terbaik buat kamu lho, yank! Makanya minta si Aa buat bantuin kita, lah kamunya malah gitu! Males aku," Alana mulai merajuk dan pergi ke Balkon.


"Mampoooosss lu! Si Mail kalo dah ngambek, beuuuhhhh! Krekkkk!" ucap Alan sambil menaruh tangannya dileher.


"Diem lu! Gua pepes baru tau rasa!" kesal Husain lalu menyusul sang kekasih.


"Kurang asem lu! Kagak gua restuin, nangis air kencing lu!" kesal Alan dan memilih meninggalkan mereka berdua.


Husain memeluk sang kekasih dari belakang dan menyimpan dagunya dibahu Alana, hal itu membuat Alana memekik kaget.


"Lepasin! Ini diluar, gak malu apa kalo ada yang liat! Lagian belom muhrimnya!" kesal Alana mencoba melepaskan tangan Husain.


"Biarin aja! Siapa tau di grebeg, terus dinikahin malem ini juga," bisik Husain.


"Gak gitu konsepnya, Abang! Udah lepasin!" Alana masih terus mencoba namun gagal.


"Biarin! Lagian kita pernah lebih dari peluk," ucap Husain membuat pipi Alana berubah menjadi merah merona.


Ketika Husain sedang asyik memeluk Alana, tiba-tiba suara Alan membuat mereka tersentak kaget dan mencari sumber suara.


"Gua bilangin Ayah sama Baba! Biar cepet dikawinin lu bedua!" teriak Alan dari bawah sana sambil memperlihatkan foto dari ponselnya.


"Dasar si Alan! Hapus kagak!" teriak Husain tapi Alan malah melambaikan tangannya dan masuk kedalam mobilnya.


Alana menatap Husain, kemudian mengecup pipinya.


"Siap-siap ditarikan kawin sama si Baba!" ucap Alana lalu masuk kedalam.


"Tunggu! Sebelah lagi belum, yank!" teriak Husain sambil memegang pipinya.


"Halalin dulu!" ucap Alana sambil membereskan tasnya.


"Sebelum pencalonan, Abang SAH kan dulu kamu!" ucap Husain membuat Alana tersenyum.


* * *


Sebulan sudah Mirda pergi bertugas, hingga saat ini sama sekali belum ada kabar dari sang suami. Hidup Elmira terasa sangat hampa, hari ini dia akan mengadakan acara syukuran empat bulan kehamilannya. Sempat menolak, tapi dia teringat ucapan sang suami sebelum pergi bertugas.


Chandra dan sang istri sengaja datang untuk ikut mendo'akan kehamilan Elmira. Acara akan dilakukan di asrama Mirda, maka dari itu banyak ibu-ibu Persit yang lain yang membantu disana. Sebab Mirda merupakan seorang Komandan Kompi, mereka selalu menemani Elmira termasuk Betrysda dan Sonia. Tenda bahkan sudah terpasang didepan rumah Elmira dan Mirda.


Chandra menghampiri Elmira yang sedang duduk termenung diteras.


"Are you okay, Princess?" tanya Chandra mengusap kepala Elmira.


"I'm okay, Dad. Hanya saja, tanpa Bang Mirda semuanya terasa hampa. Apalagi sampe sekarang belum ada kabar sama sekali, hanya berita penyerangan barak yang selalu ditayangkan di televisi," lirih Elmira menunduk menahan airmata.

__ADS_1


"Segitu sayangkah kamu terhadap Mirda, Elmira," batin Chandra.


Elmira mulai kembali mengeluarkan airmatanya, tapi dering ponselnya membuat Elmira terpekik kaget. Ternyata Video Call dari sang suami yang selama ini dia rindukan. Elmira segera masuk kedalam kamarnya, dia ingin menikmati waktu berdua bersama suaminya. Mereka pun tersenyum lega, ketika melihat Elmira kembali tersenyum


In Call


"Assalamu'alaikum, istriku sayang!" ucap Mirda melambaikan tangannya.


"Abang! Aku kangeeeeennn! Abang baik-baik aja kan?" tanya Elmira sambil terisak.


"Jangan nangis sayang! Kasian dedek! Abang baik-baik aja sayang, lihat Abang diatas menara ini! Supaya bisa melihat wajah indahmu, semangat hidup Abang," ucap Mirda sambil memperlihatkan tempatnya berdiri.


"Abang hati-hati! Dedek, Kakak sama Bubu kangen Abang," lirih Elmira.


"Sama sayang, Abang juga kangen! Do'akan Abang biar cepet pulang ya! Semoga sebelum dedek lahir, Abang udah disana," ucap Mirda sambil menatap sang istri.


"Aamiin, dedek udah bisa gerak, Bang. Hari ini syukuran empat bulanan dedek, Bang!" Elmira memperlihatkan perutnya.


"Alhamdulillah, semoga sehat-sehat ya sayang! Abang ikut mendo'akan dari sini. Dedek sama Kakak gak rewel kan?" tanya Mirda dan Elmira menggeleng.


"Mereka semua anak-anak yang baik dan mengerti, Bang. Sweta sekarang lagi senang belajar berenang sama Betrys," ucap Elmira membuat Mirda tersenyum bahagia.


"Syukurlah, maaf Abang gak bisa mendampingi masa-masa kehamilan kamu disana sayang," lirih Mirda.


"Gak apa-apa sayang, yang aku mau cuman Abang kembali dengan selamat," ucap Elmira sambil tersenyum dengan lelehan airmata dipipinya.


"Abang harus bertugas kembali, ingat! Jangan lupa makan, minum susu dan minum vitamin, supaya dedek dan Bubu sehat sampai hari kelahiran," ucap Mirda mengingatkan.


"Iya Baba sayang! I love you so much, I always waiting you," lirih Elmira mengecup ponselnya.


"Love you to much much more, youre my angel, my life and my everything," ucap Mirda memberi kecupan jauh.


End Call


Elmira mulai bernafas lega ketika bisa melihat sang suami dalam keadaan baik-baik saja. Padahal disana, Mirda tengah menahan rasa sakitnya. Selepas shalat subuh, ada penyerangan kembali ke Barak. Mirda mendapatkan luka sayatan ketika berkelahi bersama Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Untung saja dia bisa menghindari tembakan, hingga hanya kaki yang terluka karena tersayat paku ditembok. Luka Mirda cukup dalam, dan harus mendapatkan jahitan. Tapi dia bersikeras untuk pergi ke Pos dan memanjat menara supaya bisa menghubungi istrinya. Sebab dia tau, jika hari ini tepat usia kandungan Elmira 4 bulan.


Mirda terduduk diatas menara, dia melihat langit dan menangis disana.


"Yaa Allah, lindungilah kami.. Istri dan anak-anak kami menunggu kepulangan kami, hamba mohon mudahkanlah tugas kami menjaga perdamaian dibumi pertiwi ini.. Tolong kuatkan kami, Yaa Allah.. Masih ada keluarga yang bergantung pada kami.." lirih Mirda menatap foto sang istri pada layar ponselnya.


Begitupun Elmira, dia menatap foto dirinya bersama Mirda ketika Pedang Pora.


"Rasa rindu ini selalu sesak menyelimuti hatiku, Bang. Selalu aku hitung berapa hari lagi kamu akan kembali. Teruslah berjuang duhai perwira hati ini, penuhi kewajibanmu sebagaimana kamu memenuhi kewajibanmu kepadaku, Bang," lirih Elmira.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2