Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 30. Pengajuan Nikah I


__ADS_3

Setelah menenangkan diri, Fahri mencoba menghubungi Gisya. Dia meminta Gisya untuk segera kembali pulang ke Bandung. Tapi Gisya menolaknya, dia merasa bahwa Febri saat ini jauh lebih membutuhkannya. Mereka terlibat pertengkaran melalui telepon, saat ini Fahri sungguh merasa terbebani. Begitupun dengan Gisya, dia masih memikirkan kondisi Febri yang saat ini tidak bisa ditinggalkan.


In Call


πŸ§• "Aku mohon Abang mengerti, bukannya aku tidak mau pulang. Tapi Febri masih membutuhkan aku, Bang."


πŸ‘¦ "Lusa kita harus mengurus pengajuan nikah kita Dek, tolong utamakan itu. Abang tau Febri masih dalam keadaan berduka, tapi kita juga masih harus mengurus pengajuan nikah kita. Tolong ngertiin Abang, Dek."


πŸ§• "Kasih waktu Caca buat mikir, Bang."


πŸ‘¦ "Apalagi yang mau kamu pikirin? Kamu mau menunda pernikahan kita? Kamu gak mikirin perasaan Abang?"


πŸ§• "Bukan gitu, Bang. Masalahnya sekarang Febri itu hamil! Caca bingung! Caca gak tau mesti gimana Bang."


πŸ‘¦ "Pulang besok! Maka kamu akan tau apa yang harus kamu tau!"


End Call


Fahri menutup telponnya sepihak, dia sungguh terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh calon istrinya itu. Andi benar-benar sudah memprediksikan semuanya. Fahri menjambak rambutnya frustasi, dia harus menjaga Febri seperti apa yang diinginkan oleh almarhum sahabatnya itu. Sementara dia harus pergi jauh untuk bertugas, Fahri semakin yakin untuk mempercepat pernikahannya.


Sementara pagi ini di Semarang, Gisya saat ini sedang menangis tersedu-sedu diatas makam Andi. Setelah berbicara dengan Fahri, dia dipanggil oleh Dokter untuk membicarakan kondisi Febri. Dokter mengatakan jika Febri harus melakukan bedrest total dan masih harus mendapatkan perawatan karena kondisi janin Febri yang masih berusia 6 minggu.


"Mas Andi, kenapa kamu melakukan itu? Aku gak tau gimana hidup Febri nantinya, Mas. Aku gak bisa selalu ada disisi Febri. Aku bener-bener gak tau harus gimana, Mas. Bang Fahri juga membutuhkanku saat ini, tapi bayi kalian juga harus aku pikirkan." Isak Gisya.


Setelah puas mengeluarkan unek-uneknya, Gisya kembali ke Rumah Sakit. Dia masuk kedalam Ruang perawatan Febri, saat ini Ana dengan telaten mengurus Febri. Gisya duduk di sofa, matanya terlihat sangat sembab.


"Pulanglah, Ca. Kamu harus mengurus surat pengajuan nikah, aku baik-baik aja disini. Ada Ana yang bakalan nemenin aku." ucap Febri.


"Aku gak bisa ninggalin kamu sendirian, Biw." Lirih Gisya.


"Udah dibilangin aku gak sendirian, Ca. Ana bakalan jagain aku disini" tegas Febri.


"Oke, aku pulang. Kalo ada apa-apa kabarin aku ya, Biw."


Akhirnya Gisya memutuskan untuk pulang, karena sudah malam Gisya diantar oleh saudara Andi ke Stasiun. Gisya menikmati perjalanan dengan menggunakan Kereta, setidaknya itu membuat pikirannya semakin tenang. Gisya tidak memberitahu Fahri bahwa dia sudah dalam perjalanan pulang. Tapi pesan dari Fahri membuatnya kesal.


πŸ’ŒΒ  Bang Fahri ❀


Abang tunggu di Stasiun, terimakasih sudah memilih Abang πŸ’•


"Huft! Pasti Ebi yang kasih tau dia!" gumam Gisya.


πŸ’Œ Bang Fahri ❀

__ADS_1


Jangan ngedumel Dek, nanti cantiknya berkurang πŸ₯°


Satu pesan masuk lagi dari Fahri, membuat Gisya semakin merasa aneh dan kesal.


"Apa Bang Fahri itu cenayang ya? Kok bisa tau aku lagi ngedumel." tutur Gisya.


"Sudah Abang bilang jangan ngedumel." bisik Fahri ditelinga Gisya.


"Astaghfirullohaladzim, Abang!" teriak Gisya yang kaget.


Semua orang melihat kearah mereka, Gisya yang malu bercampur kesal hanya menunduk.


"Maaf mengganggu ketenangannya, saya hanya ingin memberikan kejutan untuk istri."


Fahri pindah duduk ke kursi kosong sebelah Gisya.


"Kenapa malu, hm?" goda Fahri.


"Ish! Udah sana Abang duduk di bangku Abang." kesal Gisya.


"Gak mau, Abang mau duduk disamping kamu."


"Abang nyebelin! Kok Abang bisa ada disini? Semalem aja Abang tutup telpon sepihak. Bukannya Abang marah sama Caca?" tanya Gisya.


Gisya tidak menjawab, dia memalingkan wajahnya kearah jendela.


Fahri menggenggam tangan Gisya, dia meletakkan kepala Gisya di bahunya.


"Semalam Abang takut kamu berpikir untuk menunda pernikahan kita. Makanya Abang langsung meminta izin untuk menjemput kamu. Dompet Abang sampe menipis ini, bolak balik Semarang-Bandung pake Pesawat." keluh Fahri.


"Dih, suruh siapa pake nyusul kesini segala. Abang gak sabaran sih, gak ngasih Adek kesempatan buat mikir dulu." kesal Gisya.


"Udah tidur, nanti kita sampe Bandung subuh. Langsung ke Rumah Dinas Abang, biar gak bolak balik."


"Ih, kan lebih deket kerumah Bang. Lagian masa langsung kesana, apa kata orang nantinya." tolak Gisya.


"Abang udah bilang sama Bunda, udah bilang juga sama Danki."


Akhirnya Gisya tidak bisa menolak keinginan Fahri. Mereka menikmati suasana di Kereta, Gisya merasa bebannya sedikit berkurang. Tepat pukul 4 pagi, mereka sudah sampai Bandung. Mereka menuju Rumah Dinas Fahri menggunakan taksi online. Sesampainya disana, Fahri meminta Gisya untuk beristirahat di kamarnya. Sementara Fahri sedang membersihkan diri untuk melakukan sholat subuh berjamaah di Mesjid.


"Adek istirahat dulu di disini, Abang mau ke mesjid." pamit Fahri.


Gisya tidak bisa memejamkan matanya, dia memilih untuk melihat-lihat kamar Fahri. Ketika melihat surat yang tergeletak diatas meja, Gisya membuka dan membacanya. Betapa Gisya sangat terkejut, membaca penjelasan dari Andi. Gisya tidak bisa menahan airmatanya, Andi benar-benar bisa memprediksikan apa yang akan terjadi. Tak mau bersedih terlalu lama, Gisya mulai membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai, Gisya kedapur untuk membuatkan Fahri sarapan. Tapi dia tidak menemukan bahan apapun disana. Gisya melihat tumpukan baju kotor milik Fahri, dia berinisiatif untuk mencucinya. Sambil menunggu cucian, Gisya menyapu dan mengepel.

__ADS_1


Fahri baru pulang ke Rumah Dinas pukul 6 pagi. Dia membelikan Gisya sarapan pagi. Fahri menahan tawanya, ketika melihat Gisya sedang diajak bicara oleh Andina. Wajah Gisya terlihat gugup dan salah tingkah.


"Assalamu'alaikum," ucap Fahri.


"Walaikumsalam, kamu anak nakal! Kenapa calon istri kamu udah disuruh nyuci, dan beres-beres rumah? Harusnya kamu suruh dia nginep dirumah, Mbak. Lagian Bang Dzikri sedang bertugas." omel Andina.


"Kita baru sampe tadi subuh Bu Dzikri, lagian gak apa-apa. Anggap aja dia sedang latihan menjadi istriku nanti. Kalo ada Bang Dzikri aku ledekin balik deh dia." ucap Fahri terkekeh.


"Kalian ini kaya anak kecil aja! Udah ajak calonmu sarapan! Jangan sampe Rian liat calon istrimu kalo gak mau dia nempel kaya ulet bulu!" ucap Andina.


Akhirnya Gisya membawa bungkusan yang dibawa Fahri, dia memindahkannya kedalam mangkok. Fahri membeli lotong kari langganan mereka. Tepat pukul 8 pagi, Gisya bersiap untuk menuju kantor Persit.


"Ini surat-surat udah lengkap, sekarang kita pergi ke Kantor Persit." ajak Fahri.


"Nanti Adek harus ngapain, Bang?" tanya Gisya.


"Untuk hari ini, kita akan pergi ke bagian seksi ekonomi buat beli atribut Persit. Setelah itu Adek akan melakukan tes kesehatan." ucap Fahri menjelaskan.


Setelah sampai di Kantor Persit, Fahri langsung membawa Gisya menuju seksi ekonomi.


Disana Gisya disambut baik oleh ibu-ibu Persit. Setelah dijelaskan mengenai Pakaian Persit, Gisya melanjutkan dengan melakukan Tes Kesehatan. Dari mulai cek darah hingga cek urine. Gisya menjalani semua itu dengan semangat, Fahri tersenyum melihat Gisya yang mudah berbaur dengan oranglain.


Setelah selesai, Gisya diantarkan pulang oleh Fahri. Dia tidak tega melihat wajah Gisya yang sudah mulai kelelahan. Bunda menyambut kedatangan putri cantiknya.


"Alhamdulillah anak Bunda udah pulang. Bunda kangen banget sama kamu, Nak." peluk Bunda Syifa.


"Caca juga kangen banget sama Bunda, Uqi belum pulang Bun?" tanya Gisya.


"Belum, biasanya dia lagi nemenin Syaina. Gimana tadi Nak Fahri? Lancar kan semuanya?" tanya Bunda Syifa yang penasaran.


"Alhamdulillah Bun, tinggal besok menghadap Danki dan Danyon." tutur Fahri.


"Semoga semua dilancarkan oleh Allah ya, Nak."


"Aamiinn," jawab Fahri dan Gisya bersamaan.


Fahri berpamitan pulang, hari ini lumayan terasa melelahkan baginya. Begitupun dengan Gisya, dia langsung tertidur pulas. Mereka berharap semua urusan mereka akan dilancarkan oleh Allah.


* * * * *


Mohon maaf apabila ada kesalahan πŸ™πŸ˜Š


Dukung terus Author yaaaa!πŸ₯°

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2