Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Pulau Tidung


__ADS_3

Mentari pagi mulai menampakkan dirinya, seorang gadis tengah terduduk sendiri menikmati sunrise sambil menikmati teh lemon hangat. Indira sangat senang menyendiri, dia memiliki sifat yang berbeda dari kedua Kakaknya. Maka dari itu, Indira tidak memiliki banyak teman. Mungkin hanya Carel dan Fika teman dekat dikampusnya.


Indira sangat menyukai alam, tak jarang dia bepergian sendirian. Menikmati indahnya alam dengan kesendiriannya.


"Sepertinya kamu sangat menyukai langit," ucap Dirga yang mengagetkan Indira.


"Astaghfirullohaladzim!" sentak Indira yang terkaget membuat Dirga tersenyum tipis.


"Maaf mengagetkan, tapi sepertinya kamu terlalu menikmati menyaksikan matahari terbit. Sampe gak sadar saya ada disini sejak tadi," ucap Dirga.


"Mau kita menyaksikan atau tidak, matahari selalu terbit. Mau ditutup mendung atau kabut, matahari juga tetap terbit. Mau kita menyadari atau tidak, matahari tetap terbit," jawab Indira tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya.


"Hmm, kamu memang benar. Matahari akan selalu terbit, bagaimanapun cuacanya. Dan matahari tetap bersinar walau diselimuti mendung," ucap Dirga.


Tanpa sadar, mereka sama-sama tersenyum tipis. Semalam, Mirda meminta para juniornya itu untuk menginap bersama-sama disana.


"Nama saya Dirga, Dirga Agung Prayoga," ucapnya sambil menatap kearah Indira.


"Saya Indira, Indira Myesha Kirania Syafa," sahut Indira sambil menangkup kedua tangan didadanya. Dirga mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, Syafa. Boleh kan saya memanggilmu dengan itu?" tanya Dirga.


"Silahkan, saya permisi duluan," ucap Indira meninggalkan Dirga.


"Berhati-hatilah, jangan salah nabrak lagi," celetuk Dirga membuat Indira malu sendiri.


* *


Sementara dikamar, sang pengantin baru belum enggan beranjak dari tempat tidurnya.


"Bang, ayo kita jalan-jalan pagi di pantai!" rengek Elmira pada suaminya.


"Kita dikamar aja ya! Kan honeymoon sayang," ucap Mirda mengecup bibir sang istri.


"Gak gitu juga konsepnya, Abang! Yaudah aku mau jalan-jalan sama Sweta sama Bunda aja," ketus Elmira merajuk. Mirda tersenyum, dia menangkup kedua pipi istrinya.


"Oke, oke! Kita jalan-jalan, tapi sekali lagi ya!" bisik Mirda membuat Elmira melotot.


"Yaa ampun! Tenaganya kok gak abis-abis sih! Alamat gak bisa jalan ini mah," batin Elmira ketika sang suami memulai kembali aksinya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat keduanya terperanjat kaget.


"Ra cepetan keluar! Kita jalan-jalan ke pantai, jangan tumpak mulu ngapa!" teriak Afifah.


"Yaa Allah si Afifah, bikin orang kaget aja!" gerutu Elmira.


"Wooyy manten, jawab dong! Jangan-jangan lagi ngadon, ya!" teriak Rian.


"Bentar! Elmira lagi mandi, nanti kita turun!" teriak Mirda membuat keduanya tertawa.


"Ngikutin taktik kita mereka, Pi!" ucap Afifah lalu menggandeng sang suami untuk pergi ke ruang makan.


Semua orang tampak sudah siap dengan stelan pantainya, Indira tengah makan roti sambil menyuapi Sweta. Alana sedang menyuapi Husain yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. Cyra pun sama, dia sedang membuatkan nasi goreng untuk sang calon suami. Sedangkan Alan dan Theresia sudah pergi ke pantai untuk berolahraga pagi. Sedangkan Chandra dan keluarganya sudah berpamitan, sebab Chandra harus melaksanakan tugasnya sebagai seorang abdi negara.


Para lansia sedang menikmati yoga dihalaman belakang cottage, sedangkan Bunda Gisya tengah sibuk memasukkan makanan kedalam tupperware. Mama Febri dan Ummi Ulil sedang menyiapkan berbagai macam kebutuhan untuk piknik. Mereka ingin makan bersama-sama dipinggir pantai di Pulau Tidung ini.


Mirda dan Elmira kini sudah bergabung bersama keluarga mereka, baru juga tiba mereka sudah digoda habis-habisan oleh keluarganya.


"Jadi gimana Bang? Ayah udah bisa nimang cucu dong," goda Ayah Fahri.


"Apasih, Ayah! Udah makan aja makan, gak usah godain!" kesal Elmira.


"Disini mah gerah ya, Bang! Rambutnya basah mulu, pasti kegerahan terus ya," goda Baba.


"Emang bener gerah ya, Bang! Itu si Baba aja rambutnya basah, pasti kegerahan juga," ucap Ummi Ulil membuat Baba Jafran salah tingkah.


"Dia mah emang doyan!" celetuk Papa Zaydan membuat Baba Jafran melotot.


"Doyan keramas! Jangan suudzon muluuu sama laki gue!" ketus Mama Febri.


Dirga dan teman-temannya berpamitan, mereka berencana akan pergi snorkeling.


"Permisi Bang, semuanya. Kami pamit dulu, mau snorkeling. Terimakasih sudah mengijinkan kami menginap disini," ucap Dirga.


"Eh Om Dirga mau kemana? Sarapan dulu sebelum snorkeling," sahut Elmira yang baru saja keluar dari dapur. Mirda tersenyum mendengar panggilan istrinya terhadap juniornya.

__ADS_1


"Siap! Ijin Bu, kami sarapan diluar saja," tolak Dirga.


"Kalian sarapan disini aja, setelah itu kita pergi snorkeling sama-sama," ucap Ayah Fahri dengan suara baritonnya membuat Dirga tak bisa lagi menolak.


"Siap! Laksanakan!" jawab Dirga memberi hormat.


* *


Para ibu-ibu sudah menggelar tikar yang cukup besar dipinggir pantai, dibawah pohon rindang. Sedangkan para anak muda sedang bersiap untuk pergi snorkeling.


"Dek, kamu gak ikut snorkeling?" tanya Bunda Gisya ketika melihat anak bungsunya tengah bermain bersama Sweta.


"Gak ah, Bun! Nanti aja mau main Jetski," jawab Indira.


"Haaaaa? Sendirian Neng?" tanya Ummi Ulil melotot.


"Nggih Ndoro," jawab Indira membuat sang Ummi semakin melotot.


"No, no, no! Bahaya kalo sendirian!" sahut Bunda Gisya.


"I'm okay, Bun. Lagian kan Adek dah bisa naik jetski sendirian," jawab Indira santai.


Bunda Gisya tak bisa lagi menjawab, sebab Indira memang anak yang cukup keras kepala.


"Ayah temenin kamu," ucap Ayah Fahri dan Indira mengangguk.


"Buset! Dah tua juga masih gagayaan main jetski," celetuk Baba Jafran.


"Wey wey, usia boleh berkurang tapi tidak dengan kemampuan! Emangnya situ, dah tua sekarang bisanya ngadon doang," ledek Ayah Fahri.


"Ck! Baba juga ikut kamu main jetski, Neng!" ucap Baba Jafran.


"Yowes, yowes, sakabehna wes ikut," ucap Indira yang tak ingin pusing.


Mirda, Elmira dan yang lainnya sudah bersiap untuk snorkeling. Hanya saja mereka kekurangan satu orang, mereka memaksa Indira untuk ikut.


"Please dong, Dek! Ikut yaa," pinta Elmira memohon pada Indira.


"Iya Dira, kapan lagi kita snorkeling bareng. Please, nanti pulang dari sini Bang Ain sama A Alan beliin apapun mau kamu," ucap Alana memohon.


"Lho kok Abang, yank?" tanya Husain dan dihadiahi pelototan oleh sang kekasih.


"Hm, bener gak dibeliin sesuatu?" tanya Indira menatap Husain dan Alan.


"Iya dah, entar Aa beliin apapun kemauan kamu! Mau ganti hp samsung flip juga boleh deh, mau tiket konser kahitna juga Aa beliin," ucap Alan membuat mata Indira berbinar.


"Oke, janji ya!" ucap Indira sambil memberikan jari kelingkingnya.


"Dasar bocil," batin Dirga ketika melihat kelakuan Indira.


Merekapun naik perahu menuju ke tempat snorkeling, Dirga tanpa sengaja memotret Indira yang tengah menikmati angin laut.


"Cantik!" ucap Dirga membuat Mirda dan Elmira menoleh.


"Siapa yang cantik, Om?" goda Elmira pada Dirga.


"Eh itu, Bu! Air lautnya, cantik," jawab Dirga gugup.


"Kirain ipar saya yang cantik," goda Mirda membuat Dirga salah tingkah.


Kini mereka tengah menikmati pemandangan bawah laut, banyak ikan-ikan yang tengah mengelilingi mereka. Terumbu karang yang indah dan banyak hewan-hewan laut lainnya.


Tanpa sengaja Indira menginjak terumbu karang, membuat kakinya berdarah. Dia segera berenang ke permukaan dan naik keatas kapal. Dirga melihat itu, dan diapun mengikuti Indira.


Dia melihat Indira tengah kesakitan memegangi kakinya, dia pun naik keatas kapal.


"Kaki kamu berdarah, biar saya lihat," ucap Dirga namun Indira enggan memberikan kakinya hingga Dirga menariknya.


"Aw! Sakit!" pekik Indira membuat Dirga tersenyum tipis.


"Kita balik ke pantai duluan aja, kaki kamu mesti di obatin," ucap Dirga.


Akhirnya mereka berdua kembali ke Pantai bersama perahu lain yang akan kembali. Sepanjang perjalanan, Indira memegangi kakinya. Darahnya terus keluar begitu saja, hingga Dirga membuka bajunya dan mengelap kaki Indira.


"Ngapain buka baju sih!" ketus Indira sebab para gadis disana terpesona oleh Dirga.


"Luka kamu berdarah terus, diem aja! Jangan protes," ucap Dirga.

__ADS_1


Sesampainya dipantai, tanpa izin Dirga menggendong tubuh Indira. Hal itu membuat jantung keduanya berdegup kencang. Indira menutup matanya, sebab wajahnya tepat berada didada Dirga. Bunda Gisya yang melihatnya berteriak menghampiri mereka.


"Diraaaaaa.....!!! Kamu kenapa, Nak?" panik Bunda Gisya.


"Kakinya kena terumbu karang, sepertinya robek. Harus segera diobati, Bu," ucap Dirga.


"Riaaaaannnnn......! Afifaaaaahhhhh.......!" teriak Bunda Gisya.


"What happen, ada apa, aya naon Bunda?" panik Afifah menghampiri Bundanya.


"Obatin kaki adik kalian, takut infeksi," ucap Bunda Gisya.


"Yaa Allah, Dek! Aya-aya wae kamu mah, untung ada Aa ganteng nolongin. Mana badannya kotak-kotak lagi," sahut Afifah membuat Rian menutup matanya.


"Heh markonah! Udah punya yang buleud-buleud masih ngiler aja liat yang kotak!" ketus Rian.


Rian segera mengobati luka Indira, sedangkan Dirga pergi ke kamar mandi umum untuk mengganti bajunya. Tak lupa baju yang terkena darah Indira, dia bawa.


"Pulau Tidung, tak akan pernah aku lupakan hari ini. Indahnya Pulau Tidung seindah hariku, sebab baru kali ini aku merasa jika hari ini tak ingin berakhir," batin Dirga sambil memegang baju miliknya.


Pasukan snorkeling bergegas kembali ke pantai ketika mendengar Indira terluka.


"Dira! Kamu gak apa-apa kan?" tanya Alan yang panik.


"Aman A, cuman robek dikit. Tapi udah diobatin sama Bang Rian," jawab Indira.


"Syukurlah, kita panik pas denger kamu luka! Mana gak bilang kalo kamu mau pulang, untung aja si mamangnya bilang," ucap Alana yang mendapat toyoran dari Alan.


"Heh kunyuk! Kita lagi didalem aer, mana mencar-mencar kaya serpihan hati! Mana bisa si Dira pamitan, lagian mau si Dira teriak 50 oktaf juga kagak akan kedengeran," ketus Alan.


"Woy buaya laut! Tau gua, maksudnya kirim-kirim salam kek lewat ikan-ikan, kan bisa!" celetuk Alana membuat mereka tertawa.


"Emang dasar lu maemunah, emangnya tu ikan si Nemo yang bisa ngomong," ucap aapan yang tak ingin kalah.


Sungguh kebahagiaan sendiri bagi mereka bisa berkumpul seperti ini, sebab sebentar lagi mereka akan terpisah-pisah kembali. Ayah Fahri mengingatkan mereka, bagaimana arti pentingnya sebuah keluarga.


"Keluarga adalah rasa bahagia yang tak akan sirna, tempat yang nyaman untuk berbagi canda tawa dan suasana terbaik yang pernah ada. Keluarga adalah kompas yang membimbing kita. Kalian adalah inspirasi untuk mencapai ketinggian yang luar biasa dan kenyamanan saat kita sesekali goyah. Keluarga adalah salah satu hal terpenting yang kita miliki, yang tak akan pernah berubah dan selalu ada ketika dibutuhkan. Tak peduli dimana pun kita berada, keluarga tetap selalu mendoakan untuk kebaikan agar kita dijauhkan dari keburukan. Ayah harap kalian akan selalu menjaga satu sama lain," ucap Ayah Fahri.


Mendengar ucapan sang Jenderal membuat Dirga pergi begitu saja. Bagi Dirga tak ada hal yang indah dalam keluarganya. Setelah menikmati sunset, mereka kembali ke cottage untuk beristirahat. Sebab besok pagi mereka akan kembali pada kehidupannya masing-masing.


Indira berjalan tertatih menuju halaman luar, dia ingin menikmati malam terakhir disana.


"Terimakasih, Pulau Tidung. Indahmu mampu membuatku bersyukur," gumam Indira.


"Malam ini indah bukan?" celetuk Dirga yang sudah berada disana sejak tadi.


"Astaghfirulloh! Kebiasaankah membuat orang kaget?!" kesal Indira.


"Maaf, tapi saya sudah duduk disini sejak tadi," ucap Dirga membuat Indira salah tingkah.


"Makasih udah nolongin saya," ucap Indira dan Dirga hanya mengangguk.


Mereka berdua duduk bersama menikmati langit malam itu.


"Ternyata benar, pertemuan pertama itu menumbuhkan rasa penasaran, sedang pertemuan kedua menumbuhkan rasa rindu, dan pertemuan selanjutnya hanya meninggalkan rasa candu," ucap Dirga membuat Indira terenyuh.


"Pertemuan adalah takdir, dan setiap pertemuan selalu membawa kita ke takdir yang lain," sahut Indira sambil menatap langit malam.


"Aku bahagia bertemu denganmu, Syafa. Tapi mungkin ini pertemuan terakhir, sebab aku akan bertugas di Lebanon. Jika kata orang setiap pertemuan akan menyisakan luka karena perpisahan. Maka bertemu denganmu adalah luka paling manis yang kurasakan, " ucap Dirga mengelus kepala Indira lalu pergi meninggalkannya.


Sedangkan Indira terdiam mematung, sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.


"Pada akhirnya, setiap orang adalah perjalanan bagi manusia lainnya, dan setiap perjalanan terbuat dari dua hal yaitu pertemuan dan perpisahan. Ketika angin terasa berhenti berhembus, debu debu semakin mengering dan hati yang membeku menjadi satu. Disitulah akhir dari pertemuan kita. Kadang, ada sebuah pertemuan yang akan diingat sepanjang hidup. Dan itu adalah pertemuanku denganmu," batin Indira menatap kepergian Dirga.


Tring tring tring


*Athaya in Calling*


Indira menatap ponselnya, berkali-kali panggilan dari Athaya dia abaikan.


"Aku hanya mampu tersenyum melihat punggungmu dari kejauhan, karena aku tahu mengharapkanmu berbalik adalah sebuah kemewahan, Dirga. Aku bingung, kita mau berjalan ke arah mana. Tampaknya semua arah adalah arah yang salah, Athaya. Dan disinilah aku, berdiri sendiri disini. Di Pulau Tidung, kegelisahan tentangmu dan pertemuan singkatku dengannya,"


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2