
Motor yang dikendarai Husain mulai membelah jalanan, kini dia sudah berada di cafe milik Cyra dan Thoriq. Rencananya hari ini mereka akan pergi bersama menggunakan motor, atau istilahnya disebut touring.
"Wes wes wessss... Pak Cabup dateng neeh! witwiiiwww!" ucap Alan menyambut Husain.
"Apaan sii, berisik!" ucap Alana yang duduk disamping Alan.
"Tau nih! Cabup cabup apaan lagi itu!" celetuk Husain lalu duduk disamping Alana.
"Euuuhhh, Calon Bupati atuh Ain! Gitu aja teu nyaho! Gua kasih sukun, mati lu!" celetuk Alan. Dan mendapatkan tabokan dari kembarannya.
"Sembarangan ngomongin mati! Itu mulut mustinya dikasih lakban!" kesal Alana sambil mencomot mulut Alan.
Cyra dan Thoriq baru saja datang, rupanya mereka datang bersama Theresia.
"Ada apaan sih? Ramenya kedengeran sampe luar!" ucap Cyra.
"Ini nih si Alan, main ngomongin mati-mati segala!" kesal Alana.
"Yee sekarang gua tanya nih ya! Kalo Ain ketemu sukun tandanya apa?" ucap Alan.
"Kalo dalam tajwid mah artinya mati!" celetuk Theresia.
"Nah bener lu ijem! Dia aja ngarti, masa kalian kagak! Gitu tuh kalo otaknya kelamaan direndem cinta," ucap Alan menyindir Alana.
"Ish ngeselin!" ucap Alana mencebik kesal.
Mereka menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan ocehan dua kembaran ini.
"Mau pergi sekarang gak? Keburu panas nanti!" ajak Husain pada Alana.
"Leeuuuhhh, si Alana aja nih yang diajak?" goda Alan menaik-naikkan alisnya.
"Emang mau kemana, Bang Ain?" tanya Theresia.
"Kepoooo! Anak kecil mah diem bae dirumah," celetuk Alan.
"Idiiihhh, situ yang nyaut, gak ada angin gak ada ujan!" kesal Theresia.
"Stop! Hih besok beneran Ummi lamar kamu Re! Kalian emang kudu dikawinin!" ucap Alana membuat Theresia dan Alan berdemo.
"Ogahh!!" ucap keduanya bersamaan.
"Ciee ciee, kompak!" goda Husain pada keduanya.
Theresia dan Alan menjadi salah tingkah, sedangkan yang lainnya tertawa senang.
"Udah diem! Yuk jalan keburu siang nanti," ajak Thoriq pada Cyra.
"Mau kemana sih, Kak? Kok Rere ditinggal?" rengek Theresia.
"Kan Kakak bilang mau touring, kamu aja yang rese mau ikut!" kesal Thoriq.
"Noh noh! Kakak lu aja sepet ama lu yang rese!" celetuk Alan.
Tiba-tiba ide mulai muncul dikepala Alana.
"Mmm gini aja, kalo Rere mau ikut ya kepaksa sama sialan," ucap Alana.
"Beuh sakit dah! Gua Kakak lu, lu panggil nama gua jangan disatuin!" kesal Alan menjitak kepala Alana namun dihadang oleh Husain.
"Ini kepala di fitrahin ama Ummi! Maen getak getok aja!" kesal Husain.
"Helehh sok-sokan, biasanya juga gua sama dia toyor-toyoran!" ucap Alan.
"Eehh malah berantem! Jadi pergi gakkkk?" tanya Cyra dengan nada tinggi.
"Jadiiii," jawab mereka semua pelan.
"Kamu gimana, Re? Mau ikut atau stay di cafe?" tanya Cyra.
"Ikuuut Teh! Tapiiiii......." ucapan Theresia terpotong.
"Sama Alan atau gak sama sekali," ucap Thoriq lalu menggandeng tangan Cyra.
Akhirnha mau tidak mau Theresia dan Alan berada disatu motor. Sepanjang perjalanan, Theresia dan Alan terus saja beradu mulut. Karena berada dijalan hingga mereka berbicara sambil berteriak.
"Wooyyy pelan aja napaa! Gua takut ini!" teriak Theresia.
"Makanya pegangaaan! Lu jatoh bukan urusan gua!" teriak Alan.
__ADS_1
"Halaah modus kan luu!" ucap Theresia.
"Lah ogah gua modus ama lu! Lagian anak kecil kaya lu apa bagusnya," ucap Alan dan mendapat cubitan dipinggangnya.
"Aww! Sakit ijem!" ucap Alan sambil mengerem motornya secara mendadak membuat tubuh Theresia terlonjak menabrak tubuh Alan.
Bugh!
"Waww, lumayan juga ni anak!" batin Alan saat merasakan tubuh Theresia menempel dipunggungnya. Sedangkan Theresia masih mengomel.
"Lu kalo mau mati sendirian aja! Kagak usah ngajak-ngajak!" kesal Theresia.
"Lagian lu nyubit pinggang gua kenceng banget!" ucap Alan yang tak kalah kesal.
"Ciee nemplok cieee," goda Husain dan Alana yang baru saja melewati keduanya.
"Cieee Alan modus cieee," goda Cyra membuat Alan salah tingkah.
"Kawinin dulu Adek gua wooyyy!" ledek Thoriq lalu kembali menjalankan motornya.
Alan dan Theresia menjadi salah tingkah, tanpa mereka sadari tubuh Theresia masih menempel dipunggung Alan.
"Mm, mau lanjut jalan gak? Ini ada yang ganjel dipunggung gua," celetuk Alan.
"Ihh dasar mesuuuummm!!" pekik Theresia lalu meletakkan kedua tangannya didepan dada. Sedangkan Alan tersenyum mesam mesem berasa mendapatkan undian.
"Lumayan dapet gunung saat melewati gunung," gumam Alan yang tak dapat didengar oleh Theresia.
Mereka melanjutkan perjalanannya kembali, kini mereka sudah sampai di Tebing Keraton. Tempat yang cukup hits di Bandung, mereka berenam beriringan menyusuri jalan.
"Haaaahhh? Jauh-jauh kesini cuman mau foto doaaanggg?" tanya Alan yang melihat Husain mengeluarkan koleksi kamera miliknya.
"Lah emang mau prawed nya Cyra ama Thoriq kan!" celetuk Alana yang membantu Husain.
"Oh my god! Tau gitu Rere tadi kerumah Dira aja!" keluh Theresia.
"Yee lagian bocah! Suruh sapa lu ngikut-ngikut mulu orang gede! Udeh kagak usah ngedumel, sakit kuping gua!" ucap Alan lalu membuka ponselnya.
Alan melakukan foto selfie sendiri, dengan pemandangan indah dari Tebing Keraton.
"Beuh ni anak gemesin juga ya! Apalagi tadi, mmm....." batin Alan membayangkan kejadian tadi saat tak sengaja dirinya bertabrakan dengan tubuh Theresia.
"Eh, kagak lah Mas!" gugup Alan.
Thoriq meninggalkan Alan dengan wajahnya yang memerah, tidak masalah bagi Thoriq jika Alan menjadi adik iparnya. Karena dia sudah sangat mengenal Alan. Mereka silih bergantian berfoto bersama, saat giliran Theresia dan Alan mereka tampak malu-malu lalu kemudian bertingkah konyol seperti biasanya.
Karena hari sudah siang, mereka menikmati makanan di Waroeng Lereng Keraton. Banyak sekali makanan dan minuman yang mereka pesan, untuk memuaskan rasa lapar dan haus.
"Makan nya pelan aja Dek, sampe belepotan gini," ucap Husain mengusap bibir Alana yang terkena sambal. Sedangkan Alana jadi tersipu malu dan wajahnya memerah.
"Makasih ya, Abang. Lanjutin makannya, Bang," ucap Alana mempersilahkan.
"Uhuukkk.. Uhuukkkk..." Alan tersedak karena mendengar panggilan keduanya.
"Yaa Allahu Robbi! Makannya pelan-pelan! Lu batuk nyembur baju gua!" kesal Theresia yang memegang minuman, dengan cepat Alan meminum minuman tersebut.
"Itu kan bekas gua!" ucap Theresia menatap tajam kearah Alan.
"Ciee ciuman gak langsung cieeeee...." goda Alana membuat Alan menjitak kepalanya.
Tak terasa waktu berlalu, mereka bertiga pergi untuk double date. Tujuan mereka berikutnya adalah kebun teh, tapi perjalanan mereka terhenti karena Bunda Gisya menelepon Husain agar segera ke Rumah Sakit.
"Dek, kayaknya kita harus ke Rumah Sakit! Sweta katanya demam tinggi," panik Husain.
"Yaa Allah, Sweta! Ayo kita kesana, Bang!" ucap Alana tak kalah paniknya.
"Aku ikut, Alana!" ucap Cyra dan dianggukki oleh Thoriq.
"Gua juga ikutlah! Sweta juga kan ponakan gua!" ucap Alan lalu menaiki motornya.
Alan berniat untuk mengantarkan Theresia terlebih dahulu.
"Gua anterin si ijem dulu," ucap Alan pada Thoriq.
"Aku mau ikut aja, Kak! Gua ikut ya! Please!" pinta Theresia.
"Tapi jangan rese ya lu!" ucap Alan.
"Gak akan!" jawab Theresia. "Kalo gak lu yang rese duluan!" batinnya.
__ADS_1
Mereka segera melanjutkan perjalanannya ke Rumah Sakit, sesampainya disana mereka segera ke ruangan Sweta. Untung saja Sweta dirawat dikelas VVIP sehingga bebas yang menjenguk. Dengan perlahan Husain membuka pintu kamar rawat inap Sweta.
"Waahh pemandangan yang indah! Foto ah," celetuk Alana.
Bagaimana tidak, mereka melihat Elmira yang tidur dibahu Mirda dengan Sweta yang terlelap dipangkuan Mirda.
Cekrek! Cekrek! Cekrek!
Suara kamera itu terdengar cukup nyaring, mereka takut itu mengganggu keduanya.
"Ssstttt jangan berisik!" bisik Alan menepuk pundak Alana.
"Awww! Si Alan! Sakit!" ucap Alana refleks membuat Elmira dan Mirda terbangun.
"Ahh si Alan! Untung udah dapet fotonya!" kesal Cyra menabok punggungnya.
"Ni cewek KDRT semua!" kesal Alan lalu menghampiri Sweta.
Elmira masih setengah sadar dan masih bersandar dibahu Mirda.
"Eh kalian kapan sampai?" tanya Elmira yang masih mengantuk.
"Baru kok, Kak. Ini kita bawain makanan, pasti kalian laper," jawab Cyra lalu meletakkan dua bungkusan makanan itu dimeja.
"Kalian? Maksudnya?" tanya Elmira yang belum juga sadar.
"Saking nyamannya, sampe gak sadar," celetuk Alan membuat Elmira berpikir sejenak.
Dia menatap kearah Mirda yang saat ini tersenyum melihat tingkahnya.
"Eh, maaf ya Bang. Pasti pegel banget ya gendong Sweta!" ucap Elmira gugup.
"Gak apa-apa kok, udah sana makan dulu," pinta Mirda.
"Kalian makan aja berdua, sini biar Sweta aku yang gendong," ucap Cyra lalu mengambil alih Sweta dari gendongan Mirda.
"Makasih ya, udah bawain makanan," ucap Elmira sambil memberikan bungkusan pertama pada Mirda. Mereka tersenyum melihat wajah Elmira yang kembali ceria.
Baru saja Mirda akan makan, tapi terdengar rengekan dari Sweta.
"Bab bababm," rengek Sweta menggeliat dalam gendongan Cyra, dia merentangkan tangannya kearah Mirda.
"Sini sama Bubu sayang, kasian Om mau makan dulu," ucap Elmira dan mengambil Sweta.
"Bababm, bababm," tangis Sweta yang terus meronta.
"Kamu makan duluan, biar Abang yang gendong!" ucap Mirda lalu menggendong Sweta.
Mereka tersenyum melihat interaksi keduanya, 'cocok' kata itulah yang ada dipikiran mereka saat ini.
"Kak suapin aja Bang Mirda nya, dia pasti laper!" celetuk Alana.
"Eh gak apa-apa, biar Elmira makan duluan," ucap Mirda yang tak enak.
"Buka mulutnya, Bang," pinta Elmira menyodorkan sendok didepan mulut Mirda.
"Taapii..." Mirda tidak menolak setelah melihat manik mata Elmira. Akhirnya mereka makan bersama dan dari sendok yang sama.
Sweta sama sekali tidak mau jauh dari Mirda, dan hal itu membuat Elmira merasa tak enak. Sedangkan Mirda masih berlarut dengan beribu pertanyaan dalam benaknya.
"Husain, besok pulang kerja jam berapa? Ada hal penting yang harus Abang bicarakan sama kamu," tanya Mirda pada Husain.
"Jam 4 sore, Bang. Nanti ketemu di cafe Cyra aja ya, Bang!" jawab Husain.
"Di cafe depan rumah sakit aja, besok Abang mau jagain Sweta," ucap Mirda.
Jawaban Mirda membuat Elmira tersenyum bahagia.
"Sweta aja nempel sama kamu, Bang. Apalagi aku..." batin Elmira.
* * * * *
Cieee... Cieeee.......
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤