Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Nyicil, Yuk!


__ADS_3

Betapa ajaibnya do'a seorang ibu dan betapa besarnya kasih sayang seorang ibu bagi anaknya. Mami Rena mengorbankan hidupnya, demi menebus kesalahannya dimasa lalu terhadap anak-anaknya. Theresia mulai mengerjapkan matanya, seperti terasa mimpi. Orang yang pertamakali dia lihat adalah Ummi.


"Um-mi," lirih Theresia.


"Alhamdulillah, suster! Mantu saya udah siuman sus," bahagia Ummi Ulil.


"Astaghfirulloh, siluman apa bu?" panik suster menghampiri Ummi.


"Hadeuh, lupa kalo ni suster budeg bin bonge!" gumam Ummi Ulil.


"Maaf ya, Bu. Biar kami periksa dulu keadaan Nona Theresia," ucap suster Nina.


"Oh, pasien nya udah sadar! Bilang dari tadi dong, Bu!" ucap suster Vera.


"Yaa Allah, berilah aku kesabaran hati yang lebih! Se-ons aja, buat ngadepin suster Vera," kesal Ummi Ulil membuat Theresia tersenyum.


Kondisi Alan dan Theresia mulai membaik, seperti yang dikatakan dokter semua dugaan bisa saja salah. Mereka bersyukur tak ada hal yang harus dikhawatirkan dari mata Alan. Lagi-lagi semuanya berkat do'a dari Ummi Ulil sang ibu. Kini keduanya dirawat dirumah, sebab Ummi Ulil dan Baba Jafran memaksa agar mereka bisa memantau setiap harinya. Tentu saja dengan uang segalanya mereka bisa lakukan, maklum saja sultan dari Bandung. Suster Nina dan Suster Vera adalah dua orang yang akan merawat mereka hingga sembuh. Mereka berdua dirawat di ruangan yang sama, yaitu di kamar milik Alan.


Alan pun mulai mengerjapkan matanya, sejak siuman beberapa hari lalu dia terus menanyakan Rere, Rere dan Rere.


"Sus, dimana Rere?" tanya Alan.


"Ck! Kamu itu baru aja sadar yang ditanyain selalu Rere, Rere, Rereeeee terus! Masa Ummi gak ditanyain sih," kesal Ummi Ulil.


"Uhuk... Uhukkk.. Suster, kok batuk saya keluar dahak sih?" ucap Alan.


"Kan kalo batuk memang keluar dahak, Pak! Masa keluar ingus," ucap suster Vera sambil membersihkan dahak yang keluar dari mulut Alan.


"Enggak sus! Saya biasanya kalo batuk keluar negeri," kesal Alan.


"Haaaaaa?!!" suster Vera dan suster Nina melongo.


"Udah jangan didengerin dia mah, otaknya masih geser ternyata!" Ummi Ulil tersenyum saat melihat putranya yang masih terbaring lemah.


Ummi Ulil menciumi seluruh wajah Alan, dia sangat bersyukur kini putranya sudah baik-baik saja. Meskipun masih dalam pemulihan, pasca beberapa operasi yang dilakukannya.


"Wahai istri yang sholeha, kontrak anakmu sudah habis sejak dia balita! Kenapa harus diciumi terus seperti itu," kesal Baba Jafran yang baru saja datang.


"Ck! Baba mah syirik aja! Tapi bener juga sih, harusnya kan yang ciumin wajah aku tuh Rere, Ummi," Alan merengek seperti anak kecil.


"Yaa Allah, si Maul! Sembuh dulu makanya, biar cepet halal! Mau diapain juga boleh-boleh aja," ucap Baba Jafran lalu beralih kesamping putranya.


Baba Jafran membukakan gordyn pemisah antara ranjang Theresia dan juga Alan.


"MashaAllah, cantiknya bidadari Syurgaku," ucap Alan ketika melihat Theresia dengan ujung matanya, sebab lehernya masih menggunakan alat dan belum bisa menoleh.


"Dasar belekok! Leher udah mau patah aja maksain liat cewek bening," kesal Ummi Ulil.


"Kangen tau, Ummi! Eh iya, ngomong-ngomong si Mail kemana?! Kok gak ada nengokin aku, dasar adik durjanah!" kesal Alan.


"Adik kamu itu lagi nyicil," celetuk Ummi Ulil.


"Haaaa? Nyicil apa, Mi? Rumah? Bukannya mereka bakalan tinggal dirumah Bunda, ya?" tanya Alan yang penasaran.


"Kamu itu abis celaka jiwa keponya gak ilang! Mereka tuh nyicil lagi bikin kepala, kaki, tangan dan lain-lain! Udah gak usah kepo!" kesal Baba Jafran.


"Haaaaaaaa??" kini mereka semua melongo mendengar ucapan Baba Jafran.


* * *


Sementara disisi lain, Alana dan Husain baru saja sampai di Lombok. Setelah tiga minggu menikah, Husain masih belum mendapatkan hak nya sebagai seorang suami. Bukan tanpa alasan, mereka sangat sibuk mengurus persiapan Husain untuk Pilkada. Dan juga sibuk bergantian menjaga Alan di Rumah Sakit. Kemarin sore, Baba Jafran memberikan empat buah tiket honeymoon. Yang dua untuk Alana dan Husain, dan dua lagi untuk Cyra dan juga Thoriq.


Dan disinilah mereka berada, di Pulau Lombok yang terkenal dengan keindahan lautnya.


"Waahhhh, keren banget pemandangannya," ucap Alana merentangkan kedua tangannya menikmati angin laut dari kamar di Villa yang mereka sewa.


"Buat aku gak ada yang lebih indah dari kamu sayang," bisik Husain ditelinga Alana, dia memeluk sang istri dari belakang.

__ADS_1


"Abang, geliiii!" ucap Alana ketika Husain menciumi lehernya.


"Nabung yuk sayang! Kita nyicil deh, masa udah mau sebulan nikah, Abang masih perjaka," bisik Husain.


Deg deg deg


Jantung Alana berdegup kencang, memang kadang terbersit rasa bersalah dalam diri Alana. Tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun, maka hari ini dia berniat untuk memberikan yang terbaik bagi suaminya.


"Sumpah, laki gua ketularan absudrnya Baba! Fix!" batin Alana.


"Masih siang, Abang sayang! Nanti malem ya," pinta Alana.


"Ck! Mau siang mau malem sama aja sayang, sama-sama yang pertama!" ucap Husain lalu menggendong tubuh sang istri.


"Abang, tutup dulu jendelanya! Emang kamu mau diliatin orang!" kesal Alana.


Dengan cepat Husain menutup pintu dan menguncinya, dia sudah tidak sabar lagi untuk memberikan tabungan pertamanya di celengan sang istri.


"Abang sayang kamu, Alana," bisik Husain lalu dia meraih tengkuk sang istri dan ******* bibir manis Alana yang kini menjadi candu baginya.


"Nafas sayang!" ucap Husain sambil mengusap lembut bibir sang istri.


"Ternyata do'a Abang terkabul, cuman Abang sekarang yang milikin aku seutuhnya," ucap Alana membuat Husain tersenyum lalu kembali ******* bibir sang istri.


Perlahan Husain mulai naik ke puncak gunung, dia bermain dan berlarian disana. Membuat guncangan pada tubuh Alana. Sungguh baru kali ini Alana merasakan sensasi yang luar biasa seperti ini. Husain mulai berjalan bermain perosotan menuju lembah syurgawi. Lembah yang ketika Husain pijak cukup membuat tubuh Alana gemetaran seperti gempa 3.4 skala richter. Kini Husain sudah dihadapkan dengan goa didalam lembah, ular cobra miliknya sudah tak sabar untuk menjelajah goa kenikmatan milik sang istri. (HAYOH OTHOR BIKIN TRAVELING KALIAN SEMUA πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ)


Ular cobra milik Husain mulai mendesak ingin masuk kedalam goa yang sama sekali belum pernah terjamah ular manapun.


"Awh! Abang, sakit," lirih Alana.


"Tahan sedikit sayang," bisik Husain lalu dia mulai menjalankan aksinya.


Tok tok tok


"Alana! Aku dah sampe, kamu didalem kan?!" teriak Cyra membuat Alana dan Husain gelagapan karena kaget.


"Nanti malem dilanjutin ya, Abang sayang!" pinta Alana karena Cyra mulai kencang menggedor pintu kamar mereka.


"Huft! Awas aja kamu, Cyra!" kesal Husain lalu pergi kedalam kamar mandi.


Ceklek


Alana membuka pintu kamarnya, dia sedikit bernafas lega. Sebab dia memang akan memberikan kejutan untuk sang suami malam nanti.


"Muka kamu kok kisut begitu!" Cyra berbicara dengan polosnya.


"Ck! Mana titipan Ummi?" tanya Alana sambil menatap kesal kearah Cyra.


"Nih, kita jalan-jalan dipantai yuk!" ajak Cyra dan Alana mengangguk.


"Sayaaaangg, kaos dalem aku dimanaaa?!" teriak Thoriq membuat Cyra segera berlari menuju kamarnya.


"Aku lupa siapin baju Mas Thoriq, aku kekamar dulu!" pamit Cyra.


Husain juga baru keluar dari kamar mandi, sepertinya dia habis apel siang bersama Lux atau mungkin Dove.


"Lho, kok Abang udah mandi?" rengek Alana memeluk tubuh sang suami.


"Iyalah, gerah! Udah hareudang hareudang panas panas panas eh malah disembur api! Ya Abang mandi lah," ketus Husain.


"Maaf sayang, nanti malem deh! yaaa yaaa yaaaa," rengek Alana sambil menciumi dada bidang sang suami.


"Mulaii... Mulaiii... Jangan mancing-mancing sayang! Kamu mau Abang terkam sekarang," bisik Husain karena mulai merasa ular cobra nya itu terbangun.


Mendengar ucapan sang suami, Alana segera berlari ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Mereka akan berjalan-jalan menyusuri pantai sore ini, untuk melihat sunset yang sangat mereka sukai. Alana berjalan dengan Cyra didepan, sedangkan Thoriq dan Husain berjalan dibelakang mereka.


"Kenapa itu muka ditekuk mulu?" tanya Thoriq pada Husain.

__ADS_1


"Ck! Pake nanya lagi kamu, Mas! Istri kamu tuh nyebelin banget, orang baru mau mulai nyicil eh dia gedor-gedor pintu!" kesal Husain.


"Bhahahaahaha!" Thoriq tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit.


"Malah ketawa kamu, Mas!" kesal Husain meninju lengan Thoriq.


"Lagian udah ampir sebulan kamu nikah, masa masih perjaka!" ledek Thoriq.


Husain mencebik kesal, sekaligus melototkan matanya mendengar ucapan Thoriq.


"Jadi kamu sama si Cyra udah nganu-nganu, em maksudnya nyicil bikin adonan?" tanya Husain seolah tak percaya.


"Udah dong!" ucap Thoriq dengan bangganya.


"Sialan kamu, Mas! Aku aja belom," kesal Husain.


"Hahahaha tenang aja! Malam ini kan? Aku bisikin deh kiat-kiat biar bikin istri kamu klepek-klepek kaya ikan kurang air," bisik Thoriq dan mata Husain langsung berbinar.


"Ck! Kamu emang udah ketularan si Baba gesreknya!" ledek Thoriq.


Sementara dua wanita itupun sedang terlibat perbincangan yang sama.


"Hahahaha, jadi tadi tuh aku gagalin rencana si Abang buat masukin bola?" kaget Cyra yang sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Ye! Malah ngetawain lu, oneng!" kesal Alana.


"Udah jangan merajuk, nanti aku kasih tau gimana cara biar si Abang bisa ngiler liat kamu!" ucap Cyra membuat Alana melongo tak percaya.


"Sumpah ya! Lu sekarang kok ampir sama gesreknya sama si Ummi," Alana berucap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


* * *


Malam pun telah tiba, selesai makan malam Husain dan Thoriq mengobrol diruang tengah. Sedangkan Alana kini tengah bersiap untuk memberi kejutan untuk suaminya. Kini Alana tengah berdiri di depan cermin, dia geli sendiri melihat tubuhnya yang kini hanya terbalut lingerie berwarna merah mencolok.


"Ummi emang ajaib! Saringan nasi bisa jadi begini," gumam Alana sambil memutar-mutarkan tubuhnya.


"Sayang, kamu didalem!" teriak Husain sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Ayo! Kamu bisa Alana, menggoda dan meminta duluan itu dapet pahala gede!" gumam Alana ketika dia mengingat ucapan sang Ummi.


Ceklek


Begitu pintu kamar mandi terbuka, Husain sama sekali tidak bisa berkedip. Dengan susah payah dia menelan ludah melihat penampilan Alana yang sangat sexy. Alana berjalan menghampiri Husain, dan membisikkan sesuatu.


"Nyicil yuk, Bang!" bisik Alana lalu membuka kancing kemeja suaminya satu persatu.


"Dengan senang hati, sayang! Abang udah siapin beribu kecebong buat ditabungin dicelengan, sekarang kita mulai cetak kepalanya aja dulu!" ucap Husain lalu segera menggendong tubuh sang istri dan dibaringkannya diranjang.


Suara-suara alunan indah dua sejoli yang tengah memadu kasih berhambur menjadi satu bersama deburan ombak dan angin laut malam itu. Akhirnya ular cobra dapat menikmati lembab dan basahnya goa ditengah lembah yang rimbun. Husain mencium kepala sang istri setelah berhasil menaburkan bibit-bibit kecebong.


"Terimakasih istriku sayang, semoga didalam sini mereka semua nulai bergotong royong untuk menjadi fruit heart kita sayang," bisik Husain sambil mengelus perut Alana.


"Fruit Heart?" Alana kebingungan mendengarnya.


"Ck! Buah cinta kita sayang, hasil adonan! Biar semakin cepat, ayo kita ronde kedua!" ucap Husain membuat Alana hanya bisa pasrah.


* * * * *


AKHIRNYAAAAAAA....... 😝😝😝🀣🀣🀣πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺ


Yang traveling, angkat tangan!!!


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite πŸ₯°πŸ™πŸ₯°


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❀


__ADS_2