
Sudah tiga hari Cyra dirawat inap. Selama itu pula Zaydan selalu berada disisi mereka berdua. Bahkan dia tidak menghiraukan kehadiran Ana dan keluarganya. Zaydan hanya terfokus pada Febri dan Cyra.
"Alhamdulillah akhirnya cucu bapak bisa pulang hari ini." ucap Pak Burhan.
"Iya Pak, alhamdulillah Cyra baik-baik saja dan bisa pulang hari ini. Maaf ya Bapak dan Ibu jadi repot buat dateng ke Bandung." ucap Febri sambil menggendong Cyra.
"Kami sama sekali gak repot, Cyra juga kan cucu Bapak dan Ibu. Jadi sudah pasti kami datang kesini. Oh iya, bagaimana kelanjutan pernikahan Ana dan Zaydan?" tanya Ibu.
Febri tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan memeluk Cyra dengan erat.
"Maafkan saya Pak, Bu. Saya tidak bisa menikahi Ana." ucap Zaydan yang membuat mereka terkejut, termasuk Ana.
"Apa maksud Nak Zaydan? Bukankah kalian saling mencintai? Lagi pula Febri sendiri yang meminta agar Nak Zaydan menikahi putri kami." ucap Ibu dengan emosi.
"Sekali lagi saya mohon maaf Bu. Saya tidak bisa meninggalkan Cyra dan Febri, mereka adalah kebahagiaan saya. Maafkan Mas, Ana." ucap Zaydan.
Ana berlari keluar kamar rawat inap Cyra sambil menangis. Sementara Febri masih terus memeluk erat putri kecilnya. Zaydan terlihat serba salah, dia menyesal sudah menyakiti keduanya. Tapi untuk saat ini, Cyra dan Febri adalah yang terpenting.
"Kejarlah Mas. Jangan bohongi hatimu, aku dan Cyra baik-baik saja. Kami tidak butuh belas kasihan dari siapapun. Baik dari kamu ataupun dari keluarga Mas Andi. Aku dan Cyra masih sanggup untuk melanjutkan hidup kami." ucap Febri dengan tatapan kosong.
"Mas gak akan pernah meninggalkan kamu sendiri, kamu dan Cyra adalah proritas Mas saat ini. Tolong mengertilah." tutur Zaydan.
Kedua orangtua Andi saling memandang, sungguh mereka benar-benar tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Kisah cinta segitiga menantu dan putrinya.
"Selesaikanlah urusanmu dengan masa lalumu, maka kamu akan bisa melangkah menuju masa depan. Jika kita berjodoh, mungkin suatu saat kita akan dipersatukan dengan cara yang jauh lebih indah. Laki-laki itu harus bertanggung jawab atas sikap dan ucapannya. Terlebih kamu adalah seorang Abdi Negara yang diwajibkan menjunjung kesetian terhadap Negaramu." ucap Febri.
Zaydan tersentak dengan ucapan Febri, dan akhirnya dia menyusul Ana. Ketika Zaydan keluar dari kamar, airmata Febri sudah tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis tersedu-sedu sambil memeluk putri kecilnya.
"Maafkan kami, Nak. Semoga kamu dan Cyra akan selalu bahagia." ucap Ibu.
"Aku rindu Mas Andi, Bu. Kenapa Mas Andi harus meninggalkan aku dan Cyra." isak Febri.
__ADS_1
"Ibu yakin, kamu akan mampu melewati semuanya Nak. Kami akan selalu mendo'akanmu dan Cyra." tutur Ibu sambil memeluk Febri.
Ana menangis di taman Rumah Sakit, dia merasa dipermainkan oleh cintanya. Zaydan duduk disamping Ana tanpa melihat sedikitpun kearah gadis itu.
"Maafkan saya, mungkin saya lelaki yang tidak pantas untukmu. Saya tidak bisa pergi meninggalkan Cyra dan Febri begitu saja. Mereka sangat berharga bagi saya, sekali lagi saya mohon maaf Ana." ucap Zaydan.
"Kenapa Mas memberikan harapan itu pada Ana? Kenapa Mas mengatakan jika Mas mencintai Ana?" ucap Ana terisak.
"Dulu saya kira itu adalah cinta, tapi ternyata itu hanyalah kekaguman saya terhadap sikap kamu yang mau menjaga Febri dan Cyra. Setelah saya rasakan sendiri, saya tidak sanggup untuk jauh dari Cyra dan Febri. Maafkan saya Ana." tutur Zaydan.
Semuanya terasa sulit bagi Zaydan, tapi dia sudah memutuskan akan tetap mendampingi Febri dan Cyra sampai kapanpun.
* * * * *
Sementara perang dingin sedang terjadi dirumah Yuliana. Biasanya kedua pasangan absurd itu beradu mulut dengan candaan, tapi berbeda dengan pagi ini. Yuliana menemukan Jafran sering berkirim pesan dengan seorang pramugari. Tubuhnya terasa lemas ketika pramugari itu mengatakan jika dia sedang mengandung. Rasanya ingin Yuliana tidak mempercayai semua itu, tapi semua chatingan itu tidak bisa terelakan. Panggilan sayang dan kata-kata rindu terucap disana. Bahkan Jafran berniat untuk melakukan poligami yang menurutnya di sahkan oleh agama.
Yuliana tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Dia tetap melayani suami dan anak-anaknya dengan baik. Jafran sungguh kesal dengan sikap istrinya.
Tanpa menjawab, Yuliana memperlihatkan seluruh pesan yang masuk ke ponsel suaminya. Jafran terbelalak kaget, niatnya hanya main-main berkirim pesan dengan pramugari itu. Tapi ternyata istrinya sudah mengetahuinya.
"Demi Allah, Baba hanya berkirim pesan aja. Sama sekali Baba gak pernah menyentuhnya. Dia mengandung anak kekasihnya, Baba hanya berniat membantunya." ucap Jafran.
"Poligami itu bisa dilakukan jika ada ridho dari istri pertama dan yang akan dijadikan istri kedua itu adalah orang yang layak untuk ditolong. Baba bisa aja menolong dengan cara lain, tidak dengan menikahinya." ucap Yuliana dengan tatapan kosong.
Sebelum beranjak ke kamar anak-anaknya, Yuliana mengatakan sesuatu hal yang membuat Jafran bungkam seribu bahasa.
"Sejak dulu aku mencintai kamu, aku setia mendukung kamu dari nol. Dari mulai kamu bukan apa-apa, hingga kamu menjadi seorang pilot. Aku masih setia mendampingi kamu dalam kondisi apapun. Kamu fikir aku tidak pernah memperhatikanmu? Aku masih menyiapkan kebutuhanmu, bahkan masih memberikan kehangatan dan kenyamanan meskipun tidak sesering dulu. Aku mengasuh kedua anakmu dengan penuh cinta tanpa mementingkan diriku sendiri. Aku anak satu-satunya dalam keluargaku, aku diperlakukan bagai Ratu oleh kedua orangtuaku. Tapi setelah menikah denganmu dan memiliki anak, aku bahkan sudah tidak pernah mengurusi diriku. Sementara kamu? Diluaran sana dengan bebas mendekati wanita lain tanpa memikirkan istri yang mengurusimu. Aku bahkan hampir mati ketika melahirkan anak-anakmu. Sekarang pilihlah jalanmu, tinggalkan dia atau kembalikan aku pada kedua orangtuaku." ucap Yuliana lalu pergi berlari kekamar anak-anaknya.
Jafran termenung, dia benar-benar merasa bersalah pada istrinya. Sungguh dalam pikiran Jafran, dia hanya ingin menolong perempuan itu. Mungkin Jafran terlalu terbawa rasa nyaman ketika pramugari itu bisa menemaninya bercengkrama. Yang sudah jarang dia lakukan bersama istrinya. Karena memang benar, Yuliana lebih sering mengurusi kedua anak kembar mereka.
Tiba-tiba Umma Nadia datang dan menampar pipi Jafran dengan keras.
__ADS_1
"Anak kurang ajar kamu! Dimana otak kamu, sampe kamu berani menyakiti hati istrimu yang selama ini menemani kamu! Umma tidak pernah mengajarkan kamu hal-hal seperti itu. Umma sangat menentang poligami, sudah sejauh mana ilmu agamamu hingga kamu berani ingin melakukan poligami. Umma akan bawa pergi istri dan anakmu kalo kamu sudah tidak becus menjadi suami!" geram Umma Nadia.
"Jangan Umma, jangan bawa anak-anak. Maafin Apan Umma, Apan tau semuanya salah. Apan menyesal Umma!" ucap Jafran berlutut didepan Ibunya.
Umma Nadia tidak memperdulikannya, dia pergi ke kamar cucunya. Umma Nadia menyeret Yuliana agar mau mengikutinya. Meskipun Yuliana meronta-ronta tak mau meninggalkan kedua anaknya.
"Umma, Ulil akan bawa anak-anak. Kasian mereka kalo Ulil tinggalkan." isak Yuliana.
"Biarkan saja bajingan ini yang mengurus kedua anakmu! Bukankah dia merasa kalo kamu tidak memperhatikannya? Biarkan dia tau bagaimana repotnya kamu mengurusi kedua anaknya setiap hari selama 24 jam!" bentak Umma Nadia.
"Tolong Umma, jangan bawa istriku. Bukankah seorang istri tidak boleh keluar rumah tanpa ijin dari suaminya." lirih Jafran.
"Masih berani kamu bicara seperti itu? Tidak tahu malu! Apa kamu juga gak ingat? Jika satu tetes airmata istrimu adalah neraka bagimu! Istrimu masih berbaik hati tidak memberitahukan masalah ini kepada kedua orangtuanya! Jika sampai Papa Yuda tau, kamu terima sendiri akibatnya!" tutur Umma sambil membawa Yuliana.
Jafran terkulai lemas, dia mulai menyesali setiap perkataan dan sikapnya terhadap Yuliana. Suara tangisan si kembar mulai terdengar, Jafran menghampiri kedua anaknya.
"Ssstt.. Jangan nangis ya anak Baba. Maafin Baba sayang." lirih Jafran.
Sepanjang perjalanan, Yuliana terus menangis dipelukan Umma Nadia. Dia terus memikirkan kedua anak kembarnya.
"Jangan menangis, Umma hanya ingin memberikan pelajaran pada anak bodoh itu. Nanti sore kita kembali kerumahmu. Umma yakin dia tidak akan becus mengurus kedua anakmu. Maafkan Umma ya, Nak." lirih Umma Nadia.
* * * * *
Maaf baru Up 🙏
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author❤