
Gisya sudah dalam penanganan Dokter, untung saja bayi yang dikandungnya baik-baik saja. Fahri menarik nafas lega, begitupun keluarganya yang lain. Saat ini, Zahra sudah dibawa ke Kantor Kepolisian oleh Syauqi. Sementara Deni ikut dilarikan ke IGD karena sakit jantungnya kembali anfal. Gisya mulai mengerejapkan matanya.
"A-abang." lirih Gisya.
"Abang disini sayang, maafin Abang sayang. Abang bersalah sama kamu." ucap Fahri.
"Dedek baik-baik aja kan, Bang?" lirih Gisya.
"Alhamdulillah jagoan Ayah baik-baik aja Bunda. Sebentar Ayah panggil suster, biar Bunda denger sendiri." ucap Fahri.
Fahri datang bersama seorang suster, mereka mulai menyalakan monitor detak jantung bayi yang ditempelkan oleh suster di perut Gisya.
Dug! Dug! Dug! Dug! Dug!
Gisya merasa tenang ketika mendengar suara detak jantung bayi nya baik-baik saja.
"Awww!" ringis Gisya.
"Kenapa sayang? Apa yang sakit?" tanya Fahri yang khawatir.
"Dedek nendang Ayah." ucap Gisya tersenyum.
"MashaAllah, anak Ayah jagoan Ayah. Sehat ya sayang." ucap Fahri mengelus perut Gisya.
Saat ini Gisya sudah dipindahkan ke ruang perawatan, dia harus beristirahat karena pendarahan yang dialaminya bisa saja membuat bayi nya meninggal. Mereka tidak mau ambil resiko dengan keadaan Gisya.
"Alhamdulillah keadaan kamu baik-baik aja, sayang." ucap Bunda Syifa.
"Iya Bun, Caca baik-baik aja. Do'ain dedek ya Oma." Pinta Gisya.
"Oma akan selalu do'ain dedek, Bunda dan Ayahnya. Semoga kalian sehat selalu, ambil hikmahnya dari setiap kejadian ini. Cinta dan kasih sayang kalian harus semakin kuat. Maafin Bunda yang sempet misahin kalian." Lirih Bunda.
"Bunda gak salah, ini semua buat kebaikan Caca kan." ucap Gisya. "Abang mana Bun?"
Belum Bunda Syifa menjawab, Fahri sudah datang membawa beberapa bungkus makanan. Ternyata makanan itu dikirim oleh Ibu-ibu Persit di Batalyon.
"Abang disini sayang. Tadi Idan nganterin ini, katanya buat dedek bayi semua. Ayahnya gak boleh dikasih katanya." ucap Fahri tertawa.
"MashaAllah, bilangin makasih Bang ke Ibu-ibu. Adek jadi kangen rumah." lirih Gisya.
"Nanti sepulang dari sini kita pulang kerumah, Abang rindu nengok dedek!" ucap Fahri.
"Dasar menantu durjanah kamu Bang! Masih ada Bunda disini kamu malah ngomongin ngadon! Istri kamu aja masih sakit itu!" kesal Bunda sambil memukul Fahri.
"Aw! Aw? Sakit Bun! Abang kan bercanda aja! Bunda mah emosian." kesal Fahri.
Mereka bertiga tertawa ketika menyadari kelakuan mereka sendiri. Sampai akhirnya tawa mereka terhenti ketika melihat rombongan sirkus sudah datang. Yuliana datang bersama dengan Jafran, sedangkan Febri ditemani oleh Ana. Saat mengetahui jika Gisya dilarikan kerumah sakit, mereka sangat panik. Yuliana masih memakai piama tidur dan jilbab yang ditali kebelakang dengan asal, sedangkan Jafran memakai celana pendek dan kaos oblong dengan rambut seperti jambul ayam.
"Mana yang bikin kamu kaya gini Ca?! Mau aku semprot antiseptik biar mati tuh bibit-bibit pelakor! Belum tau dia siapa aku!" geram Yuliana.
"Hosh! Hosh! Dasar gila! Aku ngos-ngosan ini, kalian kalo gak mau nungguin bilang aja! Jalan udah kaya kereta api expresss!" kesal Febri yang ditinggalkan.
"Aku gak apa-apa sayang-sayangku! Semuanya udah clear." ucap Gisya.
__ADS_1
"Bang Fahri awas aja ya kalo beneran kaya gitu! Aku jadiin lemper kamu Bang!" ucap Febri.
Mereka bersyukur jika keadaan Gisya sudah baik-baik saja. Saat ini didalam ruangan hanya ada mereka bertiga. Karena Ana sedang membantu Fahri dan Jafran mendaftarkan kamar rawat inap untuk Febri.
"Ca, aku bersyukur kamu baik-baik aja. Lainkali, harus berhati-hati menghadapi orang seperti Zahra." ucap Febri.
"Iya Biw, aku juga gak tau kalo dia nekat kaya gitu. Tapi aku ambil hikmahnya aja dari kejadian ini. Aku jadi tau seberapa berartinya aku buat Bang Fahri." Ucap Gisya.
"Ngomong-ngomong, itu si Zahra depresi karena pake barang haram?" tanya Yuliana.
"Aku gak tau, Lil. Cuman tadi Om Deni bilang gitu. Tapi aku gak mau tau ah!
"Satu lagi tuh hikmahnya! Si Zahra kebongkar kan kaya gitu." Ucap Yuliana.
Setelah selesai mengurus administrasi Febri, Jafran mengajak Fahri untuk ngopi di kantin Rumah Sakit. Jafran ingin meminta saran kepada Fahri atas tindakan istrinya.
"Ri, menurut ente apa tindakan istriku udah bener?" tanya Jafran.
"Emmm, sebenernya sih gak bisa dibilang bener juga Ba. Kan kamu sendiri yang bilang kalo cinta gak bisa dipaksakan." jawab Fahri.
"Terus aku mesti gimana nih? Mohon maaf ya bukannya takut sama bini, tapi setelah kejadian kemaren aku lebih milih buat ngikutin apa yang dia mau." Ucap Jafran.
"Kita ikutin aja alurnya akan seperti apa." ujar Fahri.
Yuliana dan Jafran sudah berpamitan pulang, karena kedua bayi mereka ditinggalkan bersama neneknya. Sementara Febri sudah masuk kedalam ruang rawatnya.
"Ri, kita balik dulu ya. Kasian Maul sama Mail takut pengen nyusu!" Ucap Jafran.
"Alan sama Alana Baba! Kamu maah nama anak tuh panggilannya yang bagus gitu!"
"Tau ah! Serah Baba ajalah! Kita pamit Ca! Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!" Ucap Fahri dan Gisya bersamaan.
Kini hanya tinggal mereka berdua disana. Gisya sangat merindukan suaminya. Gisya terus menempel pada Fahri. Bahkan Fahri dilarang untuk melepas seragam lorengnya.
"Bun, gerah ini. Abang buka ya bajunya, Abang pake kaos kok!" ucap Fahri.
"Gak boleh! Bunda pengen bobok meluk Ayah pake baju dinas." manja Gisya.
"Ayah bau loh Bun, Ayah belom ibak! Ayah ibak dulu ya." bujuk Fahri.
"Yaudah sana!" kesal Gisya. Fahri pun beranjak dan tersenyum.
"Tapi jangan harap bisa bobok peluk Bunda!" ancam Gisya.
Fahri segera memeluk istrinya itu, dia tidur disatu ranjang pasien.
"Bun gak akan jatoh kan gini?" Tanya Fahri.
"Enggak, kasurnya gede. Lagian dedek kangen bobok sama Ayah." manja Gisya.
Fahri tersenyum saat melihat tingkah istrinya itu. Dia tidur sambil mengelus pelan kepala istrinya, hingga istrinya itu terlelap. Baru dia bangun dan membersihkan diri. Akhirnya, Fahri tidur terduduk dikursi samping ranjang istrinya.
__ADS_1
Mendengar suara adzan subuh, Gisya terbangun. Dilihatnya sang suami yang tidur terduduk menggenggam erat tangannya. Dia mengusap lembut kepala suaminya hingga Fahri terbangun dan membuka matanya.
Cupp ๐ Cupp ๐ Cupp ๐ Cupp ๐
Empat ciuman mendarat diwajah Gisya, pipinya mulai merona merah karena malu.
"Itu ciuman selamat pagi yang dirapel!" bisik Fahri.
"Hayuk kita sholat dulu Ayah!" ajak Gisya.
Mereka melakukan sholat berjama'ah meskipun Gisya terbaring di kasur. Selesai sholat mereka berdo'a bersama.
"Yaa Allah, jagalah keutuhan rumah tangga kami. Jadikanlah keluarga kami menjadi keluarga yang sakinnah, mawadah, warahmah. Jagalah istri dan anak kami, izinkan kami untuk bisa mendidik dan merawat amanah darimu. Kuatkanlah kami dalam menghadapi segala cobaan rumah tangga kami."
Gisya mencium tangan Fahri, sedangkan Fahri dengan cepat mengecup kening Gisya lalu beralih ke bibirnya. Sungguh Fahri sangat merindukan istrinya itu. Perlahan kecupan itu berubah menjadi ******* yang menuntut. Hingga aktifitas mereka terganggu oleh kehadiran seorang makhluk bernama Syauqi Malik.
"Astaghfirullohh! Masih jam berapa ini? Emang bener-bener ya! Ini untuk Uqi loh yang dateng! Gimana kalo oranglain!" kesal Syauqi.
"Dih kamu yang salah! Lagian ngapain kesini pagi-pagi?" Ucap Fahri.
"Yaa Allah Yaa Robbi si Abang! Lupa siapa yang minta Uqi kesini pagi-pagi?"
Fahri mencoba mengingat-ngingat sesuatu.
"Uqi, besok dateng kesini pagi-pagi ya! Pake ojek aja, kamu bawa mobil Abang. Nanti jemput ibu-ibu Persit yang mau kesini! Inget jangan telat! Jam 6 pagi." Ledek Syauqi yang menirukan ucapan Fahri semalam padanya.
"Yaa Allah! Lupa Maliikk! Maaf yaa Adek Abang ganteng banget sih!" Rayu Fahri.
"Dih! Kesel banget! Itu Teteh ngapain ngumpet malu-malu meong! Pake merah lagi tuh muka! Pake blush on bu? Apa blushing?" Ledek Syauqi.
"Udah jangan ledekin kakak kamu! Sekarang cepet kamu kesana jemput ibu-ibu sekalian sama Zaydan." ucap Fahri.
"Siap komandan!"
Fahri sedang menyuapi Gisya sarapan pagi. Tiba-tiba rombongan Ibu Persit sudah datang. Gisya tidak menyangka jika Ibu Danyon akan ikut menengoknya.
"Bagaimana keadaan Bu Fahri sekarang?" tanya Bu Danyon.
"Mohon ijin Bu, alhamdulillah saya dan dedek bayi baik-baik saja." Jawab Gisya.
"Kami sudah mendengar musibah yang menimpa keluarga kalian, kami sangat salut kepada Bu Fahri karena mampu melewati semuanya. Kami selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian." Tutur Bu Danyon.
"Ijin Bu, terimakasih banyak atas do'anya. Dan terimakasih banyak sudah berkenan hadir disini untuk menjenguk kami." Ucap Gisya.
"Ambil hikmah terbaiknya saja, saat ini kita bisa berkumpul bersilaturahmi untuk menjenguk Bu Fahri. Semoga kekompakan Ibu-ibu Persit ini akan terus seperti ini ya. Sekalipun bukan saya yang menjabat kembali." Ucap Bu Danyon.
* * * * *
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Authorโค