
Dikediaman Elmira, kini semua sedang disibukkan oleh persiapan Acara pengajian yang akan digelar pagi ini. Elmira tampak cantik menggunakan gamis putih, yang seragam dengan Bunda dan adiknya. Sebelum acara dimulai, Elmira termenung dibalkon kamarnya. Matanya berkaca-kaca, dia menatap langit yang tampak cerah.
"Mama, Papa.. Terimakasih sudah menitipkanku pada keluarga yang tepat, aku bahagia. Dan aku sangat berharap, Mama dan Papa juga bahagia disana," lirih Elmira.
Elmira memejamkan matanya, dia merasakan angin yang berhembus.
"Quera putriku, sampai kapanpun kamu adalah putriku. Terimakasih sudah tumbuh dengan baik, kami sangat mencintai dan menyayangimu. Berbahagialah, Quera.."
Entah darimana datangnya suara itu, namun hal itu membuatnya dapat merasakan jika kedua orangtuanya sudah merestui. Tidak dipungkiri, mungkin saat ini dalam hatinya, Elmira ingin jika kedua orangtua kandungnyalah yang akan mendampinginya. Tapi dia bersyukur, setidaknya hingga saat ini Ayah Fahri dan Bunda Gisya selalu ada disampingnya dalam keadaan apapun. Banyak hal yang telah dilakukan oleh kedua orangtua angkatnya itu, hanya demi kebahagiaan Elmira.
Karena Elmira tak kunjung turun, Indira segera memasuki kamar Elmira.
"Kakak kenapa? Kok nangis?" tanya Indira ketika melihat Elmira menangis di balkon.
"Dira sayang, Kakak sangat bahagia hari ini. Terimakasih banyak ya, Dira udah menerima Kakak selama ini," ucap Elmira memeluk Indira dan keduanya menangis.
"Kakak ngomong apa sih?! Kakak ini memang Kakaknya Dira! Udah ah, jangan nangis lagi! Kita turun yuk! Udah ditunggu sama Bunda," ucap Indira sambil menghapus airmata Kakaknya itu.
Elmira dan Indira melangkah bersama menuruni tangga, hal itu membuat semua yang berada disana berdecak kagum dengan kecantikan putri-putri sang Jenderal.
"MashaAllah, indahnya ciptaanmu," ucap Athaya sambil menatap Indira.
"Ngedip! Belom halal!" ledek Carel membuat Athaya salah tingkah.
"Kalo mau Adeknya, harus baik-baikin Kakaknya dong!" celetuk Husain membuat Athaya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Sudah sejak tadi pagi buta Athaya berada disana, sebab hari ini dia dan Indira akan membuka acara dengan melantunkan ayat suci Al-qur'an. Jauh dari kedua orangtuanya, hal itu tak membuat Athaya terjerumus dalam pergaulan bebas. Meskipun Athaya berpenampilan seperti seorang badboy. Suara lantunan ayat suci Al-qur'an yang dilantunkan oleh Athaya dan juga Indira membuat semua orang menitikkan airmatanya. Suara mereka begitu syahdu, mampu menggetarkan hati semua orang.
Kini mereka tiba dipuncak Acara, dimana Elmira memohon do'a restu pada Ayah dan Bundanya. Elmira duduk didepan kedua orangtuanya, dan memohon restu mereka.
"Bismillahirohmaanirrohim. Astaghfirullahal’adzim, Asyhadualla illa ha illallah, Wa asyhadu anna muhammadarrosulullah. Ayah dan Bunda yang sangat Kakak cintai, Kakak memohon maaf atas segala kesalahan yang pernah Kakak lakukan selama menjadi anak Ayah dan Bunda. Juga, maafkan Kakak yang masih belum bisa memberikan kebahagiaan kepada kalian berdua. Dalam kesempatan ini, Kakak ingin mengucapkan beribu terima kasih sama Ayah dan juga Bunda, yang sudah membesarkan dan membimbing Kakak sampai dengan dewasa. Kakak mendapatkan pendidikan yang baik dan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan," ucap Elmira dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Sejenak Elmira mengambil nafas, rasanya airmatanya tak bisa lagi tertahan.
"Hari ini, Kakak meminta izin sama Ayah dan Bunda untuk menikah dengan laki-laki pilihan Kakak yang bernama Radiansyah Mirda. InshaAllah, dia adalah pria yang baik, soleh dan bertanggung jawab. Kakak mohon ridho dan keikhlasan Ayah dan Bunda untuk menikahkan Kakak dengan Bang Mirda. Di bawah bimbingan, do’a serta restu Ayah dan Bunda, semoga pernikahan Kakak senantiasa dalam lindungan dan ridho Allah SWT," ucap Elmira sambil menitikkan airmatanya yang sudah tidak bisa lagi tertahan.
Tidak ada satupun orang yang tidak menangis, semua orang yang berada disana menangis terisak mendengar penuturan Elmira. Ayah Fahri dan Bunda Gisya maju kedepan, dan menghampiri sang putri.
"Bismillah.. Elmira Ayudia Syafa, anakku sayang. Segala kesalahan dan kekhilafan yang sudah Kakak lalukan, sudah Ayah dan Bunda maafkan. Dan apapun yang menjadi harapan Kakak, akan Ayah kabulkan. Do’a Ayah dan Bunda akan selalu menyertai Kakak dimanapun Kakak berada. Terima kasih, sudah menjadi anak yang bisa diandalkan dan dibanggakan oleh ayah dan Bunda. Maafkan kami jika kami pernah menyakiti perasaan Kakak, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja," ucap Ayah Fahri sambil terisak.
Dia masih tidak menyangka, jika Elmira akan membuka lembaran kehidupan yang baru.
"Anakku sayang, di hari yang bahagia ini. Ayah akan memberikan izin kepada Kakak dan menikahkan Kakak, dengan pilihan calon suami Kakak yang bernama Radiansyah Mirda. Do’a restu Ayah dan Bunda akan selalu mengiringi kalian berdua. Semoga senantiasa memperoleh kebahagiaan dan kedamaian serta dapat membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah dalam lindungan dan ridho Allah SWT," ucap Ayah Fahri lalu memeluk Elmira bersama istrinya.
Para adik-adik Elmira semuanya menangis ketika menyaksikan itu, termasuk Alan dan Husain yang duduk bersampingan.
"Yaa Allah, sedih begini ternyata mau kawin!" ucap Alan sambil mengeluarkan ingusnya.
"Iya gak nyangka sumpah! Bakalan mewek begini," ucap Husain sambil membawa tisu.
"Sedih, yank!" ucap Husain sambil mengambil tisu.
"Sedih sih sedih! Tapi jaga image atuh, Abang! Masa Calon Bupati lehoan!" ledek Alana.
"Dasar calon istri somplak! Untung sayang," batin Husain.
Acara selanjutnya adalah Acara Siraman. Elmira sudah berganti baju, dengan baju kebaya Sunda muslim dan memakai riasan bunga melati. Elmira melakukan prosesi yang disebut ngecagkeun aisan. Elmira keluar dari kamar yang secara simbolis digendong oleh sang Bunda. Sementara itu, Ayah Fahri berjalan di depan sembari membawa lilin menuju tempat prosesi sungkeman. Konon katanya, prosesi ini memiliki makna tanggung jawab orang tua pada sang anak yang ingin menikah.
Selanjutnya, Elmira melakukan prosesi yang disebut dengan istilah ngaras. Elmira akan meminta maaf dengan melakukan sungkem sekaligus mencuci dan mengelap kaki kedua orangtuanya. Prosesi ini adalah simbol dari penghormatan dan permohonan izin Elmira pada Ayah Fahri dan Bunda Gisya. Saat prosesi ini, Bunda Gisya dan Elmira terus menangis penuh haru.
Setelah itu, Ayah Fahri dan Bunda Gisya mencampur air dengan tujung bunga wangi atau yang disebut dengan bunga setaman. Diiringi musik kecapi dan suling, Elmira berjalan menuju tempat siraman dengan menginjak tujuh helai kain. Prosesi siraman akan dimulai dengan Bunda Gisya, Ayah Fahri lalu dilanjutkan para sesepuh. Jumlah penyiram haruslah ganjil berkisar antara tujuh, sembilan atau sebelas orang. Acara dilanjutkan dengan prosesi ngeningan. Artinya, Elmira akan dicukur bulu-bulu halus di bagian wajah, kuduk, membentuk amis cau/sinom, membuat godek serta kembang turi.
Dan acara yang terakhir adalah prosesi suapan terakhir. Prosesi ini dilakukan dengan pemotongan tumpeng oleh Ayah Fahri dan Bunda Gisya, dilanjutkan dengan memberi suapan terakhir pada Elmira sebanyak tiga kali. Suapan ini adalah simbol pelepasan orangtua pada anak yang akan memulai kehidupan barunya yang lebih mandiri setelah menikah.
__ADS_1
Elmira mengucap syukur, akhirnya acara hari ini telah selesai. Dia duduk bersama anggota keluarganya yang lain, sambil berbalas pesan dengan sang calon suami.
"Alhamdulillah, Kak. Semuanya lancar, mudah-mudahan lusa akan lebih dilancarkan lagi acara akad nikahnya," ucap Indira memeluk sang Kakak.
"Aamiin, makasih ya Dek! Makasih banyak udah mau direpotin sama Kakak," ucap Elmira mengelus lembut kepala sang adik.
Sementara diluar, Alan dan Husain sedang melakukan video call bersama calon kakak iparnya. Mereka sedang merengek layaknya seperti anak kecil.
"Please, Kak! Izinin kita berdua ya! Kan itung-itung memeriahkan acara pernikahan Kakak, ya ya ya!" rengek Husain membuat Mirda tertawa.
"Kakak rekam semua ini ya! Biar masuk berita kamu, Ain. Seorang calon bupati merengek pada calon kakak iparnya, kan lucu! Hahahahaha," ucap Mirda sambil tertawa.
"Ck! Yaudah kalo Kakak gak izinin, kita bakalan......" ucapan Alan terpotong.
"Oke kalian berdua Kakak izinkan! Atur-atur ajala!" ucap Mirda terpaksa.
"YESSSS!!!" teriak keduanya bersamaan.
* * * * *
Maaf baru UP 🙏🙏
OTHOR NYA ABIS ME TIME DULU 🤭🥰
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1