Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 63. Kisah Cinta Febri


__ADS_3

Sudah dua minggu ini Febri tinggal dirumah Gisya. Dia menemani sahabatnya itu, karena Fahri sedang pergi bertugas. Tentu saja dia bersama Yuliana dan anak kembarnya. Sepulangnya Jafran dan Fahri, dia berniat menitipkan Cyra beberapa hari.


"Ehem! Boleh aku minta sesuatu?" tanya Febri saat mereka baru selesai makan siang.


"Ada apa Biw? Apa ada yang kamu butuhin?" tanya Gisya.


"Aku mau minta tolong sama kalian, jagain Cyra seminggu ini. Aku mau anter Ana pulang ke Magelang." ucap Febri tersenyum.


"Loh, bukannya Ana pengen tinggal disini ya? Dia sampe mau bantuin Ina loh di Toko. Kenapa tiba-tiba mau pulang?" tanya Yuliana yang terheran.


Febri menghela nafasnya sejenak, sebenarnya hatinya terlalu berat mengatakan ini.


"Aku akan meminta Mas Zaydan untuk menikahi Ana." ucap Febri menunduk.


"Apaaa??!!" teriak mereka berempat kaget.


"Maksud kamu apaan sih Biw! Kamu yang bakalan nikah sama si Zaydan, kenapa jadi Ana? Kamu gak suka sama Zaydan?" tanya Yuliana dengan penuh emosi.


"Mas Zaydan gak pernah suka sama aku, yang dia sukai itu Ana. Begitupun sebaliknya, aku gak bisa memaksa orang untuk hidup sama aku." lirih Febri.


Yuliana merasa bersalah, semua ini karena Yuliana memaksa Zaydan.


"Maafin aku, Biw. Semuanya salah aku, kalo aja aku gak maksa Zaydan buat nikahin kamu. Maafin aku yaa Biw." lirih Yuliana. Febri memeluk sahabatnya itu.


"Kamu gak salah, Lil. Aku tau, kamu cuman pengen yang terbaik buat aku." tutur Febri.


"Kok kamu bisa tau mereka saling menyukai?" tanya Gisya.


Febri lalu menceritakan hal yang dia tau mengenai Ana dan Zaydan.


Flashback On


Cyra sudah berusia satu bulan, Zaydan terus menemani Cyra dan mengasuhnya. Febri merasa menemukan sosok yang tepat untuk putrinya itu. Tapi rasa itu harus dia kubur dalam-dalam ketika tidak sengaja mendengar percakapan Ana dan Zaydan.


"Apa kamu benar-benar akan menyerah? Apa kamu gak akan berusaha buat bilang sama Febri tentang perasaan kita?" tanya Zaydan.


"Nggak, Mas. Maafin aku, aku lebih memilih Mas menjadi Ayah dari Cyra. Aku rasa Mbak Febri jauh lebih membutuhkan Mas." lirih Ana.


"Apa kamu gak butuh aku untuk berada disamping kamu?" tanya Zaydan.


"Ana sudah memutuskan, Mas. Tolong hargai keputusan Ana." ucap Ana sambil beranjak pergi meninggalkan Zaydan.


"Tapi Febri akan lebih sakit, jika tau kenyataan kalo aku mencintai kamu." ucap Zaydan.


Benar saja, hati Febri sedikit meringis. Untung saja dia tidak jatuh cinta terlalu dalam pada Zaydan. Dia mencoba menenangkan hatinya, dia melihat Ana pergi kedalam kamarnya dan menangis disana. Febri mengerti, jika cinta memang tidak bisa dipaksakan.


"Aku akan menyatukan kalian berdua." ucap Febri bertekad.


Febri segera menghubungi kerabatnya untuk mengganti nama Cyra dalam Akta Kelahirannya. Dia tidak ingin terus-terusan dibayangi oleh nama pemberian Zaydan.

__ADS_1


Flashback Off


Bukan hanya Febri yang merasakan sakit, tapi Ana juga. Kini mereka mengerti dan menyetujui niat baik Febri.


"Pergilah, kami akan menjaga Cyra. Dia juga putri kami." ucap Fahri.


"Iya Biw, lakukanlah yang terbaik menurutmu. Aku yakin Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu nantinya." ucap Gisya lalu berhambur memeluk sahabatnya itu.


"Aku siapin tiket pesawat buat kalian bertiga. Jangan nolak!" ucap Jafran.


"Makasih semuanya." lirih Febri.


Pagi ini Febri sudah meminta Zaydan dan Ana menemaninya ke Magelang. Padahal tujuannya adalah untuk menikahkan adik iparnya itu. Bahkan dia sudah menceritakan semuanya pada Ibu dan Ayah mertuanya. Dan mereja hanya bisa menyetujui apa yang diinginkan oleh Febri.


"Mbak, kenapa kita ke Magelang? Kenapa Mbak membawa semua baju Ana? Apa Mbak gak mau Ana menemani Mbak lagi?" tanya Ana.


Febri tidak menjawabnya, dia hanya tersenyum dan memeluk Ana.


"Kamu akan tau nanti jawabannya." ucap Febri.


Tidak lama kemudian, datanglah Zaydan membawa sebuah tas yang cukup besar. Dia tersentak kaget ketika melihat Ana disana.


"Mana Cyra? Kenapa dia gak dibawa?" tanya Zaydan.


"Cyra bersama Ayah dan Bundanya, juga bersama Baba dan Umminya. Kamu jangan khawatir, aku bukan ibu yang kejam." ucap Febri tersenyum.


Deg!


"Sudah waktunya berangkat, Ayo! Nanti kita ketinggalan pesawat." ucap Febri masih dengan senyuman diwajahnya. Zaydan dan Ana mengikuti langkah Febri.


Dipesawat, Febri hanya menatap kearah luar jendela. Dia sedang mencoba untuk menerima segala kenyataan pahit dalam hidupnya. Sesampainya di Magelang, Febri disambut oleh keluarga besar Andi.


"Ibu sama bapak apa kabar?" tanya Febri sambil memeluk kedua orangtua Andi.


"Baik Nak, kamu baik-baik saja kan?" ucap Pak Burhan yang khawatir.


"Febri baik-baik aja Pak. Apa semuanya sudah disiapkan pak? Apa orangtua Mas Zaydan sudah datang?" tanya Febri, membuat Zaydan dan Ana tersentak kaget.


Zaydan mulai merasa jika Febri tidak menghargainya. Dia menarik paksa Febri untuk keluar dan bicara empat mata.


"Untuk apa kamu meminta kedua orangtua Mas datang? Kenapa kamu gak ngasih tau Mas? Kamu sama sekali gak berhak melakukan semua ini!" bentak Zaydan.


"Ya, aku memang gak berhak atas diri kamu. Maaf karena aku udah meminta keluarga kamu datang kesini tanpa persetujuan kamu. Tenang aja, saya tidak akan memaksa kamu untuk melakukan hal yang tidak kamu inginkan." ucap Febri sambil tersenyum.


"Bukan gitu, maksud Mas pertemuan keluarga kita dan pernikahan kita bisa dibicarakan. Harusnya kamu bicarakan dulu sama Mas!" ucap Zaydan.


Febri tidak menjawab ucapan Zaydan, dia memilih untuk pergi ke makam Andi.


"Sekali lagi maaf Mas. Saya permisi." ucap Febri masih dengan senyuman diwajahnya.

__ADS_1


Zaydan merasa frustasi dengan sikap Febri, melihat senyuman diwajah Febri membuatnya semakin merasa bersalah.


Setelah berpamitan kepada kedua orangtua Andi, Febri pergi ke makam Andi. Dia menangis diatas makam Almarhum suami yang sangat dicintainya itu.


"Assalamualaikum, Mas. Maafin Dinda baru menjenguk Mas kembali, Dinda rindu Mas. Semuanya terlalu berat untuk Dinda jalani sendiri. Dinda butuh Mas Andi dihidup Dinda. Gak ada oranglain yang bisa menggantikan Mas dalam hidup Dinda."


"Cyra tumbuh dengan baik Mas, dia tidak kekurangan kasih sayang. Ada Jafran dan Bang Fahri yang menjadi Ayah untuk Cyra."


Setelah puas mengungkapkan isi hatinya, Febri memutuskan untuk pulang menggunakan Kereta Api. Tapi sebelumnya dia akan mampir di Jogja, rencananya dia akan pindah kesana bersama Cyra. Febri bertekad akan hidup berdua saja dengan putrinya.


"Dinda pulang dulu ya, Mas. Do'a Dinda akan terus mengalir untuk kamu Mas."


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, tapi Zaydan belum melihat Febri pulang. Dia merasa sangat bersalah dengan ucapannya pada Febri. Kemudian Pak Burhan menghampiri Zaydan dan mengajaknya bicara.


"Jangan ditunggu, dia tak akan pernah kembali kesini." ucap Pak Burhan.


"Maksud Bapak?" tanya Zaydan yang terheran.


"Febri meminta saya menemui orangtuamu, bukan untuk menikahinya. Tapi untuk menikahi putri kami, Ana. Dia sudah tau jika kalian saling mencintai, dan dia melakukan semua ini untuk kalian." tutur Pak Burhan menjelaskan.


Deggg!


Zaydan terkulai lemas, dia masih ingat bagaimana senyuman Febri terakhir kali padanya. Hatinya terasa sangat pedih, dia merasa sangat bersalah terhadap Febri. Zaydan memutuskan untuk mencari Febri. Dia tidak ingin terus hidup dalam rasa bersalah terhadap gadis malang itu. Zaydan bingung antara harus sedih atau bahagia.


Febri sedang menunggu Kereta tujuannya, dia terus menatap ponselnya yang berdering. Zaydan terus menghubunginya, tapi Febri terus mengabaikannya. Hingga akhirnya Zaydan berhasil mencari lokasi GPS milik ponsel Febri. Sesampainya di Stasiun, dia melihat Febri sedang duduk sambil terus menatap ponselnya. Dengan linangan airmata dipipinya.


Zaydan memeluk Febri dengan penuh kasih sayang. Febri tersentak kaget.


"Maafkan Mas, maafkan semua kesalahan Mas. Tolong jangan lakukan ini, Ayo kita menikah dan besarkan Cyra bersama-sama." ucap Zaydan.


"Maaf, aku tidak bisa hidup dengan orang yang mengasihani aku. Berbahagialah dengan Ana." ucap Febri melepaskan pelukan Zaydan.


"Nggak, Mas gak bisa menikah dengan Ana. Mas sadar, cinta Mas untukmu bukan untuk Ana. Mas sudah mulai jatuh cinta kepadamu." lirih Zaydan.


"Bukan cinta, tapi empati. Maaf aku harus pergi." ucap Febri sambil membawa tasnya.


Zaydan menahannya, dia terus memeluk Febri dengan sangat erat. Kini Febri tidak bisa lagi menahan airmata dipipinya.


"Tolong lepaskan Mas. Aku harus pergi, berbahagialah dengan cintamu. Cukup do'akan agar aku dan Cyra bisa hidup bahagia." isak Febri. Zaydan melepaskan pelukannya.


"Mas tetap tidak akan pernah menikahi Ana. Mas akan tetap menikahimu."


Febri tidak bisa berkata apapun lagi, dia memilih untuk segera masuk kedalam Kereta. Sementara Zaydan terpaku ditempatnya, dia sangat menyesal karena telah melukai hati Febri yang menurutnya sangat berharga.


* * * * *


Sukak gak ceritanya?


Maaf ya ngebosenin!

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author❤


__ADS_2