Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 31. Pengajuan Nikah II


__ADS_3

Mentari pagi sudah bersinar, semangat dari kedua sejoli ini pun tidak kalah bersinar seperti mentari. Gisya sudah memakai baju Persit yang kemarin dibelinya. Hari ini rencananya dia akan menghadap kepada Komandan Kompi dan Komandan Batalyon. Meskipun gugup, tapi Gisya tidak pernah melepaskan senyuman di wajahnya.


"Wuihhh, ada ibu Persit nih!" goda Syauqi.


"MashaAllah anak Bunda cantik sekali. Udah nunggu Bapak perwira ya?" goda Bunda.


"Ish! Bunda sama Uqi sama aja, nyebelin!" kesal Gisya karena terus digoda.


Tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang berhenti didepan rumah. Gisya membuka pintu untuk menyambut kedatangan Fahri. Senyuman menghiasi wajahnya, Fahri hanya terdiam membisu. Dia benar-benar terhipnotis oleh senyuman calon istrinya itu.


"Lap tuh Bang, mulutnya ngiler gitu." goda Syauqi sambil berlari menuju mobilnya.


Dengan bodohnya Fahri mengelap mulutnya.


"Hih! Awas kamu Syauqi!" kesal Fahri.


"Salah Abang juga, ngapain melongo begitu!" sinis Gisya.


"Abang terpesona sama ibu Persit yang satu ini, cantik banget!"


"Udah hayuk Bang!" ajak Gisya.


Sepanjang perjalanan, Fahri terus melirik ke arah Gisya. Dia benar-benar merasa bahagia akan menjalani Rumah Tangga bersama Gisya. Sesampainya di kantor, Fahri segera menemui sang Komandan Kompi. Selesai sesi wawancara dan penandatanganan berkas, mereka menghadap Ketua Seksi Organisasi Persit. Disana, Gisya diberitahu mengenai semua tentang Persit Kartika Chandra Kirana.


Semuanya belum selesai sampai disitu, Gisya masih harus menghadap Ketua Persit Kartika Chandra Kirana. Masih belum reda rasa gugupnya, dia kini harus menghadapi beberapa pertanyaan dari Ibu Ketua Persit.


"Kamu tau Hymne dan Mars Persit Kartika Chandra Kirana?"


"Ijin bu, Saya sudah tau dan sudah mempelajarinya." jawab Gisya.


"Coba saya ingin mendengarkan."


Gisya menyanyikan Hymne Persit lalu dilanjutkan dengan Mars Persit.


"Hymne Persit Kartika Chandra Kirana"


Marilah Kita Bersatu Berjuang


Persit Kartika Chandra Kirana


Mengawal Prajurit memupuk Tunas


Untuk Keluhuran Nusa Dan Bangsa


Pancasila Undang Undang Dasar Empat Lima


Dasar Negara Republik Indonesia


Bersama Membangun Cita-Cita Pahlawan


Tuhan Selalu Beserta Kita.

__ADS_1


"Mars Persit Kartika Chandra Kirana"


Bersatulah Kartika Chandra Kirana


Membantu, Memupuk, Membangun


Mendorong Suami ke Medan Juang


Untuk Nusa Dan Bangsa


Berikanlah Semangat Kepada Tugasnya


Mempertahankan Indonesia


Hiduplah Kartika Chandra Kirana


Hiduplah Bersaudara, Untuk Selama-lamanya.


Setelah selesai, Ibu Ketua Persit memberikan wejangan-wejangan untuk Gisya. Karena menjadi seorang istri Abdi Negara itu tidaklah mudah.


"Menjadi istri seorang Tentara itu tidaklah mudah, seorang istri prajurit haruslah kuat lahir dan batin. Karena kita akan selalu dihadapkan dengan perpisahan. Istri prajurit juga harus bertutur kata yang baik dan sopan. Memang Istri yang baik belum tentu bisa menaikan pangkat dan Jabatan suami, tapi istri yang dipandang tidak baik oleh atasan bisa mempengaruhi komando atas dalam menentukan jabatan suami. Menjadi seorang istri prajurit juga harus setia, setia menanti kepulangan suami dalam tugas. Semoga kamu bisa menjadi istri yang terbaik bagi prajuritmu."


"Ijin Bu, Terimakasih banyak. InshaAllah saya sudah mengerti."


Fahri sedari tadi memperhatikan Gisya dari jendela luar, baginya Gisya sudah melakukan yang terbaik. Fahri sangat bangga pada Gisya. Melihat Gisya keluar dari ruangan, Fahri segera menghampirinya.


"Hebat calon istri Abang, bisa langsung hafal Hymne dan Mars Persit." goda Fahri.


"Belum lega Dek, kita masih haru menghadap Komandan Batalyon." bisik Fahri.


"Ah iya! Adek lupa, Bang!" keluh Gisya.


"Udah, sekarang kita makan siang dulu. Selesai makan siang baru kita menghadap ke Komandan Batalyon." tutur Fahri.


"Siap Lettu!" hormat Gisya yang membuat Fahri gemas dan mengusap kepalanya.


Mereka lebih memilih makan di warteg yang berada tidak jauh dari sana. Ternyata disana banyak sekali Tentara yang sedang makan siang. Bahkan ada beberapa yang menyapa dan menggoda Fahri.


"Ciee yang mau pengajuan! Cerah banget mukanya." ledek rekan Fahri.


"Neng kok mau sih sama Fahri, diajak makannya malah di warteg!"


"Udah jangan godain calon istriku!" ucap Fahri.


Gisya hanya menunduk karena malu. Makan siang sederhana ini terasa lebih menyenangkan. Sesekali Gisya menyuapi Fahri.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Gisya masih gugup, saat ini mereka sedang menunggu untuk bertemu dengan Komandan Batalyon. Ternyata banyak yang sedang pengajuan nikah. Fahri menggenggam tangan Gisya, agar mereka tidak gugup saat didalam. Kini mereka sudah diijinkan masuk, beriringan dengan dua pasangan lainnya.


"Santai saja, jangan terlalu tegang. Nanti saja tegangnya setelah akad." Guyon Komandan.


Suasana menjadi tidak terlalu tegang dengan Guyonan Komandan Batalyon. Kami berempat mendapatkan pertanyaan yang sama. Ditanya tentang kesiapan dan mental kami menjadi pasangan suami istri.

__ADS_1


"Bagi Tentara, istri adalah prioritas kedua. Karena prioritas utama kami adalah Senjata dan Negara. Jadi, jika kalian mengharapkan suami yang akan memprioritaskan istri, kalian salah jurusan. Istri Tentara harus menjunjung tinggi kesetian, terhadap suami dan juga terhadap Negara. Apa kalian siap ditinggalkan bertugas? Apa kalian siap melahirkan sendirian? Apa kalian siap dipisahkan oleh kematian? Hidup kami sebagai Tentara adalah untuk Negara. Saya anggap kalian sudah siap, dengan melakukan pengajuan pernikahan ini. Semoga pernikahan kalian dilancarkan." ucap Komandan Batalyon.


Sudah selesai penandatanganan Surat Ijin Menikah (SIN) kini Fahri dan Gisya menuju Kantor Urusan Agama untuk mendaftarkan pernikahan mereka. Kini Gisya dan Fahri sudah bisa bernafas lega. Semua urusannya pengajuan pernikahannya sudah selesai. Tinggal menunggu waktu untuk melaksanakan Akad Nikah.


Sepulang dari KUA, Gisya menyempatkan diri untuk mampir ke Toko Kue miliknya. Dia sungguh merindukan tepung dan telur yang menjadi temannya sehari-hari. Sementara Fahri sedang pergi untuk menjemput Bunda dirumah Umma.


"MashaAllah, Teh Caca cantik sekali memakai pakaian Persit." tutur Syaina.


"Apa sih Ina bisa aja bikin Teteh GR! Gimana Toko selama ditinggalin? Aman kan?"


"InshaAllah aman Teh, Ina dibantu sama Uqi juga." Jawab Syaina.


"Makasih banyak ya, Ina. Maaf Teteh merepotkan ya."


"Ina gak repot Teh, malahan Ina sangat senang."


Saat masuk kedapur, Gisya teringat pada kedua sahabatnya. Yuliana yang sekarang menetap di Jakarta dan Febri yang saat ini masih di Magelang. Dia membuka ponselnya, ada banyak pesan dari Ana yang mengatakan jika Febri kembali histeris dan drop. Pikiran Gisya mulai kalut, baru saja dia merasakan kelegaan dalam hatinya. Sekarang hatinya kembali resah. Gisya harus meminta izin kepada Fahri untuk kembali ke Magelang.


Fahri yang sedang berada dijalan mendapatkan pesan dari Gisya. Dia benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Gisya tidak memikirkan rencana pernikahan mereka.


πŸ’ŒΒ  Calon Istri πŸ’•


Bang, kondisi Ebi gak baik-baik aja. Izinkan Adek kembali ke Magelang untuk menemani Ebi. Adek gak mau sesuatu terjadi pada Ebi dan anaknya. Tolong Bang, izinkan Adek.


πŸ’Œ Fahri


Tidak Abang izinkan! Kamu harus memikirkan juga pernikahan kita, kamu harus memikirkan kesehatan diri kamu sendiri. Pokonya Abang tidak izinkan, Bunda juga sama.


πŸ’Œ Calon Istri πŸ’•


Abang egois! Gimana kita bisa nikah, sementara kondisi istri sahabat Abang sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja! Bahkan dia menitipkan mereka pada kita! Aku kecewa sama Abang!


πŸ’Œ Fahri


Abang egois? Lalu kamu apa? Kamu memikirkan oranglain, tapi tidak memikirkan perasaan Abang! Tujuan Abang menikahi kamu secepat mungkin karena Abang akan pergi bertugas! Selain itu, kamu bisa mengajak Febri tinggal bersama kita di Rumah Dinas selama Abang pergi! Sekarang terserah, lakukan apapun yang kamu mau.


Gisya merasa sangat bersalah kepada Fahri, dia mencoba menghubunginya tapi ponsel Fahri tidak aktif. Gisya melihat Bundanya masuk kedalam Toko tanpa Fahri dibelakangnya. Gisya mencari Fahri keluar tapi dia tidak menemukannya.


"Bun, Abang kemana? Gak mampir dulu kesini?" tanya Gisya.


"Bunda kecewa sama Caca, ternyata Caca jauh lebih memikirkan kebahagiaan oranglain dibanding kebahagiaan Caca. Fahri sudah menceritakan semuanya pada kami. Tidak ada satu hal pun yang di tutup-tutupi. Bahkan Fahri memberikan jalan keluar untuk masalah ini, Fahri meminta izin agar Febri bisa tinggal bersama kamu selama Fahri bertugas. Karena dia tidak ingin kamu merasa kesepian dan ditinggalkan." ucap Bunda lalu pergi.


Gisya menangis tersedu-sedu, dia sangat menyesal. Saat ini yang ingin dia lakukan adalah mencari Fahri. Tapi saat ini tubuhnya sangat lelah. Memang benar yang Fahri ucapkan, bahkan Gisya tidak memperhatikan kesehatannya sendiri.


* * * * *


Akhirnyaaa Gisya & Fahri Bride To Be πŸ₯³πŸ₯°


Mohon maaf apabila ada keterangan atau kata yang salah. πŸ™


Dukung terus Author yaa πŸ₯°

__ADS_1


Salam Rindu, Author❀


__ADS_2