
'Dalamnya lautan dapat diselami, dalamnya hati tak mampu dipahami. Jika lisan tak berucap, bukan berarti rasa tak mengecap.'
Peribahasa itu sepertinya cocok di sematkan untuk Alan, dia benar-benar tak terduga. Hal yang paling menyedihkan tentang cinta rahasia adalah dia menderita sendirian setelah semuanya berakhir, setelah Cyra menikah. Dia lebih suka mnghncurkan hatinya sendiri dengan tidak memberi tahu Cyra bahwa dia sangat mencintainya, daripada dia memberi tahu dan membiarkan Cyra menghancurkannya.
"Kakak tau, A. Rasa sakit yang kamu simpan selama ini terlalu dalam. Sangat menyakitkan ketika orang yang paling kamu cintai melihatmu sebagai seseorang yang tidak terlihat. Kenapa kamu gak jujur selama ini, A?" lirih Elmira.
Alan tersenyum, "I'm Okay, Kak. Jangan khawatir, lagipula kalo Aa kasih tau Cyra, apa dia mau sama Aa? Kan belum tentu, Kak."
Baik Mirda maupun Elmira bisa melihat luka yang begitu dalam dimata Alan, sungguh mereka masih tak menyangka bisa mengetahui sebuah rahasia terbesar seorang Aidan Alan. Adik yang menurut mereka paling kuat dan paling ceria.
"Alan, hidup bukan hanya tentang menemukan hal yang bisa membuatmu bahagia, tapi juga tentang menyadari apa yang membuatmu sedih dan berani menjauh dari kesedihan itu. Jangan siksa dirimu dengan terus berada disekitar Cyra. Abang tidak membenarkan itu, selain melukai hatimu sendiri, kamu juga melukai hati yang lain," sebisa mungkin Mirda menasehati sang adik.
Mendengar ucapan Mirda, Alan hanya bisa menundukkan kepalanya. "Semuanya udah terjadi, Bang! Insha Allah, Aa akan bisa mencintai Rere seperti Aa mencintai Cyra. Biarlah semuanya tersimpan rapi dalam hati ini," ucapnya.
Mirda dan Elmira tak bisa lagi memaksa Alan untuk melupakan niat baiknya yang tinggal beberapa minggu lagi. "Kakak sama Abang cuman bisa mendo'akan, semoga jalan yang kamu pilih tidak pernah salah. Dan ingat! Jika kamu butuh teman bicara, Kakak dan Abang akan selalu ada buat kamu!"
Karena sudah malam, mereka segera berpamitan pergi. Sepeninggal kedua Kakaknya, Alan membawa bingkai foto masa kecil mereka. Dulu, dia sering mengutamakan Cyra termasuk gelang yang dia berikan pada sahabatnya itu.
"Semuanya akan ku simpan dalam hati, hingga nanti ajal menjemputku. Cukup aku selalu mendo'akan kebahagiaanmu dalam setiap sujudku," batin Alan.
* * *
Ferandiza Chayra Shanum Faturachman, dia kini sudah sah menjadi seorang istri. Hanya saja, hingga kini dia belum juga mengandung buah hati seperti Alana. Rasa iri pasti ada dalam hatinya, maka dari itu dia memilih mengalihkan semua itu dengan mengasuh Sweta.
Tak ada yang perlu di khawatirkan dalam pernikahannya, Thoriq merupakan seorang laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Hanya saja, Cyra pun menyimpan sejuta rahasia dalam hidupnya. Hingga sampai saat ini selalu dia pendam.
"Kamu ngelamun lagi, hm?" Thoriq memeluk Cyra dari belakang, hingga membuatnya tersentak kaget.
"Ngagetin aja sih, Mas!" kesal Cyra.
Thoriq membalikkan tubuh sang istri, "Ada apa, hm? Apa yang kamu pikirin?"
Cyra menggelengkan kepalanya, "Aku gak apa-apa, Mas. Cuman lagi menghirup udara segar aja, Sweta mana Mas?"
"Tuh Sweta di sabotase sama Rere, lagi jalan-jalan ke Taman Komplek! Mau nyusul?" tanya Thoriq dan Cyra menggelengkan kepalanya. "Aku mau masak aja, Mas! Buat makan malam nanti, mau dimasakin apa?"
Thoriq tersenyum menyeringai, "Mau makan kamu aja!" bisiknya. Dia menggendong sang istri hingga ke ranjang, mereka saling menggelitik bagaikan kedua anak-anak kecil yang tengah bermain.
Tok.. Tok.. Tok...
"Mami.... Tata au mimi," gadis kecil itu mengetuk kamar sambil merengek.
Cyra dengan segera membuka pintu dan menggendong gadis kecil itu, "Kok nangis? Mimi Rere dimana?" tanya Cyra.
"Mimi akal, tata tubit tubit pipi akit," rengeknya. Cyra gemas dengan tingkah Sweta, "Katanya nakal, tapi mau Mimi! Gimana sih?"
__ADS_1
"Mimi cucu! Butan Mimi yeye!" ucapnya dengan pipi yang menggembung.
Thoriq tersenyum ketika mendengar interaksi keduanya, dia juga tau jika Cyra ingin segera memiliki momongan. "Bersabarlah sayang, aku janji akan selalu buat kamu tersenyum. Walaupun kita tidak akan pernah memiliki seorang anak!"
Sejak awal pernikahannya, Thoriq tau jika Cyra menyembunyikan sesuatu darinya. Awal berhubungan suami istri, Cyra selalu kesakitan dan memegangi perutnya. Diam-diam Cyra memeriksakan dirinya, dan ternyata dia memiliki Miom dalam rahimnya. Dan memiliki kemungkinan sangat kecil untuk punya anak. Tapi dia tidak pernah mengatakannya pada siapapun.
Suatu hari, Thoriq melihat Cyra disebuah RSIA tanpa sengaja. Kala itu dia tengah menengok istri kerabatnya yang baru saja melahirkan. Dia melihat Cyra masuk kedalam ruangan dokter Obgyn. Awalnya Thoriq bahagia, mungkin Cyra tengah mengandung. Tapi nyatanya dia malah mendengarkan sebuah kenyataan pahit. Melihat sang istri menangis saat keluar dari ruangan dokter, membuat hati Thoriq sakit.
"Allah jauh lebih mengetahui apa yang terbaik bagi umatnya," prinsip itulah yang selalu Thoriq pegang hingga saat ini.
Kehidupan Cyra mungkin sempurna, dia memiliki orangtua dan adik yang sangat amat menyayanginya. Juga memiliki sahabat dan keluarga besar yang selalu mendukungnya. Tapi percayalah, hati Cyra tak sebahagia itu.
"Papa Andi......."
Setiap malam dia selalu merindukan dan penasaran pada sosok itu, tanpa kedua orangtuanya tau, selama ini Cyra seolah mencari jati dirinya.
Cyra menemukan fakta, jika dirinya lahir tidak seperti sahabat-sahabatnya yang lain. Dia lahir tanpa didampingi Ayah kandungnya, sebab sang Ayah telah terlebih dahulu menghadap sang Maha Kuasa. Itu menjadi kelemahan tersendiri bagi Cyra, hingga dia bertekad untuk meneruskan jejak Papa kandungnya.
Jujur saja mental Cyra tidak baik-baik saja, tapi dia harus selalu terlihat tegar dan bahagia dihadapan semua orang. Cyra menjadi pribadi yang jauh lebih tertutup, dibandingkan dengan Husain, Alan dan Alana.
Dan urusan cinta.......... Alan lah pemilik hatinya yang sebenarnya.
...~ Flashback On ~...
Saat itu usia mereka menginjak 17 Tahun, Alan yang bersekolah di Singapore tengah menikmati liburan semesternya di Indonesia. Mereka berempat memilih menghabiskan masa libur mereka di Lembang, di perkebunan teh milik Oma Syifa.
Cyra pun merentangka tangannya, "Hmm... Udara disini sejuk banget! Jadi pengen deh suatu saat pengen tinggal disini!"
Mereka memasang tenda dan menggelar tikar, rencananya mereka akan camping tepat di bukit yang menghadap pada pemandangan yang indah.
"Maul! Kita minta kayu bakar dulu ke Mang Dayat! Abis itu kita bawa air minum!" ajak Husain.
"Haaaa? Ogah ah! Capek gue," tolak Alan.
Cyra mengerti ucapan Alan, "Tuh ajak si Mail aja, daripada dia ngubek-ngubek cacing mulu!" tunjuk Cyra pada Alana.
"Huufff! Baiklah! Kalian berdua bikin tenda, enak aja mau leha-leha!" titah Husain. "Mail! Ayo cepetaaaaannnn!"
"Tunggu aku pangeran!" teriak Alana mendramatisasi.
Akhirnya tinggalah keduanya disana, mereka bergotong royong membuat tenda. Awalnya mereka terlihat seperti seorang ahli, padahal dalam kenyataannya keduanya hanyalah amatiran.
"Hahahahahaha!" tawa keduanya menggema ketika tenda mulai tertiup angin.
"Kaga bisa nih gue, kaga ahli soal pasang memasang!" Alan mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
Cyra pun melakukan hal yang sama, "Sama! Gak sanggup lagi aku!"
Karena angin cukup kencang, tenda yang belum terpasang itu terbang terbawa angin. Tanpa sengaja Cyra menginjak tenda dan kehilangan keseimbangan, hingga.......
Bruk!
"Aaaaaa......!" teriak Cyra.
Dia terjatuh tepat dibawah turunan bukit, Alan mencoba menariknya hingga akhirnya mereka berdua menggelinding dalam balutan tenda yang membalut tubuh keduanya. Untung saja tidak ada batu disana, hingga mereka mendarat diatas tanah yang cukup rata.
Cup 💋
Bibir Alan mendarat tepat di kening Cyra, jantung keduanya berdegup dengan sangat kencang. Namun keduanya disadarka oleh teriakan Alana.
"Wooooyyy! Kalian ngapain dibawah sana!" teriak Alana.
Alan mencebik kesal, "Tolongin begoooooo! Gue jatoh ini ama si Cyra!" teriak Alan yang memang keduanya sulit untuk bergerak.
Akhirnya Husain dan Alana turun untuk menolong keduanya, "Hahahahahaha! Kalian berdua lucu banget," Husain tertawa terbahak-bahak.
"Sakit tau!!" kesal Cyra membuat Husain mengusap kepalanya dengan lembut. Hal itu membuat Alan dan Alana terluka, sebenarnya.
Namun baik Alan ataupun Alana tidak menunjukkan itu semua. Sejak saat itulah Cyra jatuh hati pada seorang Aidan Alan.
...~ Flashback Off ~...
Karakter Alan dan juga Cyra yang tertutup, membuat keduanya enggan untuk saling mengungkapkan. Hingga kesalah pahaman itu terjadi. Saat Cyra, Thoriq, Theresia dan Alan berkumpul bersama.
Alan seolah melihat tatapan cinta untuk Thoriq, begitupun Cyra yang melihat tatapan cinta pada mata Alan untuk Theresia. Padahal tanpa disadari, keduanya tengah saling menatap. Saat itu Alan langsung menjodoh-jodohkan Cyra dengan Thoriq, hal itu membuat Cyra mengambil kesimpulan jika Alan memang tidak pernah menaruh hati padanya seperti Husain yang menaruh hati pada Alana.
Sejak saat itu, Cyra mencoba membuka hati untuk Thoriq. "Aku mau jadi istri kamu, Mas."
Bagai dihantam batu besar, dada Alan terasa sakit. Begitupun denga Cyra, namun keduanya berhasil memakai topeng untuk menutupi luka hati mereka. Keduanya terus menyelami hati masing-masing dan menyimpan luka itu didalam palung hati yang paling dalam.
Setiap orang memiliki takdirnya sendiri, satu-satunya keharusan adalah mengikutinya dan menerimanya, kemana pun itu menuntunnya. Takdir memang seperti itu, sangat menarik. Saat kamu ingin berjalan ke Utara, tapi dia malah membuatmu terbang ke Selatan, bahkan berpindah dengan sukarela. Kita semua terikat pada takdir kita, dan tidak ada cara untuk kita bisa membebaskan diri kita sendiri.
Biarlah cinta keduanya tetap berada disana, dipalung hati mereka yang paling dalam. Berharap tidak akan pernah ada yang menyelami hati keduanya sedalam itu. Hingga cinta mereka tetap kekal abadi, hingga tanah mengubur jasad keduanya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤