
Gisya sudah berganti baju, kini mereka sedang mengadakan pengajian Aqiqahan untuk putra pertama mereka. Dengan penuh haru, Gisya mengikuti suaminya yang sedang menggendong Husain. Mereka berjalan mengelilingi para tamu untuk memotong rambut Husain. Gisya sangat bersyukur dikelilingi oleh orang-orang baik. Bahkan sang Komandan Batalyon hadir disana beserta istrinya. Kekompakkan Ibu-ibu Persit, memang patut untuk diteladani. Dari suka hingga duka, mereka selalu bersama-sama saling menguatkan.
Beruntungnya Gisya dan Fahri, putranya itu tidak terbangun dan rewel saat acara.
"Anak Ayah anteng banget. Soleh ya jagoan." bisik Fahri sambil mencium pipi putranya itu.
"Adek emang anteng banget Yah. Apalagi waktu Ayah ngilang beberapa hari." sindir Gisya.
"Kan demi surprise ini Bun. Maafin Ayah yaa, kangen tau! Ayah gak bisa tidur beberapa hari ini karena rindu sama Bunda sama baby Ain." ucap Fahri.
"Hemm, buka puasa ditunda! Suruh siapa Ayah ngerjain Bunda." ketus Gisya.
"Jangan gitu dong Bun! Kan udah 40 hari lebih Ayah puasanya." rengek Fahri.
Mama Risma merasa kesal dengan kelakuan putranya itu.
"Anak nakal! Ini acara belum beres, nanti aja ngobrolin buka puasanya setelah Acara! Gak malu bisik-bisik deket microphone nyala!" kesal Mama Risma.
Wajah Gisya benar-benar memerah karena malu, dia tidak menyangka ketika pembicaraan mereka terdengar oleh semua orang.
"Heleh sok-sokan pake blushing segala! Makanya kalo ngobrolin ngadon tuh ntaran aja, heran deh!" celetuk Jafran membuat mereka menahan tawa.
Selesai Acara, para tamu berpamitan pulang. Termasuk rombongan Ibu-ibu Persit.
"Mohon ijin Bu Danyon, terimakasih sudah menyempatkan untuk hadir di Acara Aqiqah putra pertama kami. Mohon maaf apabila merepotkan." ucap Gisya.
"Sama sekali tidak Bu Fahri, kami sangat senang hari ini bisa hadir ditengah-tengah kebahagiaan keluarga kecil kalian. Semoga Husain menjadi anak yang Soleh dan patuh terhadap orangtuanya, serta dapat membanggakan keluarga, Agama, Bangsa dan Negaranya. Kami pamit dulu ya Bu Fahri." tutur Bu Danyon mendo'akan.
"Ijin Bu. Aamiinn, terimakasih segala do'a baiknya Bu. Hati-hati dijalan ya Bu." ujar Gisya.
Sepeninggal rombongam Ibu-ibu Persit kini hanya keluarga terdekat yang sedang berkumpul. Ditambah oleh Gilang, Fatimah dan Zaydan. Mereka berbincang-bincang untuk merencanakan wisata keluarga.
"Gimana kalo minggu ini kita Liburan ke Puncak? Kita nginep di Villa Mas Andi." ujar Febri.
"Wahhh! Bener tuh, hayuk Baba ku sayang kita huliday!" antusias Yuliana.
"Beuhhhh istri siapa sii gemesin banget! Buat Ummi apa sih yang enggak. Kuy lah kita jadwalkan sebelum Baba terbang kembali." ucap Jafran.
"Yaudah fix ya kita liburan keluarga. Pokoknya Mama sama Papa jangan dulu balik ke Palembang. Kita sewa aja bis buat rekreasi! Nanti biar SyaSya Couple yang jadi panitia acaranya. Eh, ngomong-ngomong dimana mereka? Kok gak keliatan?" tanya Gisya.
Belum ada yang menjawab, ponsel Gisya berbunyi. Menandakan video call dari putri kecilnya itu. Dengan hati gembira, Gisya mengangkat panggilan itu.
"Yah! Rara telpon, Bunda angkat ya!" antusias Gisya.
In Call
đź§• "Assalamu'alaikum anak Bundaaa!" ucap Gisya dengan mata yang berkaca-kaca.
đź‘§ "Calam calam Mbun, kakak angen Mbun. Kakak mau biyang..." ucapan Quera terhenti.
__ADS_1
đź§• "Bunda juga kangen sayang, kakak mau bilang apa Nak?" tanya Gisya.
Belum Quera menjawab, Gisya melihat putrinya itu kebingungan.
"Om Uti cualana ngak kedengelan! Lala binun alus omong apa!" kesal Quera.
"Aduh jangan kenceng-kenceng ngomongnya!" bisik Syauqi.
Gisya melihat backround belakang panggilan putrinya itu terasa tidak asing.
End Call
Gisya berlari menuju kamar belakang, membuat semua orang mengikutinya. Dengan kasar, Gisya membuka pintu kamar itu. Dilihatnya gadis kecil itu sedang merajuk pada Syauqi dan Syaina.
"Queraa sayaanggg!" teriak Gisya sambil merentangkan tangannya dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh hari ini istimewa baginya.
"Mbuuunnnnnnnn!" teriak Quera memeluk erat Bundanya itu.
"Yaa Allah anak Bunda. Akhirnya Bunda bisa meluk Rara, Bunda kangen Rara. Bunda sayang banget sama Rara. Terimakasih sudah mau berjuang untuk sembuh Nak. Bunda sayaaanggg Quera." ucap Gisya terisak membuat semuanya menitikkan airmata.
"Lala juga tayang Mbun." lirih Quera dalam pelukan Bundanya.
Fahri menghampiri istri dan anak asuhnya itu, dia mencium kening keduanya.
"Ini kejutan untuk Bunda, akhirnya setelah sekian lama perjuangan kita membuahkan hasil. Rara sudah resmi menjadi anak kita, meskipun dia masih dalam pengawasan penuh PBB. Tapi setidaknya kita gak jauh lagi dari Rara." ucap Fahri mengelus punggung istrinya.
Bunda Syifa dan Mama Risma berjalan menghampiri Quera dan memeluknya.
"Cucu Oma, akhirnya Oma bisa meluk kamu sayang." lirih Bunda Syifa.
"Anak Soleha, Nenek sama Kakek senang Quera bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Quera harus jadi anak yang baik ya, harus menjaga adik-adik Quera." tutur Mama Risma.
"Iya Nek, kata Om Anda juga bitu. Lala halus again adek bayi, Lala udah nde Nek. Badan Lala juda udah besal. Oma cama Nenek angan angis ya." ucap gadis cadel itu.
Mereka meluk erat Quera, gadis kecil yang malang itu akhirnya menjadi bagian dari keluarga besar mereka.
Gisya tidak melepaskan Quera dari pangkuannya. Padahal Jafran dan Yuliana sangat ingin menggendong bocah kecil manis itu.
"Caa! Gantian dong, pengen deh mangku gadis cantik kesayangan Baba ini." ucap Jafran sambil mencubit gemas pipi Quera.
"Baba angan ubit-ubit Lala! Nati pipi Lala melah." kesal Quera.
"Iyanih si Baba! Emangnya kue di cubit-cubit! Sini Rara sama Ummi aja, nanti kita jajan es krim yang banyak deh kalo Rara mau Ummi gendong." rayu Yuliana.
"No! Tata Ayah nda boyeh matan es klim banak-banak, anti pelut kakak akit." ucap Quera.
Yuliana dan Jafran semakin gemas dengan jawaban bocah kecil itu.
"Ihh gemessssss! Jadi pengen gigit deh itu pipi chuby nya." gemas Jafran.
__ADS_1
"Enak aja digigit! Emang situ nyamuk Pan?!" kesal Gisya.
"Tau tuh si Baba! Doyan banget gigit-gigit!" celetuk Yuliana.
"Oh jadi gitu Mi? Si Baba banyak gigit-gigit? Dimana aja emangnya?" pancing Fahri.
"Di leher, ditangan, di..." ucapan Yuliana terpotong karena dibungkam suaminya.
Karena kesal, dia mencubit paha suaminya itu.
"Suami jahara! Mau jadi duda kamu Ba? Sampe gak bisa nafas tau!" kesal Yuliana.
"Heh kamu yang jahara! Masa kamu bilangin rahasia rumah tangga kita! Gak sekalian aja kamu tunjukin dimana ajaa itu!" ucap Jafran yang tak kalah kesal.
Yuliana terdiam sejenak, dia mencoba merenungi apa yang terjadi.
"Dasar si Ayah kurang ajar! Pake mancing-mancing segala, awas ya kamu Bang!" kesal Yuliana sambil melotot kearah Fahri.
"Kamu juga salah Mi! Gitu aja kepancing, giliran yang lain aja susah buat mancingnya! Giliran begitu aja cepet banget tuh koneksi otak." celetuk Jafran.
"Maaf yaa Baba ku sayang yang paling ganteng." ucap Yuliana sambil menoel-noel dagu suaminya itu.
Semua orang tertawa disana mendengar percakapan kedua suami istri itu.
"Mbun, Baba cama Ummi lutu banet!" bisik Quera sambil tertawa.
Gisya hanya memeluk erat dan menciumi gadis kecil itu. Sungguh kebahagiaan Gisya hari ini sangat sempurna. Berbeda dengan Febri yang jauh lebih banyak terdiam sambil menggendong Cyra. Sesekali dia ikut tertawa karena celotehan keluarganya. Zaydan hanya dapat melihat dari jauh, ingin rasanya dia menghampiri Febri. Tapi rasanya dia terlalu malu untuk melakukan itu, setelah apa yang dilakukannya.
Febri mengajak Quera untuk menemani adik-adik kecilnya. Karena saat ini mereka akan makan bersama-sama.
"Rara ikut Mama aja yuk, kita jagain adik-adik bayi." ajak Febri dan Quera mengangguk.
"Lho kamu gak makan Biw?" tanya Gisya.
"Kalian duluan aja, aku belom laper. Aku jagain anak-anak dulu ya!" pamit Febri.
Semua orang disana bisa melihat kesedihan dimata Febri. Tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Mereka hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk Febri.
* * * * *
Maaf baru Up 🙏
Sukak gak ceritanya?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤
__ADS_1