
Semua orang kini sedang berbahagia setelah mendengar kabar kehamilan Alana, termasuk Oma Syifa. Usianya kini tak lagi muda, dia ingin berkumpul bersama anak dan cucu serta cicitnya. Demi memenuhi permintaan sang Oma, Husain memboyong keluarga besarnya untuk menjenguk Oma Syifa yang kini memutuskan untuk tinggal di Lembang. Dikediaman Uwak Yusuf dan Uwak Ais dulu, setelah keduanya tiada maka semua urusan perkebunan diserahkan pada Mang Dayat, orang kepercayaan keluarga Oma Syifa.
Mereka berangkat menggunakan bus kecil dari Bandung pukul 8 pagi, menyusuri kebun Teh yang menghampar luas sepanjang pandangan mereka.
"Bun, Ayah jadi inget dulu waktu bakti sosial kesini. Ayah liat Bunda, dijendela kamar yang menghadap mushola," bisik Ayah Fahri.
"Iya gitu? Kok Bunda gak ngeuh ya, Bunda taunya cuman Mas Andi aja yang ada disana. Soalnya Ebby ketauan ngintip sama Uwak Ais," Bunda Gisya terkekeh pelan.
"Enak aja, gak ngintip ya! Waktu itu kebetulan kan aku disuruh bikinin kopi sama Uwak, siapa sangka Mas Andi yang nerima," Mama Febri tersenyum bahagia menceritakan masalalunya.
Setiap cerita demi cerita mereka perbincangkan, Mama Febri sungguh bahagia menceritakan kisah cinta dengan Alm. Suaminya dulu.
"Dulu Mas Andi itu sweet banget pas ngelamar si Ebby, ehh kagak taunya dia dikerjain balik. Pake bilang, 'aku gak bisa, gak bisa nolak kamu'," ledek Ummi Ulil.
"Bales dendam dong, dia bikin aku jantungan! Jadi gantian," jawab Mama Febri.
"Mama bahagia banget ya ceritain tentang Papa Andi, Cyra jadi pengen ngerasain dipeluk Papa Andi," celetuk Cyra.
Deg!
Mama Febri menoleh pada suaminya yang kini tersenyum manis padanya.
"Maaf, Pa! Mama gak maksud," lirih Mama Febri.
"Lho kenapa murung gitu sayang? I'm okay, semua kenangan indah kamu sama Mas Andi gak akan bisa terlupakan begitu saja sayang. Yang penting aku tau, sampe saat ini kamu selalu mencintai aku," Papa Zaydan memeluk erat tubuh sang istri.
"Maaf ya, Pa! Cyra juga gak maksud," lirih Cyra menyembunyikan wajahnya didada sang suami.
"Sudah jangan nangis! Papa juga gak apa-apa kok, kalo kamu kangen Papa Andi nanti kita ke sana ya! Udah jangan nangis," Thoriq mengusap lembut kepala Cyra.
"Istriku, kamu gak harus melupakan karena sesuatu yang hadir dalam hidupmu adalah bagian yang memang harus kamu lalui dan dikenang, untuk menjadi cerita di masa mendatang," batin Papa Zaydan.
Bis terparkir tak jauh dari Villa, Oma Syifa sudah menyambut kedatangan mereka sejak subuh. Dia berhambur memeluk Sweta dan Ibam, cicitnya yang sudh tumbuh besar.
"Yangti antik banet, tata cayang Yangti," Sweta mencium pipi Eyangnya itu.
"MashaAllah, cicit Yangti juga cantik banget sih! Wangi lagi, Ibam juga nih gemesin banget!" Oma Syifa mencium pipi gembul cicitnya itu.
"Iya nih, Oma! Ibam gendut, sekarang udah mulai MPASI jadi makin bulet pipinya. Oma apakabar?" Elmira memeluk Oma Syifa yang selama ini merawatnya.
"Oma baik sayang, yuk masuk yuukk...!"
Rona bahagia terpancar dari wajah Oma Syifa, selama ini dia kesepian karena hanya ditemani oleh Mang Dayat dan istrinya. Sedangkan Syauqi tinggal di Garut bersama keluarganya, bahkan kini mereka tak bisa ikut bergabung. Sebab Syauqi sangat sibuk dengan tugas negaranya, dan Oma Syifa memahaminya.
__ADS_1
Jika berkunjung kerumah Oma Syifa, pasti mereka semua bahagia. Sebab Oma Syifa akan memasak semua masakan favorite mereka. Seperti saat ini, dimeja makan yang panjangnya hampir 7 meter, sudah tersaji berbagai makanan.
"Astagaaaaa..! Omaku terbaik, Alan makin sayang Oma!" antusias Alan memeluk Oma, terlebih ketika dia melihat balado terong dan Sukri (kacang tanah dicampur teri).
"Oma juga sayang Maul! Tapi biaya pembuatan meja makan belom dibayar nih!" canda Oma Syifa, membuat Alan menjawab dengan semangat.
"Jangankan biaya pembuatan meja, semuanya Alan bayarin dah!" dengan semangat Alan mulai mengambil sepiring nasi, tanpa dipersilahkan terlebih dahulu.
Mereka menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Alan, terlebih Ummi Ulil.
"Begini kalo sultan rasa kuli, makan terossss! Jangan kasih kendor," ledek Ummi.
"Biar kugendut, perutku buncit, Rere tetep cinta!" celetuk Alan disela-sela makannya.
"Enak aja, ogah kalo buncit! Mending sama si Badrun, kucing ganteng," ketus Theresia.
"Bhahahaha! Puas lu, makanya jangan kepedean!" Baba Jafran menoyor kepala sang anak.
"Maen toyor aja bhambhang! Ini pala kan Baba fitrahin tiap taun, dikate apaan nih kepala ditoyor mulu! Kalo Aa jadi bego, Aa salahin Baba ya!" Alan memberengut kesal sambil melanjutkan acara makannya.
Sunnguh ini adalah hal yang paling dirindukan oleh Oma Syifa, tak terasa airmata menetes dipipinya. Dimasa tuanya, dia ingin kumpul bersama anak cucu hingga cicitnya. Melihat sang Ibu meneteskan airmata, Bunda Gisya segera menghampirinya.
"Bunda kenapa? Ada yang sakit?" panik Bunda Gisya dan Oma Syifa menggelengkan kepalanya.
Mereka semua berkumpul diruang tengah, membentuk lingkaran dibawah. Sedangkan Oma Syifa dan Bunda Gisya duduk dikursi.
Deg deg deg!
Jantung mereka berdegup kencang ketika mendengarkan ucapan Oma Syifa.
"Oma ini udah tua, memang kasih sayang kalian itu tidak berkurang untuk Oma. Setiap hari kalian selalu memberi kabar sama Oma. Tapi bukan itu yang Oma inginkan, Oma ingin berkumpul seperti ini. Oma rindu pada keluarga, Oma. Risma, Lia, Rini dan Nadia kini sudah bahagia disana. Tinggal nenek tua renta ini yang masih tertinggal didunia, itupun Oma gak tau kapan waktu Oma akan tiba," lirih Oma Syifa.
Bunda Gisya, Ummi Ulil dan Mama Febri berhambur memeluk Oma Syifa. Bahkan mereka bersujud dihadapan Oma Syifa.
"Maafin Caca, Bunda! Caca terlalu sibuk dengan kehidupan Caca, sampe melupakan Bunda yang sangat membutuhkan Caca. Maafin Caca, Bun!" lirih Bunda Gisya.
"Maafin Ulil juga, Bun! Maaf kalo Ulil jarang jenguk Bunda," lirih Ummi Ulil.
"Apalagi Ebby, Bun! Maaf Ebby sangat tidak memperhatikan Bunda, padahal Bunda yang mengurus Ebby selama ini," Mama Febri bersujud dikaki Oma Syifa.
Semuanya menangis, tak terkecuali para laki-laki yang bertubuh gagah. Sakit rasanya hati mereka ketika mendengar ucapan Oma Syifa.
"Oma jangan sedih lagi, ya! Alan bakalan tinggal disini nemenin Oma, semua kesuksesan Alan selama ini gak ada artinya kalo Oma gak mensupport semua usaha Alan," Alan berucap dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Iya Oma, Abang sama Alana juga bakalan tinggal disini! Lagian ini sudah jadi wilayah yang Abang pimpin, Abang akan lebih memperhatikan Oma," Husain juga tak kalah serius dalam berucap.
Oma Syifa menghela nafasnya, dia menatap bahagia pada mereka semua.
"Tidak harus seperti itu, tapi Oma mohon! Selama seminggu ini, kalian temani Oma disini. Hanya seminggu saja," pinta Oma Syifa.
"Nggak, Bun! Selama apapun permintaan Bunda, kami akan tinggal disini," tegas Ayah Fahri dan mereka semua mengangguk.
"Kalian itu bekerja! Mana bisa kalian disini selamanya," lirih Oma Syifa.
"Oma, kerjaan masih bisa kita lakukan pulang pergi darisini," tegas Ayah Fahri.
"Zaydan? Mosok iya dia harus bolak balik Jogja-Bandung! Berat diongkos," Oma Syifa menatap Zaydan yang tengah tersenyum padanya.
"Alan bayarin semua ongkos Papa! Kalo bisa kita beli Jet pribadi," celetuk Alan membuat mereka semua melongo.
Puk!
Oma Syifa melemparkan bantal sofa pada cucunya yang satu itu.
"Bocah gendeng! Beli pesawat udah kaya beli permen," Oma Syifa terkekeh.
"Sultan mah bebas, Oma! Beneran deh Aa gak boong, asalkan Oma bahagia. Asalkan Oma masih tetap disisi kita, Alan belum kawin Oma! Belom ngerasain keluar masuk goa, belom ngerasain legitnya susu murni yang berasal dari sumbernya, belum....."
"Belum mau kehabisan nafas kan?!" Oma Syifa menyela ucapan Alan.
"Alamak, mati aku!" batin Alan ketika melihat para orangtua menatapnya sengit.
Alan sudah berancang-ancang untuk berlari, dan benar saja Umminya sudah bangkit dari duduknya.
"Mauuuuulllllll............!!" teriak Ummi Ulil ketika melihat Alan berlari.
"Dasar budak bageuuurrrr..... !!" Baba Jafran mencoba mengejar anaknya itu.
Mereka tertawa melihat anak dan Baba yang sedang main kejar-kejaran itu. Oma Syifa sangat bahagia, dia menggenggam tangan putri kesayangannya itu.
"Kamu sudah bahagia bersama Fahri, Nak. Uqi juga sudah bahagia bersama Ina, tugas Bunda sudah selesai. Bunda mau berkumpul dengan sahabat-sahabat dan cinta sejati Bunda," batin Oma Syifa.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤