
Pagi ini Gisya sedang sibuk mempersiapkan kue untuk Acara Syukuran baby Yanuar, putra dari Komandan Kompi. Mereka bekerja sama untuk membantu kelangsungan Acara.
"Abang duluan ke Rumah Danki ya, sayang. Nanti telpon Abang kalo sudah selesai. Biar Abang bantu bawa kuenya." Ucap Fahri mengecup kening istrinya.
"Makasih Abang." Jawab Gisya mencium tangan suaminya.
Sikap Fahri dan Gisya membuat mereka kagum. Gisya dan Fahri memang pantas untuk menjadi panutan. Gisya yang selalu menjaga nama baik dan menjunjung tinggi kesetiaan terhadap suaminya.
"Kami sangat bangga memiliki pemimpin seperti Ibu." ucap Indri.
"Saya bukan orang yang seperti kalian pikir, saya juga memiliki amarah yang sama seperti kalian. Tapi saya hanya mencoba untuk menahannya, saya selalu ingat pesan Bu Danyon. Jika kita harus menjaga nama baik suami. Itu yang saya harapkan bisa kalian semua lakukan. Kejadian Mbak Bella harus jadi pelajaran bagi kita semua." Ucap Gisya.
"Danton kami memang terbaik!" Ucap Bu Dadang.
Gisya sudah berada di Rumah Danki, siapa sangka ternyata Uwak Ais dan Uwak Yusuf sudah ada disana. Bahkan orang-orang yang dulu menemani Mbak Fatimah ada disana. Termasuk kedua sahabatnya beserta Syauqi.
"Kalian jahat banget! Diundang kesini tapi gak kerumah Caca!" kesal Gisya.
"Tenang Chacha Maricha! Rencananya sepulang dari sini kita mau kesana. Lagian di Blok kamu gak bisa nyimpen banyak mobil. Sedangkan disini kan kita bawa mobil empat cyin! Empat!" ucap Yuliana.
"Cih jiwa missqueen ku meronta-ronta!" sinis Gisya.
Acara berlangsung dengan sangat khidmat, banyak yang mendo'akan baby Yanuar.
"Terimakasih Bapak dan Ibu sudah mau mampir untuk memimpin do'a disini. Kedua orangtua kami sudah tidak ada, kerabat kami pun jauh di Ambon sana. Terimakasih Pak." ucap Gilang pada Uwak Yusuf.
"Kami adalah orangtua kalian, dan kalian adalah putra putri kami. Jangan sungkan untuk berbagi apapun dengan kami. Baik itu suka maupun duka, pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk anak-anak kami." Ucap Uwak Yusuf.
"Benar itu, Nak. Fatimah dan Gilang adalah anak Ummi dan Abi. Mulai sekarang panggil kami Ummi dan Abi." Ucap Uwak Ais memeluk Fatimah.
"Terimakasih Ummi, terimakasih Abi." ucap keduanya.
Semua yang berada disana menitikkan airmatanya, kebahagiaan mereka sangat terasa hingga seluruh Anggota Kompi C. Mereka semua bersuka cita menyambut baby Yanuar.
Ketika yang lain sudah membubarkan diri, kini tinggalah keluarga Gisya disana. Para ibu-ibu sedang memperebutkan untuk menggendong Yanuar.
"Ebiw! Ulil duluan loh yang mau gendong baby!" kesal Yuliana.
"Ih aku duluan, Ulil. Kan tadi gantian udah Bunda, aku duluan." ucap Febri.
"No! Aku yang duluan!" kekeh Yuliana.
"Aku yang duluaan!" kekeh Febri.
"Dieeeeemmmmmm!!" teriak Gisya yang membuat baby Yanuar menangis.
Semua orang menatap kearah Gisya. Lalu dia menyembunyikan wajahnya dibelakang suaminya. Fahri tertawa melihat kelakuan istrinya yang menggemaskan.
"Idih berlindung dibahu suami, tanggung jawab tuh baby nangis!" ucap Yuliana.
"Kalian yang salah! Lagian pake rebutan gendong baby!" kesal Gisya.
"Udah! Kalian ini udah kayak bocah aja ribut-ribut terus!" celetuk Sauqi.
__ADS_1
"Eh mohon maaf nih ya! Situ yang bocah!" kesal Yuliana.
Melihat semua keluarganya memang ada disana, Syauqi jadi berniat untuk membicarakan niat baiknya terhadap Syaina.
"Berhubung semuanya ada disini, dan berhubung Bang Gilang juga sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Uqi mau membicarakan sesuatu yang penting sama kalian semua." ucap Syauqi dengan serius.
"Ada apa Uqi? Apa ada masalah?" tanya Fahri pada adik iparnya itu.
"Enggak Bang, jadi gini Bang." ucapa Syauqi terpotong oleh Yuliana.
"Cepetan ngomong! Bikin jiwa kepo Teteh meronta-ronta aja!" Celetuk Yuliana.
"Ini mau ngomong Ibu Ulet!" kesal Syauqi. "Uqi mau ngomong ini penting, jangan ada yang motong ucapan Uqi."
Syauqi menghela nafasnya, dia mulai mengutarakan niat baiknya kepada keluarganya.
"Uqi berniat untuk bertunangan sama Ina. Untuk saat ini Uqi belum bisa pengajuan nikah, makanya Uqi pengen tunangan dulu sama Ina. Setidaknya setelah itu, Uqi bisa menjaga Ina dari kekerasan Ayahnya. Apa semuanya bisa membantu Uqi?" tanya Syauqi.
Mereka semua terdiam, dan hanya menatap Syauqi.
"Ish! Uqi nanya malah pada diem aja sih! Uqi butuh pencerahan ini." kesal Syauqi.
"Yang tadi nyuruh kita gak motong ucapan kamu siapa?" tanya Yuliana.
"Yee gak gitu juga konsepnya! Gini nih kalo punya Family langka."
Mereka tertawa melihat tingkah Syauqi.
"Hahaha Polisi kok ambekan gitu!" ledek Fahri.
"Nggak boleh dong, Bun. Nanti Uqi kena sanksi, setelah 2 tahun masa dinas baru Uqi boleh pengajuan nikah. Tolong Bunda restuin Uqi ya." ucap Syauqi.
"InshaAllah Bunda dukung Uqi. Jadi kapan kita silaturahmi kesana?"
"Ini makanya Uqi nanya ke kalian, bagusnya kapan?" ucap Syauqi.
Setelah berdiskusi, mereka memutuskan jika minggu depan mereka akan melamar Syaina secara resmi. Mereka segera menghubungi Syaina, namun ketika Syaina diberitahu dia malah meminta Syauqi untuk menundanya. Keluarga Syauqi sangat kecewa dengan penolakan Syaina. Untung saja ada Mama Risma yang memberitahukan sebuah kebenaran.
"Mama tau alasan Ina menolak, Pak Basri itu sebenarnya Ayah tiri Ina. Dia mengajak Ina pindah ke Bandung karena Ayah kandung Ina itu di Palembang. Dulu Mama pernah ketemu sama Ayah kandungnya Ina. Ayahnya bilang, kalo Pak Basri akan menahan Ina hingga usia Ina 23 tahun. Dia ingin mengambil asuransi Ina yang diberikan oleh ibunya." ucap Mama Risma yang membuat mereka tercengang.
Syauqi menghela nafasnya, ternyata semuanya diluar dugaannya.
"Gini aja deh gini, kita minta Ayah kandung Ina ke Bandung. Kita adain acara pertunangan itu sembunyi-sembunyi. Yang penting mereka tunangan aja dulu, sambil kita kumpulin bukti penganiayaan terhadap Ina. Setelah itu, Ina bisa bebas dari Bapak tirinya yang kurang ajar itu!" ucap Yuliana.
"Yaa Allah Teh Ulet! Tumben itu otak jalannya lancar!" ucap Syauqi memeluk Gisya.
"Dih giliran ada maunya, peluk-peluk deh! Dasar si Maliiik."
Mereka semua setuju dengan usulan Yuliana, Mama Risma menelepon Ayah kandung Syaina dan memintanya untuk ke Bandung. Ayah Syaina pun sudah menyetujui.
Hari ini adalah hari yang paling ditunggu oleh Syauqi. Dia sudah menjemput dan memberi akomodasi kepada calon Ayah Mertuanya itu. Kini mereka sedang bersiap di salah satu Resto Khas Sunda yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Syaina sedang didandani oleh Yuliana dan Febri. Sementara Gisya sedang menyiapkan kebaya yang akan dipakai oleh Syaina.
"Ini kita mau kemana sih Teh Ulil? Kok Ina didandanin gini." tanya Syaina.
__ADS_1
"Kita mau ke kondangan! Hari ini kan Uqi mau tunangan." bukan Yuliana yang menjawab, tapi Gisya yang menjawab.
Deggg!!
Hati Syaina terasa sakit, tak terasa bulir airmata menetes dipipinya. Gisya tersenyum puas, dia berniat mengerjai calon adik iparnya itu.
"Udah jangan nangis! Suruh siapa kamu nolak Uqi, nyesel kan!" ucap Febri.
"Ish kalian ini! Tambah nangis Ina nya." kesal Yuliana. "Tapi bener loh Ina, calonnya Uqi dari Palembang. Mana cantik lagi!" tambah Yuliana.
"Teh Ulil sama aja kaya mereka!" Isak Syaina.
"Udah cepetan make up nya! Keburu acaranya dimulai! Kamu harus kuat, buktiin sama si Uqi kalo kamu lebih cantik dari calon istrinya!" ucap Febri.
Setelah selesai make up, Syaina dibawa ketempat Acara. Dan ternyata disana Acaranya sudah dimulai. Syaina tersentak melihat kehadiran Ayah kandungnya disana. Tanpa ragu, Syaina berhambur memeluk sang Ayah.
"Ayah, Ina rindu Ayah." lirih Syaina memeluk Ayahnya.
"Ayah pun rindu sangat pada Ina. Ayah disini menjadi wali kau, Nak Syauqi ingin meminang Ina. Apa Ina bersedia?" tanya Pak Candra.
Syaina menatap kearah Syauqi, dilihatnya sang kekasih sedang berjalan kearahnya.
"Syaina Anjani, maukah kamu menjadi pendampingku? Maukah menungguku hingga nanti menghalalkanmu?" tanya Syauqi.
"Bismillah, InshaAllah Ina mau menerima dan menunggu Aa untuk menghalalkan Ina." tutur Syaina dengan wajah yang memerah.
"Alhamdulillah," ucap mereka serempak.
Bunda Syifa memakaikan cincin dijari manis Syaina dan Ibu tiri Syaina memakaikan cincin dijari manis Syauqi.
"Uhuuuuyyyy!! Ciee yang mau Menanti Cinta Sang Abdi Negara!" Ledek Gisya.
"Ih Teh Caca ngerjain Ina ya!" kesal Syaina mengingat tingkah calon kakak iparnya itu.
"Ye! 1 sama dong, kalian lebih parah bikin Teteh nangisnya seminggu!" kesal Gisya.
"Udah Bunda jangan marah-marah, kasian jagoan didalem perut." ucap Fahri.
"Idih! Mohon maaf ya, jangan tunjukan kemesraan kalian disini! Iya kan Biw?!" ucap Yuliana melirik Febri dan ternyata Febri tidak ada disampingnya.
"Lah si Ebiw kemana Lil?" tanya Gisya.
"Meneketehe meregehese! Udah kayak jin tomang nih si Ebiw!" celetuk Yuliana.
Mereka mencari Febri, tapi setelah menemukan Febri mereka malah saling melirik. Pasalnya, Febri sedang duduk disamping kolam ikan ditemani oleh Zaydan sang ajudan Komandan Kompi.
* * * * *
Hayoohh loohh yang nunggu jodohnya Febrii siapa niihhh?
Maaf yaaa kalo ceritanya bikin bosen ✌
Harap dimaklumi karena ini Karya Pertama Author.
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author❤