
Febri sedang mempacking baju-baju miliknya dam milik putrinya. Febri sudah bertekad untuk meninggalkan Bandung dan memulai kehidupannya bersama Cyra. Sebelum pergi, dia meninggalkan beberapa surat untuk sahabat-sahabatnya dan juga Zaydan. Setelah kejadian hari itu, Febri sangat menghindari Zaydan. Dia memutuskan untuk pergi hari ini, karena dia tau jika Zaydan sedang mengawal Gilang ke Jakarta.
Cyra kini sudah berusia 9 bulan, sementara si kembar sudah berusia 11 bulan. Selama ini, Febri tinggal dirumah Mama Rini yang berdekatan dengan rumah yang ditempati oleh Yuliana. Febri menitipkan surat itu pada pembantu yang biasa menemani dan mambantunya sejak Cyra lahir.
"Makasih ya, Bi. Maaf selama ini aku sama Cyra selalu ngerepotin bibi. Do'akan aku sama Cyra dimanapun kami berada ya, Bi. Sampaikan surat-surat ini sama sahabat-sahabatku ya, Bi. Sama Mas Zaydan juga, bibi sehat-sehat ya. Saya titip rumah ini." ucap Febri.
"Yaa Allah, Neng. Bibi hanya bisa mendo'akan yang terbaik buat Neng." lirih Bibi.
Febri pun segera bergegas menuju stasiun, dia sudah bulat untuk meninggalkan Bandung. Cyra selalu menjadi sumber kekuatan baginya. Sementara bibi segera menyampaikan surat itu pada Yuliana, berharap jika Yuliana dapat mencegahnya.
"Assalamu'alaikum!" teriak Bi Inah membuat Jafran terkaget.
"Yaa Allah bibi! Saya ada didepan ini, gak usah teriak-teriak emangnya dipasar Bi!" kesal Jafran karena kaget.
"Maaf den, itu Neng Ebi pergi. Bawa koper banyak, ini Neng Febri menitipkan surat ini untuk Neng Ulil." ucap Bibi dengan nafas terengah-engah.
Jafran membuka surat itu dan matanya terbelalak kaget.
"Umiiiiiiiiiiii!!" teriak Jafran.
"Astaghfirulloh Baba! Ngapain teriak-teriak?!" kesal Yuliana.
"Kita harus ke stasiun sekarang! Si Udang minggat bawa Cyra, kamu hubungi juga Caca sama si Uqi! Cepetaaannn!" pinta Jafran.
"Bi Inah, titip si kembar!" panik Yuliana.
Gisya sedang menyuapi Husain, bayi berusia 7 bulan itu sedang antusias untuk makan. Sementara sang kakak sedang mewarnai. Gisya terkulai lemas ketika mendapat pesan dari Yuliana. Dia segera menghubungi Bunda Syifa dan Umma Nadia untuk menitipkan anak-anak. Gisya segera menelepon Fahri yang sedang melakukan apel pagi.
"Bunda ke stasiun, Febri pergi bawa koper sama Cyra! Kalo Ayah udah selesai cepetan susul Bunda." ucap Febri dalam panggilannya.
Jafran dan Yuliana segera berlari menuju stasiun, mereka tidak tau kemana tujuan Febri akan pergi. Karena Febri memang tidak memberi tahu siapapun, termasuk Mama Rini. Bahkan Yuliana sudah menghubungi kedua orangtua Andi untuk menanyakan apakah Febri akan datang kesana. Dan ternyata jawabannya tidak.
__ADS_1
Jafran dan Yuliana berpencar mencari keberadaan Febri, namun sayangnya Febri sudah berangkat. Mereka hanya telat beberapa menit saja. Yuliana menangis tersedu-sedu setelah membaca surat dari Febri.
* Dear Ulet Pucukku tersayang,
Hai, Ummi. Terimakasih banyak atas kasih sayang kamu selama ini untuk putriku Cyra. Juga untuk Baba, terimakasih sudah mau menjadi sosok Papa bagi Cyra. Kalian memang benar-benar sahabat terbaikku. Semoga si kembar juga akan tumbuh dengan baik yaa, dan mereka akan tetap menjadi sahabat baik Cyra. Maaf aku pergi tanpa pamit, ijinkan aku menemukan kebahagiaanku bersama Cyra, ya. Aku janji suatu saat pasti akan kembali. Aku menyayangimu setulus hatiku, Lil. Kamu sahabat terbaikku, suka dan duka sudah kita lewati bersama. Tetaplah menjadi Ulilku yang kebo, yang kocak dan absurd. Semoga kamu akan selalu bahagia bersama Baba pasangam absurd mu. Hihihihi. Sekali lagi maafin aku pergi tanpa pamit. Do'akan kami selalu ya!
Salam sayang, Ebiw & Cyra ❤
Tak lama kemudian, datanglah Gisya dengan nafas terengah-engah menghampiri Yuliana dan Jafran yang sedang terduduk lesu.
"Gimana? Ketemu gak si Ebiw?" tanya Gisya dan Yuliana menggelengkan kepalanya.
"Dia nitipin ini buat kamu sama Fahri." ucap Jafran sambil memberikan map coklat besar.
Gisya membukanya, dan menangis membaca surat itu.
* Dear Chacha Marichaku sayang,
Salam sayang, Ebiw & Cyra ❤
Gisya menangis tersedu-sedu memeluk surat dari Febri. Lalu Yuliana menghampirinya dan mereka saling berpelukan.
"Kita bakalan cari Febri sampe ketemu." lirih Yuliana dan Gisya mengangguk.
Fahri segera menyusul istrinya setelah apel pagi. Kepergian Febri dan Cyra menjadi luka tersendiri baginya. Terlebih sahabatnya Andi telah menitipkan mereka berdua padanya. Hati Fahri terluka melihat sang istri yang menangis dengan penampilan seadanya. Bahkan dia masih mengenakan sandal yang selalu dia pakai didalam rumah.
Fahri menghampiri istrinya dan memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan menangis, hati Abang sungguh sakit melihat kamu seperti ini." ucap Fahri.
"Ebiw udah pergi, Bang. Dia ninggalin kita disini, bahkan dia gak ngasih tau akan pergi kemana. Kita harus cari dia, Bang." Lirih Gisya.
__ADS_1
"Kita akan cari dia, tapi sudah cukup jangan menangis." ucap Fahri.
Dua minggu berlalu, mereka sama sekali belum bisa melacak keberadaan Febri. Zaydan baru saja pulang bertugas, Fahri menghampirinya dan memberikan surat dari Febri.
"Ini ada titipan untukmu dari Febri, sebenarnya sudah dari dua minggu yang lalu. Bacalah!" Ucap Fahri sambil memberikan surat itu.
"Surat? Terimakasih Bang, akan aku buka nanti." ucap Zaydan.
"Bacalah sekarang, atau kamu akan menyesal nanti." tutur Fahri lalu pergi.
Zaydan membuka surat itu, dia tersenyum melihat foto mereka bertiga disana. Lalu kemudian Zaydan terbelalak kaget membaca surat itu.
* Untuk Mas Zaydan.
Hai Mas, apa kabar? Aku harap Mas akan selalu baik-baik aja. Mungkin saat Mas membaca surat ini, aku udah gak ada di Bandung. Maaf ya Mas, aku sudah merepotkan kamu selama ini. Bahkan aku juga sudah menghalangi cintamu. Terimakasih sudah menjadi Papa terbaik buat Cyra. Tugasmu sudah selesai, Mas. Hiduplah dengan sangat baik, aku dan Cyra pun akan hidup dengan baik. Terimakasih sudah memberikan nama yang indah untuk Cyra. Berbahagialah, jika kita berjodoh mungkin suatu saat kita akan dipertemukan kembali. Cyra sayang Papa Zaydan.
Salam sayang, Febri & Cyra ❤
Zaydan terduduk lemas, dia menangisi kepergian Febri dan gadis kecilnya. Zaydan sudah sangat menyayangi Cyra seperti putranya sendiri. Kini dia sungguh sangat menyesal.
* * * * *
Siapa yang nungguin cerita Febri?
Nih Author kasihh!!
Gimanaaa sukaa gak ceritanya reader?
Maaf ya ngebosenin!
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author❤