
Saat ini Gisya sudah berada di Rumah Komandan Kompi, lengkap dengan seragam Persitnya. Rencananya mereka akan membuatkan kue untuk Ibu Komandan Batalyon yang hari ini berulang tahun. Gisya sudah sangat akrab dengan beberapa anggotanya, terutama dengan Indri. Dia adalah suster yang merawat dan menemani Gisya saat di Rumah Sakit.
"Ijin Bu Danki, saya akan membuat puding buah untuk Bu Danyon." ucap Bella.
"Boleh, silahkan Bu Kemal. Semakin banyak yang membuat makanan, pasti Bu Danyon semakin senang." ucap Fatimah dengan ramah.
Gisya saat ini sedang membuat adonan kue, dia dibantu oleh Indri dan Andina. Sementara Bella membuat puding buahnya sendiri. Dia menolak untuk dibantu siapapun. Akhirnya mereka membantu Gisya untuk menyelesaikan kue Ulangtahun yang special untuk atasan mereka. Bella mencebik kesal melihat Gisya, hal itu tak luput dari pandangan Fatimah.
"Bu Fahri, berapa lama belajar membuat kue?" tanya Andina.
"Sudah sejak SMP Bu Dzikri, dulu Bunda yang menjalankan Toko. Tapi semenjak Ayah meninggal, saya yang meneruskan." jawab Gisya ramah.
"Wah, hebat Bu Fahri. Pantas saja sekarang Om Fahri terlihat gemukan, rupanya istrinya pandai memanjakan lidah suami." puji Andina yang membuat Bella semakin kesal.
Bella sudah menyelesaikan puding buatannya, kini puding itu disimpan didalam kulkas agar cepat padat. Sementara Gisya masih menunggu kue nya matang, dan siap untuk dihias. Mereka berbincang-bincang, membicarakan kehidupan istri seorang Tentara.
"Dulu saya sempat merasakan kehilangan. Saat itu Danki mendapat tugas ke Ambon, disana dia untuk pertama kalinya tidak menghubungi saya. Khawatir sudah pasti, karena disana terjadi kerusuhan yang menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Danki mencoba menolong korban, mereka adalah dua anak kembar. Sayangnya, ketika sampai dirumah sakit kedua anak itu sudah meninggal dunia. Hingga saat ini Danki menyesal, karena belum sempat meminta maaf pada keluarga korban. Dia terus menerus menyalahkan dirinya yang terlambat untuk menolong kedua anak kembar itu. Sampai saat ini dia sering melihat foto kedua korban yang terakhir diambilnya." tutur Fatimah.
"Mohon ijin Bu Danki, apa anak kembar yang dimaksud adalah 2 anak ini?" tanya Gisya sambil menunjukkan foto kedua keponakannya. Fatimah terkesiap kaget.
"MashaAllah, apa Bu Fahri mengenal kedua anak ini?"
"Ijin Bu, mereka kedua keponakan saya. Uwak saya juga dulu mencoba mencari Tentara yang sudah berusaha menyelamatkan putri mereka. Tapi sayangnya, Uwak saya tidak menemukannya. Saya rasa Uwak saya akan bahagia jika bisa bertemu dengan Danki." ucap Gisya yang dihadiahi pelukan oleh Fatimah.
"MashaAllah Gisya, Mbak bersyukur mengenal kamu. Mas Gilang pasti bahagia bisa bertemu dengan mereka. Mbak ingin Mas Gilang tidak terus hidup dalam rasa bersalah, terimakasih Gisya." ucap Fatimah dengan bahasa non formal membuat Bella kesal.
"Sama-sama Bu Danki, mungkin sudah jalannya seperti ini." ucap Gisya.
Kue yang dibuat Gisya sudah matang, saat ini dia sedang menghiasnya. Sedangkan yang lain sedang membungkus kado untuk Bu Danyon. Bella menghampiri Gisya, dia dengan sengaja menyenggol tangan Gisya yang sedang menghias kue.
"Astaghfirulloh Bu Fahri, kenapa gak hati-hati? Itu kue nya jadi berantakan gitu! Kita udah gak ada waktu lagi loh!" ucap Bella dengan nada yang tinggi.
Mereka semua menghampiri Gisya dan Bella.
"Ada apa Bu Kemal?" tanya Fatimah.
__ADS_1
"Ijin Bu Danki, Bu Fahri tidak berhati-hati. Lihat hiasan kue nya jadi berantakan, waktu kita kan gak banyak." ucap Bella berapi-api.
"Kok bisa begini Bu Fahri? Bagaimana ini?" tanya Fatimah panik.
"Mohon ijin Bu, maaf saya tidak berhati-hati. InshaAllah kue nya baik-baik saja. 10 menit lagi juga selesai." jawab Gisya santai tanpa beban.
Benar saja, kini Gisya membuktikan kemampuan yang dimilikinya. Dia mengubah kue yang berantakan itu dengan sangat cantik. Bella melongo melihatnya, rasa tidak sukanya semakin menjadi-jadi. Gisya hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Bella.
"Wah Bu Fahri memang luar biasa. Kalo kita ada lomba antar Kompi bisa menang ini Bu Danki." ucap Andina memuji Gisya.
Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Aula, disana sedang diadakan pertemuan untuk menentukan keberangkatan prajurit. Gisya berjalan dengan anggun disamping Andina sambil membawa kue Ulangtahun yang dibuatnya. Mereka memberikan kejutan untuk Bu Danyon.
"MashaAllah, Alhamdulillah. Saya ucapkan terimakasih kepada semua anggota, karena sudah mengingat hari kelahiran saya." ucap Ibu Ratih, istri Komandan Batalyon.
"Mohon ijin Bu, kami sangat bahagia dapat merayakan hari Ulangtahun ibu bersama-sama. Semoga ibu diberikan kesehatan, panjang usia dan bahagia selalu." ucap Fatimah.
Bu Danyon mulai meniup lilin dan memotong kue nya. Dia tertegun merasakan kue Ulangtahun yang menurutnya memiliki rasa yang berbeda.
"Siapa yang membuat kue ini Bu Danki?" tanya Bu Ratih dengan raut wajah yang sulit diartikan. Gisya mulai gemetar, dia takut rasanya mengecewakan. Sementara Bella tersenyum sinis, dia yakin jika Gisya akan dipermalukan.
Tanpa diduga, Bu Danki menghampiri Gisya dan memeluk Gisya.
"Ini adalah kue Ulangtahun terbaik bagi saya. Terimakasih Bu Danton." ucap Bu Ratih.
Fahri tersenyum menyaksikan istrinya yang dipuji bahkan sampai dipeluk oleh istri Komandannya itu. Dia bangga terhadap Gisya.
"Apa saja resepnya? Tolong ajarkan saya nanti ya, Bu Danton."
"Ijin Bu, saya memakai tepung dan gula yang rendah kalori. Karena suami saya mengatakan jika Ibu memiliki riwayat gula darah tinggi. Jadi kue ini aman untuk dikonsumsi oleh Ibu dan Bapak." jawab Gisya gugup.
Komandan Batalyon dan istrinya semakin kagum pada Gisya. Dulu saat pengajuan nikah, Gisya sempat membuat keduanya merasa bangga atas jawaban Gisya. Dan saat ini mereka semakin bangga.
"Bu Danton memang istri pilihan terbaik, Fahri pasti sangat bangga memilikimu. Benar kan Lettu Fahri?" tanya Komandan Batalyon.
"Siap! Betul Danyon." jawab Fahri.
__ADS_1
Bella yang kesal menghampiri suaminya, rasa iri memang sudah mengisi hatinya. Padahal Gisya sama sekali tidak pernah menyinggung dirinya.
"Kamu liat perempuan itu pintar sekali cari muka, Mas!" kesal Bella.
"Jangan gitu! Ada masalah apa kamu sama Bu Fahri sampai begitu?" geram Kemal.
"Dia itu pandai cari muka, aku gak suka!"
"Jaga sikapmu! Kalo kamu tidak mau Mas dalam masalah!" ucap Kemal.
Sudah berkali-kali Bella membuat Kemal dalam masalah, tutur kata dan sikapnya yang kurang sopan membuat Kemal dipanggil oleh Komandan Batalyon. Karena sudah kewajibannya istri seorang Abdi Negara harus bertutur kata dan bersikap sopan santun.
Fahri dan Gisya sudah berada dirumah. Setelah selesai sholat Isya, mereka berbincang-bincang sambil saling memeluk.
"Abang bangga, Adek bisa mengharumkan nama suami." Ucap Fahri.
"Sudah kewajiban Adek menjaga nama baik Abang. Oh ya, Bang. Bu Kemal ada masalah apa ya sama Adek? Tadi dia hampir aja ngerusak kue yang Adek buat." Lirih Gisya.
"Bella memang begitu, bahkan suaminya seringkali terkena teguran karena sikapnya yang seperti itu." ucap Fahri sambil mengelus rambut istrinya.
"Yaa Allah, Adek juga heran tau Bang. Kok dia gitu sikapnya, pengen Adek jadiin perkedel jagung deh!" geram Gisya.
"Menjadi istri Tentara itu, harus menjaga sikap dan nama baik suami Dek. Kalo tidak, bisa seperti Kemal nasibnya. Susah naik pangkat." Jelas Fahri.
"Adek selalu ingat nasehat Bu Danyon, Bang. Istri prajurit itu harus bertutur kata yang baik dan sopan. Memang Istri yang baik belum tentu bisa menaikan pangkat dan Jabatan suami, tapi istri yang dipandang tidak baik oleh atasan bisa mempengaruhi komando atas dalam menentukan jabatan suami."
"Alhamdulillah istri Abang pintar. Sekarang kita buat generasi penerus yang pintar dan cerdas seperti Bunda dan Ayahnya." goda Fahri.
Akhirnya mereka melakukan kegiatan panas yang selalu diinginkan setiap pasangan pengantin baru. (Selamat travelling para Reader 😜)
* * * * *
Dukung terus Author ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1