Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
Bab 77. Pentas Sekolah berujung Musibah


__ADS_3

Rumah Gisya terasa ramai pagi ini, pasalnya mereka akan menghadiri Acara pentas di sekolah Quera. Fahri dan Husain sudah menunggu lama, mereka sudah siap dengan kemeja berwarna biru muda yang cerah. Sebenarnya mereka sempat menolak, karena dibaju yang mereka gunakan ada karakter kartun kesukaan Quera yaitu Hello Kitty.


"Adek panggil Bunda sama kakak, gih! Nanti kesiangan ini." ucap Fahri pada Husain.


"Oteh Yah!" jawab Husain sambil berlari.


Fahri sungguh gemas dengan putranya itu, badannya sungguh bulat dan lucu ketika berlari. Belum juga sampai dikamar kakaknya, Husain berbalik dan kembali.


"Loh, kok balik lagi? Kan belum panggil kakaknya." heran Fahri.


"Beyi obot bum bee ya Yah! Obot yan ndee banet." pinta Husain pada Fahri.


"Haaaahhhh? Kok malah minta robot bumble bee? Ini gimana sih dek, kan Ayah nyuruh panggilin kakak sama Bunda." ucap Fahri, tapi Husain malah mengeluarkan ponsel milik Ayahnya yang dia pinjam tadi.


Husain memutarkan pesan suara yang dikirimkan oleh Baba nya. Karena tadi mereka baru saja menelpon Jafran dan si Kembar.


"Aiiinn, Gin, Faa, Qof! Kalo si Ayah nyuruh-nyuruh kamu, jangan mau ya! Minta dulu beliin mainan, baru kamu laksanakan tugas si Ayah! Oke!" ucap Jafran pada pesan suara itu.


Fahri menepuk jidatnya, putranya itu selalu menurut dengan apa yang diucapkan oleh Jafran. Karena Baba nya itu selalu memberikan mainan yang Husain inginkan.


"Dasar merpati kurang asem! Enak aja mau mempengaruhi putraku, awas aja kamu Baba!" gerutu Fahri sambil membuka setiap pesan suara dari Jafran.


"Ada apa sih Yah? Kok ngedumel?" tanya Gisya yang baru saja keluar kamar.


Fahri terkesiap dengan penampilan istrinya yang begitu cantik menggunakan gamis berwarna pink. Bahkan mulutnya sampai menganga karena terpesona.


"Hemmm! Lap tuh ilernya Yah!" ledek Gisya pada suaminya.


"Bunda cantik banget sih." bisik Fahri sambil menarik pinggang istrinya itu.


"Ayah! Ada anak-anak, maluu tau!" ucap Gisya dengan wajah yang memerah.


Belum Fahri mengeluarkan gombalannya, Quera sudah melakukan protes terlebih dahulu.


"Ayah! Mbun! Ayo nanti kakak kesiangan." rengek Quera.


"Hufft, anak siapa sih ini! Gemesin banget deh!" ucap Fahri sambil mencubit pipi Quera.


Akhirnya mereka berangkat menuju sekolah Quera, sepanjang perjalanan kedua anaknya itu sangat antusias bernyanyi. Fahri tersenyum bangga karena memiliki anak-anak yang sangat cerdas seperti mereka. Sesampainya disana, mereka disambut oleh jajaran para guru. Quera bersekolah di TK Kartika yang rata-rata muridnya adalah putra dari anggota TNI. Bahkan Quera satu kelas dengan Rian yang merupakan putra dari Dzikri dan Andina.


Fahri menghampiri Dzikri yang sedang mengobrol dengan orangtua murid yang lain. Tapi ketika Fahri duduk disana, mereka semua sudah tidak bisa menahan tawanya. Fahri sudah mengerti dengan apa yang mereka tertawakan.


"Gak usah ketawa! Mau saya hukum keliling lapangan Gasibu 10x?" kesal Fahri.


"Siap! Maaf Danton!" ucap salah satu anggota Fahri.

__ADS_1


"Lagian kamu ini, badan aja gagah tapi pake baju masa ada Hello Kitty nya." Ledek Dzikri.


"Ini kan permintaan anak, Bang! Mau gak mau lah aku harus nurutin, namanya juga sayang anak. Tuh liat! Danyon aja sampe rela pake pita dikepala buat anak bungsunya! Gak kamu ledekin juga Bang?!" ucap Fahri pada Dzikri.


"Cari mati aku kalo gitu caranya!" kesal Dzikri.


Acara begitu sangat meriah, satu persatu murid TK itu menampilkan kreatifitas mereka. Mulai dari bernyanyi dan menari. Sebelum tampil berduet bersama Bundanya, Quera ingin membacakan sebuah surat untuk kedua orangtuanya. Dan sontak hal itu membuat Gisya dan Fahri saling pandang.


* * * * *


Hallo Ayah, Bunda. Terimakasih sudah menyayangi dan membesarkan kakak. Kata Ibu guru, Bunda itu adalah Surga untuk kakak jadi kakak harus menyayangi Bunda. Maafin kakak ya Bunda, kalo kakak suka nakal. Kakak janji akan jadi anak yang pintar dan nurut sama Bunda. Ayah, terimakasih sudah menyayangi kakak. Ayah adalah Ayah yang paling hebat! Terimakasih Ayah Bunda, Kakak sayang semuanya.


* * * * *


Fahri dan Gisya saling berpelukan dengan mata yang berkaca-kaca. Quera memang anak yang berpikiran dewasa sebelum waktunya. Mungkin karena dia memang sudah mengerti dengan apa yang terjadi dalam hidupnya. Bahkan sempat beberapa kali, dia menanyakan Mama dan Papanya. Dan Gisya sama sekali tidak menutup-nutupi. Dia selalu mengatakan jika Mama dan Papa Quera sudah bahagia di Surga, hingga memintanya untuk selalu mendo'akan kedua orangtuanya.


Kini saatnya Quera dan Bundanya untuk bernyanyi di panggung. Husain tak mau kalah, dia malah ikut keatas panggung untuk menyanyi bersama Bunda dan Kakaknya. Lagu Santri Kecil dan Mari Mengaji.


*Santri Kecil ( Nada Bintang Kecil)


Santri kecil di masjid yang indah


Bawa Qur’an dan bawa sajadah


Pakai peci dan busana muslimah


Santri kecil di masjid yang indah


Bawa Qiro’aty dan Al Qur’an


Rajin sholat dan rajin mengaji


Sayang kawan tak suka bermusuhan


*Mari Mengaji ( Nada Naik Delman )


Tiap sore hari ku rajin datang mengaji


Dengan kawan-kawan, tuk jadi anak terpuji


Di samping mengaji, diajar pula menyanyi


Agar hati ini selalu dekat Illahi


Yo kawan-kawan, marilah kita mengaji

__ADS_1


Yo kawan-kawan, marolah kita mengaji


Fahri sangat bangga pada istrinya yang selalu mengajarkan kebaikan pada Quera, bahkan Gisya tidak pernah lupa mengingatkan agar Quera selalu mendo'akan kedua orangtua kandungnya. Sungguh Fahri merasa sangat beruntung dapat menikahi Gisya.


Selesai Pentas, Gisya berbincang-bincang dengan ibu-ibu yang lain. Namun Andina menarik Gisya dari sana untuk memberitahukan sesuatu hal yang penting.


"Mbak ada apa sih? Kok aku ditarik-tarik gini!" kesal Gisya.


"Ssstt.. Ada yang harus Mbak bicarakan sama kamu Ca!" bisik Andina.


"Ada apa sih Mbak? Jangan bikin penasaran deh!" ucap Gisya yang semakin kesal.


"Kamu tau Fahri bakalan dipindah tugaskan?" tanya Andina.


"Tau Mbak, tapi kan masih 6 bulan lagi. Emang kenapa Mbak?" heran Gisya.


Andina menghela nafasnya, lalu menceritakan hal yang dia tau.


"Keberadaan Febri itu di Jogja, Indri sempat melihat Febri di Stasiun Jogja. Waktu dia liburan sama Indra. Siapa tau nanti di Jogja sana kamu bisa ketemu sama Febri. Mbak sama yang lain cuman bisa bantu infokan itu aja, tapi Zaydan udah dipindah tugaskan lebih dulu kesana. Mbak kasian liat Zaydan sangat tersiksa mencari sahabatmu itu. Entah memang sudah takdirnya begini, tiba-tiba aja kan Zaydan dipindah tugaskan. Semoga aja dia bisa ketemu Febri disana." ucap Andina.


"Mbak serius ini? Aku harus kasih tau keluargaku!" antusias Gisya.


Doorrrrr!!! Dooooorrrrrr!!!


Saat Gisya akan menghampiri suaminya, tiba-tiba terdengar suara tembakan dimana-mana. Rupanya anak buah Abrafo masih mengincar Quera, mereka belum puas atas pengkhianatan Abrafo. Gisya melihat putrinya itu disekap, dengan cekatan dia menendang orang yang membekap mulut putrinya. Gisya memeluk Quera dengan sangat erat. Sementara Husain berada dalam pelukan Fahri. Tiba-tiba seseorang menendang Gisya dari belakang, rupanya dia adalah Zahra.


Orang-orang itu dibantu oleh Zahra agar bisa masuk ke wilayah Indonesia. Dia kabur dari Rumah Sakit Jiwa, lalu bertemu dengan mereka di Pelabuhan saat Zahra akan Kabur ke Luar Pulau. Fahri terus mencari keberadaan istri dan anaknya, tapi sayangnya dia kehilangan jejak mereka. Namun, Dzikri mengejar mobil yang membawa Gisya bersama Quera. Dia segera menghubungi polisi dan beberapa anak buahnya.


Gisya dan Quera tidak sadarkan diri, Zahra tertawa puas melihat Gisya terluka.


"Hahahahahaha silahkan kalian musnahkan anak ini, tapi perempuan ini biarlah mati ditanganku." teriak Zahra sambil tertawa.


"Anda memang benar-benar gila Nona Zahra." ucap salah satu penculik.


* * * * *


Maaf yaa kalo gak suka sama ceritanyaa..


Ini hanya imajinasi Author aja 😊🙏✌


Kalo ceritanya Author bikin TAMAT secepatnya kalian setuju gak?


Dukung terus Author yaa ❤


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2