
Hari pernikahan Afifah dan Rian berlangsung disebuah gedung serbaguna yang tak jauh dari kediaman Bunda Gisya dan Ayah Fahri. Semua orang sudah siap menyambut kedatangan Rian dan rombongan keluarga. Sedangkan Elmira belum juga terlihat batang hidungnya, hal itu sontak membuat Bunda Gisya panik.
"Dira sayang, Kakak kamu kemana? Kok belum keliatan?" tanya Bunda Gisya.
"Tadi masih ngurusin Sweta, Bun. Dia agak rewel soalnya," jawab Indira.
"Yaudah Bunda susul dulu aja ya!" ucap Bunda Gisya khawatir.
"Ih! Bunda kan mesti dampingin Kak Fifah dulu, biar Dira minta Bang Ain buat susulin Kakak ya!" ucap Indira dan Bunda Gisya mengangguk.
Sementara itu dirumah, Elmira masih kerepotan mengurusi Sweta yang mulai rewel. Tentunya dia tak sendiri, karena Biang Mira masih berada disana.
"Sweta sayang, kok rewel sih," lirih Elmira menatap Sweta yang menangis.
"Mungkin sakit badan, Ra. Coba pijit-pijit sedikit badannya," ucap Biang Mira.
"Udah Biang, tetep aja rewel! Bubu sedih sayang kalo Sweta gini," lirih Elmira terisak.
"Loh kok malah ikutan nangis! Sini biar Biang coba gendong!" ucap Biang Mira lalu mencoba menggendong Sweta.
Sudah satu jam berlalu, tapi Sweta belum juga tenang. Husain datang dengan nafas yang tersenggal-senggal.
"Yaa ampun, Kakak! Orang di gedung pada nyariin malah nangis disini, kenapa siihh?" tanya Husain lalu menghampiri sang Kakak.
"Sweta dari tadi rewel banget! Kasian suaranya sampe abis, dari tadi gak mau diem. Tuh Acel aja yang lagi bobo sampe bangun!" ucap Elmira sambil terisak.
"Yaa Allah udah jangan nangis! Yukk Sweta sama Om Ain," ucap Husain sambil menggendong Sweta, dan dia masih terus menangis bahkan meronta.
"Babm, bam babm," gumam Sweta sambil terus menangis.
Husain mencoba menggendongnya, mengajaknya bermain tapi tetap saja Sweta masih belum bisa menghentikan tangisnya.
"Aha! Abang tau akar permasalahannya Kak!" ucap Husain menatap sang Kakak.
"Apaan? Sweta sakit?" tanya Elmira sambil menghapus airmatanya.
"Mohon maaf nih ya! Coba panggilkan pawangnya, InshaAllah Sweta segera diam duduk manis!" ucap Husain sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Heh adik kurang ajar! Emang Sweta apaan pake punya pawang segala!" kesal Elmira.
"Elmira, coba kamu hubungin Mirda! Biang yakin itu yang dimaksud Husain," ucap Biang Mirda dan diangguki oleh Husain.
Elmira segera mengambil ponselnya, dia menelepon sang calon suami.
In Call
"Assalamu'alaikum, Abang dimana?" tanya Elmira yang masih sesegukan.
"Kamu kenapa Elmira? Ada apa? Kamu dimana? Ini Abang sudah di gedung, Abang nyari kamu ini daritadi! Sekarang kamu dimana?" tanya Mirda yang panik.
"Aku masih dirumah, Bang. Abang kesini ya?!" ucap Elmira.
Tut tut tut
"Hallo! Hallo Abang!" kesal Elmira karena panggillannya dimatikan.
End Call
Brakkkkk!
Saat Elmira mendengus kesal, tiba-tiba pintu terbuka dengan kencang membuat Acel yang tadinya diam ikut menangis.
"Kamu kenapa sayang? Apa yang terjadi?" panik Mirda sambil menghampiri Elmira yang terduduk lesu diatas lantai. Elmira hanya menggelengkan kepalanya.
"Aih dasar Bang bucin! Nih anak situ nangis kejer dari tadi! Noh emaknya malah ikutan nangis kejer!" ucap Husain sambil memberikan Sweta pada Mirda.
Benar-benar ajaib! Sweta langsung diam, mungkin tenaganya sudah habis karena menangis. Dia hanya mengalungkan tangannya dileher Mirda dan menyandarkan kepalanya di bahu Mirda. Husain menepuk jidatnya dan tertawa.
"Ampun Sweta! Kamu bucin banget sih sama Baba kamu!" ucap Husain gemas.
"Akhirnya dia diam juga Husain!" ucap Biang Mira sambil menggendong Acel.
__ADS_1
"Emang udah berapa lama dia nangis?" tanya Mirda sambil mengelus Sweta.
"Udah sejam lebih kayaknya, itu Bubunya panik malah ikut nangis. Jadi Bianglah yang kelimpungan menenangkan mereka," ucap Biang Mira seraya tersenyum.
Mirda mengelus lembut kepala Elmira, dan mengusap airmata dipipinya.
"Udah jangan nangis, sekarang lap airmatanya. Kita harus ke gedung, acaranya udah mau dimulai," ucap Mirda dengan sangat lembut.
"Abang kok cepet banget sampe sini, naik apa?" tanya Elmira yang keheranan.
"Pinjam motor Bagja! Abis kamu bikin Abang panik, nelpon sambil nangis-nangis gitu," ucap Mirda sambil mencubit hidung Elmira.
"Beuh! Sama banget Bang! Aku juga ampe pinjem motor Kang Dayat buat nyusulin ini princes! Ngahariwangkeun!" kesal Husain sambil melipat kedua tangannya didada.
Elmira melemparkan guling kecil milik Sweta pada Husain.
"Gak ngerasain sih gimana paniknya! Kasian tau nangis sampe gak ada suaranya, ya Kakak ikut snewen lah!" ucap Elmira mencebik kesal.
"Kata siapa gak ngerasain? Tadi buktinya Abang juga snewen kok!" bela Husain.
"Udah-udah malah berantem! Lain kali kalo Sweta nangis kejer kaya tadi, kamu hubungin Abang ya sayang," ucap Mirda sambil mengelus kepala Elmira.
"Iya Bang, maaf ya jadi ngerepotin," lirih Elmira menundukkan kepalanya.
"Kok ngerepotin sih? Udah kewajiban Abang buat melindungi kalian, karena itulah tugas Abang sebagai suami dan Ayah," ucap Mirda seraya tersenyum.
Biang Mira dan Husain segera meledek keduanya, saat mendengar ucapan Mirda.
"Aduh Biang kena kolesterol, kebanyakan liat keuwuan ini!" ucap Biang Mira.
"Itulah tugas suami dan Ayah, halalin dulu wooooyyy!" ledek Husain.
"Dasar jomblooooo! Syirik aja!" kesal Elmira pada Husain.
"Liat aja ntaran! Aku langkahin baru tau rasa! Ayo Biang, kita ke Gedung sekarang! Nih Om bucin udah nelponin terus daritadi!" ucap Husain sambil menggandeng tangan Biang Mira.
Setelah drama yang cukup menguras tenaga, Elmira dan Mirda kini tengah duduk menyaksikan akad nikah Afifah dan Rian.
"SAHHHHH!!" ucap saksi dan seluruh tamu yang hadir.
Suasana menjadi haru, ketika Afifah dan Rian berlutut dihadapan kedua orangtua mereka masing-masing. Elmira pun ikut menangis ketika melihat itu semua.
"Udah jangan nangis, Abang musti stock tisu satu kardus berarti ya nanti pas kita nikah!" bisik Mirda seraya terkekeh.
"Ish Abang! Terharu tau, ih! Emangnya kapan Abang mau nikahin aku?" goda Elmira.
"Sekarang juga boleh!" tantang Mirda sambil menaik turunkan alisnya.
"Dasar nakal!" ucap Elmira sambil mencubit pelan pinggang Mirda.
Kebahagiaan Elmira dapat terlihat jelas diwajahnya, dan hal itu membuat hati Chandra sedikit meringis. Dia memang sudah mulai mencintai istrinya, tapi jauh didalam hatinya masih Elmiralah yang menempati posisi paling utama.
"Aku hanya akan menjadi pelindung bagimu, Elmiraku. Pelindung bagi keluargamu dan keluargaku kelak, senyuman dan kebahagiaanmu itulah yang akan aku utamakan. Dan aku akan tetap menjadi perisai dirimu, biarlah hanya aku dan Tuhan yang tau," batin Chandra.
Para tamu dan keluarga bergiliran naik keatas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada Afifah dan juga Rian. Kali ini giliran Mirda dan Elmira yang naik kesana.
"Mamiii... Selamat menempuh hidup baru ya! Semoga jadi keluarga sakinnah, mawadah, warahmah. Dan jangan lupa! Cepet kasih Sweta adik!" ucap Elmira memeluk Afifah.
"MashaAllah calon manten! Cocok banget sii bertiga-tigaan! Makasi banyak do'a baiknya sayang, semoga kamu juga disegerakan ya sama Bang Mirda!" ucap Afifah.
Begitupun dengan Mirda, dia memeluk Rian untuk mengucapkan selamat. Tentu saja dengan si manis Sweta yang selalu betah di gendongannya.
"Selamat ya, Rian! Semoga jadi imam dan pelindung yang terbaik bagi keluarga, cepet kasih Sweta adik yang banyak ya!" ucap Mirda.
"Thanks, bro! Semoga cepet nyusul ya! Kalo soal adik mah gampang! Tar malem langsung cus bikin adonan!" ucap Rian membuat Afifah refleks mencubit pinggang suaminya itu.
"Ciee udah cubit-cubitan! Tar adon-adonan ya!" celetuk Mirda membuat wajah Rian dan Afifah memerah karena malu.
Setelah menyapa pengantin, mereka melakukan sesi foto bersama. Elmira lalu membawakan Mirda sepiring makanan untuk mereka berdua. Kini mereka sudah tak canggung lagi untuk saling memperlihatkan kedekatan mereka. Suara dari atas panggung membuat fokus mereka sedikit teralihkan. Ternyata Chandra sudah berada diatas panggung dan dia mengajak Elmira untuk bernyanyi bersama.
"Princess Ayah, bolehkah menemaniku bernyanyi disini?" ucap Chandra diatas panggung dan Elmira mengangguk setelah menoleh pada Mirda.
__ADS_1
Kasih ku berjanji selalu menemani...
Saat kau bersedih, saat kau menangis..
Aaa.. kan ku jaga..
Aaa.. segenap cinta yang ada untukmu..
Selama nafasku masih berdesah..
Dan jantungku terus memanggil indah namamu..
Takkan pernah hati ini mendua..
Sampai akhir hidup ini..
Kasih ku berjanji selalu menemani..
Saat kau bersedih saat kau menangis..
Aaa.. kan ku jaga..
Aaa.. segenap cinta yang ada..
Aaa.. percayalah..
Aaa.. satu cintaku untukmu..
Selama nafasku masih berdesah..
Dan jantungku terus memanggil indah namamu..
Takkan pernah hati ini mendua..
Sampai akhir hidup ini..
Lagu 'Sampai Akhir' dinyanyikan Elmira dan Chandra dengan penuh penghayatan. Biang Mira dan Mirda bersikap biasa saja, karena tau jika kini Chandra telah menerima istrinya. Tapi berbeda dengan Bunda Gisya, dia merasa ada arti lain dibalik semua ini. Karena Bunda Gisya sangat tau bagaimana perasaan Chandra pada Elmira.
"Semoga kamu menepati janjimu, Bang Chandra. Untuk tetap menjadi pelindung bagi putriku Elmira dan tetap mencintai istrimu, Elmira," batin Bunda Gisya.
Acara sudah selesai tepat pukul 2 siang, kini mereka semua sedang berkumpul bersama. Elmira, Mirda, Chandra dan juga Biang Mira serta kedua bocil yang tampak sedang menikmati cemilan buahnya.
"Jadi kapan kalian menikah?" tanya Chandra pada Elmira dan juga Mirda.
"InshaAllah minggu depan pengajuan, Ayah. Sebelum itu aku harus satgas ke Papua selama 2 bulan, mungkin setelah itu baru kami akan melangsungkan pernikahan," ucap Mirda sambil menoleh pada Elmira.
"Apa dia sudah bersedia menunggumu hingga kembali?" goda Chandra pada putranya itu.
"Dua tahun saja aku masih menantinya, Ayah. Dua bulan bukan waktu yang lama," ucap Elmira menjawab pertanyaan Chandra.
Mereka berbincang-bincang dengan santai, sambil sesekali menertawakan tingkah putra putri mereka yang menggemaskan.
"Aku tau apa yang ada dalam hatimu, Ayah. Terimakasih sudah membiarkan aku memilikinya, biarlah dirimu tetap menjadi pelindung bagiku dan Elmira," batin Mirda saat melihat sang Ayah menatap Elmira dengan dalam.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤