
Minggu pagi ini adalah hari terakhir mereka menghabiskan waktu libur bersama, karena semuanya akan kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Bunda Gisya memilih mengajak mereka untuk mengunjungi The Lodge Maribaya, Lembang. Mobil mereka berjalan beriringan menuju kesana.
"Kalian berantem lagi ya?!" tanya Ummi Ulil saat melihat keduanya hanya terdiam.
"Ummi kalian nanya, kok gak dijawab?" ucap Baba yang kesal pada keduanya.
"Baba sama Ummi ngapain ngijinin dia kuliah di Turki? Alan nanti gimana? Kenapa kalian gak minta pendapat Alan?" ucap Alan yang mengungkapkan kekesalannya.
"Jadi gara-gara itu kalian diem-dieman?! Giliran deket aja rame mulu! Giliran Baba mau pisahin aja ngambek!" ledek Jafran pada kedua anaknya itu.
"Gak gitu konsepnya juga Baba! Jadi orangtua kagak peka banget sama perasaan anak! Terserah dah, dia mau ke Turki mau ke Arab mau ke lobang buaya sekalian juga TERSERAH!" ucap Alan dengan penuh penekanan.
Alana hanya diam ketika saudara kembarnya itu sedang menggerutu, karena saat ini pikirannya sedang melayang jauh. Dia masih memikirkan ucapan Husain, yang memintanya untuk tidak menghapus namanya dari hati Alana.
"Kenapa kamu harus memintanya, ketika aku sudah berniat menjauh darimu," batin Alana.
Mereka sudah sampai disana, karena pengawalan oleh beberapa anggota TNI mereka malah menjadi pusat perhatian pengunjung disana.
"Ra, enak banget yaa tempatnya! Suka deh, tar kita foto di sepeda gantung itu yuk!" ajak Afifah pada sahabatnya itu. Elmira hanya mengangguk dan tersenyum.
"Heh beo! Maju, ngoceh mulu! Tuh ambil tiketnya!" celetuk Rian.
"Sabar dong! Dokter kok nyinyir!" kesal Afifah menggerutu.
"Aduuuhhhh.. Pusing banget deh kalo Bang Rian sama kamu udah deket pasti kaya Tom&Jerry! Jodoh baru tau rasa!" kesal Elmira meninggalkan keduanya.
"Amiiitttt....!" ucap keduanya bersamaan.
"Aamiinn kali!" sahut Mirda sambil berjalan melewati keduanya dengan wajah datar.
Mirda mengikuti kemanapun Elmira pergi, karena itulah yang menjadi tugasnya. Setiap kali Chandra akan mendekati Elmira, dia selalu merasa sungkan terhadap Fahri. Dia hanya bisa melihat Elmira dari jauh, seperti saat ini. Dia melihat Elmira dengan bahagianya memaksa Mirda untuk menemaninya bermain sepeda gantung.
"Kamu memang cocoknya dengan putraku, bukan denganku," batin Chandra.
Elmira terus memaksa Mirda untuk mengikuti semua kemauannya.
"Ayo dong, Bang! Sekali aja foto disana," rengek Elmira seperti anak kecil.
"Gak! Kamu ajak aja temen kamu itu, saya mau minum kopi sama Bapak," ucap Mirda.
"Oke! Aku pergi aja sendiri, kalo ilang kan Abang juga yang repot!" ucap Elmira meninggalkan Mirda dan menghampiri Afifah yang masih berdebat bersama Rian.
"Ih cemen! Masa naek itu aja gak berani, laki kok penakut!" ketus Afifah.
"Bukan masalah cemennya, Beo! Liat noh antriannya banyak bener udah kaya mantan!" ucap Rian sambil melipat kedua tangan didadanya.
"Kenapa itu muka kusut amat kaya baju kagak disetrika?" tanya Afifah.
"Iya bener, udah lecek kaya duit yang digulung-gulung!" celetuk Rian.
"Huft! Giliran begitu aja kalian kompak bener! Dah ah bete! Mo sendirian aja!" ucap Elmira lalu meninggalkan mereka berdua yang melanjutkan perdebatan itu.
Berbeda dengan Rian dan Afifah yang sedang berdebat, kini Alana dan Cyra sedang duduk menikmati pemandangan indah didepan matanya. Sambil meminum segelas coklat panas, mereka larut dalam pikirannya masing-masing.
"Aku mau pesantren Alana,"ucap Cyra membuat Alana tersenyum.
"Lakukan hal apapun yang menurut kamu baik, tapi ada satu hal yang harus selalu kamu inget. Kamu adalah perempuan suci, jangan pernah sekalipun kamu mengatakan kalo kamu perempuan kotor," ucap Alana memeluk sahabatnya itu.
Husain duduk didalam cafe, menikmati live musik yang ada disana. Mereka memang berpisah-pisah, Husain berjalan kedepan dan dia mengambil gitar untuk menyanyikan sebuah lagu. Alan mengerenyitkan dahinya ketika melihat tingkah sahabatnya itu.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya, mohon maaf mengganggu waktunya. Saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang. Semoga dia dapat mengerti arti lagu yang saya bawakan ini," ucap Husain melalui microphone.
Alana mendengar dengan jelas suara Husain, begitupun dengan Cyra. Bahkan seluruh keluarganya pun mendengarnya. Husain mulai memetik gitarnya, dan bernyanyi.
Andai kau izinkan
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa
Cinta yang kupendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau t'lah memilih
__ADS_1
Menutup pintu hatimu
Izinkan aku membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Izinkan aku menyayangimu
Sayangku, oh-oh
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, oh-oh
Dengarkanlah isi hatiku
Bila cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Izinkan aku tetap menyayangimu,
Aku sayang padamu Izinkan aku membuktikan
Lagu dari Iwan Fals itu berhasil membuat hati Alana semakin meringis. Dia sungguh tidak mengerti, lagu yang dibawakan Husain itu tertuju untuk siapa. Cyra memandang sahabatnya itu, lalu dia merangkul bahu Alana.
"Kita ke cafe yuk! Semuanya udah kumpul disana," ajak Cyra dan Alana mengangguk.
Alana dan Cyra baru saja masuk kedalam cafe, seolah disengaja mereka meminta Alana dan Cyra untuk menyanyi. Sayangnya Cyra belum siap untuk menunjukkan dirinya pada semua orang disana. Akhirnya Alana naik keatas panggung, dia meminta kembarannya itu untuk memainkan gitar untuknya. Alana mulai bernyanyi, lagu yang tepat dengan perasaannya saat ini. Alana membawakan sebuah lagu dari Pasto, yang berjudul Tanya Hati. Dan hal itu membuat Husain menyesali segalanya.
Tuhan tolonglah, hapus dia dari hatiku
Kini semua percuma, takkan mungkin terjadi
Kisah cinta yang selalu aku banggakan
Kauhempas semua rasa yang tercipta untukmu
Tanpa pernah melihat betapa ku mencoba
Jadi yang terbaik untuk dirimu
Oh mengapa, tak bisa dirimu
Yang mencintaiku tulus dan apa adanya
Tapi ku layak dicinta kar'na ketulusan
Kini biarlah waktu yang jawab semua
Tanya hatiku
Tanpa pernah melihat betapa ku mencoba
Jadi yang terbaik untuk dirimu
Oh mengapa, tak bisa dirimu
Yang mencintaiku tulus dan apa adanya
Tapi ku layak dicinta kar'na ketulusan
Kini biarlah waktu yang jawab semua
Tapi ku layak dicinta kar'na ketulusan
Kini biarlah waktu yang jawab semua
Waktu yang jawab semua
Tanya hatiku..
Setelah selesai menyanyikan lagu itu, Alana meminta ijin pada keluarganya untuk pergi ke Toilet. Padahal dia pergi keluar, menarik nafas sedalam-dalamnya. Karena saat ini dadanya terasa sangat sesak. Karena rasa yang menurutnya menyakitkan. Elmira mengikuti Alana karena khawatir. Sebab dia tau perasaan Alana seperti apa.
Elmira memeluk Alana dengan erat, dan membuat Alana terperanjat kaget.
"Menangislah Alana! jika semua itu bisa membuatmu lega," ucap Elmira mengusap punggung Alana dengan lembut dan tangis Alana pun pecah.
__ADS_1
"Kenapa dia begitu jahat, Kak. Aku udah berusaha buat ngelupain dia, seperti yang dia mau. Tapi kenapa Kak? Dia bikin aku bingung," ucap Alana disela isak tangisnya.
"Kakak ngerti, Alana. Untuk sekarang lebih baik kamu tenangkan diri kamu dulu, ya. Setelah itu kamu bicara baik-baik sama Husain, biar kamu tau jawaban atas pertanyaan kamu itu," ucap Elmira menenangkan Alana.
Mirda panik, karena tidak menemukan Elmira disana. Setelah melihat Elmira bersama Alana, dia kembali untuk meneruskan makan siangnya. Namun melihat Alana kembali tanpa Elmira, hal itu membuat Mirda kelabakan.
"Nona Alana, dimana nona Elmira?" Tanya Mirda pada Alana.
"Loh, tadi Kakak balik duluan kok! Aku barusan abis dari toilet," jawab Alana.
"Yaa Allah, Ayah dimana Kakak!" panik Gisya saat mendengar ucapan Alana.
Akhirnya mereka semua berhambur mencari Elmira, terutama Chandra dan Mirda. Mereka sudah siap dengan senjata milik mereka yang selalu dibawa kemanapun. Begitupun dengan Fahri dan yang lainnya.
"Bunda diem disini semuanya! Husain jaga mereka!" ucap Fahri dengan tegas.
"Ayah disini! Ayah baru sembuh!" teriak Bunda Gisya ketika melihat suaminya bergegas.
"Ssttt.. Bunda diem, ya! Kakak sama Ayah pasti akan baik-baik aja," ucap Husain memeluk Bundanya. Mereka semua menenangkan Bunda Gisya.
"Iya bener kata si Abang, semuanya akan baik-baik aja Ca. Tenangin diri kamu," ucap Ummi Ulil memeluk erat Gisya.
"Ca, kita pernah ngelewatin semuanya yang jauh lebih berat dari ini. Please kamu tenang ya! Elmira will be fine," ucap Mama Febri menenangkan.
Mirda menyusuri jalanan menurun, menuju kebun-kebun disekitar sana untuk mencari Elmira. Chandra, Fahri, Zaydan, Jafran juga Dzikri dan Gilang menyebar disekitar sana. Mirda bisa melihat Elmira yang begitu bahagianya mengejar seekor kupu-kupu, dia panik saat melihat tubuh Elmira yang tidak stabil dan akan terjatuh.
Belum Mirda berlari, Elmira sudah terjatuh dan ditangkap oleh Chandra. Dengan sigapnya Chandra memeluk tubuh Elmira dengan sangat erat.
"Om sayang sama kamu princes, om cinta sama kamu. Tolong jangan lakukan hal bodoh yang bisa mencelakai kamu, om bisa hancur kalo kamu kenapa-kenapa. Cuman kamu yang tersimpan dalam hati ini," ucap Chandra sambil memeluk erat tubuh Elmira.
Deg! Deg! Deg!
Seakan tertusuk, mereka tersentak kaget mendengar pernyataan cinta Chandra pada Elmira. Entah apa yang dirasakan oleh Mirda, dia pergi begitu saja setelah mendengar ucapan sang Ayah pada Elmira. Sedangkan Elmira masih mematung, tubuhnya serasa melayang. Elmira tidak menyangka jika superhero nya itu mengungkapkan perasaannya. Lalu kemudian dia teringat pada Biangnya, istri dari superheronya itu.
Plakkk!!!
Elmira melepaskan pelukannya, dan dia menampar Chandra dengan keras.
"Kakak kecewa sama Om Chandra! Bagaimana bisa Om mengatakan hal itu? Sementara Om sudah memiliki Biang yang sangat mencintai Om! Demi Allah, Kakak kecewa!" ucap Elmira sambil berlari menjauh dari Chandra.
Sedangkan Chandra, tubuhnya seakan tak bertulang. Dia tertunduk lesu, dia merutuki kebodohannya sendiri karena sudah mengatakan perasaannya.
"Maafkan aku Elmira, aku tidak bisa menahan perasaanku. Aku takut terjadi sesuatu hal padamu, aku takut kehilanganmu," lirih Chandra.
Mirda menenangkan dirinya dengan berdiri ditepi tebing, entah kenapa perasaannya menjadi tak menentu. Elmira sudah benar-benar membuat Mirda jatuh dalam pesonanya. Saat akan turun, Mirda mendengar isak tangis seorang perempuan lalu dia menghampiri asal suara tangisan itu.
"Elmira? Kenapa kamu menangis?" tanya Mirda menghampiri Elmira.
Siapa sangka, Elmira malah berhambur memeluk Mirda. Dia mengungkapkan segala kekecewaannya dipelukan laki-laki itu, secara tidak sadar Mirda mengusap lembut kepala Elmira. Hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya pada perempuan manapun.
"Jangan menangis, hapus airmatamu. Nanti Bapak mengira aku menyakitimu," ucap Mirda.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja. Sampai dadaku tidak terasa sesak," pinta Elmira.
Mirda hanya terdiam, dia membiarka gadis itu menangis dalam pelukannya. Padahal saat ini, jantung Mirda sudah berdegup kencang. Setelah tenang, Mirda membawa Elmira kembali ke cafe. Dan Elmira disambut isak tangis oleh Bundanya.
"Kakak kemana?! Bunda khawatir, jangan pergi-pergi sendirian lagi!" isak Bunda Gisya.
"Maafin Kakak, Bun. Kakak janji gak bikin Bunda khawatir lagi," lirih Elmira.
Saat melihat Chandra, Elmira tidak mau lagi menatapnya. Bahkan ketika Chandra ingin memberi penjelasan pada Elmira. Hal itu membuat Chandra frustasi, dia sungguh menyesali kebodohannya.
"Ternyata kamu benar-benar mencintai Elmira," ucap Jafran membuat Chandra terhenyak.
"Sudah sejak dulu aku merasakannya, tapi aku tidak menghiraukannya. Kami semua sudah mengetahui perasaanmu, kami tidak menyalahkan perasaanmu hanya saja kami kecewa karena kamu tidak bisa menahan diri. Elmira pasti jauh lebih kecewa padamu, terlebih dia mengingat istrimu," ucap Jafran lalu meninggalkan Chandra begitu saja.
Chandra menatap sendu kearah sang istri yang sedang berbincang bersama Afifah dan Rian. Chandra benar-benar kacau saat ini.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1