Menanti Cinta Sang Abdi Negara

Menanti Cinta Sang Abdi Negara
S2 | Pilkada!


__ADS_3

Pernikahan Alana dan juga Husain sudah berjalan tiga bulan, kini Husain tengah disibukkan dengan masa kampanye. Husain mencalonkan diri melalui jalur indipenden bukan dengan partai. Alana selalu mendampingi Husain, saat ini mereka akan turun langsung untuk bertemu dengan para calon warganya. Selain didampingi sang istri, Husain juga didampingi oleh Rakabumi sebagai calon wakil bupati dan istrinya.


Alana dan Husain tampak cocok berdampingan, mereka memakai baju dengan warna senada. Kini mereka akan bertemu dengan warga di daerah Gunung Halu.


"Bang, perjalanannya masih jauh, ya?" tanya Alana.


"Sebentar lagi sayang, kamu capek ya? Harusnya tadi kamu gak usah ikut sayang," ucap Husain mengelus pipi sang istri.


"Abang nyetir yang bener!" kesal Alana ketika tangan suaminya mulai nakal.


"Hehe, pengen megang squishy sedikiiiiittt aja," Husain mengedipkan sebelah matanya.


"Yaa Allah! Kaga usah ngadi-ngadi ya, Bang!" Alana memukul lengan suaminya itu.


Kini mereka sudah sampai di desa Celak, Gunung Halu. Perkebunan teh luas terhampar sepanjang perjalanan. Perkebunan teh Liang Meong, begitulah yang tertera disana.


"MashaAllah, maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan," gumam Husain.


"Bismillah ya Bang! Semoga semuanya dilancarkan oleh Allah," Alana terus menyemangati suaminya.


"Iya sayang, soal kemenangan semuanya Abang serahkan sama Allah," ucap Husain.


Raka dan Husain kini sudah berada di Kantor Desa Celak, disambut oleh Pak Maman selaku Kepala Desa disana.


"Suatu kehormatan bagi kami bisa menyambut kehadiran Bapak dan Ibu di Desa kami. Selamat datang di Desa Celak, semoga kelak Bapak akan bisa mempimpin Kabupaten Bandung Barat ini dengan bijaksana. Jujur saja, setelah membaca visi dan misi dari Bapak kami sangat berharap Bapak dapat unggul," ucap Pak Maman.


"MashaAllah, saya yang harus berterimakasih pada Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Terimakasih banyak sudah menyambut kehadiran kami dengan sedemikian rupa, sampe aduh saya sampe gak bisa berkata-kata! Liat jamuan disini sangat istimewa, pasti warga nya pun istimewa," ucap Husain membuat mereka sedikit terkekeh.


Selesai berbincang-bincang di Kantor Desa, Husain dan Raka kini akan menemui beberapa warga yang kurang mampu dan mereka sedang dalam kondisi kurang baik.


"Assalamu'alakum," ucap Husain dan Raka serempak.


"Walaikumsalam! Emaakkk! Aya Bapak Bupati ka bumi, Emak!" teriak salah satu anak remaja yang tengah duduk belajar.


"Naha Ipah! Meni gegerewekan, mangga kalebet, Pak!" ucap Nenek bernama Maesaroh.


"Anak cantik nami na saha?" tanya Husain mengusap kepala remaja perempuan itu.


"Ipah Pak Bupati," jawabnya dengan senyuman.


Alana dan Asya, istri dari Raka bisa menyaksikan kondisi anak remaja itu. Dia tengah belajar, meskipun sebelah kakinya sudah mulai membusuk.


"Ini kakinya Ipah kunaon, Mak?" tanya Alana sambil mengusap punggung Mak Mesaroh.


"Ipah korban tabrak lari, Bu. Udah sebulan ini, sugan emak kaki nya gak akan jadi borok. Padahal udah emak bawa ke Puskesmas. Tapi kata dokternya teh harus dibawa kerumah sakit gede, harus di operasi. Ai emak duit darimana atuh, emak mah cuman buruh di kebon teh. Cuman cukup buat sehari-hari," lirih Mak Maesaroh.

__ADS_1


"Orangtua Ipah kemana, Mak?" Asya bertanya sambil menatap Ipah yang selalu menyunggingkan senyumannya.


Mak Maesaroh tidak menjawabnya, dia menagis sesegukan dipelukan Alana.


"Orangtuanya Ipah udah di Syurga, Bu Bupati," ucap Ipah tersenyum.


"Yaa Allah," lirih Asya dan juga Alana. Husain dan Raka saling berpandangan, ada rasa bahagia ketika istri mereka bisa ikut berbaur bersama calon warganya.


"Ipah kelas berapa sekarang?" Raka mengusap kepala gadis berjilbab itu.


"Kelas 1 SMP, Pak! Tapi udah sebulan gak sekolah, diledekin terus sama temen-temen. Katanya kaki Ipah bau busuk," Raka sampai menitikkan airmatanya ketika melihat senyuman yang tak pernah luntur dari wajahnya.


Mereka semua sudah sepakat, akan membawa Ipah ke Rumah Sakit di Kota. Agar Ipah dapat kembali melanjutkan pendidikannya tanpa ada yang membully nya.


"Besok, Ipah sama Mak Iroh siap-siap ya! Nanti ajudan saya yang akan menjemput kesini, Ipah mau kan bisa kembali lagi sekolah dan ketemu temen-temen?" tanya Husain.


"Mau Pak Bupati! Kalo udah gede, Ipah mau jadi dokter yang hebat!" semangat gadis remaja itu membuat Husain tersenyum dan mengusap kepalanya.


"Hatur nuhun, Bapak! Mugia Allah maparinan kalancaran sinareng kasalametan dina Pilkada. Mugia Bapak anu tiasa janten pemingpin di Kabupaten Bandung Barat ieu," lirih Mak Maesaroh.


"Aamiin, hatur nuhun. Abdi Husain sareng Raka, nyuhunkeun dukungan ti Bapak sareng Ibu, mugia tiasa janten pemimpin anu bijaksana sareng tiasa merangkul semua warga. Urang sasarengan membangun Kabupaten Bandung Barat menjadi lebih baik lagi," ucap Husain.


Kampanye itu dilakukan dari desa ke desa, mereka pulang hingga hampir larut malam.


* * *


Kedua pasangan itu kini tengah berkumpul dirumah sederhana milik Husain dan Alana. Termasuk keluarga mereka, yang ikut mensupport Husain.


"Bismillah ya, Bang! Do'a Bunda selalu menyertaimu," ucap Bunda Gisya pada Husain.


"Makasih banyak semuanya udah dukung Abang, soal kemenangan Abang serahkan sama Allah aja," Husain tersenyum walau hatinya sedang dag-dig-dug ser.


"Kalo kamu menang, Baba beli rumah sebelah, Cash! Baba renovasi jadi satu dengan rumah kamu ini!" Baba Jafran sangat bersungguh-sungguh.


Alan dan Ummi melotot tak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya.


"Jangan liat gue, jangan liat gue, jangan liat gue," gumam Alan.


"Kamu ngapain komat-kamit begitu!" sindir Ummi Ulil.


"Alamak! Mati aku," gumam Alan lagi.


"Bisa kan, A?" tanya Baba Jafran mengedipkan sebelah matanya.


"Kok Aa sih?! Kan Baba yang ngomong," kesal Alan.

__ADS_1


"Hmm, mau kamu Baba sebarin.........." Alan dengan segera menutup mulut sang Baba.


"Lemeees banget sih itu mulut! Oke kalo si Ain menang Pilkada, itu rumah sebelah dibeli Cash plus biaya renovasinya! Puaaasss!" ucap Alan membuat Baba Jafran terkekeh.


"Udah direkam kan, Mail?!" tanya Baba Jafran.


"Udaaah doongggg!" jawab Alana centil.


"Maksudnye ape nih? Kongkalikong gitu!" Alan berkacak pinggang sambil duduk.


"Emang lu tau yang mau diomongin si Baba itu apa?" tanya Alana.


"Tau lah! Dia kan mau nyebarin, kalo gue kemaren cepirit dicelana! Mana difoto lagi, kan kesel gue!" celoteh Alan mengungkapkan kekesalannya.


"Bhahahahaha, dia bongkar aib dia sendiri!" Baba Jafran dan semua orang disana tertawa terbahak-bahak kecuali Alan yang kini tengah menunduk malu bercampur kesal.


"Gak apa-apa, A! Biarpun Aa cepirit, Rere tetep cinta," ucap Theresia menahan tawanya.


Suasana yang sejak tadi dirasakan sangat tegang, kini mulai mencair karena kehadiran keluarga sengkleknya. Husain dan Alana kini bisa merasa lega, yang penting mereka sudah berusaha dengan baik. Kini Raka dan Asya baru sampai dikediaman Alana dan juga Husain. Mereka sedikit berbincang-bincang, rupanya Asya memiliki sebuah rahasia yang tak sengaja dia ungkapkan pada Alana.


Asya dan Alana sedang membicarakan Ipah yang beberapa waktu lalu sempat mereka tolong. Tapi tanpa sengaja, Asya mengatakan sesuatu hal yang mengejutkan Alana.


"Hampir saja Husain dan Raka mengalami kecelakaan, ada beberapa orang yang menghadang mereka dan menyerang tiba-tiba. Untung aja mereka pinter bela diri, kalo enggak Yaa Allah, aku gak tau apa yang akan terjadi," lirih Asya.


"Maksud Mbak Asya gimana?! Itu kapan kejadiannya?!" panik Alana membuat Asya menutup mulutnya seketika.


Alana terus memohon, hingga akhirnya Asya dengan terpaksa mengatakannya.


"Alana, dalam lingkup politik pasti ada saja yang bermain kotor. Itulah alasan kenapa mereka selalu membutuhkan pendampingan. Lawan bisa saja mencoba mencelakakan Husain dan Raka, maupun keluarganya. Maka dari itu, kita harus waspada. Karena mau bagaimanapun selalu akan ada yang tidak menerima dengan hasil akhir," lirih Asya.


"Yaa Allah! Aku gak nyangka loh, Mbak! Kalo tau akan begini, aku gak akan pernah mau mengijinkan Abang buat maju," Alana sungguh takut akan terjadi sesuatu pada suaminya.


"Kita harus kuat Alana, sebab hanya kita penyemangat hidup mereka!" Asya memeluk tubuh Alana yang mulai menangis sesegukan.


Sejatinya politik itu tidak busuk dan kejam, tapi kelakuan para politisi yang koruplah yang membuat politik menjadi busuk dan kejam. Politik hampir semenarik perang dan sama berbahayanya. Dalam perang, Anda hanya bisa dibunuh sekali, tetapi dalam politik, berkali-kali. Dalam politik, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Jika itu terjadi, Anda bisa bertaruh itu direncanakan seperti itu.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2