
Hallooo reader tersayang.. π€
Sebelumnya Rindu mohon maaf, jika kalian tidak berkenan dengan cerita ini..π
Semuanya Rindu buat berdasarkan apa yang rindu pikirkan..
Mohon jangan membully, Karena mental rindu tidak sekuat itu..ππ
Sekali lagi mohon maaf yaa.. πππ
* * *
Semua manusia boleh berencana, bukan? Tapi tetap, Allah yang menentukan. Sekuat apapun kita berjuang, jika Allah tidak mengizinkan maka semuanya tidak akan sesuai ekspektasi kita. Begitupun dengan Alan dan juga Cyra, mereka lebih memilih untuk mengubur cinta dalam hati mereka. Bukankah semua manusia berhak menentukan jalan hidupnya?
Itulah Alan, dia memilih untuk mengubur rasa cintanya terhadap Cyra. Cukup melihat orang yang dia cintai bahagia, maka dia pun akan berusaha untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Cyra adalah sebuah alasan dan Theresia adalah sebuah jawaban. Mustahil jika Alan tak jatuh cinta pada Theresia, tapi mustahil juga bagi Alan melupakan cintanya untuk Cyra secepat itu.
Cinta tak mungkin berhenti..
Secepat saat aku jatuh hati..
Jatuhkan hatiku kepadamu..
Sehingga hidupku pun berarti..
Cinta tak mudah berganti..
Tak mudah berganti jadi benci..
Walau kini aku harus pergi..
Tuk sembuhkan hati..
Walau seharusnya bisa saja..
Dulu aku menghindar..
Dari pahitnya cinta..
Namun kupilih begini..
Biar kuterima..
Sakit demi jalani cinta..
Lagu yang kini dinyanyikan oleh Alana dan Alan di 'Thora Cafe & Resto' ini adalah ungkapan hati Alan. Seminggu lagi dia akan menikah dengan Theresia, sang pemilik separuh hati Alan. Dalam sebuah cinta, pasti akan ada rasa sakit. Rasa sakit itu sebuah kepastian seperti ungkapan 'Adeekk.. Cinta tak selamanya indah, Dekkk....'
"Malam ini, saya gratiskan semua pengunjung disini! Hitung-hitung syukuran, seminggu lagi saya akan menikah dengan gadis manis yang tengah duduk dimeja nomor 1. Theresia, gue sayang sama lo. Gue gak akan pernah menjanjikan, tapi gue akan memastikan kebahagiaan lo," ucap Alan membuat mereka bersorak bahagia.
Seluruh keluarga berkumpul disana, terkecuali Elmira dan Bunda Gisya. Mereka masih berada di Singapore. Semua orang sangat bahagia menantikan hari pernikahan Alan. "Baba jadi gak sabar pengen liat muka tegang si Aa kaya gimana pas mau ijab," ucap Baba Jafran.
"Ckck! Kaga akan tegang, langsung lancar selancar jalan tol! Tegangnya mah entaran aja, iya gak yank?" goda Alan mengedipkan sebelah matanya pada sang calon istri.
Pletak!
Sebuah sendok mendarat di kening Alan, "Sakit Ummi! Wah wah, Aa geger otak tanggung jawab ya! Belom kawin nih!" rengek Alan membuat semuanya tertawa terbahak-bahak.
"Lagian itu otak kaga usah travelling muluk! Untung kamu Ummi tahan di Singapore, kalo kaga bisa-bisa gawang jebol sebelum pertandingan!" kesal Ummi Ulil.
__ADS_1
Astaga
Wajah Theresia bersemu merah ketika mendengar ucapan calon mertuanya, "Welcome to the absurd family, Re!" bisik Alana.
Sedangkan Alan semakin memberengut kesal, "Mana bisa jebol gawang duluan! Ummi kaga liat, itu satpamnya aja Singa Betina sama Harimau sumatera! Bisa-bisa Aa keok duluan," ucap Alan menunjuk Cyra dan Thoriq dengan dagunya.
Lagi-lagi Alan membuat suasana kekeluargaan itu terasa hidup, sedangkan Mirda bisa melihat topeng yang digunakan Alan selama ini. "Sogok aja Singa sama Harimau nya, siapa tau dikasih tiket menuju pertandingan!" celetuk Mirda.
"Kaga usah, Bang! Lagian Alan gak mau ngerusak final, lebih halal kan kalo uhuy-uhuy setelah halal!" jawab Alan sambil menaik turunkan alisnya.
"Heleh, heleh! Dah ah, kaga usah bahas begituan! Kasian noh dua pujangga tanpa syairnya!" ledek Baba Jafran pada Mirda dan Ayah Fahri.
Ayah Fahri mencebik, "Ckckck! Kaga usah kasian, masih bisa via online kok!" celetuk Ayah Fahri.
Lho? Emang bisa ya?
Mereka menikmati makan malam ini bersama-sama, rasa bahagia sangat kental terasa. Seperti biasa, para anak muda selalu memisahkan diri dari pada orang tua yang obrolannya mulai ngalor ngidul. Kini mereka lebih memilih untuk berkumpul di rooftop.
"Main game yuk! Truth or dare gitu!" ucap Theresia memberikan ide.
Semua orang malah menggeleng, "Ogah! Bisa-bisa ujung-ujung nya malapetaka, saling bongkar aib. Berantem suami istri, wah wah wah kaga kebayang dah!" ucap Thoriq dan dianggukki oleh semuanya.
"Main tebak-tebakan aja lah, si Cyra sama si Alan tuh dulu jagonya kalo bikin begituan," ucap Husain memberi ide.
"Setujuuuuuu!!!" serempak mereka menjawab, kecuali Alan dan juga Cyra tentunya.
"Okelah, siapa takut!" tantang Alan.
Kini mereka mulai menyimak kedua makhluk didepannya ini yang tengah berbisik-bisik. "Kenapa matahari panas?" tanya Alan.
"Iya panas lah bego! Sinar matahari terasa begitu panas akibat proses yang disebut reaksi fusi nuklir. Pada proses tersebut terjadi gravitasi di inti matahari yang menghasilkan tekanan dan suhu sangat besar hingga lebih dari 27 juta derajat fahrenheit atau 15 juta derajat celcius," jawab Husain membuat Alan dan Alana mencebik kesal.
"Papoy gak asik! Masa jawabannya begitu!" kesal Alana, sedangkan Husain malah menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Maaf mamoy!" lirihnya.
Hadeuuuh...... Bucin!
"Salah! Ayo dong, masa kaga tau jawabannya!" kesal Alan.
"Huff! dahlah jawab apaan, nyerah... nyerahhhh...!" ucap Thoriq sambil mengangkat kedua tangannya.
Cyra dan Alan menjawab bersamaan, "Karena matahari buka cabang dimana-mana! Hahahahaha!"
Kriikkk... Kriikkk... Kriiikkkk...
"Ha-ha-ha-ha!" mereka memaksakan tawa ketika melihat kedua orang itu tertawa lepas.
Sontak hal itu membuat Alan dan Cyra merajuk kesal, "Dah lah! Ogah maen sama kalian lagi! Gak seru!"
"Hahahahahahahaha!" melihat keduanya merajuk, mereka malah tertawa terbahak-bahak.
Alan dan Cyra yang kesal, pergi begitu saja menuju puncak rooftop sambil mendengus kesal, mereka malah semakin tertawa dengan tingkah keduanya. Tanpa ambil pusing, mereka kembali memutuskan untuk melanjutkan permainan truth or dare.
"Ckckck! Malah lanjutin maen begituan," celetuk Cyra yang memperhatikan mereka semua, sedangkan suaminya hanya mengedipkan sebelah mata kearahnya. "Kelilipan kali pake kedip-kedip begitu!" gumam Cyra.
Sedangkan Alan malah menikmati wajah Cyra yang kini tengah menggerutu kesal, "Gue minta maaf, Ra!"
Cyra menoleh pada Alan dan mengerenyitkan dahinya, "Maaf? Kenapa minta maaf? Lo ada salah sama gue?" tanya Cyra yang keheranan.
Alan menganggukkan kepalanya, "Gue punya salah sama lo! Dan sebelum nikah, gue mau ngomong ini sama lo. Biar hidup kita baik-baik aja kedepannya!"
__ADS_1
"Maksudnya? Gue gak ngerti deh! Coba kalo ngomong itu yang jelas gitu, lho," kesal Cyra.
"Sorry, because I used to love you!"
Deg!
"Hahahahaha! Gak lucu tau," Cyra malah tertawa setelah mendengar ucapan Alan. Namun tak dipungkiri, saat ini jantungnya berdegup dengan kencang.
Alan mencebik kesal, "Anjir emang susah ya mau gombalin lu!" Alan menghela nafasnya, setidaknya hatinya terasa lega setelah mengucapkan hal itu.
"Gue juga cinta sama lo, Maul! Lo sahabat gue yang paling terbaik, lo selalu melakukan semua yang terbaik buat gue dan buat keluarga kita. Gue makin bahagia, apalagi lo bakalan jadi ipar gue! Kan gue bisa siksa lo sepuas hati, Hahaahahah!"
"Wah wah, bahaya juga ya gue punya ipar kaya lo! Takdir cinta memang gak ada yang bisa nebak ya, Ra. Ketika gue mencintai yang dekat, tapi Allah kasih gue yang jauh," ucap Alan dengan pandangan yang lurus kedepan.
Cyra menepuk bahu Alan, "Begitulah cinta, dia ditakdirkan menjadi kata tanpa benda. Tak terlihat, hanya terasa tapi begitu dahsyat. Maul, cinta itu seperti angin. Lo gak bisa liat tapi lo bisa ngerasain. Cinta itu keikhlasan, didalamnya gak penah mengenal paksaan ataupun rasa pelampiasan. Sebagai sahabat dan ipar, gue berharap lo akan hidup bahagia sama Rere" dengan sorot mata penuh cinta dan harapan, Cyra mengungkapkannya.
Setelah mengatakan itu, Cyra memeluk Alan dengan erat. Dia menghapus airmata yang mulai tak bisa dibendung, setelahnya dia menghampiri suami dan keluarganya yang tengah asyik bermain. "Gue ikhlas, Ra! Mari kita ikhlaskan takdir cinta yang sudah Allah gariskan," ucap Alan menatap punggung Cyra yang semakin menjauh.
* * *
Hari pernikahan Alan dan Theresia sudah tiba, laki-laki itu tampak gagah dengan menggunakan baju pengantin adat sunda. Sebagai keluarga mempelai perempuan, Thoriq dan Cyra yang menyambut kedatangan Alan dan keluarganya. Sebab tak ada kerabat lain yang mau menggantikan posisi kedua orang tua mereka yang telah tiada.
Cyra mengalungkan bunga melati ke leher Alan, dia selalu menampilkan senyuman terbaiknya. "Rileks! Jangan deg-degan!" bisik Cyra.
Setelah melewati beberapa acara adat, kini Alan dan Thoriq sudah berhadapan. Keduanya berjabat tangan, "Bismillahirahmanirahim, Aidan Alan Putra Maulana saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Theresia Maudya Wiratama binti Wiratama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan berlian pink star sebanyak 2 gram dibayar TUNAI!!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Theresia Maudya Wiratama binti Wiratama dengan mas kawin tersebut, TUNAI!!! SAAAAHHHH!!!" Alan mengucapkan begitu lantang.
"Hahahahahaha!" mereka tertawa melihat Alan yang sangat antusias. Sedangkan Baba Jafran mencubit pinggang sang anak karena kesal. "Yang bilang SAH itu saksi dan tamu, bukan pengantin!"
"Gimana para tamu dan para saksi? SAH?" tanya penghulu.
"SAHHHHHH lah SAHHH," ucap mereka sambil tertawa, sedangkan wajah Alan sudah memerah karena malu.
Pak penghulu menggelengkan kepalanya seraya tertawa, "Kita ulangi ya, biar lebih afdol!" ucapnya.
Kini Alan dan Thoriq kembali berjabat tangan, "Awas ya lu, tereak sah lagi gue jitak lu!" bisik Baba Jafran dan Alan hanya bisa mengangguk seraya menelan ludahnya dengan susah payah.
"Bismillahirahmanirahim, Aidan Alan Putra Maulana saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Theresia Maudya Wiratama binti Wiratama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan berlian pink star sebanyak 2 gram dibayar TUNAI!!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Theresia Maudya Wiratama binti Wiratama dengan mas kawin tersebut, TUNAI!!!"
SAAAHHHHHHH!!!
"Alhamdulillah.................." ucap seluruh para tamu undangan yang hadir.
Cyra menatap sahabat sekaligus adik iparnya itu penuh haru, "Ketika aku ikhlas, maka kebahagiaan yang aku lihat. Aku melepaskan seluruh cintaku didasar hati, sebab takdir cinta yang Allah berikan itu jauh lebih baik," batin Cyra.
Dia berjalan bergandengan bersama Theresia, menuju meja akad. Semua mata menatap kagum pada sosok dua wanita yang tampak cantik ini. Seusai akad, mereka menjamu para tamu yang merupakan kerabat dekat. Sedangkan resepsi akan dilaksanakan malam hari, bersamaan dengan resepsi pernikahan Thoriq dan juga Cyra.
Alan menatap keduanya, "Pada akhirnya aku tidak bersama orang yang selalu kusebut dalam do'a, tapi aku hidup bersama orang yang akan selalu menyebut namaku dalam do'anya. Cinta ini usai disini, aku ikhlas akan takdir cinta yang Allah berikan untukku," batin Alan.
Allah selalu punya skenario terindah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu bersabar dalam menanti dan ikhlas dalam menerima. Bersyukur akan kebaikan dan ujian yang Allah berikan pada kita. Kita hanya perlu menjadi hamba-Nya yang taat. Urusan cinta Alan dan juga Cyra, biarlah selamanya menjadi rahasia keduanya. Jika keduanya ikhlas, mengapa para reader tidak?? ππβ
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite π₯°ππ₯°
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author β€